Langsung ke konten utama

Haji Mabrur

Hendry CH Bangun
http://www.suarakarya-online.com/

"Jadi, yang penting dalam menunaikan ibadah haji adalah memahami makna napak tilas perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan keluarganya. Selama ini banyak yang pergi haji, tapi tidak tahu apa filosofi dari ritual yang dikerjakannya. Yang penting tahu melakukan ini, tahu melakukan itu. Tata cara memang penting, tetapi kurang-kurang sedikit tidak apa-apa, sudah sah lah itu," ujar ustad yang berkhotbah di mesjid dekat kantornya, Jumat itu.

Lalu Saidi ingat akan undangan syukuran melepaskan jemaah haji yang akan berlangsung hari Minggu nanti di mesjid perumahan sederhana tempatnya tinggal. Ada tiga pasang suami istri yang tahun ini pergi menjadi tamu Allah. Pertama adalah Pak Suroto, yang belum lama masuk pensiun dari sebuah instansi pemerintah. Dia sebenarnya sudah bergelar haji, jadi kali ini perjalanan kedua. Ayah satu anak ini penggiat mesjid, sering memimpin salat, dan perilakunya menyenangkan tetangga. Istrinya pun anggota majlis taklim.

Yang kedua Pak Robi, yang baru saja membeli rumah di blok lain dan merenovasinya sehingga tidak pantas lagi disebut rumah sederhana. Dia wiraswastawan yang rajin menyumbang mesjid, senang berolahraga, dan tidak pernah absen jaga malam bersama atau gotong royong membesihkan lingkungan komplek. Saidi kurang tahu bidang yang ditekuni Pak Robi, tapi kalau mereka bertemu, sejauh yang diingatnya tegur sapa tetangganya itu menyenangkan hati.

Yang terakhir Pak Wahyu. Tetangganya yang satu ini termasuk yang jarang bergaul, hanya berteman dengan orang-orang tertentu saja. Seingat Saidi, jarang sekali dia ikut salat berjamaah, di saat ramai dipenuhi warga seperti salat magrib di hari Minggu. Setiap Idul Fitri, Pak Wahyu dan keluarga pasti tidak ada, karena pergi ke luar kota.

Lebih 10 tahun tinggal di kompleks, Saidi tidak ingat lagi kapan terakhir Pak Wahyu itu salat Idul Fitri atau Idul Adha. Memang sih dia selalu senyum atau menyapa bila pas berpapasan ketika jalan-jalan pagi di hari Sabtu atau Minggu, tapi ya segitu saja. Musyawarah warga, halal bi halal yang lalu pun dia absen. Istrinya yang seorang guru pun termasuk jarang bergaul, begitu pula anaknya yang sudah remaja, tidak pernah ikut kegiatan dengan warga kompleks seumur.

Sebenarnya ada warga yang kurang akrab, apalagi yang tidak satu jurusan atau kantor, wajar saja. Biasanya sekitar 5.30 mereka sudah keluar rumah, pergi ke stasiun kereta terdekat untuk bekerja di Jakarta. Begitu juga anak-anak yang pergi sehabis subuh dan kadang pulang sehabis magrib. Tetapi keluarga Pak Wahyu ini termasuk yang agak ekstrem mengucilkan diri, entah kenapa. Makanya Saidi jadi terkejut ketika nama Pak Wahyu masuk dalam daftar orang yang akan pergi haji dan mengundang untuk selamatan di mesjid. Dua hal yang membuatnya kaget.

Yang pertama, dia tidak tahu bagaimana tingkat kesalehan tetangganya itu. Mungkin saja dia salat lima waktu sehari semalam tetapi karena dilakukan di rumah, dia tidak tahu. Tetapi kalau benar demikian, maka biasanya orang yang rajin beribadah akan menyempatkan diri untuk salat berjamaah, entah subuh sebelum berangkat, magrib sehabis pulang kantor, atau pas hari libur seperti Sabtu dan Minggu. Rasa-rasanya Saidi belum pernah bertemu di mesjid komplek.

Yang kedua, Saidi ingat Pak Wahyu seperti tidak peduli dengan tetangga. Beberapa kali kerja bakti dalam rangka HUT RI, hampir pasti dia absen.

Berolahraga bersama 17 Agustus, nggak pernah tampak di lapangan maupun sekadar menonton di pinggirnya. Ada yang meninggal, dia pun hampir pasti tidak datang. Apalagi ikut besuk ke rumah sakit melihat tetangga sakit.

Waktunya bukan tidak ada, dia adalah PNS di sebuah departemen, sehingga sebenarnya masuk tidak buru-buru dan sore pun sudah sampai di rumah. Kalau diniatkan, dia bisa salah magrib di mesjid, tapi ya itu tadi, dia malas bergaul dengan warga di kiri-kanan rumahnya. Jadi buat apa dia berpaminatan kepada tetangga ketika akan berangkat haji? "Lha, selama ini kemana aja?

Kerja bhakti nggak, rapat RT nggak. Bahkan halal bihalal warga kompleks bulan lalu juga dia nggak datang," ujar Saidi dalam hati.

Tetapi tentu saja Saidi berjanji untuk datang, meski sebenarnya agak sebal dengan Pak Wahyu. Dia akan datang karena menghormati Pak Suroto dan Pak Robi, yang dikenalnya baik

* * *

Bagi Saidi, menunaikan rukun kelima itu bagaikan mimpi. Jangankan pergi ke Tanah Suci Mekah, untuk menghidupi keluarga dengan tiga anak dia sudah harus berhemat di sana-sini. Untuk transport dirinya ke kantor, dan tiga anak ke sekolah setiap hari, setidaknya 40 puluhan ribu harus tersedia. Belum lagi untuk belanja sehari-hari, yang sekarang setidaknya minimal Rp 25.000. Ditambah berbagai kebutuhan lain seperti gas, bayar listrik, dan cicilan ke koperasi, setidaknya dia mengeluarkan Rp 2 juta perbulan. Dan pendapatannya hanya lebih sedikit dari pengeluaran rutin, praktis tidak ada untuk menabung. Kalau ketiga anaknya sudah musim naik-naikan, maka Saidi sudah harus jauh-jauh hari memesan untuk berutang. Biasanya dia bisa bernafas sedikit lega bila ada pembagian bonus, yang besarnya bisa 2-3 kali gaji di awal tahun.

Dia hanyalah pegawai kecil, staf bagian administrasi di perusahaan swasta yang bergerak di bidang penerbitan. Dengan modal ijazah SMA, dia merasa bersyukur bisa menjadi pegawai tetap sehingga setidak-tidaknya ada pemasukan rutin. Kebaikan hati rekan sekampungnya, membuat Saidi mendapat posisi yang lowong, belasan tahun lalu. Kalau tidak mungkin dia sudah keleleran hidup di Jakarta.

Oleh karena tahu diri itu, Saidi, merasa beribadah sebaik-baiknya sebagai kompensasi. Paling tidak dengan melakukan Ibadah sesuai perintahNya, mulai dari salat, zakat, puasa, kecuali berhaji, dia merasa sudah berusaha semampunya. Entah lah kalau mendapat keajaiban, misalnya dikirim oleh kantornya karena dianggap patuh atau berprestasi. Kalau sekarang, ya tidak jelas.

Tidak urung dia iri juga dengan Pak Wahyu, yang ternyata memliki rezeki untuk memenuhi panggilan Nabi Ibrahim yang didambakan setiap muslim. Beribadah jarang, tapi malah mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Tanah Suci. Bergaul jarang, malah kini sudah siap-siap pergi haji. Padahal kata ustad, pintu rezeki biasanya terbuka bagi mereka yang habluminnannas dan habluminallah, yang hubungannya baik dengan sesama manusia dan begitu pula dengan Allah. Perasaan hatinya tiba-tiba menguggat ketidak adilan ini.

"Aku heran mengapa orang yang menurut kita nggak pantas tapi rezekinya besar ya," kata Saidi bertanya tanpa menginginkan jawaban.

"Kita yang capek, banyak kebutuhan, malah seret-seret aja."

"Seperti hidup, maut dan rezeki sudah ada yang mengatur. Dari sananya sudah ada jatahnya," kata Rois, teman satu gerbong Saidi di kereta komuter, ketika mereka berbincang dalam perjalanan pulang hari itu. Rois merupakan teman ngobrolnya bila pergi atau pulang dari kantor. Persaudaran sesama penglaju membuat bahan obrolan bisa apa saja, mulai dari urusan kantor sampai urusan rumah tangga. Saidi mengangguk, tapi merasa tidak puas.

"Kalau begitu gunanya ihtiar apa?" "Usaha ya tetap, berdoa juga jangan sampai lupa. Tapi hasilnya, Yang Di Atas yang tahu," kata Rois. Sampai turun dari kereta, naik angkot yang melewati pinggir kompleknya, batin Saidi merasa kurang terisi dengan jawaban rekannya itu.

* * *

Masih terngiang-ngiang ucapan Rois membuat Saidi kurang sreg ketika mengangkatkan kaki untuk mendatangi acara syukuran yang digelar sehabis salat isya. Kalau tidak datang, dia nggak enak, tapi kalau datang, dia merasa ada yang mengganjal. Tokh dia berpikir untuk legawa menerima apa adanya.

Mesjid sudah ramai, dia memilih duduk agak di pinggir. Setelah sambutan dan pembacaan ayat suci, ada sambutan dari calon haji yang kebetulan disampaikan Pak Wahyu. Warga tampaknya menunggu karena baru sekali ini Pak Wahyu bicara di mesjid. Setelah membuka dengan salam dan salawat Nabi dengan lancar Pak Wahyu bicara.

"Saya mohon maaf selama ini kurang bergaul, tidak perduli, dan seperti terkucil dari lingkungan. Saya tahu itu hal yang kurang baik dalam bertetangga, Saya tahu itu salah dan oleh karena itu dalam kesempatan ini memohon maaf sebesar-besarnya. Bukan agar saya dilapangkan menjalankan ibadah haji, bukan.

Tapi karena itu sudah menyalahi hukum bertetangga. Sekali lagi saya minta maaf," katanya dengan suara tersendat. "Sebenarnya saya malu menyadari hal itu, tetapi saya tidak tahu harus dari mana memulainya. Saya malu mengutarakannya. Tapi rupanya Tuhan membuka pintu dengan acara ini, saya harus memberikan sambutan mewakili bapak-bapak dan ibu yang akan berangkat haji.

Dan kesempatan baik karena semua tetangga hadir di sini, sehingga saya bisa meminta maaf kepada semua. Sekali lagi saya minta maaf," katanya berhenti sejenak dalam melanjutkan sambutannya. Acara jadi mengharukan. Banyak yang menundukkan kepala, tidak tahu harus bilang apa.
Pembawa acara jadi sempat bengong, apakah meneruskan sambutan dari Pak Wahyu atau harus menyudahinya.

Karena sebetulnya sambutan belum berakhir, karena belum menyinggung hal-hal kepergian ke Mekkah. Akhirnya dia berinisiatif meminta Ustad Gafur untuk memberi sambutan dan menyilakan Pak Wahyu turun.

Ustad lalu bercerita tentang betapa besarnya jemaah haji Indonesia setiap tahun, lebih dari 200.000, tetapi korupsi masih merajalela, kemiskinan bertebaran di seluruh negeri, protitusi seperti dibiarkan oleh mereka yang menegakkan hukum, dsb.

"Oleh karena itu sering dibilang di Indonesia banyak haji tomat. Berangkat tobat, pulang kumat," kata Ustad Gafur yang disambut tawa warga yang memenuhi mesjid. "Waktu berangkat niatnya bagus, tapi waktu pulang dia sudah lupa dengan janjinya di depan Kabah.
Semua penyelewengan dilakukan lagi demi uang, demi kekuasaan."

"Kita bersyukur ke hadirat Allah Swt karena di kesempatan ini, ganjalan yang ada di hati Pak Wahyu dapat terlepas dan dia kini merasa lega untuk bertolak ke Tanah Suci. Mudah-mudahan ketiga pasang ini kelak menjadi haji yang mabrur," kata Ustad Gafur, yang segera diamini hadirin.

Ketika mendapat kesempatan mengucapkan selamat jalan kepada ketiga pasangan yang berdiri itu, Saidi, sengaja berbisik kepada Pak Wahyu. "Semoga menjadi haji mabrur, bukan haji tomat," sambil tersenyum menyalami dengan pegangan tangan yang erat. Pak Wahyu pun tersenyum. Mudah-mudahan maknya sama.

* Palmerah Barat, 30 Oktober 2009

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com