Kebenaran di Balik Kabut

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

DI daerah perang, kebenaran selalu tersembunyi di balik kabut. Tak ada yang dapat terungkap secara jelas mengenai berbagai hal yang terjadi di sana. Masing-masing pihak membenarkan diri sendiri, seolah merekalah yang terbaik di antara lawannya. Bahkan di antara para korban yang tak bersalah, selama peperangan itu terjadi.

Begitu pula halnya yang digambarkan oleh Ayi Jufridar dalam novel ini, seorang jurnalis dan penulis Aceh (Lhokseumawe) yang telah sukses dengan novelnya yang pertama, “Alon Buluek (Gelombang Laut Yang Dahsyat),” mendapat juara III pada sayembara menulis novel remaja kerjasama penerbit Grasindo dan Radio Naderland Seksi Indonesia pada 2005 lalu.

Dengan gaya berceritanya yang memikat, ia mampu mengungkapkan kondisi perang dan sesuatu yang melatarbelakangi terjadinya konflik bersenjata tersebut. Walaupun ia tidak sekali-kali menyebutkan bahwa setting novelnya ini di Aceh, namun, begitu pembaca memerhatikan dengan saksama, akhirnya mengetahui di mana rentetan peristiwa itu terjadi.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Tasrif, yang terlibat dalam gerakan gerilyawan karena sebuah bom rakitan yang meledak di depan rumah dan menewaskan dua anggota polisi dari brigadier mobile. Karena kematian dua rekan mereka, polisi dan tentara melampiaskan kemarahannya kepada masyarakat sekitar. Rumah-rumah penduduk dibakar, dan mereka melepaskan tembakan membabi-buta. Ummi Tasrif, kakak, dan abangnya tewas tertembak.

Terlibatnya Tasrif dalam gerakan anti pemerintah ini, mengundang kegembiraan luarbiasa bagi anggota gerakan lainnya, terutama sang “Pemimpin” yang bernama asli Zulfikar Rasyid, sebagai Juru bicara militer gerilyawan, sekaligus yang mengkordinir, di mana, kelompok Tasrif berada.

Tugas utama yang diemban Tasrif adalah merekrut anggota baru yang berasal dari korban operasi militer. Namun kerjanya yang perdana itu pun menemui kegagalan. Hari, seorang pemuda, yang ayahnya diculik pada masa operasi militer, belum siap menjadi anggota gerilyawan dengan alasan dialah tulang punggung keluarga. Begitu pula dengan Vivi, seorang gadis yang ayahnya juga diculik, kata sebuah media oleh orang berseragam loreng, juga menolaknya dengan halus. Kemudian Tasrif tahu bahwa gadis itu menikah dengan seorang tentara pemerintah.

Karena Tasrif belum dikenal tentara, lagi pula ia memiliki KTP yang tercantum pekerjaannya sebagai siswa, ia bebas pergi ke mana saja. Bahkan ia mendapat tugas baru dari komandannya; Zulfikar Rasyid, yang kemudian disebut dengan “Pemimpin”, untuk membeli senjata di ibu kota propinsi di luar Aceh. Ia tak menyangka bahwa semua itu berjalan mulus. Beberapa pucuk senjata buatan dalam negeri itu dimasukkan dalam peti mayat dan diangkut dengan mobil Ambulance.

Kegalauan-kegalauan semakin menerjang batinnya. Ia mulai memikirkan akan berbagai peristiwa; kontak senjata, pemberondongan mobil aparat, penculikan, dan kehadiran para Petrus (penembak misterius) yang tidak pernah mempertimbangkan siapa korbannya. Namun yang paling menyakitkan adalah penembakan seorang intelektual yang juga dosen kharismatik di daerahnya.

Semua itu mengatasnamakan kebenaran masing-masing pihak bertikai. Jumlah jiwa yang mati saban hari tak lagi terhitung jumlahnya. Namun yang banyak jatuh korban adalah masyarakat biasa, yang tak tahu perkara apa yang sedang diperebutkan itu. Sementara hasilnya semakin tak menentu, terbalut kabut yang tebal dan menggelapkan nilai-nilai kemanusiaan.

Masing-masing pihak mengambil keuntungan yang amat besar di balik perang itu. Para gerilyawan yang tujuan utamanya masuk ke dalam barisan perjuangan untuk melepaskan diri dari permasalahan sosial. Seperti Ali Bopeng yang masuk gerilyawan karena banyak hutang dan setelah ia menjadi bagian penting di tubuh organisasi kombatan itu tak ada lagi yang berani menagihnya. Begitu pula dengan Pak Kus, seorang jenderal berbintang satu dari pulau seberang, mengeruk keuntungan dari perang itu dengan menjual senjata kepada kaum gerilyawan. Yang memang, saat mereka bertemu, ia selalu mengatakan membela gerilyawan karena mempertahankan tanah kelahirannya dari penjarahan.

Waktu terus berlanjut. Namun peperangan belum juga reda. Berbagai isu dan kabar penambahan dan penggrebekan rumah masyarakat yang tak berdosa itu, dengan sendirinya menyulut hati mereka untuk melakukan perlawanan terhadap tentara. Namun, inilah daerah perang, semua tindakan aparat keamanan dianggap sebagai pembelaan. Sehingga, tragedi berdarah yang amat memilukan itu menimpa empat puluh lebih masyarakat yang berunjuk di simpang pabrik kertas.

Mereka ditembak secara brutal oleh tentara yang mengatasnamakan beladiri akibat serangan warga, sebut sebuah media yang dibaca oleh Tasrif setelah peristiwa itu terjadi. Tapi entahlah, Tasrif tidak tahu bagaimanakah kebenaran peristiwa itu bisa terjadi, yang juga terselimuti kabut dalam pikirannya.

Pengiriman tentara dari pusat bertambah banyak. Pendirian pos dan markas mereka bertebaran seluruh pelosok kampung, yang tidak hanya terdiri dari Angkatan Darat, tapi Angkatan Laut dan Udara. Sehingga, pihak yang menyatakan dirinya sebagai pembela masyarakat, mengintruksikan agar semua warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Baik itu di mesjid, rumah sakit umum daerah, atau di di ruang serba guna kampus Politeknik. Yang penting mereka tidak lagi berada di kampungnya yang sedang diduduki tentara.

Ada pula pemicu ide itu menyebut dirinya Panglima Pengungsi. Dengan bebas dan pidato politik yang berkoar-koar di hadapan para khalayak itu mereka mengatakan bahwa hal ini dilakukan untuk mengundang perhatian dunia luar terhadap nasib rakyat yang sedang mendapat penindasan, akibat konflik bersenjata. Namun mereka pun tak lupa meminta belas kasih dari para pengendara kendaraan berbagai jenis yang melewati tempat pengungsian tersebut dan kepada pemerintah. Tapi sang Panglima Pengungsi dan para konconya, jelas, tidak mau menerima bantuan berbentuk barang, alasannya karena para pengungsi kekurangan uang untuk membeli kebutuhan yang tidak disediakan di tempat pengungsian itu.

Hal ini semakin jelas diketahui oleh Tasrif, karena ia dengan bebas keluar-masuk kota, membaca yang diberitakan oleh berbagai media. Setelah itu ia mengkhabarkan pada Pemimpin. Sikapnya yang selalu antusias terhadap berbagai informasi penting tersebut, menambah kepercayaan Pemimpin untuk menjadikannya sebagai informan, yang selalu mendapat izin untuk menemani para wartawan lokal dan asing. Bahkan ia mendapat izin pula untuk menemani Yoshimi; seorang wartawati dari Jepang.

Dengan modal kamera di tangannya milik para wartawan itu, yang telah mengetahui bahwa ia seorang gerilyawan, ia bebas bergerak ke mana saja. Namun tetap saja berhati-hati terhadap berbagai kemungkinan yang bakal terjadi di hadapannya.

Walaupun demikian, ia tetap aktif bergabung dengan para gerilyawan dalam berbagai aksi penyerangan tentara pemerintah. Bahkan itu menjadi harapannya yang sangat besar untuk memuntahkan peluru dari senjata laras panjangnya yang bermerek SS-2. Tapi, walaupun nasib baik seringkali berpihak padanya di masa sebelumnya, tidak kali ini, ketika ia dan rekan-rekannya menyerang iring-iringan mobil tentara dari atas sebuah bukit. Salah satu butir peluru yang ia lepaskan dari senjatanya mengenai seorang anak perempuan pelajar SD, yang sedang berada dalam mobil bersama ayahnya yang berada di belakang mobil tentara dan tidak tahu bahwa sedang terjadi bentrokan senjata.

Sejak itu pikirannya semakin kalut. Kian hari perasaannya semakin bersalah. Bahkan ingin keluar dari anggota gerilyawan, yang katanya perjuangan suci itu. Tapi apa lacur, sekali maju tak mungkin lagi mundur. Bahkan bagaimanapun, Fauzi; seorang temannya yang paling dekat, Apa Lah; yang memimpin penyerangan itu, menasehatinya dengan berbagai alasan, semua itu tetap tak membuatnya tentaram. Kegelisahan-kegelisahan membuat tubuhnya demam, dan semakin parah. Akhirnya ia diantar ke rumah seorang simpatisan. Kemudian ia dirawat di sana selama beberapa hari. Setelah ia sembuh, Pemimpin dan Ali Bopeng memintanya agar tinggal di losmen di kota untuk sementara waktu. Ia menyetujuinya, untuk menenangkan pikiran, pikirnya.

Namun tak mudah ditebak apa yang selanjutnya terjadi, bahkan untuk sebuah rekaan dari sebuah situasi yang saling bersangkutan, Pemimpin tertembak pada pahanya, Ali Bopeng sedang berbulan madu dengan istrinya ke-empat di luar daerah, operasi tentara semakin ketat, para gerilyawan hampir sekarat karena kekurangan logistik di markas di belantara.

Kondisi inilah yang membuat Tasrif harus mengantar bahan-bahan makanan itu, setelah beberapa lama kedatangan Ali Bopeng untuk membelinya. Namun Ali Bopeng, ia tidak mau mengantar langsung logistik itu sampai ke tempat yang dituju dengan alasan ia bisa tertangkap tentara. Ia menyuruh Tasrif agar menaikkannya ke mobil angkot yang berdesak-desakan dengan para penumpang lainnya. Ketika mobil angkot itu melewati pos Marinir, harus berhenti karena ada razia KTP, sebuah razia yang tak bosan-bosannya dilakukan oleh alat negara di masa konflik.

Saat itulah nasib buruk menimpanya. Seorang tentara tak memakai seragam, pemakai shebu dan penutup kepala, menjeratnya hanya dengan sekali anggukan terhadap pertanyaan tentara yang sedang memeriksa Tasrif. Dengan anggukan itu pula, tentara itu membawa Tasrif ke dalam ruang pengap di pos mereka. Semula ia tak bisa memastikan siapa tentara bershebu itu, karena tubuhnya gemuk dan pendek. Bahkan, jika tentara bershebu itu tidak berada dalam kawanan tentara, ia hanya bisa dianggap seorang kuli atau pekerja bangunan yang memiliki otot kekar.

Namun, karena gayanya berjalan, yang seolah pernah dekat dengan orang itu, Tasrif mulai bisa menebak dalam batinnya. Bahkan ia tahu pasti dan sangat jelas identitasnya, saat ia sudah berada di ruang pengap itu, saat tentara bertubuh pendek dan berwarna kulit gelap mengeluarkan suara, “Hmm…Iya!” Yang ternyata itu adalah Azhar, seorang rekan gerilyawannya yang dikahabarkan telah mati saat menembak Helikopter di bandara perusahaan Gas. Berarti dia pengkhianat, batin Tasrif. Azhar begitu tega melakukan hal itu kepadanya. Semua ideologi perjuangan telah musnah di dada laki-laki gemuk dan bertubuh pendek itu.

Tasrif berkesimpulan, bahwa ia tak mungkin mampu melepaskan diri, tangan dan tubuhnya sudah diikat pada kursi yang ia duduki. Kini ia hanya menanti, siksaan apa yang ia terima menjelang ajalnya. Dengan teriakan seorang tentara, ia memerintahkan anak buahnya untuk pergi shalat Jum’at, Tasrif sadar, bahwa hari ini Jum’at. Hari kematiannya. Sebab ia memeracayai sebuah mitos, bahwa seseorang mati pada hari kelahirannya.

Dengan keunikan dan kekayaan imajinasi sang penulisnya, novel ini begitu mudah menyisir jalan ceritanya. Namun, tentunya, tak diharapkan bahwa novel ini hanya menjadi bacaan belaka. Tapi, yang teramat penting, mengambil hikmah dan ibrah yang bermanfaat bagi masa depan Aceh kelak. Kita bisa bercermin dari apa yang telah dipaparkan di sini oleh Ayi Jufridar, di mana, kabut telah menyelimuti roda kehidupan orang Aceh sekian waktu lamanya.

Kebenaran hanya sebuah impian bagi seluruh masyarakat Aceh saat itu. Namun, kabut perang telah menyelimutinya. Oleh karena itu, sekali lagi, marilah kita bercermin pada rentetan kisah dalam novel ini atau bersikap, “Buruk rupa cermin dibelah.”[]

Judul buku : Kabut Perang
Penulis : Ayi Jufridar
Penerbit : Universal Nikko
Tebal : 358 halaman
ISBN : 976-602-95476-2-7
Cetakan : I, Juni 2010

*) Mahdi Idris, Sekretaris FLP Lhokseumawe. Menetap di Dayah Terpadu Ruhul Islam Tanah Luas, Aceh Utara.

Komentar