Langsung ke konten utama

Dari Puisi Mantra ke Kursi Presiden Penyair

Murparsaulian
http://riaupos.com/

Kepiawaiannya meramu kata telah menghipnotis, tidak hanya mahluk sastra, namun juga penikmat dan pemerhati sastra di tanah air bahkan dunia.

Di tangannya kata-kata menjadi wangi dan ranggi. Pada momen Anugerah Sagang ke-15 tahun ini, Yayasan Sagang memberikan anugerah khusus Sagang Kencana kepada presiden penyair ini.

Siapa yang tak mengenal Sutardji Calzoum Bachri. Kehadirannya di jagat sastra nusantara telah menguak tabir sastra kontemporer. Tardji muncul dengan karya-karyanya yang fenomenal. Mendobrak batasan-batasan umum dalam peta sastra di tanah air.

Keberaniannya dengan kredo puisinya mengejutkan publik sastra waktu itu. Tidak hanya mengejutkan dari segi karya, Tardji juga mengejutkan banyak orang ketika membacakan puisi-puisinya. ‘’Kejutan-kejutan’’ Tardji ini sontak saja mengalihkan perhatian publik sastra padanya.

Berbekal semangat kemelayuannya, Tardji muncul di pentas sastra nusantara dengan puisi mantra yang pada awalnya banyak mendapat ‘’perlawanan’’ karena puisinya yang tidak biasa itu. Keberaniannya ‘’memainkan’’ kata membawa dirinya ke sebuah ruang unik dan cerdas.

Ketika publik sastra mempertanyakan puisi mantra yang dihadirkan Tardji, dengan lantang Tardji mengatakan, bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Karena tardji adalah anak Melayu maka dirinya memiliki kemampuan lebih dalam meramu bahasa Melayu untuk diracik menjadi puisi.

Dan usahanya itu tidak sia-sia. Karya-karyanya mendapat tempat khusus di hati publik sastra tanah air. Bahkan menghantarkannya pada beberapa penghargaan di bidang sastra antara lain; South East Asia Writer Award (1979, Bangkok, Thailand), Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia (Menteri Kebudayaan dan Pendidikan), Anugerah Sastra Chairil Anwar Dewan Kesenian Jakarta (1998), Seniman Perdana Dewan Kesenian Riau (2000), Anugerah sastra Majelis Sastra Asia Tenggara/Mastera (Brunai Darussalam, 2006), Anugerah Seni Akademi Jakarta (2008), dan lain-lain.

Tardji juga aktif mengikuti berbagai kegiatan sastra di antaranya International Poetry Reading (Rotterdam 1974), International Writing Program (Iowa City, Amerika Serikat, Oktober 1974- April 1975), International Poetry Reading Kuala Lumpur, International Poetry Reading Madellin (Colombia Amerika latin, 1977), 8th Poetry Reading Africa Festival (Durban, South Africa 2004), Tradewinds Literature International Festival (Cape Town, Afrika Selatan, 2004) dan berbagai kegiatan sastra dan budaya di tanah air. Beberapa karyanya terangkum dalam kumpulan puisi AMUK (1977), O Amuk Kapak (1981), Atau Ngit Cari Agar (2008), kumpulan cerpen Hujan Menulis Ayam, dan beberapa kumpulan esai.

Budayawan Riau Al Azhar mengatakan, baginya Tardji adalah ikon kesadaran kreatif dalam kehidupan seorang penyair.

Penyair adalah orang yang mengarungi samudera tanda-tanda yang diberikan bahasa dan gejala-gejala. Dengan demikian, setiap puisi yang dihasilkan penyair adalah semacam suara kepulangan dari perjalanan pengarungan itu. Tardji mengarungi tanda-tanda dengan keluasan dan kedalaman pikiran yang mengagumkan, serta ketulusan hati yang mencengangkan.

‘’Maka suara kepulangannya yaitu setiap puisi yang dihasilkannya terdengar lantang, gema-bergema, tidak hanya menembus ruang dan waktu yang berubah, tapi juga mencairkan konvensi-konvensi perpuisian yang membeku dan menisbikan makna-makna bahasa yang membaku,’’ terang Al Azhar yang banyak menghabiskan waktu dengan SCB di wilayah kebudayaan ini.

Dalam buku bertajuk ‘’ …Dan, Menghidu Pucuk Mawar Hujan’’, yang diterbitkan Dewan Kesenian Riau, Budayawan Riau Prof Dr Yusmar Yusuf, MPsi menuliskan, Sutardji telah mampu memberikan tanda atau sidik jari atas karya-karyanya. Sesuatu yang kecil telah disulap menjadi sesuatu yang memiliki daya takluk luar biasa.

Seperti manusia dalam kehidupan yang mengenal maqam (tapak berpijak dan tapak beranjak), maka maqam yang dipilih Sutardji adalah sebuah istana serba mungil yang sangat wangi. Kata-kata adalah kemerdekaan itu sendiri. Memerdekakan kata-kata dari serangkaian tugas yang dipersepsikan manusia selama ini adalah juga tugas ilahiah.

Bahwa kata-kata adalah makhluk, memiliki nyawa dan hayat sendiri, yang otonom dengan dirinya sendiri. Maka ketika dia terbebas dari segala beban makna, kata-kata pun menggelinjang menjadi mawar, menjelma dalam kewangian. Maka, jadilah karya-karya Tardji yang terlalu, mewangi dan menghidang kewangian.

Perjalanan karir sastra Sutardji di tanah air telah menciptakan sebuah aliran baru di peta sastra kotemporer. Tidaklah berlebihan, mengutip Marhalim Zaini menulis tentang Sutardji Calzoum Bachri, adalah serta merta menulis riwayat perjalanan sastra (modern) Indonesia.

Lebih dari setengah abad usianya, gelar Presiden penyair masih melekat di diri anak watan Melayu yang dilahirkan di Rengat 24 Juni 1941 ini. Besar di Tanjung Pinang dan hijrah ke Jakarta. Walaupun sudah merayau ke seterata benua, namun Tardji tetap membawa Melayu dalam dirinya yang terpancar dari karya-karya sastranya.(rpg)

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com