Langsung ke konten utama

DEMO

Arie MP Tamba
http://www.sinarharapan.co.id/

Buruh menginginkan perbaikan upah minimum dan tunjangan lembur. Para mahasiswa menginginkan pergantian penguasa. Para aktivis lingkungan menginginkan pergantian menteri lingkungan hidup yang memiliki visi lingkungan sehat. Para pekerja profesional yang menggelar demonstrasinya di depan Bursa Efek mengharapkan adanya ketegasan pemerintah tentang arah kebijakan ekonomi, tegaknya supremasi hukum, dan ”pembersihan” para politikus dari rezim lama….

”Gawat! Seluruh penjuru kota kini tercekam oleh demo, demo, dan demo!”

”Dan jangan lupa. Ada puluhan ribu massa yang mulai mendekat ke arah perkantoran kita… Hallo? Hallo?!”

”Iya, apa lagi? Sudah menemukan narasumber?”

”Narasumber banyak, Pak. Beberapa sudah saya wawancarai, termasuk para mahasiswa dan wartawan yang terkena peluru nyasar. Saya nanti akan mengerjakannya di rumah. Tapi sekarang saya dan teman-teman wartawan lainnya sedang membentuk lingkaran pertahanan…. Dengar-dengar banyak sniper yang sengaja mengincar para demonstran…. Entah dari pihak mana. Kami para wartawan yang selamat akan melingkari para mahasiswa yang sedang terjepit. Kami akan mengarahkan mereka ke tempat terbuka, agar dapat disaksikan orang banyak dari gedung-gedung dan jembatan di daerah sini!”

”Hati-hati! Tapi, bukannya semakin berbahaya kalau di tempat terbuka?”

”Yah…adduhh! Saya kena lemparan batu! Duuh!”

”Hallo? Hallo?!” Bonang sontak berdiri gemetar, dengan tangan yang juga gemetar mencekal gagang telepon. ”Hallo…? Halllo…Rifi? Rifi, ada apa?”

Bonang memusatkan pendengarannya. Tak ada sahutan dari Rifi kecuali suara-suara galau, dan lamat-lamat terdengar juga teriakan-teriakan yang berbaur dengan suara tembakan. Lalu, trak, traak! Hening menyekap!

Bonang terduduk dengan pikiran kalut. Cemas. Pikirannya menerka-nerka apa yang sedang terjadi di seberang sana. Dan serentak, ia pun benar-benar merasa sendirian di ruangan redaksi yang terhampar luas itu.

Para wartawan telah lama pulang, dan sebagian sengaja bertugas di lapangan untuk melengkapi berita utama dengan perkembangan politik terbaru. Lalu sebagai redaktur yang bertanggung jawab untuk penyusunan berita utama kali ini, Bonang harus bertugas menjaga kantor. Menunggu setiap berita terbaru yang bisa saja langsung dikirimkan oleh teman-teman wartawannya melalui internet atau fax.

Sejak pagi segalanya berjalan lancar. Bayangan akan memperoleh berita hangat menyemangati para wartawan untuk meliput beberapa demonstrasi yang serentak menggoncang Jakarta. Dan Rifi, salah seorang wartawan mereka yang paling ”nekat”, telah berjanji secepat mungkin akan menyetor berita-berita ”khas” yang tak akan diperoleh media lain.

Dan kabar dari Rifi sejak sore hari adalah, ia dan beberapa wartawan dari media lain tanpa sengaja ikut terkepung petugas keamanan dan massa, di dekat sebuah jembatan besar yang diapit oleh jajaran gedung-gedung perkantoran. Pembakaran kendaraan umum dan pribadi, perusakan gedung-gedung perkantoran dan toko-toko, saling lempar antara demonstran dan petugas keamanan, dan juga massa yang semakin banyak jumlahnya, telah berlangsung sejak sore.

Dan sekarang sudah hampir tengah malam. Sementara hubungan dengan Rifi baru saja terputus!
Maka, setelah mengembalikan gagang telepon ke pesawatnya, lamat-lamat Bonang pun mulai mendengar suara-suara ”massa” yang semakin mendekat dan menggelegar ke arah gedung perkantoran mereka itu. Suara-suara itu agaknya sudah muncul sejak beberapa menit lewat. Cuma, karena Bonang sempat termenung memikirkan Rifi, ia terlambat mendengar suara-suara itu.
”Bakar! Bakar! Bakar majalah kapitalis! Bakar!”

Dari ruang kerjanya di lantai dua, sambil merapatkan wajah ke dinding kaca yang menjadi pembatas dengan teras kecil di beranda lantai dua itu, Bonang memandang jauh ke bawah, ke halaman dan ke luar pagar, memperhatikan betapa sibuknya para satpam yang kali ini tampak ”siap dan tegang”, mondar-mandir mengantisipasi setiap kemungkinan. Lalu terlihat juga sebuah truk penuh petugas keamanan datang menghampiri dan tampak berkoordinasi dengan para satpam. Mereka telah siap dengan berbagai peralatan. Para satpam bersiaga dengan pentungan, linggis, dan tentu saja dengan beberapa ekor anjing-anjing herder yang tegap-tegap dengan moncong-moncong yang sesekali menggeram dan menengadah membaui udara malam. Sementara para petugas keamanan telah berjaga dengan alat-alat pelindung antihuru-hara dan juga pentungan!

Bonang tercekat oleh semua itu. Ia tak menyangka akan ada semacam pengamanan darurat yang menyertakan petugas keamanan untuk gedung perkantoran mereka. Kalau ia mengetahui akan ada penjagaan ketat seperti itu, ia akan mengusulkan agar para Satpam tidak menggunakan anjing-anjing herder.

Gagasan siapa itu? Usul para satpam atau ketetapan si Bos? Sungguh ceroboh! Hal demikian akan menimbulkan antipati massa. Sementara itu, gelombang massa sudah mulai terlihat memasuki mulut jalan besar sana. Suara-suara mereka semakin terdengar utuh. Mereka bergerombol dan juga tampak membawa peralatan ”perang” masing-masing. Kelompok mana mereka? Mengapa mereka mengibar-ngibarkan slogan ”antimajalah kapitalis?”

Gedung besar itu kini seakan terjepit dalam situasi ”medan perang”. Bonang tak mampu berbuat apa pun kecuali sesekali menggerutu dan menyesali nasibnya! Sebagai seorang redaktur mestinya ia bisa melengkapi berita utama kali ini dengan tulisan sendiri. Dan itu dapat dikerjakannya di rumah. Tapi segalanya sudah terlambat. Ia kini hanya menjadi seorang pegawai yang harus menerima konsekuensi dari sebuah pekerjaan ”24 jam”. Bukankah tak ada libur bagi seorang wartawan? Sekalipun ia terancam akan kehilangan segalanya malam ini? Kehilangan keluarga? Kehilangan teman-teman? Karena serbuan massa yang membenci koran kapitalis?

Hanya beberapa menit Bonang termangu memandangi halaman kantor yang dijaga ketat oleh para satpam dan petugas keamanan itu, ketika telepon berdering nyaring. Untuk sesaat Bonang kaget juga. Pasti Rifi! Kalau memang Rifi, ia akan menyuruhnya segera pulang saja ke rumah. Nanti mereka akan saling mengontak dari rumah masing-masing. Biarkan Rifi mengerjakan apa yang sudah diperolehnya di rumah dan Bonang akan melengkapi kekurangannya dengan opini. Daripada mempertaruhkan nyawa di bawah udara malam dan ancaman sniper dan massa yang kalap!

”Hallo Rifi…!” Bonang menyapa.

Untuk sesaat tidak ada sahutan dari seberang. Hampir saja Bonang menutup gagang telepon, karena mengira seseorang baru saja salah sambung. Hingga tiba-tiba sebuah suara yang sangat dikenalnya, terdengar jelas di telinganya.

”Hallo…Mas Bonang!”

”Heh! Bung Lukman?!” teriak Bonang. Sementara, di seberang sana Lukman pastilah agak menjauhkan telinganya dari gagang telepon genggamnya untuk menghindari ”seruan” Bonang.

”Tak usah teriak-teriak, Mas! Gugup sih gugup, tapi jangan membentak orang lain dong!”

Bonang dongkol dan agak tersinggung atas gerutuan Lukman itu. Tapi secara aneh, semacam keingintahuan menggerakkan kesadarannya untuk menahan diri dan menunggu. Tidak seperti biasanya, setiap kali berdialog dengan Lukman melalui telepon, Bonang cenderung ”menyalahkan”.

”Kamu di mana, Bung Lukman? Tumben menelepon malam-malam begini. Dan kok tahu saya masih di kantor?” Bonang melanjutkan pembicaraan, sekali lagi, dengan pikiran dan perasaan harus mampu menahan diri. Kali ini Bonang memang membutuhkan teman bicara untuk menetralisir kegugupannya.
Tapi, bagaimana Lukman mengetahui kegugupannya?

Dengan keakraban yang jelas sekali dibuat-buat, Lukman kemudian menjawab kaku, ”Barusan saya menelepon ke rumah. Kata istrimu Mas jaga malam, dapat giliran menyiapkan berita utama. Dan kuharap Mas tidak terkejut. Saat ini saya dekat sekali dengan kantormu. Saya berada di antara massa yang sekarang menuju kantormu! Biasalah, Mas, kami ingin membereskan masalah-masalah lama!”

”Sial kau! Jadi mereka itu kelompokmu ya?” sergah Bonang tak sabar. Lalu segera memperbaiki nada bicaranya. ”Maksudku, Bung terlibat ya?”

”Bukan kelompokku saja, Mas. Tapi gabungan dari beberapa gerakan perlawanan untuk menumbangkan media-media kapitalis…hahaha!” sahut Lukman dengan tawa mengejek.

Kalau tidak sedang membutuhkan teman bicara, dan sekaligus ingin ”menggali” berita dari Lukman, Bonang sebenarnya sudah ingin meletakkan gagang telepon dan melupakan saja sosok Lukman; sekalipun Lukman saat itu sudah mendekat ke arah kantornya.

Hutang lama! Itulah ungkapan Lukman. Ya. Karena Lukman dan kelompoknya pernah mendapatkan pemberitaan ”miring” di majalah mereka. Padahal, pemberitaan ”miring” tersebut, tentu saja menurut sisi pandang Lukman dan kelompoknya. Sementara majalah Bonang ketika itu, berbulan-bulan lewat, secara kebetulan menjadikan petugas kemanan sebagai narasumber utama. Dan masa itu, secara kebetulan semua petugas keamanan masih berseberangan dengan kelompok perlawanan yang dipimpin Lukman. Dan kini, apakah kelompok Lukman telah seiring sejalan dengan sebagian petugas keamanan? Bonang tak tahu pasti. Yang jelas, isu semakin santer, bahwa kali ini gerakan-gerakan perlawanan justru didukung oleh sebagian petugas keamanan. Untuk apa? Kenapa? Inilah berita yang harus digali dan dibeberkan untuk publik. Ya. Publik, atau masyarakat luas, harus mengetahui secara jelas apa yang sedang bergejolak di tengah-tengah kehidupan mereka!

Bonang melepaskan napas kesal. Untuk sesaat suara yang terdengar hanya dengus dan sisa tawa mengejek Lukman di ujung sana. Bonang mencoba membaca situasi. ”Oke, oke, Bung Lukman menang. Tapi mengapa harus malam-malam begini? Dan kalau hanya kelompokmu yang menuntut hutang lama, mengapa harus bersama kelompok-kelompok lain? Dan, Bung sendiri kan tahu, semua media massa kan memang miliknya para kapitalis. Apa kalian mau menutup semua media?”

”Persis! Kita buka-bukaan saja. Semua media memang milik kapitalis. Tapi di antara para kapitalis itu, media tempat Mas bekerjalah paling kapitalis. Seenaknya membuat berita-berita yang merugikan gerakan perlawanan, agar laku di pasar. Bosmu itu biangnya KKN dengan modal asing dan penguasa korup. Mau nggak mau, ya Mas juga bagian dari mereka!” ujar Lukman berapi-api. Kalau sudah kalap, Lukman memang akan ceplas-ceplos tentang apa saja.

Bonang jadi teringat peristiwa tiga tahun lewat, ketika ia memperkenalkan Lukman si tokoh mahasiswa yang getol meneriakkan yel-yel reformasi dan anti KKN itu, kepada si Bos pemilik majalah mereka. Lukman datang dengan proposal permintaan sumbangan dana untuk sebuah proyek penelitian. Tentu saja Lukman diterima baik dan dipersilakan mempresentasikan proyek penelitian yang akan dilakukannya bersama kelompoknya.

Tadinya presentasi berjalan lancar. Angka-angka bantuan dan kerja sama mulai didiskusikan. Termasuk kesiapan majalah Bonang untuk ikut menerbitkan buku hasil penelitian yang akan dilakukan Lukman dan teman-temannya. Lalu acara presentasi tiba-tiba saja sungsang, ketika tanpa sengaja, entah siapa yang memulai, si Bos mulai berdebat tentang politik dengan Lukman. Puncaknya, si Bos secara halus menarik semua dukungan yang beberapa menit sebelumnya sempat disanggupi. Dan untuk itu, Bonang sendiri memperoleh teguran, agar lain kali tidak sembarang membawa tokoh mahasiswa mana pun untuk meminta bantuan dari majalah mereka.

”Saya mengerti, Bung Lukman. Tapi, bagaimanapun kita hanyalah manusia biasa yang sama-sama memperjuangkan agar hidup kita menjadi lebih baik…”

”Hmkh! Kita tidak sama, Mas!” Lukman memotong.

Tapi Bonang meneruskan. ”Dan perlu Bung ketahui, kalian sudah ditunggu oleh para satpam dengan anjing-anjing herdernya. Petugas keamanan juga sudah berdatangan. Bukan saya mau menakut-nakuti. Maksudku, cobalah pikirkan para satpam yang akan menghadapi kalian. Mereka juga orang-orang kecil seperti kita, yang sedang berusaha meningkatkan kehidupan mereka…. Apa tidak ada jalan lain kecuali penyerbuan yang akan kalian lakukan?”

Seakan menyadari adanya semacam kontradiksi, Lukman terdengar menarik napas panjang dan mengganti topik pembicaraan. ”Sudahlah, Mas tidak akan mengerti bagaimana posisi kami. Mas tahu apa yang kami lakukan kemarin? Kami berhasil mengumpulkan sumbangan dari sebuah kampung di Jawa Barat, untuk perjuangan kami. Kau tahu apa kata mereka? Kalahkan orang-orang kota itu! Mereka telah mengeruk semuanya, sementara kita di kampung-kampung sini hanya kebagian yang kecil-kecil saja…. Jadi, jangan katakan kami memusuhi orang kecil. Kami hanya memusuhi orang-orang kapitalis dan kelompoknya. Artinya, yah, Mas dan para satpammu tetap saja kapitalis, meskipun kapitalis kecil…hahahah!” Lagi-lagi, terdengar tawa Lukman yang mengejek panjang.

Kali ini, Bonang tak tahu lagi mau bicara apa. Mau diteruskan berdebat, pasti ujung-ujungnya adalah kebuntuan. Dan lagi, di tengah malam yang serba panik saat itu, Bonang tak memiliki keinginan untuk berdebat panjang lebar tentang orang-orang kecil dan kapitalisme!

Jadi Bonang hanya dapat mendesah perlahan. Apa lagi yang dapat diperbuatnya?

Untuk sesaat mereka berdua terdiam, seakan saling termenung dalam arus pemikiran masing-masing, di tempat masing-masing yang semakin dekat jaraknya. Lukman mulai terdengar gelisah seakan ingin mengakhiri pembicaraan. Bonang sendiri sudah mulai enggan menggenggam pesawat teleponnya lebih lama lagi.

Akhirnya keheningan terpecah. ”Sudahlah, Mas Bonang. Sampai jumpa di tempatmu. Kalau mau dialog, kuharap Mas mau keluar menemui kami. Saya akan menahan teman-temanku, asal Mas mampu memberikan pernyataan-pernyataan yang memuaskan.”

”Tentang apa?” tanya Bonang.

”Yah apa saja! Mungkin semacam jaminan bahwa selanjutnya majalahmu akan berpihak dan menyuarakan tuntutan kami. Dan tentu saja…kalian juga harus minta maaf!” desak Lukman.

”Itu yang saya tak bisa, Bung Lukman. Wewenang saya malam ini hanya menanggung-jawabi berita utama…demonstrasi mahasiswa!” jawab Bonang.

”Kalau begitu, jadikan kami berita utama! Sampai jumpa di tempatmu!” Trak! Lukman memutuskan hubungan telepon.

Bonang tercenung dan meletakkan gagang telepon. Ia tak menyangka kalau Lukman akhirnya berhasil menekannya.

Dan baru saja Bonang meletakkan gagang telepon, Om Joko kepala satpam, yang biasanya sering melontarkan obrolan ringan dan guyonan ala Madura itu, sudah menerobos masuk ke ruangan redaksi dengan wajah tegang.

Dengan tersengal-sengal Om Joko berbicara, ”Cepat, Pak Bonang. Pak Bonang disuruh pulang oleh Bos. Lewat pintu belakang. Mobil bos sudah menunggu!” Om Joko menarik napas panjang, ”Harus cepat! Karena Bos akan langsung terbang dengan helikopter bersama keluarganya ke pulau!”

Bonang gelagapan. ”Bos masih ngantor?” tanyanya bingung.

Om Joko menjawab tak sabar. ”Bukan. Bukan begitu. Sejak siang Bos sudah pulang. Tapi bos terus memantau keadaan di sini, termasuk meminta bantuan para petugas keamanan. Dan barusan, karena tahu Pak Bonang masih ada di sini, ia sengaja mampir mau menjemput. Pak Bonang akan diantarkan pulang!”

Bonang segera mengerti situasinya. Rasa terima kasih membias di benaknya karena si Bos ternyata masih menyempatkan diri ”menyelamatkannya”. Tapi, bagaimana dengan Rifi dan wartawan lainnya. Bagaimana kalau mereka menghubungi lagi? Siapa yang akan menampung ”berita” dari mereka?

Bonang kembali gelagapan setelah telinganya menangkap suara alarm menjerit-jerit membahana ke seluruh ruangan dan areal gedung. Bahkan beberapa lampu sorot berkekuatan ratusan watt di halaman telah dinyalakan, menjadi penerang bagi para satpam dan para petugas keamanan yang kini tampak bersiaga penuh seraya mencari-cari penyebab aktifnya alarm itu. Sementara, anjing-anjing herder mulai menggeram-geram dan menyalak menusuk-nusuk udara malam, sekalipun leher mereka terikat rantai yang dipegang kencang oleh para satpam.
”Cepat, Pak Bonang!” ujar Om Joko khawatir.

Dari arah halaman mulai terdengar bunyi pecahan kaca dan lemparan-lemparan batu. Lalu beberapa botol molotov telah meledak dan mengeluarkan asap tebal di beberapa bagian halaman dan luar pagar yang luas itu. Bonang berpikir cepat, menyadari bahwa gedung perkantoran itu pasti telah terkepung rapat oleh massa yang sedang mengamuk dan dapat membahayakan jiwanya. Tanpa pikir panjang diambilnya rangsel dan laptopnya, dan segera bergegas mengikuti langkah Om Joko menuju pintu belakang yang selama ini belum pernah dilewatinya.

Berdua mereka keluar menyusuri lorong-lorong di sisi gedung percetakan, dan keluar menuju pintu gerbang kecil di halaman belakang yang selama ini sumpek oleh barang-barang tak terpakai atau sisa-sisa majalah yang salah cetak atau tidak laku di pasar.

Om Joko menolak ajakan Bonang untuk ikut menyelamatkan diri dari amukan massa. Om Joko dan teman-temannya diharuskan tinggal bersama para petugas keamanan untuk melindungi gedung perkantoran dan isinya sedapat mungkin. Pikir Bonang, mau menyelamatkan apa lagi dari amukan massa yang benar-benar datang penuh kemarahan?

Si Bos mengangguk kecil ketika melihat Bonang memasuki mobil. Begitu mobil bergerak belasan meter menyusuri jalanan gelap di belakang areal gedung perkantoran itu, telepon genggam Bonang menyala. Rifi!

”Hallo Rifi…? Bagaimana…?” belum habis Bonang bertanya, Rifi sudah memotong ringkas.”Saya sedang menuju kantor, Pak. Sampai jumpa! HP saya terinjak massa. Ini HP teman!” Trak! Rifi memutuskan hubungan.

Bonang panik. Ia semakin panik lagi ketika melihat si Bos menoleh ingin tahu. ”Wartawan kita?” tanya Bos.

”Iya, Pak. Rifi!” jawab Bonang.

”Oh si nekat itu?”

Bonang mengangguk. Dan segera memanggil ulang HP temannya Rifi.

”Hallo?” terdengar suara seorang gadis menyahuti.

”Hallo, tolong sambungkan dengan Rifi!” kata Bonang.

Lamat-lamat terdengar suara memanggil-manggil nama Rifi. Lalu kembali terdengar suara si gadis. ”Maaf, Pak. Rifi baru saja berangkat dengan teman lainnya. Katanya mau meliput gerakan massa di kantornya, dan langsung menuliskannya malam ini…. Sudah, Pak, kami juga mau bergerak ke istana! Di sana masih banyak demonstran!” Trak! Hubungan diputuskan.

”Hallo! Hallloo!” Bonang memanggil-manggil. Tak ada sahutan. Dan di wajahnya segera membayang wajah Lukman yang saat ini pastilah kecewa karena tak menemukan Bonang di kantornya. Tapi, tak lama lagi Lukman dan kelompoknya akan ”bersua” dengan Rifi!

Ah, Rifi, si wartawan nekat itu. Mudah-mudahan ia lolos melewati demo kali ini! Bonang memandang kegelapan jalan di depan sana dengan bimbang. ***

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com