Langsung ke konten utama

Perempuan, Seks, Sastra

Anton Kurnia
http://www.sinarharapan.co.id/

Belakangan ini terjadi polemik dalam berbagai diskusi serta sejumlah media massa mengenai fenomena munculnya para perempuan penulis muda yang hadir dengan karya-karya bermuatan seks. Banyak pandangan yang pada intinya menyiratkan ”kekhawatiran” atas merebaknya fenomena tersebut. Mengamati polemik itu, saya melihat bahwa yang ”diresahkan” oleh banyak kalangan adalah karena mereka yang giat ”mengeksplorasi tubuh manusia” ini nota bene para perempuan, tepatnya ”perempuan muda”. Begitulah, banyak orang ribut soal seks dalam sastra kita belakangan ini hanya karena yang menuliskannya adalah perempuan!

Kontroversi mengenai seks atau gambaran tentang hal-hal yang erotis dalam karya sastra kita sebenarnya sudah sering terjadi. Pada masa kolonial, terjadi polemik terselubung antara tokoh-tokoh Balai Pustaka dengan orang-orang di luar Balai Pustaka. Dalam Nota Rinkes, misalnya, disebut-sebut mengenai karya-karya sastra yang dianggap melanggar tabu dan ”merusak moral.” Pada akhir masa kolonial, kemunculan Belenggu karya Armijn Pane yang mempersoalkan cinta dan perselingkuhan juga menimbulkan kontroversi. Pada akhir 1960-an terjadi diskusi panjang mengenai novel-novel Motinggo Busye sejak trilogi Bibi Marsiti yang dianggap mengandung banyak unsur pornografi. Selanjutnya, terjadi pula diskusi antara Harry Aveling dengan Goenawan Mohamad sebagaimana yang tampak dalam Seks, Sastra, Kita (ditulis 1969).

Seperti pernah diungkap oleh kritikus sastra Faruk HT melalui sebuah tulisan berjudul Seks dan Politik dalam Sastra Indonesia (2003), dalam Seks, Sastra, Kita, Goenawan Mohamad melihat ada tiga pola sikap dalam karya sastra Indonesia terhadap persoalan seks dan cara penggambaran seks. Pertama, karya-karya yang berusaha mempersoalkan seks tetapi tidak berani menggambarkannya, karya-karya yang dalam istilah Harry Aveling memperlakukan persoalan seks itu sebagai ”mawar berduri.” Kedua, karya-karya yang mempersoalkan seks dan menggambarkannya dengan cara ”meneriakkannya dengan keras-keras.” Karya-karya yang demikianlah yang mungkin digolongkan sebagai karya-karya ”pornografis”, yang menggambarkan peristiwa erotis secara eksplisit. Ketiga, karya-karya yang mempersoalkan seks sebagai bagian dari kehidupan manusia yang wajar dan menggambarkannya secara wajar pula, antara lain seperti yang tersirat dalam cerpen-cerpen awal Umar Kayam dan puisi-puisi Sitor Situmorang.

Pada waktu novel Ayu Utami, Saman (1998), muncul terjadi pula kontroversi. Dalam sejarah sastra Indonesia, sejak Ayu Utami (36) memang terjadi hal yang menakjubkan dalam persoalan seks dalam sastra. Bukan hanya karena keberaniannya dalam menulis seksualitas secara eksplisit dibandingkan dengan karya-karya sastra Indonesia sebelumnya, melainkan juga karena penulis yang mengikuti kecenderungan demikian justru para penulis perempuan seperti Dinar Rahayu (33), Djenar Maesa Ayu (31), lalu Nova Riyanti dan Herlinatiens. Dalam sebuah wawancara, pemenang sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2004, Dewi Sartika (24), dengan terus terang mengakui bahwa novelnya, Dadaisme, dipengaruhi oleh cara penulisan Ayu Utami.

Sastra dan Gerak Zaman

Sejarah mencatat, kontroversi atas terbitnya sebuah karya sastra lebih sering terjadi karena ketidaksiapan masyarakat yang bersangkutan atau penguasa (penguasa politis, spiritual, moral) dalam menghadapi ekspresi individu yang berbeda bahkan bertentangan dengan tata nilai kolektif. Di sini, persoalan bergeser dari wilayah sastra menuju wilayah sosiologi, bahkan politik seperti yang terjadi pada karya-karya Milan Kundera.

Ketika D. H. Lawrence mempublikasikan Lady Chatterley’s Lover di Inggris seabad silam atau saat Gustave Flaubert di Prancis menerbitkan Madame Bovary beberapa tahun sebelumnya, banyak orang merasa tersengat bukan karena muatan seks kedua novel itu, melainkan karena kedua karya sastra itu dengan terbuka menyerang hipokrisi kelakuan seksual kaum elite masyarakatnya. Dalam kedua novel itu, dikisahkan perselingkuhan para isteri lelaki terhormat (Lady Chatterley dan Emma Bovary) yang justru menemukan kebahagiaan di luar perkawinan. Lady Chatterley bahkan dikisahkan berselingkuh dengan tukang kebun suaminya sendiri, seorang bangsawan dan veteran perang yang invalid. Sebuah tamparan bagi sebuah konstruksi sosial yang telah mapan dan tak menghendaki kritik. Itu pula yang terjadi di sini dengan Belenggu karya Armijn Pane di tahun 1930-an.

Ketika pada ujung 1960-an hingga awal 1970-an terjadi revolusi seks di Amerika Serikat sebagai reaksi atas perang yang terus dikobarkan di mana-mana (Korea, Vietnam) oleh generasi tua mereka yang berpandangan patriarkis, di mana keterbukaan seks menjadi tema pemberontakan anak-anak muda dan rasa takut pada maut (fear) dihadapi dengan cinta (love) lewat semboyan yang terkenal itu (”Make love, not war!”), sejumlah nama muncul sebagai ikon, termasuk dalam sastra.

Salah satunya adalah Anaïs Nin (1903-1977) yang kebetulan adalah seorang perempuan. Novelis dan cerpenis Amerika keturunan Prancis yang menulis serangkaian catatan harian bermuatan seksual eksplisit itu di ujung usianya mengukuhkan namanya sebagai ikon feminis dan penulis garda depan di negerinya seiring dengan gerak zaman yang menuntut keterbukaan. Itu semua dikaitkan pula dengan sejumlah affair-nya dalam kehidupan nyata, termasuk dengan penulis terkemuka Amerika lainnya, Henry Miller.

Dalam pengantar untuk kumpulan cerita erotisnya, Delta of Venus: Erotica (1969), Nin yang merupakan pengagum D. H. Lawrence antara lain menulis bahwa yang dilakukannya adalah mencoba menuliskan aspek seksualitas perempuan dari sudut pandang dan penghayatan perempuan sendiri, bukan seksualitas perempuan dari kacamata lelaki seperti yang dilakukan D. H. Lawrence melalui sejumlah karakter perempuan dalam novel-novelnya: Lady Chatterley, Ursula Brangwen.

Perempuan dan Kelamin

Hal serupa tampaknya sedang terjadi di sini sejak enam tahun silam. Memang bukan pertama kali dalam sejarah sastra kita perempuan menuliskan seksualitas secara terbuka dalam karyanya. Nh. Dini telah melakukannya, juga Titis Basino atau Dorothea Rosa Herliany yang oleh seorang penyair dijuluki ”perempuan yang mengacaukan identitasnya dengan diksi laki-laki”. Bedanya, saat ini hal itu terjadi secara bersamaan, seperti wabah, dan melibatkan banyak nama baru yang sesungguhnya sangat potensial.

Momentumnya adalah runtuhnya rezim Orde Baru yang militeristis, patriarkis, puritan, otoriter dan monolitik. Rezim yang tumbang itu menyukai kekerasan, mengagungkan keseragaman dan membenci keberagaman. Mereka berkeras mendikte orang banyak tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Ekspresi unik individu direpresi atas nama stabilitas. Mereka memasung banyak hal: perempuan, seksualitas, kebebasan berkreasi, hak berpolitik, serta mencampuri banyak hal yang sesungguhnya berada pada wilayah privat.

Ayu Utami, sang pemula, melalui Saman (ditulis 1997, saat Soeharto masih berkuasa) menggugat banyak hal, bukan sekadar seks, melainkan—bila kita membaca dengan jeli—yang lebih kental dalam novel itu adalah nuansa politisnya, terutama gugatan terhadap kekuasaan Orde Baru yang militeristis dan segala kekuasaan patriarkis. Meminjam terminologi Mikhail Bakhtin, novel itu mengandung hetroglossia, keragaman, layaknya sebuah karnaval. Novel itu berkisah tentang pemogokan buruh, kolusi pengusaha perkebunan dengan militer lokal, penyiksaan aktivis, fenomena gaib, sekaligus mempertanyakan iman katolik, dominasi lelaki atas perempuan, seksualitas dan cinta, dibalut bahasa yang indah dan eksploratif.

Setelah Saman muncul, berbondong-bondong kaum perempuan yang sebelumnya terkekang menyatakan pemberontakan dalam karya-karya mereka, termasuk yang menggarap seksualitas sebagai tema, seperti Dinar Rahayu dan Djenar Maesa Ayu. Masyarakat yang tidak siap menyaksikan ”sesuatu yang baru” gelagapan. Banyak reaksi yang terjadi justru tak lebih dari serangan terhadap kehidupan pribadi penulisnya, bukan diskusi yang bernas dan memperkaya tentang karya mereka. Kalimat-kalimat mereka dipotong dari konteksnya hanya untuk membuktikan betapa para perempuan ini telah mengumbar kecabulan dalam karya mereka.

Dalam acara diskusi buku pertamanya, Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch, yang menyingkap fenomena kelainan seksual dalam masyarakat urban kita, Dinar Rahayu dipojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan pribadi yang tak ada sangkut-paut dengan karyanya. Dia dihujat dan dianggap tidak senonoh karena menulis sebuah gugatan melalui novel. Dia kemudian harus membayar publikasi novelnya itu dengan kehilangan pekerjaan sebagai guru kimia di sebuah sekolah swasta terkemuka di Bandung.

Mengapakah kita begitu terganggu ketika para perempuan menulis tentang kelamin dan perkelaminan? Begitu burukkah ketika seorang perempuan menulis dengan jujur tentang seksualitas dari kacamata perempuan sendiri?

Sesungguhnya tak ada pembagian kerja secara seksual dalam sastra. Artinya, tidak relevan mengatakan perempuan harus menulis apa dan lelaki boleh menulis apa. Juga tidak relevan mengaitkan sebuah karya dengan kehidupan pribadi penulisnya. Pada dasarnya, baik buruknya sebuah karya sastra hanya layak diukur dengan parameter yang berkaitan dengan sastra.

Apa yang terjadi belakangan ini sebenarnya merupakan reaksi atas represi terhadap perempuan oleh tata nilai yang serba patriarkis. Karya ”para sastrawati” itu justru menambah semarak khazanah sastra kita dengan keragaman tema dan suara. Ketika para perempuan bangkit dan meneriakkan gugatannya secara terbuka, mengapa kita harus ”takut”?***

*) Penulis adalah cerpenis dan esais.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com