Langsung ke konten utama

Merayakan Chairil, Mengenang Pram

Umar Fauzi
http://www.surabayapost.co.id/

Seperti berbagai pengultusan peringatan hari-hari besar atau hari bersejarah lainnya, kesusastraan Indonesia juga tidak luput dari tradisi tersebut. Bulan sastra atau oleh Sapardi Djoko Damono disebut sebagai hari sastra itu, jatuh pada bulan April, tepatnya pada tanggal 28 April. Peringatan ini “sekaligus” untuk mengenang sang maestro sastrawan Indonesia Chairil Anwar. Dengan perkataan lain, nama besar Chairil dijadikan momentum sebagai hari Sastra Indonesia. Pada bulan ini diselenggarakan oleh berbagai pihak baik komunitas sastra maupun lembaga pendidikan berbagai macam kegiatan kesusastraan.

Diantara penyelenggaraan atas pengultusan Chairil Anwar itu diantaranya penganugrahan sastra yang pernah diadakan Dewan Kesenian Jakarta, yaitu Anugerah Sastra Chairil Anwar yang kali pertama diberikan kepada Mochtar Lubis (1992) dan kali kedua kepada Sutardji Calzoum Bahri (1998); di Surabaya cikal bakal perhelatan tahunan Festival Seni Surabaya (FSS) sejak 1996, dulunya pernah diselenggarakan menggunakan nama Pekan Seni Chairil Anwar pada tahun 1994.

Tidak ada data pasti mengenai penegasan dibalik jatuhnya bulan sastra pada bulan April. Yang diketahui hanyalah sosok Chairil Anwar menjadi momentum dan pijakan awalnya. Perayaaan bulan April yang pada mulanya untuk mengenang kematian Chairil, tiba-tiba dikultuskan sebagai bulan sastra. Jadi antara mengenang Chairil dan bulan sastra merupakan rangkaian tradisi yang diselenggarakan setiap tahun, kemudian menjadi sebuah budaya baru yang “menetapkan” bahwa April sebagai bulan sastra Indonesia.

Pengultusan sosok Chairil dalam sejarah sastra Indonesia tidak dapat terlepas dari pembaharuan radikal yang ia lakukan dalam bidang puisi. “jika Amir Hamzah merevolusi bahasa lama menjadi baru, Chairil Anwar membawa individualisme yang merevolusikan secara total seluruh aspek penciptaan. Jika dianalisis secara struktur.” demikian ditulis Korrie Layun Rampan (2000). Karena itu, nama Chairil selalu dibawa kemana-mana dalam buku-buku kesusastraan Indonesia, baik buku pelajaran sekolah untuk konsumsi para pelajar maupun buku-buku tentang kajian kesusastraan.

Budaya itu telah menghegemoni nama besar Chairil, dalam diri setiap warga Indonesia. Mungkin inilah ramalan yang benar-benar telah terjadi yang pernah ia utarakan kepada istrinya bahwa kalau kelak ia meninggal, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburnya menabur bunga. Terbukti saat ini banyak anak-anak sekolah menghafal puisi-puisinya, terutama puisi Aku. Terlepas dari kepribadiaanya yang amoral, sampai saat ini ia masih dikenang mungkin sampai kelak hari kiamat menjelang.

Takdir dan Keberkahan di Bulan April
Disisi lain, bulan April tidak hanya dirayakan sebagai bulan sastra, namun juga ada perayaan lain yakni hari Kartini, hari bumi, hari baca internasional, dan bulan pendidikan Serta satu lagi yang perlu kiranya Indonesia kenang, yakni kebesaran nama Pramoedya Ananta Toer yang bulan ini merupakan satu tahun meninggalnya beliau, sejak menghadap Sang Pencipta 30 April 2006 yang lalu.

Kematian bung Pram pada bulan April –dua hari setelah hari sastra Chairil Anwar– tidak lain hanyalah takdir yang telah dituliskan Allah. Mungkin juga sebuah pernyataan takdir bahwa pada bulan April ini Indonesia diajak untuk mengenang Kartini, Chairil Anwar dan Pramoedia Ananta Toer: mengenang pengorbanan beliau-beliau bagi Indonesia. Juga suratan takdir bahwa bulan April ini memang merupakan bulan Sastra yang harus diperingati bersama.

Memang tidak semua masyarakat Indonesia mendewakan nama Chairil Anwar yang amoral, begitu juga mengultuskan nama Pram yang dikenal berperawakan keras. Apalagi bagi korban-korban kebinalan Lekra yang mungkin sampai saat ini belum bisa melupakan trauma prahara budaya (meminjam istilah judul buku yang ditulis Taufik Ismail dan Moeljanto) 1960-an, terutama golongan Manifesto Kebudayaan. Namun sebagaimana Chairil Anwar yang selalu dikenang setiap tahun, di bulan April ini seyogyanya Indonesia juga tidak melupakan Pram yang telah menyumbangkan khasanah kesusastran Indonesia dalam sastra dunia.

Dengan tidak bermaksud mencocok-cocokkan kenyataan takdir kedua sastrawan yang mewakili dua genre tersebut, tampaknya Tuhan telah menakdirkan keberkahan bulan April sebagai bulan sastra bagi Indonesia. Bukan bermula dari tradisi atas peringatan Chairil Anwar yang menjadi tradisi bulan sastra. Akan tetapi perlu pernyataan dan deklarasi bersama untuk menyatukan sikap.

Kutub Kehidupan dan Kutub Kematian
Riwayat hidup Chairil Anwar dan Pram dapat digolongkan dalam satu periode angkatan 45. Keduanya pernah bertemu saat menyusun Surat Kepercayaan Gelanggang untuk merumuskan sikap kebudayaaan mereka, yang dikemudian hari Pram sendiri tidak menyetujui rumusan tersebut. Dan memilih konsepsi kebudayaan sendiri yakni, realisme sosialis dengan humanisme proletat bukan humanisme universal seperti yang ia anggap terdapat dalam Surat Kepercayaan Gelanggang.

Bila diperhatikan dengan seksama tampak beberapa perbedaan dan persamaan antara mereka. Walau Chairil sendiri telah “mendahului” Pram. Setidaknya yang dapat diamati secara pribadi adalah mereka sama-sama perokok berat. Chairil anwar telah menjadi ikon dengan rokoknya, begitu pula halnya dengan Pram.

Namun disisi lain mereka memeperlihatkan perbedaan jauh, terutama dari lapangan hidup mereka; kesusastraan. Secara garis besar mereka mewakili dua genre berbeda. Chairil dengan puisinya dan Pram dengan prosanya –walau ia pun pernah menulis puisi. Mungkin karena dua genre ini takdir mereka juga berbeda: puisi yang lebih padat dan pendek seolah-olah menjadi penanda bahwa Chairil berumur pendek (meninggal di usia 27 tahun). Dan prosa yang panjang seolah-olah menandakan kehidupan Pram yang dianugrahi berumur panjang (meninggal di usia 82 tahun).

Begitu pula yang tercermin dari apa yang mereka tulis. Banyak karya-karya Chairil yang bertemakan kematian termasuk juga ia suka menerjemahkan puisi-puisi tentang kematian. Sebaliknya Pram, lebih berbicara tentang “kehidupan” dalam karya-karyanya; beserta pernak-pernik tragedi di dalamnya.

Konsepsi kebudayaan mereka pun merupakan sebuah perbincangan hangat. Disaat Chairil Anwar telah mangkat, ia juga tidak lepas dari seretan gerakan politik 1960-an. Karena itu ada beberapa kalangan menolak 28 April sebagai hari sastra, karena kepenyairan Chairil Anwar dianggap bertentangan dengan faham sosialisme. Disitulah sebenarnya letak keberagaman yang dihadirkan di bulan April. Mereka merupakan canon sastra Indonesia yang mewakili oposisi biner atas kehidupan di dunia itu sendiri; kematian dan kehidupan.

Mengenang mereka adalah mengenang hasil pemikiran mereka; amanat-amanat yang selalu diperoleh manakala mendeklamasikan sajak-sajak Chairil Anwar –yang sampai saat ini masih menjadi tradisi– maupun mempelajari cita-cita seperti yang terdapat dalam buku-buku Pram. Yaitu keindonesiaan yang produktif dan kreatif.
Selamat bulan sastra Indonesia!

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com