Langsung ke konten utama

Repotnya Menulis Berdasarkan ‘Mood’

Eddy Flo Fernando
http://umum.kompasiana.com/

“menulis atau apapun karya yang berasal dari dalam, sangat bergantung pada suasana hati”

Sebulan yang lalu seorang teman mengirim pesan elektronik kepadaku. Dalam surat elektronik tersebut, dia meminta kesediaanku untuk memberikan komentar pada blognya. Maklum blognya baru dibuat dan dijadikan semacam tempat curhat antara dia dan temannya. Aku senang ternyata temanku itu diam-diam menekuni dunia tulis menulis. Buat temanku, menulis di blog pribadi hanya sekadar selingan dari mumetnya pekerjaan sehari-hari di kantornya. Dari beberapa postingan, aku paham kalau temanku itu memiliki banyak minat dan ingin segera dituangkan dalam bentuk tulisan. Saban kali aku mengunjungi blog, aku membaca sekitar empat postingan berupa kegelisahan, kekaguman dan kesannya terhadap banyak hal yang dilihat dan dialaminya. Sebagai teman, aku selalu mendukungnya untuk tetap menulis. Namun belakangan ini, jumlah postingannya masih belum bertambah. Setelah aku menanyakan alasan jedanya, temanku bilang dia masih menunggu ‘mood’ yang enak untuk menulis.

Jawaban temanku itu benar dan aku juga mengalaminya. Sebagai penulis pemula dan orang yang baru belajar menulis, ‘mood’ alias suasana hati sangat penting. Biasanya, sebuah tulisan akan lancar mengalir jika suasana hati penulisnya sedang bagus atau dalam kondisi yang asyik, menyenangkan. Mood yang bagus membuka ruang kreatif dalam imajinasi dan nalar seseorang. Menulis berdasarkan mood bukan sebuah kelemahan apalagi bencana. Bagiku menulis berdasarkan mood penting karna dalam keadaan tertentu, mood dapat berperan sebagai motor atau penggerak yang menimbulkan ide-ide atau fantasi tertentu. Mood memungkinkan penulis dapat berkreasi menurut caranya sendiri dalam menuangkan ide dan gagasan. Tanpa mood yang enak, penulis menjadi mandek bahkan kehilangan gairah dalam menulis.

Persoalan mood dalam menulis bukan hanya masalah penulis pemula. Beberapa penulis besar juga mengalami hal yang sama. Dalam perbincanganku dengan Penyair Hamsad Rangkuti, beliau mengakui bahwa mood menjadi vital dalam proses kreatifnya. Di kalangan para pujangga Indonesia, Hamsad Rangkuti terkenal dengan penulis yang setahun satu tulisan. Tapi dari segi kualitas dan nilainya, aku yakin semua sepakat karya tulis Pemimpin Redaksi majalah sastra Horison itu sangat luar biasa. Siapa sangka dari tangan lahir sebuah cerpen yang memenangkan hadiah Sasra Kathulistiwa. Judulnya : maukah engkau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu. Menarik, bukan? Selain Hamsad Rangkuti, ada nama lain yang fenomenal di kalangan para pengarang. Siapa lagi kalau bukan J. K. Rowling. Pengarang Harry Potter ini termasuk penulis ‘mood-ian’. Dalam sebuah wawancaranya, J. K. Rowling mengakui bahwa mood menulisnya selalu bagus kalau sedang berada di kafetaria di sekitar stasiun kereta api. Perempuan Inggris ini mengakui bahwa Harry Potter berasal dari Coffee-shop di Stasiun subway kota Manchester. Makanya ketika ditanyakan apa yang menjadi keinginan terbesar dalam hidupnya, JK.Rowling menjawab, ” ingin menikmati kesunyian kafetaria di stasiun kereta api karna bisa konsentrasi dalam menulis serta bisa bebas menikmati suasananya.”

Belajar dari pengalaman JK. Rowling dan Hamsad Rangkuti ternyata menulis berdasarkan mood dapat menghasilkan karya yang luar biasa. Tapi risikonya seperti yang dialami Hamsad Rangkuti, bisa jadi dalam setahun kita hanya menghasilkan satu tulisan. Penulis membuang banyak waktu hanya untuk menunggu datangnya mood. Jika mood belum ada, tulisanpun tidak akan ada. Memang repot kalau menulis berdasarkan mood, namun dari segi kualitas dan kepuasan jelas luar biasa dan dahsyat. Dalam dunia tulis-menulis produktivitas seorang penulis tidak dihitung dari berapa tulisan atau karyanya saja, tapi bagaimana pengaruh dan kualitas karyanya. Pertanyaan selanjutnya, dapatkah mood itu diciptakan atau dipacu? Semua kembali kepada pribadi masing-masing penulis. Ada yang bisa memacu moodnya tapi ada pula yang membiarkan moodnya mengalir apa adanya. Toh, jika sudah waktunya mood itu akan dengan sendirinya bekerja dalam diri penulis.

Menulis berdasarkan mood memang menjadi pilihan yang paling bagus bagi penulis pemula atau siapa saja yang berminat pada dunia tulis menulis. Berdasarkan pengalaman pribadiku, karya kreatif seperti menulis dapat berkembang dengan baik jika mendapat tantangan dan ruang yang bebas serta tidak terikat pada aturan atau batasan tertentu. Ledakan kreatif dalam terjadi dalam setiap situasi akan tetapi lebih banyak dalam suasana yang nyaman, asyik serta menunjang daya fantasi dan nalar. Jangan takut menulis berdasarkan mood meski itu agak merepotkan. sebab, menulis sendiri dalam perspektif tertentu adalah sarana katharsis yang paling mencerahkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.