Sinerginya Sastrawan dengan Aparat

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Secara filologis, nilai sastra di Indonesia mengalami perubahan sejak tahun 1998. Perubahan itu dipengaruhi oleh bergulirnya reformasi: terbukanya pagar demokrasi terpimpin (zaman Soeharto). Masa reformasi ini kemudian membentuk entitas baru, dimana sistem kebebasan menjadikan gerakan apapun tampil seperti harimau lapar yang berlarian keluar dari ladang. Senyawang pintu pagar terbuka lebar.

Nilai sastra masa reformasi mengalami kebebasan yang selayak. Bebas yang merupakan sifat keruangan pola imajiner Sastrawan. Mestinya, kebebasan itu dimanfaatkan untuk menjejali ruang kebebasan dengan mutu nilai, dan bukan demi kebebasan itu sendiri.

Dalam pengkajian kritik sastra, sastra tidak bisa didikhotomi dalam keterkaitannya dengan apapun. Bahkan sedekat sastra dan penulisnya. Sastra sebagai ruang imajiner penulis harus dipisahkan dengan penulisnya. Murray Krieger dalam bukunya “What is critiesm?” mengatakan “bahwa karya sastra hasil imajiner pengarang terhadap suatu fenomena, sehingga terkadang berbeda dan mengacuhkan kenyataan yang diakui masyarakat. Maka karya sastra perlu dilindungi dan perlu dipandang terlepas dari pengarangnya”.

Dalam rangka mengapresiasi perkembangan nilai sastra di wilayah Jombang-Mojokerto, pada 03 Agustus 2010 lalu komunitas Lembah Pring, mengadakan kajian nilai sastra terhadap beberapa buku. Dari pembicara yang hadir : Gus Khamim Khohari (kiai dan sastrawan serta anggota biro sastra Dewan Kesenian Kotamadya Mojokerto) dan Diana AV Sasa (cerpenis dan kerani I; boekoe dari Surabaya).

Gus Khamim Khohari menemukan dua titik kekuatan dalam buku yang dibahas. Sebagai salah satu anak bangsa, Triramijo menulis buku ‘Kisah Kisah dari Tanah Merah’ dengan ketajaman memori yang kuat. Jarang penulis di Indonesia, masih eksis menulis pada usia 83 tahun. Tetapi Triramijo dalam usia senjanya masih detail memutar ulang memori perjalanan hidupnya pada suatu tempat. Triramijo tetap gigih menulis walau dengan tangan yang tinggal satu jari.

Senada dengan Gus Khamim Khohari, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga salut atas kegigihan Mbah Surip, pelantun tembang “Tak Gendong Kemana-Mana”. Presiden menyatakan apresiasinya saat takziah meninggalnya Mbah Surip. Dalam sambutan singkatnya Presiden mengatakan perlu memetik hikmah dari para manula bangsa ini yang tetap semangat berjuang hingga usia senja.

Untuk mengetahui kadar nilai suatu sastra, salah satu caranya harus didiskusikan dan diperdebatkan. Sehingga pembaca mengerti seluk beluk nilai suatu karya. Gus Khamim memberi contoh gambaran nilai, bahwa buku-buku yang ditulis kaum Maxis, kaum Komunis, dan para penulis yang tidak bertanggung jawab terhadap harkat kemaslahatan ummat, perlu di klarifikasi. Cukup di baca, dan selanjutnya dijadikan bungkus trasi. Dalam bahasa anekdotnya, Gus Khamim mengatakan “komunis, bukanlah atheis, komunis itu ber-tuhan, tuhan komunis adalah tidak mengakui adanya Tuhan”. Kelakar Gus Khamim disambut gerr peserta yang hadir. Kehati-hatian Gus Khamim dalam mengantisipasi doktrin komunis, sama halnya dengan kehati-hatian warga Indonesia. Bagaimanapun juga, kekejaman komunis tetap meninggalkan luka mendalam di hati bangsa Indonesia.

Diana AV Sasa menilai buku-buku yang didiskusikan malam itu, secara pandang standar nilai sastra hanyalah upaya penulis untuk menundukkan sejarah pada tempatnya. Sejarah yang dituangkan para penulis, tidak akan diketahui pembaca jika tidak ditulisnya.

Acara diskusi buku malam itu, antusiasme tidak hanya dari kalangan para penulis Jombang dan Mojokerto saja. Tampak hadir juga kepala dusun Mojokuripan ( Bapak Abdul Ghofur) dan beberapa anggota polisi dari Polres Jombang dan Polres Mojokerto. Meski bukan sastrawan dan penulis, mereka juga aktif bertanya perihal apa dan bagaimana posisi sastra yang sesungguhnya. Setelah mereka memahami betul kadar suatu sastra dan bagaimana cara pembaca menyikapinya, rekan dari aparat kepolisian itu mengucapkan rasa terima kasih kepada fihak Lembah Pring sebagai pejuang budaya. Aparat kepolisian juga bertukar nomor telepon genggam dengan rekan Fakhrudin Nasrulloh (penulis dan sastrawan Indonesia yang bermukim di Jombang) agar pihak kepolisian diundang serta pada Forum Geladak Sastra yang dimediatori oleh Komunitas Lembah Pring selanjutnya.

Kepedulian aparat dalam mengapresiasi sastra merupakan entri point tersendiri bagi Sastrawan Mojokerto_Jombang. Setelah sekian lama kegiatan kesusastraan meredup di dua kabupaten ini, kini moncer kembali. Forum Geladak Sastra hanyalah fasilitator yang menyediakan wadah bagi penulis lokal dan Nasional untuk mencerna detail nilai sastra.

Rentetan karya yang sudah di apresiasi oleh Geladak Sastra diwali dengan membedah kumpulan cerpen Siti Sa’adah dari Komunitas Pacul Gowang. Cerpen Pensidor yang ditulis Siti Sa’adah bernuansa membongkar kesenian tradisi Jombang, Seni Jeran Dor. Laporan bedah cerpen ini dimuat di koran Radar Mojokerto Jombang (Minggu 23 Mei 2010). Geladak Sastra ke II membedah cerpen berbahasa Jombangan karya Sabrank Suparno. Cerpen ini terkesan menyelamatkan ungkapan/paribasan bahasa sehari-hari masyarakat Jombang. Geladak Sastra ke III, menghadirkan penulis esai yang sudah menembus 47 koran lokal dan nasianal Bandung Mawardi (Solo). Laporannya dimuat Radar Mojokerto (Minggu, 01 Agustus 2010). Geladak Sastra IV membedah buku Ziarah Mandar karya Bustan Basyir Maras (penulis dari Yogyakarta asuhan almarhum Kiai dan Sastrawan ternama Zaenal Arifin Toha). Laporannya dimuat Radar Mojokerto (Minggu, 25 Juli 2010). Geladak Sastra V membedah Novel karya MD Atmaja, penulis pendatang baru dari Yogyakarta. Novel ini menceritakan bahwa untuk merubah suatu kebobrokan negara, tidak perlu menjadi seorang teroris, cukup hanya dengan menulis buku ide dapat tersalurkan. Merubah tanpa adanya korban.

Tentu Forum Geladak Sastra ke depan sangat terbuka lebar bagi siapa saja yang karyanya ingin didiskusikan. Bahkan Geladak Sastra berharap agar suatu saat membedah tulisan karya aparat kepolisian atau ABRI. Sehingga pada tahun-tahun mendatang di wilayah Mojokerto-Jombang, tercipta masyarakat sastrawi yang guyup dan rampak dari berbagai kalangan.

Komentar