Langsung ke konten utama

KOMA; KEGELISAHAN DALAM PESANTREN

Siti Sa’adah*
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Tidak ada tindakan nyata lahir dari pikiran kosong, karena lelaku mengusung semangatnya sendiri. Begitulah Pekan Tadarus Sastra yang digagas oleh Komunitas Pena (KOMA) dari ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

KOMA lahir pada 14 Februari 2007 dari kegelisahan para santri mengenai kepenulisan di pondok serta dorongan membentuk wadah untuk menyalurkan kreatifitas di lingkungan pondok. Saat itu sekitar tujuh santri putra yang bergerak, biasanya nongkrong ngopi bersama sambil diskusi serta saling memotivasi untuk berkarya.

Saat ini tercatat 35 anggota resmi, diketuai oleh Roihan Arif Prambudi siswa kelas satu MA. Bisa dibilang KOMA cukup berani dengan pemimpin yang relatif muda. Menurut Shomad “sesepuh” komunitas, ini merupakan pengaderan kepada adik-adik junior sekaligus pembelajaran. Adapun agenda rutin KOMA adalah menerbitkan buletin Koma yang digarap secara bergilir tiap edisinya oleh santri putra dan putri.

Jika bulan ini digarap oleh santri putra maka bulan depan giliran santri puntri, begitu seterusnya. Saya kira ini merupakan contoh manajemen keredaksian alternatif yang bisa ditiru ponpes lain, intensitas pertemuan santri putra-putri yang lazimnya dibatasi tetap terkontrol, namun agenda tetap bisa berjalan lancar, dan kreatifitas tetap tersalurkan. Ada pula anak kegiatan yang dinaungi KOMA yaitu pecinta alam Tripala, hadroh Al-Ishlah, serta teater Palsu.

Pekan Tadarus Sastra pada 20 - 24 Juni 2010 yang bertempat di Aula MTs Plus Bahrul Ulum ini menggelar bedah novel Sepasang Sayap di Punggungmu karya Mangun Kuncoro. Pada 22 Juni bedah buku antologi puisi Mazhab Kutub karya para penyair muda Jogjakarta yang terhimpun dalam komunitas Kutub. Sedangkan 24 Juni bedah buku Biografi KH. Wahib Wahab; mobilitas dan Komitmen Perjuangannya oleh Faizun, M.Pd

Sepasang Sayap di Punggungmu lahir dari proses kreatif Mangun Kuncoro yang lahir di Bengkulu, 9 September 1990 selama satu tahun bergiat di KOMA, saat ini sedang menempuh kuliah semester empat di STIT Tambakberas. Dalam novel ini, Mangun mengisahkan seorang pengamen jalanan bernama Fatan yang jatuh bangun mencari jati diri dan arti kehidupan dalam arus hidup yang tidak menentu, berpindah dari satu tempat ketempat yang baru dan asing. Sampai dia ditemui sosok asing yang menunjukkan tiga keajaiban, dan keajaiban itu bisa membuka jalan pikiran mengenai keindahan hidup dan menjadikannya lebih bersyukur.

Begitu mendapat pertanyaan mengenai proses kreatifnya, Mangun menuturkan selama ini dia berusaha mengalahkan diri sendiri, karena musuh terbesar adalah nafsu diri. Tiap hari setelah mengabdi di ndalem kyai, dia meluangkan waktu dua jam untuk menulis, entah pada jam yang ditentukannya itu ada ide sedang berkecamuk dalam pikirannya dan tidak sabar untuk dimuntahkan dalam kata-kata atau tidak ada sama sekali, yang pasti harus menulis. Akhirnya kedisiplinanlah yang bisa menuntun novel perdananya ini rampung.

Rahmad Sularso Nh. dari komunitas Gubuk Liat, mantan ketua HMP Bahtra Indonesia STKIP PGRI Jombang, cukup antusias menyambut acara sastra di ponpes serta lahirnya novel karya santri ini, semoga bisa menginspirasi serta memotivasi orang lain. Sedangkan Muhammad Ali Fakih dari Kutub menuturkan masih ada pameo orang pesantren tidak bisa menulis, atau bisa menulis setelah keluar dari pondok. Padahal begitu banyak khasanah pesantren yang bisa dituang-abadikan oleh santri dalam tulisan.

Sedangkan bedah buku antologi puisi Mazhab Kutub yang diterbitkan Pustaka Pujangga Lamongan ini menghadirkan beberapa penulisnya yang sedang mondok di Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari yang didirikan almarhum Zainal Arifin Thoha yaitu M.Ali Fakih, M. Alif Mahmudi, Heri Kurniawan Miftahul Huda. Adapun penulis antologi ini adalah Matroni El Moezany, Ahmad Muchlis Amrin, Jufri Zaituna, Mahwi Air Tawar, Ahmad Maltuf Syamsury, Alfiyan Harfi, Muhamad Ali Fakih, Imam S Arizal, Selendang Sulaiman, Ala Roa, Barnando J. Sujipto, Muhammad Alif Mahmudi, Salman Rusydie Anwar, dan AF Denar Daniar.

Mengenai judul nyentrik dan menggelitik Mazhab Kutub yang seperti hendak mencuatkan mazhab sastra baru, Fahrudin Nasrulloh penggiat komunitas Lembah Pring Jombang dalam pengantar buku ini menulis ”Barangkali “kandang menulis” milik Gus Zainal ini diniatkan sebagai kawah yang munclak-munclak bagi penulis-penulis muda yang gagal, seperti sitiran pada puisi “Percakapan” karya Salman. Mungkin juga tidak. Tapi bukankah juga pemberontakan yang bertubi-tubi gagal atas diri kepenyairan dan ke-nggeletekan sehari-hari merupakan proses panjang yang tak bertuan”. Empat belas penyair ini memang ditempa oleh Gus Zainal saat masih hidup untuk mandiri dan terus berproses kreatif, dan oleh Fahrudin mereka disebut anak-anak sejarah Gus Zainal.

Kegelisahan tidak berhenti melanda santri saja, Faizun M.Pd. ustadz di ponpes BU yang juga dosen STKIP PGRI Jombang prodi Bahasa dan Sastra Indonesia juga tergerak untuk menulis buku Biografi KH. Wahib Wahab; mobilitas dan Komitmen Perjuangannya. Salah satu motivasi menulis biografi ini karena masih minimnya literatur tentang KH. Wahib Wahab putra KH. Wahab Hasbulloh, padahal Kyai Wahib memiliki jasa besar atas Negara dan Islam di Indonesia khususnya atas Nahdhotul Ulama. Beliau meniatkan semoga kepenulisannya bisa memacu santri dan mahasiswanya untuk menulis.

Kegiatan menggelitik baik bagi santri maupun bukan semacam ini semoga tetap eksis dan berkembang, baik di luar maupun di lingkungan pesantren sehingga menjadi wadah berkumpulnya penulis dan peminat sastra sehingga bisa terjalin hubungan baik antar individu maupun komunitas untuk perkembangan dunia kepenulisan di Jombang. Semoga.

*) Siti Sa’adah, bergiat di komunitas PSK (Penggila Sastra Kopi) Jombang dan FSJ [Forum Sastra Jombang]

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com