Langsung ke konten utama

Para Pengikut Nabi

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Di suatu hari yang biasa, Dhimas Gathuk mampir sejenak ke warkop, warung kopi, untuk melepaskan kejemuan akan rutinitasnya. Warung kopi yang telah mempertemukan dirinya dengan banyak orang dihari itu tidak terlalu ramai. Orang-orang yang datang pun beberapa dia kenal dengan baik. Beberapa yang lain sering bertemu dalam tatapan mata dan senyuman. Dhimas Gathuk duduk pada kursi panjang, sendirian saja sambil menikmati rokok filter berlogo sembilan bintang itu.

Baru lima menit dia duduk di sana, dua orang lelaki yang kebetulan akrab dengan Dhimas Gathuk membelokkan arah dan berhenti di warung kopi. Mereka berdua bersama dengan Dhimas Gathuk sering terlibat percakapan hangat. Mereka memasuki warkop sambil melemparkan senyuman hangat untuk Dhimas Gathuk.

“Sudah dari tadi, Kang?” tanya seorang dari mereka yang gemuk yang sering dipanggil dengan Nggambleh dan dijawab dengan gelengan kepala. Nama yang mungkin cocok dengan orangnya yang selalu kritis menghadapi kondisi lingkungan dimana dia hidup.

Kedatangan Nggambleh memang sudah dinantikan Dhimas Gathuk. Dia datang bersama kawannya satu kontrakan, yang sepertinya tidak pernah lepas dan jarang pergi tanpa salah satunya. Dia lelaki sedikit kecil dan kurus yang bernama Nur. Yah, mereka seperti sepasang, Nur Nggambleh, cahaya dari omongan kritik yang membangun. Tapi, ini hanya penafsiran Dhimas Gathuk bersama kakaknya Kangmas Gothak yang memang suka sekali untuk menghubung-hubungkan sesuatu.

“Darimana, Kang?” tanya Nur setelah memesan kopi pahit tanpa gula.

“Biasa. Makaryo. Kerja.” Jawab Dhimas Gathuk dalam seringai yang biasa.

“Ah, enak ya Kang kalau sudah kerja.” Ucap Nur yang juga dalam seringai sambil membenahi ikatan rambutnya yang keriting.

“Biasa, Kang. Ya hanya mendapatkan gaji tetap saja. Selain itu, biasa saja. Rutinitas.”

“Ada kabar apa, Kang, dari STS Sinar Terang?”

Dhimas Gathuk menggelengkan kepala. “Gak ada kabar lain, Kang, selain persiapan Ulang Tahun PMPN.” Jawab Dhimas Gathuk tidak bersemangat setelah mendengar percakapan beberapa Santri di PMPN.

STS Sinar Terang singkatan dari Sekolah Tinggi Swasta Sinar Terang, yang merupakan salah satu sekolah tinggi di bawah bendera Pendopo Matahari Pengikut Nabi atau PMPN.

“Ikut menjadi panitia ulang tahun tidak, kang?” tanya Nggambleh yang juga pernah sekolah di salah satu sekolah milik PMPN.

“Tidak. Orang seperti aku ini tidak terpakai, Kang!” ucap Dhimas gathuk dalam senyuman dan pandangan kosong ketika kembali teringat percakapan para santri tadi.

“Kenapa ya, kalau orang-orang di PMPN itu terlihat lebih kaya daripada orang-orang di PBsC?” tanya Nur yang kebetulan adalah seorang yang dilahirkan dalam keluarga PBsC atau Pendopo Bintang sang Cendekia.

“Yah, beda sikap paling, Kang!” sahut Nggambleh. “Kalau secara materi memang PMPN lebih kuat, tapi kesolidan massanya lebih kuat PBsC.”

“Mungkin memang karena sikap itu. Kalau orang-orang PBsC lebih fokus pada proses penghambaan manusia pada Tuhan. Mementingkan amal ibadah, menggunakan ilmu yang dia miliki demi Tuhan. Jadi, dibayar sedikit tidak mengapa asal berkah.”

“Ha.. Ha.. Ha..” mereka bertiga tertawa atas sesuatu jawaban yang agak rumit itu.

“Anekdotnya seperti ini,” sahut Nggambleh di sela riuh tawa tiga lelaki itu, “kalau orang PBsC pasti juga PMPN, tapi kalau orang PMPN tidak mau atau tidak pasti juga PBsC.”

“Kok bisa?” sahut Dhimas Gathuk.

“Lha, kan PMPN itu memiliki garis besar mengikuti Nabi. PBsC juga mengikuti Nabi. Tapi tidak lantas sama-sama mengikuti Nabi akan menjadi sama-sama Cendekianya… Haaaa…. Haaaa.. Haaaa…”

“Begitu ya, Kang?” sahut Dhimas Gathuk dalam pertanyaan tanpa semangat.

“Bercanda, Kang!”

“Ah, aku juga tidak jelas, apa ikut PMPN atau PBsC.”

“Netral saja, Kang!” sahut Nur, “Enakan netral.”

“Ada tidak perbedaan antara keduanya? perbedaan yang lebih bisa memberikan penjelasan.”

“Keduanya tetap sama. Sama-sama hasil pemikiran manusia pilihan di negara kita ini. Ah, tapi yah, memang mereka sendiri yang suka saling mencari perbedaan. Entah itu dari PMPN atau dari PBsC.”

“Aku pernah punya pengalaman yang kadang membuatku jengkel. Dua tahun lalu, aku sempat berkunjung ke tempat Kyai PMPN, eh, waktu pertama kali yang ditanya: Anda sudah membuat janji belum? Aku jengkel bukan main. Di bulan yang lain, kebetulan aku dan kawan-kawan pergi ke luar kota. Hal yang tidak kami pikirkan adalah adanya pembengkakan dana. Kami baru sadar setelah pendanaan benar-benar tipis.” Dhimas Gathuk menggelengkan kepala mengingat perjalanannya di dua tahun yang lalu.

“Terus?” sahut Nggambleh dengan bersemangat yang dia pikir ada pengalaman mengagumkan di sana.

“Salah satu kawan menyarankan untuk datang ke pesantren milik seorang Gus yang kebetulan adalah orang PBsC. Kita langsung berkunjung ke sana, untuk meminta bantuan atas tanggungan makan kami. Sesampainya di rumah Gus itu, beliau langsung menyambut kami dengan penuh semangat dan keramahan. Bahkan, saat kami mengaku sebagai pejalan jauh yang hanya sekedar mampir, beliau terlihat senang. Tanpa kami perlu meminta, beliau mengeluarkan semua hidangan yang ada. Kami benar-benar kaget.”

“Ada yang kenal dengan Gus itu Kang?”

Dhimas Gathuk menggelengkan kepala. “Baru kami tahu beberapa bulan kemudian, kalau kediaman Gus yang kami datangi itu adalah seorang besar di negara ini. Salah satu tokoh PBsC. Seorang Cendekia yang benar-benar cerdas, rendah diri, sederhana, walau beliau dan ikatannya tidak mengatasnakaman sebagai Pengikut Nabi.”

“Kseimpulannya apa, kang?” tanya Nur yang tersenyum kecil, dadanya bangga membusung karena telah dilahirkan dalam keluarga PBsC.

“Kalau kita berkunjung ke tempat Kyai PMPN musti buat janji dan kadang susah ketemu. Lain halnya dengan Kyai dari PBsC, yang selalu sederhana menjalani hidup, welas asih, dan memuliakan tamu dengan sebaik-baiknya. Seperti pesan Nabi yang berpesan pada umatnya untuk memuliakan tamu.”

Mereka bertiga saling berpandangan. Saling mengerti lalu, melanjutkan minum kopi. Di dalam bungkus rokok mereka ada bintang dengan jumlah yang sama. Hanya harganya saja yang berbeda.

Bantul – Studi Semangat Desa Sejahtera Fictionbooks

Sabtu, 17 Juli 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.