Langsung ke konten utama

Sepak Bola Klenik

Sunlie Thomas Alexander*
http://www.jawapos.com/

KEJANGNYA si gundul fenomenal Ronaldo menjelang final Piala Dunia 1998 di Prancis boleh jadi disebabkan faktor psikologis. Rasa gugup dan tegang dalam menghadapi partai penentuan adalah hal wajar. Apalagi beban dipikul oleh seorang bintang yang tengah bersinar terang seperti dirinya, tentu tak ringan.

Masalahnya, spekulasi kemudian berkembang. Salah satunya adalah isu bahwa Piala Dunia 1998 tak sepi dari praktik klenik. Kesebelasan Prancis pun dituduh telah menggunakan jasa seorang dukun terkenal dari Afrika Barat, Aguib Sosso. Seperti halnya ilmu teluh dari Banten yang konon sanggup melintasi lautan, seorang dukun Afrika -kata Adam Kone, paranormal Mali- memang tak mesti ada di stadion untuk melakukan sihirnya.

Apakah Ronaldo kejang-kejang karena santet juju hitam? Benarkah balutan di lengan para pemain Les Bleus -julukan timnas Prancis- adalah jimat buatan Sosso? Benarkah dia telah memandikan Zidane dalam sebuah ritual?

Kita tidak tahu. Mistik, tak ada yang bisa membuktikan. Yang pasti, Prancis akhirnya keluar sebagai jawara Piala Dunia 1998, mengalahkan Brazil dengan skor 3-0. Zidane mencetak dua gol gemilang lewat sundulan kepalanya.

Bagi kebanyakan orang, tentu cerita Ronaldo di final Prancis 1998 memang bagaikan dongeng yang terasa mengada-ada. Namun, toh kisah itu kemudian menjadi tak lagi terlalu aneh ketika dia dikaitkan dengan sepak bola Afrika. Di Benua Hitam itu, sepak bola memang begitu lekat dengan perdukunan, dua hal yang seolah tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakatnya. Dengan begitu, perpaduan tersebut membuat sepak bola menjadi unik dan kental dengan nuansa budaya. Ya, itulah fenomena Afrika, fenomena dunia ketiga.

Antonio Pigafetta -penjelajah Florentina yang menyertai Maggelan dalam pelayaran pertamanya mengelilingi dunia- seperti diungkapkan Gabriel Garcia Marques dalam pidato nobelnya 1982, konon telah menulis sederet laporan akurat seperti khayalan saat melewati selatan Amerika.

”Dia menulis telah melihat babi dengan pusar di sekitar pinggang, burung tanpa kuku yang bertelur di atas punggung kawannya, dan semacam burung pelikan tanpa lidah yang paruhnya menyerupai sendok. Dia mengaku telah melihat suatu makhluk menjijikkan dengan telinga dan kepala keledai, badan unta, kaki rusa, dan meringkik seperti kuda,” ujar Marques.

Penulis novel Cien Anos de Solidad (Seratus Tahun Kesunyian) itu tentu saja tidak berlebihan. Faktanya, Amerika Selatan -seperti halnya ranah Afrika dan Asia, termasuk Indonesia- selama berabad-abad dipandang sebagai dunia erotis penuh misteri. Para petualang Eropa pada masa lampau, dalam lawatannya ke pedalaman Afrika, Patagonia, dan berbagai belahan Timur, telah membawa pulang cerita-cerita fantastis menggemparkan. Keajaiban dunia, atau meminjam istilah Marco Polo, Imago Mundi, begitulah mereka membahasakan pengalaman perjumpaan mereka dengan beragam praktik ritual Indian serta upacara-upacara adat suku-suku di Afrika dan Asia. Sebagian benar, sebagian salah paham penuh prasangka, dan sebagian lagi laporan palsu yang sarat fitnah.

Karena itulah, oleh perspektif Barat yang tak bisa menerima segala hal yang beraroma gaib, karya-karya Marques dan sejumlah pengarang Afrika dan India lazim disebut sebagai realisme magis, sebuah gaya berolah kisah yang merajut pertentangan dua pandangan dunia: rasionalitas scientific ala Barat dan alam mistik. Padahal, bagi Marquez dan para penulis dunia ketiga lainnya yang terbiasa dengan dukun, santet, dan berbagai realitas supranatural dalam keseharian, ia hanyalah “karya sastra yang ditulis sebagaimana kakek-nenek kita dulu bercerita.”

Tentu saja realisme magis kemudian dianggap sebagai gaya yang cocok bagi penceritaan tanah-tanah pascakolonial untuk mengisahkan dirinya dengan kacamatanya sendiri. Ia hadir sebagai sebentuk sastra perlawanan di tanah-tanah bekas jajahan yang frame of view ”dunia”-nya berusaha dikonstruksi oleh kaum imperialis. Sastra realisme magis memperlakukan wilayah mistik dan realitas empiris secara sejajar. Sebab, peristiwa-peristiwa yang fantastis dan supernatural berkait erat dengan dunia nyata dan mengakar pada realitas yang dikenali lewat referensi sosial, historis, dan politis. Ya, sebagaimana Afrika Selatan memperlakukan sepak bola dan para inyanga (dukun suku Zulu) dengan upacara penyembelihan sapi di stadion-stadion yang dipakai Piala Dunia.

Di Afrika -kata N.A. Scotch dalam tulisannya di The Journal of Conflict Resolution, 1961, Vol.5, No.1 yang baru-baru ini diterjemahkan oleh penerbit Kepik Ungu dalam buku Afrika Gila Bola (2010)- keyakinan terhadap sihir tak cuma bertahan di tengah-tengah kehidupan yang terus mengalami modernisasi. Bahkan, itu meluas dan berevolusi untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan hidup sekarang.

Tak jauh dengan pengalaman di Indonesia, praktik klenik tampak dalam perebutan pekerjaan di kota-kota. Ia digunakan untuk meningkatkan standar hidup kaum urban. Dengan demikian, ilmu sihir yang semula dipraktikkan dalam konteks tradisional kini diadaptasi dalam berbagai situasi baru. Jika di tanah air para paranormal begitu rajin muncul di layar televisi dan tak gaptek memanfaatkan teknologi SMS, di Afrika Selatan pada Piala Dunia 2010, seorang dukun bernama Sebenzile Nsukwini berusaha menerawang keamanan perhelatan akbar ini dengan menggunakan media serpihan tulang dan cangkang kerang.

Syahdan, seluruh tim sepak bola di Afrika memiliki inyanga yang menjampi setiap pemain sebelum pertandingan. Ilmu-ilmu gaib itu dimanfaatkan semaksimalnya untuk membantu meraih kemenangan. Berbagai ritual dan upacara pun digelar, termasuk menyembelih kambing sebelum pertandingan dimulai untuk membuka pintu keberuntungan.

Di sinilah, di Afrika, sepak bola menjadi realisme magis. Sebuah nuansa bermain yang mempertautkan teknik olahraga modern terbesar di jagat raya dengan praktik mistik khazanah tradisi. Kemampuan pemain, strategi pelatih, dan kekompakan tim bersatu padu dengan kekuatan gaib untuk meraih kemenangan. Itu juga sebuah bukti betapa sepak bola memang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat dunia ketiga yang akrab dengan mistik.

Seberapa manjur sebuah praktik supranatural dalam sepak bola mungkin bukanlah persoalan. ”Kepercayaan terhadap sihir amat sulit dibongkar karena ia membentuk suatu sistem yang dapat menyerap dan menjelaskan apa yang gagal dijelaskan ilmu pengetahuan yang menentangnya.” Demikian pengamatan M. Gluckman (1955:101) sebagaimana dikutip N.A. Scotch.

Lebih jauh, Sindhunata (2002:47) menyebutkan bahwa kepercayaan terhadap klenik dalam sepak bola sebagai bahasa lain dari iman tak ubahnya ”tanda salib” yang selalu diperagakan kesebelasan Amerika Latin ketika memasuki lapangan. Karena itu, sebuah ritual mistik di luar kekuatan supranaturalnya yang diyakini seyogianya bisa berfungsi sebagai semacam sugesti untuk meneguhkan keberanian dan kepercayaan diri pemain di lapangan.

Tak heran pada Piala Dunia Spanyol 1982, tim Kamerun datang bersama dukunnya ke Stadion Vigo dengan menenteng koper berisi ramuan yang ditaburkan di lapangan tengah dan daerah berbahaya sekitar gawang sebelum pertandingan. Apakah berkat ramuan klenik itulah kemudian kesebelasan Kamerun yang underdog kala itu mampu menahan Italia 1:1 dan tak terkalahkan selama putaran pertama?

Dimensi fungsional sihir itulah alasan mengapa hal-hal magis dapat bertahan lama dalam keyakinan orang Afrika, berkembang, dan bahkan beradaptasi ketika berada di tengah-tengah masyarakat industri ala Euroamerica.

Di Afrika sering terjadi kemenangan sebuah tim sepak bola dipandang sebagai kemenangan seorang dukun. Jika di Australia konon para pengelola klub menyeleksi pemain dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud, di Ghana seorang inyanga diserahi tugas mencari pemain. Maka, di samping keandalan para pemain sepak bola, kemenangan dan kekalahan sebuah tim pun dianggap bertumpu pada kemampuan seorang dukun. Karena itulah, ketika sebuah tim terus-menerus kalah, yang diganti inyanga-nya, bukan pemain atau pelatihnya.

Bagaimana dengan sepak bola Indonesia? Meskipun entah kapan timnas kita bisa berlaga di putaran Piala Dunia, toh sebetulnya kita memiliki tradisi yang serupa dengan Afrika. Wasit Jimmy Napitupulu (2005) contohnya. Dia mengaku mengetahui sejumlah kebiasaan-kebiasaan tim yang mengikutsertakan kepercayaan klenik pada liga-liga Indonesia. Misalnya, di Bali ada kebiasaan menggosokkan minyak babi di tiang gawang dan titik kickoff. Di Stadion Brawijaya, Kediri, pernah ada tiga butir telur yang ditaruh di titik kickoff sebelum pertandingan dan di Stadion 17 Mei, Banjarmasin, pernah terjadi sebuah nampan berisi dua gelas kopi dan lisong yang menyala diletakkan di tengah lapangan.

Lantas, dapatkah seorang Ki Joko Bodo membantu meningkatkan prestasi sepak bola kita? Ah, sepak bola kok jadi klenik…(*)

*) Cerpenis dan periset Parikesit Institute Yogyakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.