Langsung ke konten utama

Menyimak Lokalitas di Riau

Judul buku : Nyanyian Kemarau
Penulis : Hary B. Kori’un
Penerbit : Kakilangit Kencana
Cetakan : November 2009
Halaman : x+248 hlm.
Peresensi : Arman AZ
http://www.lampungpost.com/

MENYIMAK sisik melik lokalitas suatu daerah di Indonesia lewat sudut pandang sastra (cerpen, puisi, novel) tetap jadi ihwal menarik untuk dinikmati. Apa yang mungkin lumrah kita temukan dalam tulisan atau informasi jurnalistik, menjadi berbeda ketika dibaca dalam teks sastra. Selain memasuki wilayah imajiner (fiksi), bisa jadi kita pun akan memergoki sejumlah rekonstruksi fakta yang mungkin sebelumnya tak diketahui pembaca di daerah lain.

Beberapa tahun belakangan, novel Indonesia dipenuhi tema-tema lokalitas, semisal Jawa, Papua, Flores, Batak, dan beberapa daerah lainnya. Akhir tahun silam, bertambah lagi novel bertema serupa. Kali ini dari Negeri Lancang Kuning, Riau. Adalah sastrawan Hary B. Kori’un yang menerbitkan novel anyarnya bertajuk Nyanyian Kemarau.

Novel ini dibuka dengan prolog berupa narasi Sari, wanita keturunan China yang dalam usia muda sudah memiliki posisi strategis di sejumlah perusahaan. Dia sudah tiga tahun berdomisili di Riau. Sebelumnya dia lebih banyak di Jakarta dan kota lain untuk mengurus perusahaan milik bapaknya. Sari kehilangan Rusdi, lelaki perantau dari Riau yang pernah membuat hatinya luluh. Dia menemukan sosok pribadi yang berbeda dalam diri Rusdi, wartawan muda yang masih memiliki idealisme. Relasi personal antara Sari dan Rusdi jadi pemantik untuk mengetahui kisah selanjutnya.

Kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan membuat Rusdi memutuskan kembali ke tanah kelahirannya. Di sana dia menjadi wartawan koran lokal. Idealisme membuatnya terlibat jauh dalam mengungkap bisnis pembalakan liar. Dalam pelarian dari lokasi kerusuhan, Rusdi diselamatkan Aida, dokter yang mengabdi di pedalaman Riau. Risiko fatal adalah ketika Rusdi mengalami kecelakaan bersama Aida. Mobil yang dikendarai Aida ditabrak truk dari depan. Aida cacat dan harus duduk di kursi roda. Terdorong rasa cinta dan ingin bertanggung jawab, Rusdi memutuskan menikahi Aida, apa pun kondisinya.

Kisah bertambah kompleks ketika Sari, wanita dari masa lalu Rusdi, melebarkan sayap bisnisnya di Riau. Salah satu tujuan rahasianya adalah mencari Rusdi. Kisah cinta segi tiga berlanjut dengan pertemuan Sari dan Aida atas sepengetahuan Rusdi. Naluri wartawan Rusdi membuatnya mencari tahu ada apa dibalik peristiwa kecelakaan yang dialaminya bersama Aida. Usut punya usut, ternyata kecelakaan itu adalah skenario untuk melenyapkan Rusdi. Aida yang cacat seumur hidup, kemudian meninggal, adalah korban tak sengaja dalam permainan penguasa dan pemilik modal.

Dalam novel ini banyak kita temui fakta-fakta sejarah buram di Indonesia, misalnya peristiwa kerusuhan berbau rasial di Jakarta dan sejumlah daerah menjelang runtuhnya Orde Baru, kejahatan terorganisasi di Jakarta menjelang runtuhnya Orde Baru itu yang melibatkan sejumlah pihak, kekerasan terhadap jurnalis, perlawanan masyarakat daerah (Riau) terhadap kebijakan penguasa yang tak berpihak kepada kepentingan masyarakat setempat dan kearifan lokalnya yang sudah berlaku turun-temurun, pembalakan liar, kesehatan di daerah-daerah terpencil, juga ihwal-ihwal keberagaman (pluralisme). Sepintas novel ini jadi dijejali kompleksitas masalah dan dibebani banyak pesan moral.

Pembaca bisa berimajinasi tentang geografis Riau, plus problem sosial di sana yang mungkin luput terpublikasi ke level nasional. Misalnya, polemik antara warga adat dan perusahaan asing yang di-backing-i pemerintah menjelang pembangunan PLTA Koto Panjang. Walaupun PLTA telah berdiri, ternyata tak juga bisa mencukupi pasokan listrik Riau. Ada juga ihwal pembalakan liar (illegal logging) yang menyebabkan rusaknya hutan Riau dan berdampak negatif pada udara, permainan kotor yang melibatkan banyak pihak dalam pembalakan liar tersebut, dan beberapa lainnya. Fakta-fakta itu berkelindan atau jalin-menjalin dengan kisah cinta segitiga Rusdi, Sari, dan Aida.

Novel ini, yang mengungkit problem sosial politik di Riau, relasi masyarakat setempat atau rakyat kecil dengan penguasa, perusakan alam, dibumbui kisah cinta, sepintas mengingatkan pada cerpen-cerpen atau novel Korrie Layun Rampan yang berlatar Kalimantan. Hary B. Kori’un, bukan nama asing dalam ranah sastra Indonesia, terutama Riau. Karyanya kerap menghiasi media massa, pun acap meraih penghargaan dalam lomba penulisan sastra tingkat lokal maupun nasional. Novel Nyanyian Kemarau ini terasa sekali aroma jurnalistiknya, mirip seperti novelnya terdahulu (Nyanyian Batanghari) yang menggunakan lebih dari satu narator. Cukup beralasan mengingat latar belakang penulisnya sebagai wartawan. Bila novel ini dicetak ulang, tampaknya editor harus merevisi ulang beberapa kesalahan pengetikan yang kelihatan sepele tapi terasa mengganggu. Selain itu, desain kover belakang yang membuat sinopsis jadi sulit dibaca.

Semogalah apa yang telah ditempuh Hary lewat Nyanyian Kemarau ini, menerbitkan buku sastra dan mempublikasikannya secara nasional, bisa diikuti sastrawan-sastrawan muda Riau lainnya hingga ranah sastra Indonesia semakin semarak.

Arman AZ, sastrawan

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com