Langsung ke konten utama

Berhenti untuk Meneguk Kopi

Ignatius Haryanto
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ada kebiasaan tak lazim yang ditekuni penulis cerpen Hamsad Rangkuti di rumahnya di kawasan Depok, Jawa Barat. Di dalam kolam ikan yang airnya menggenang sebatas pinggang, pria 60 tahun itu setiap hari berendam badan. Kadang hanya beberapa menit, tapi tak jarang hingga berjam-jam. Tak jelas apa yang dilakukannya: mungkin untuk mengademkan badan, barangkali juga untuk mencari ilham bersama ikan mas yang berenang di sela-sela kakinya.

Di rumah yang didiaminya selama 25 tahun itulah Hamsad menggali ide untuk cerpen-cerpennya. Dua pekan lalu kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot, mendapat anugerah Khatulistiwa Award—penghargaan tahunan untuk buku fiksi bermutu.

Tak tanggung-tanggung, Hamsad mendapat hadiah Rp 70 juta untuk kemenangannya itu. “Saya belum cek rekening bank saya. Sudah dikirim atau belum, ya? Dua hari lagi saya akan cek bank saya,” katanya enteng. Di dekat meja telepon di ruang tamu rumahnya, ia memajang plakat penghargaan itu.

Hidup bagi Hamsad, lelaki yang selalu melempar senyum kepada siapa saja, adalah sesuatu yang bisa dijalani dengan enteng. Di rumahnya yang mungil itu ia membuka warung. Hingga malam, Hamsad kerap nongkrong menjaga kiosnya itu. “Warung ini justru ramainya kalau malam karena yang beli kebanyakan para sopir yang sedang mencuci mobilnya,” tutur Hamsad. Di dekat rumah Hamsad memang terdapat bengkel pencucian mobil. Ketika anak ketiganya menikah beberapa waktu lalu, ia tak segan mencarter satu gerbong kereta api rel listrik (KRL) untuk mengantar keluarga pengantin.

Dilahirkan di Padang dan menghabiskan masa remajanya di Medan, Hamsad merasa lebih senang tinggal di Jakarta. Dua kali ia dikirim ke Jakarta untuk acara kebudayaan pada dekade 1960. Pada kedatangannya yang kedua, ia nekat tak mau pulang lagi.

Hamsad lalu bekerja sebagai sekretaris di kantor PPFI (Persatuan Produser Perfilman Indonesia). Setiap ada produser hendak mengurus rekomendasi pembuatan film, Hamsad yang bertugas mengetik surat dan mengejar Zulharman Said, sekretaris jenderal lembaga itu, untuk meminta tanda tangan.

Empat tahun bekerja di PPFI, pria yang tak tamat SMA itu mundur dan memilih tinggal di Balai Budaya bersama pelukis Nashar dan sejumlah seniman lainnya. Hidupnya tak jelas. Ia biasa tidur di kursi atau meja. Tak jarang ia keluyuran menikmati kehidupan malam di Pasar Senen.

Tahun 1969, Arief Budiman, yang saat itu mengelola majalah Horison, mengajak Hamsad bergabung sebagai korektor. Sejak saat itu hingga 2000, Hamsad bekerja pada majalah sastra tersebut. Selama 14 tahun ia bahkan menjadi Pemimpin Redaksi Horison.

Tapi karier, seperti juga dunia, bagi seorang Hamsad Rangkuti hanyalah sebuah perhentian untuk meneguk kopi. Hakikat hidupnya adalah menulis. Bangun pukul lima pagi, Hamsad biasanya langsung salat subuh, lalu berjalan keliling kompleks rumahnya. Sambil jalan-jalan pagi, ia selalu membawa kertas dan pulpen—benda yang dipakainya mencatat ide atau kata yang tepat untuk cerpennya. Setelah itu selama dua jam ia akan terpaku di depan komputer. “Pagi adalah waktu yang pas untuk menulis. Saya mendapat banyak inspirasi kalau bekerja pagi,” kata bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (1997-2002) ini lagi. Sambil menulis, ia terkadang mendengarkan lagu kasidah atau alunan Mozart.

Menjelang siang, barulah ia keluar rumah. Ia biasanya menumpang bus atau kereta api. Hamsad mengaku senang menggunakan dua kendaraan ini karena di sana kerap banyak menemukan ide untuk cerpennya. Di Stasiun Jatinegara, misalnya, ia pernah memperhatikan perilaku seorang pengemis cacat yang kerjanya menaik-turunkan kabel di pinggir rel kereta untuk memudahkan pejalan kaki melintasi rel kereta. “Dari peristiwa itu saya menulis cerpen berjudul Hukuman untuk Tom,” kata Hamsad. Cerpennya, Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu (2002), dibuatnya dalam perjalanan ke Sumatera.

Satu-satunya kekurangan Hamsad adalah ia tergolong pelit terhadap dirinya sendiri. Ia, misalnya, lebih suka makan di rumah ketimbang menyantap makanan warung atau restoran. Bahkan, jika waktu makan sudah tiba, ia bertahan pulang ke rumah meski untuk itu ia harus menahan lapar selama lebih dari dua jam.

Dengan hadiah Khatulistiwa Award sebanyak Rp 70 juta, apakah Hamsad akan menghapuskan “kepelitannya” itu? Tidak juga. Dengarlah apa rencana dia dengan uangnya itu. “Mau saya belikan angkot. Bukan yang baru, tapi yang second saja,” katanya sambil tertawa lebar.

Dunia, bagi Hamsad Rangkuti, hanyalah perhentian untuk meneguk kopi.

AZ/Ignatius Haryanto

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com