Langsung ke konten utama

Surat Terakhir di Almari

Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/

Semalaman Ia tak pulang ke rumah. Tidak biasanya menginap di luar. Biasanya pamit dan memberi tahu jika ada kepentingan di luar rumah? bila tak pulang. Anaknya juga bertanya ke mana Bapaknya tak kelihatan seharian. Sebab ketika Ia tak pulang, tidak lupa menelpon anaknya, sekedar tanya kabar dan menanyakan sudah makan atau belum. Aku semakin khawatir saja, apalagi tadi sore ada telphon misterius, menanyakan suamiku di mana, aku tanya siapa namanya tidak menjawab. Semakin ngotot saja, padahal sudah aku bilang Ia tidak di rumah. Di akhir telphonnya dia mengunakan ancaman.

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, Rahma sudah tidur, tak betah menahan kantuk untuk menunggu Bapaknya pulang. Aku semakin merinding saja, angin di luar kencang sekali menambah keheningan malam semakin menakutkan.

Bunyi dau-daun bergesekan, tak tahan aku mengikuti kesepian ini. Nanti kalau ada apa-apa, yang aku khawatirkan anakku. Tetangga juga tak lagi di rumah, mereka berpamitan untuk pulang kampung menjenguk keluarganya. Mereka adalah tentangga satu-satunya. Rumahku memang kota tapi tepatnya di pinggiran, beberapa rumah yang dulu berdiri kini telah raib. Alasan tidak tertib, datang satu truk orang berpakaian seragam. Membongkar paksa rumah-rumah tersebut. Menjadi keheranku, kenapa rumahku tidak digusur, serta rumah di sebelahku. Banyak yang bilang itu semua karena suamiku. Sampai sekarang aku belum tahu betul, kenapa suamiku ditakuti oleh pemerintah daerah ini. Pernah suatu hari aku bertanya, tapi tak ada jawan yang jelas. Malahan Ia berbalik tanya “Kata siapa?” Akupun menghentikan pertanyaanku dengan jengkel.

Kesepianku purna dan ketakutanku menimbul dalam kesadaran. Aku melihat almari kecil yang tidak pernah aku buka. Almari itu adalah milik suamiku, tapi kenapa membuka. Dengan langkah sedikit terburu kakiku mendekat ke almari tersebut. Tidak ada apa-apa, hanya kertas-kertas yang sudah kusam dan map-map sepertinya berisi dokumen-dokumen penting. Aku mulai membuka berlahan-lahan. Satu lembar, aku menatanya supaya rapi. Isinya hanya keliping-keliping berita dari media massa tentang pengusuran rumah, pengusuran pedakang kaki lima dan kasus-kasus pejabat kota ini.

Aku mulai membuka, di map yang terakhir. Tertumpuk di almari suamiku. Foto-foto kawan lamanya yang sering singgah kemari, tetapi aneh di foto yang terlipat separuh. Aku membukanya berlahan, sebab agak menempel. Kalau dibuka dengan kasar pasti gambarnya rusak. Orang yang tidak asing bagiku.

Ketukan pintu membuat aku lekas-lekas memngembalikan dengan baik agar seperti semula dan lekas-lekas aku menuju pintu. Tetapi aku tahan sebentar, kalau saja bukan suamiku. Bulu-buluku mulai menegang, aku ketakutan. Tetapi semua aku tahan, korden aku pegang, dan aku mengesernya berlahan-lahan supaya dapat terlihat siapa di depan pintu yang tadi mengetuk. Kaget bukan kepalang, darah melumuri baju putih kesayangannya. Aku hafal betul dari motif garis-garis hitam di bagian lengannya. Mataku gelap, serasa tak mungkin semua ini terjadi. Sebilah pisau masih menancap tepat di perutnya. Aku menahanan diri untuk tak jatuh. Sekuat tenaga aku tarik tubuhnya masuk kedalam rumah. Bau anyir darahnya, membuat ingin muntah.

Segalanya aku kuatkan, demi suamiku yang tercinta. Kegelapan dan keinginan muntah tiba-tiba sirnah. Aku ke dapur mengambil air hangat yang biasa aku sediakan untuk minum kopinya. Kebetulan masih ada sisa alkohol dan kain kasa, sisa buat anakku yang sebulan lalu habis jatuh terpeleset di depan rumah. Bergegas aku membuka bajunya dan mebersihkan darah serta berlahan mencabut pisau yang menancap di perutnya, untung saja tidak dalam batang pisau masuk ke perutnya. Sepertinya Ia menahan dengan tangannya. Itu terlihat dari sayatan pisau membelah tipis di kedua telapak tangannya.

Dengan berlahan mulai ku basuh dengan air hangat dan member alkohol agar tidak infeksi. Ia mulai sadar dengan mengerang kesakitan. Sambil memanggil namaku “Nita.. kaukah itu”

“Sudah jangan banyak bicara, kita harus ke rumah sakit, sehabis aku membersikan seluruh darah yang menempel di tubuhmu. Untuk sementara aku perban dulu, agar darahnya tidak keluar terus. Kau mulai kehabisan darah”

Ia tahu apa yang menjadi harapanku, sebelum anakku bangun. Aku menelpon taksi untuk membawanya kerumah sakit. Sesampai rumah sakit langsung aku mendaftar dan para perawat langsung menuju ruang operasi. Suamiku diopersi kecil, membersihkan luka bekas tusukan. Lalu dokter menjahitnya. Sehabis semua selesai dan obat-obatnya sudah aku beli, lansung aku pulang. Takut anakku bangun dan tidak ada siapa-siapa dirumah.

Azdan subuh berkumandang dari masjis besar yang terletak 2 kilo meter dari rumahmu. Suamiku telah rebah, sepertinya Ia lelah sekali.

Sebelum memejamkan mata, Ia berbisik. “Nit, kamu dan Rahma harus meninggalkan rumah ini. Bair aku di sini sendiri. pergilah ke rumah Ibu di kampung”. Sengaja aku tak mau membalas bisikannya. Hanya melihatnya dengan rasa kasihan dan penarasan.

Anakku bangun. Ia lekas mandi. Seperti biasanya. Aku melihat anakku mewarisi karakter Bapaknya. Mandiri, tak mau menyerah. Aku suka tetapi kadang juga khawatir. Sambil menunggu anakku yang semata wayang mandi. Aku kembali melihat isi lemari suamiku. Ada amplok dan surat. Kalau melihat dari warna putihnya masih baru. Aku mengambilnya. Berlahan membuka dan membaca.

“Yanto, cepat tinggalkan rumahmu. Kita sedang di kejar-kejar orang suruan Wali Kota. Mereka berbahaya. Gabungan polisi, militer dan preman. Ini tidak seperti biasanya. Kita sudah tidak punya perlingdungan lagi. Sehabis Pak Marlan dimasukkan penjara. Kita juga tidak tahu. Tepatnya di penjara sebelah mana. Sehabis Ia di tuduh membunuh Pak Zaki, rekannya sendiri yang vokal menyuarakan ketidakadilan di Ibu Kota Alasan penangkapannya adalah kasus rebutan perempuan. Memang semua tak masuk akal.

Kau harus secepatnya. Sesampai surat ini kau baca. Dalam waktu 24 jam kau harus pergi sejauh-jauhnya.”

Aku bingung, dan kalang kabut. Sampai di tengah-tengah isi surat dari Yudi. Kawan yang biasa kemari ketika tengah malam.

Terdengar di luar suara dobrakan pintu. Aku lari mencari anakku. Tetapi pistol menodong kepalaku. “Serahkan berkas-berkas suamimu” dengan wajah garang 5 orang menatapku dengan tajam. Sebagian rambutnya cepak dan sebagian lagi berambut panjang.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Entah berapa orang yang masuk rumahku. Aku terus berfikir, anakku, suamiku tak ada suaranya.

Semua berkas-berkas suamiku di bawah.
Tiba-tiba terdengar suara
“ceps.. ceps..ceps” darahku keluar.
Aku tak bisa berteriak.
Mulutku dibungkam.
“Suamiku… Anakku….
Mas Yanto… Rahma….”

Malang, 2009-2010

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com