“Film Yogya” Dilacak Sejak FKY XV 2003

Ken Rahatmi
http://www.kr.co.id/

Enam film karya pelajar dan 19 film bikinan mahasiswa/umum, mendaftar di Festival Film Video FKY XV-2003. Dari sejumlah film buatan Yogya, Purwakarta, Solo dan Semarang itu, diambil lima film terpilih dari masing-masing kategori. Saat pemilihan di TVRI Yogyakarta inilah muncul gagasan “Kenapa musykil, suatu ketika muncul Film (Independen) gaya Yogyakarta?”

FESTIVAL Film pertama di Yogya —yang disepakati lebih berupa “pesta bersama”-ini, tidak memakai idiom “independen”. Lugas saja, panitia ‘lomba’ sejak jauh hari mencanangkan label “Festival Film Video”. “Supaya tidak terjebak oleh perdebatan panjang tentang jabaran Film Independen” kata Bambang JP, Seksi Film FKY XV-2003.

Toh demikian, di sela-sela kriteria penilaian yang dipatok —(sinematografi, directing, cerita, tata-artistik, editing)- tetap ada sejumlah hal yang berkait dengan kemandirian missi dan produksi, perlawanan orisinalitas dan kreativitas, serta penekanan substansi dramaturgi, menyelinap di balik proses kurasi dilakukan oleh Suprapto Soedjono (Dosen ISI Yogyakarta), Arie Sudibyo (Seksi Seni Budaya Film PWI Yogyakarta) dan Achmad Sofyan (Asisten Manajer TVRI Yogyakarta).

10 Film terpilih FKY XV-2003 akan ditayangkan TVRI Yogya mulai 29 Juni 2003 sore. Tapi bukan oleh kepentingan itu saja maka karya-karya yang ‘good looking’ kemudian terpilih. Agaknya, inilah “Film Yogya” yang akan ditawarkan sejumlah orang Yogya ke pelataran film independen yang di sejumlah kota selama ini dibeceki oleh karya-karya pendek yang ekspresif, individualis tapi acap melawan kepentingan populer.

Seiring dengan perjalanan musik indie yang sempat pada awalnya didominasi karya-karya (rock) alternatif yang bisa disebut memberontaki pola-pola yang sudah laku di major label, tren film independen —di banyak kepala sineas muda kita— juga dipangkali oleh kehendak melawan arus yang sudah jadi di layar lebar atau pun televisi.

Melodi diberangus. Logika dan alur cerita dilawan. Struktur dibongkar. Dramaturgi dipangkas. Dari sinilah muncul karya-karya (musik atau film) indie yang seolah dibikin untuk kalangan sendiri. Sampai kemudian jambangan besar itu melebar, lalu muncul pro-kontra tentang jabaran musik indie dan film independen.

FKY XV-2003 ‘bersuara’ dengan memunculkan 10 film terpilih tahun ini. “Tapi kita harap masyarakat maklum, kita memilih 10 karya dari 25 film yang masuk. Tentusaja meskipun terpilih, film-film ini juga belum 100% mewakili selera kami” kata Daru Maheldaswara, Ketua Panitia Festival Film Video.

Lima film mahasiswa/umum

Sketsa Kasih berkisah tentang perempuan bernama Kasih yang melacur karena tuntutan ekonomi, sampai suaminya mati, dan lalu ia bertemu dengan pelukis yang tak pernah menyentuhnya, ia hanya menggambar dan mendengarkan keluhan Kasih, memberinya uang, sampai akhirnya seniman itu meninggal karena sakit.

Aisyah bertutur tentang pengamen cilik yang dihina teman-temannya di sekolah karena bapaknya sopir becak sementara ibunya penjual nasi pecel. Aisyah kecil ngamen di perempatan, sempat ditangkap polisi, dan akhirnya ia menjadi penyanyi rekaman yang sukses.

Dewa Pinulung menggambarkan anak indekosan yang bermimpi sebagai dewa penolong bagi siapa pun : Warung yang hampir dikutil orang, cewek yang ponselnya nyaris diserobot waria, sampai tiba saat induk semangnya digerebeg rentenir beserta dua tukang pukulnya karena utang yang tak terbayar. Sang Dewa Pinulung pun terbangun dari mimpi buruknya.

Tembang Kecil di Sudut Kota memaparkan perjalanan bocah bernama Sekar yang saat bayi dibuang orangtuanya, lalu diasuh pemulung tua yang suka nembang, setiap hari diajak keliling kota, dan perjalanan itu dimanfaatkan oleh Sekar guna mencari orangtuanya. Sampai bocah ini menerobos sidang DPR, dan yang ia temukan di ujung film adalah “Teruskan bertanya, Sekar. Sampai kamu temukan jawaban yang sebenarnya”.

Suwung menceritakan perubahan Gesang, mahasiswa tanpa orangtua yang dihidupi oleh adik kandungnya, Ratih, dan ia tak tahan memaknai getirnya kehidupan sehingga Gesang pun stres. Ngengleng.

Lima film karya Pelajar

Pahitnya Kopi Tanpa Gula menggambarkan pelajar yang menggunakan uang SPP dan uang buku untuk berjudi di play-station rental. Padahal bapaknya tukang sapu, ibunya buruh cuci. Ia menyesal setelah dipanggil pihak sekolah. Tujuh tahun kemudian tokoh cerita ini digambarkan sukses dan membangunkan rumah bertingkat untuk orangtua dan adik-adiknya.

Selembar Kertas di Persimpangan idem-dito, bermissikan anti-korupsi dalam pelbagai bentuk. Dari siswa yang menggunakan uang sekolah untuk mentraktir gadis yang ditaksirnya, pelajar lain yang memalsu surat cinta temannya, guru yang korupsi waktu, ditutup dengan kematian si tokoh cerita.

Kutilang Atau… adalah film komedi tentang siswi kelas 2 SMU —umur 16 tahun— punya sepedamotor baru, yang ditugasi oleh bapaknya untuk beli pakan kutilang tapi di tengah jalan ia kena tilang.

Salahku Pengertianmu menceritakan kesalahpahaman terhadap seorang siswi yang pernah dilihat masuk kafe bersama cowok, sehingga ia dikucilkan oleh teman-teman sekelasnya. Di ujung cerita baru diketahui, cowok itu kakak kandung siswi yang bersangkutan.

Wasiat Slamet memotret kehidupan pengecer koran yang frustrasi setelah membaca berita-berita tentang korupsi dan ketidakadilan, dipungkasi dengan tewasnya pemuda itu dalam peristiwa kecelakaan lalulintas, tapi sebelum mati ia sempat meninggalkan wasiat yang ditulisnya pada selembar kertas.

DENGAN durasi 14-30 menit, film-film terpilih FKY XV-2003 itu dianggap sebagai awal lacakan warna ‘film Yogya’. Meski mereka dibikin oleh sineas-sineas bukan bertempat tinggal di Yogya. Dan meski pula mereka belum sempurna sebagai karya yang patut mewakili film mahasiswa atau film pelajar.

Bahwa film sependek apa pun, dibeayai semurah apa pun, se-independen apa pun, ketika oleh pembuatnya sudah dilepas —dengan sengaja— untuk ditonton orang lain, maka karya itu harus bertanggungjawab sebagai tontonan.

Ia tidak berhak menjadikan pemirsanya gelisah oleh hal-hal di luar kreativitas.
Ia tetap diikat oleh aturan-aturan estetis, logika dan moral, meski kesepakatan itu sebagian tak pernah tertulis.

Warna inilah barangkali yang sedang dialternatifkan oleh sejumlah ‘orang Yogya’ untuk merintis lacakan tentang bagaimana sebaiknya film dengan beaya sendiri dibikin oleh orang-orang yang belum sepenuhnya meletakkan profesinya sebagai pembuat film.

Komentar