Langsung ke konten utama

”Tertawa” yang Melawan Lupa

Buku Urip Mung Mampir Ngguyu
Muhammadun AS
http://suaramerdeka.com/

FOKLOR menjadi salah satu bilik peradaban yang berkembang luas di kalangan masyarakat Jogja. Salah satu faktornya adalah kenyataan bahwa folklor selain sebagai lelucon ternyata juga dapat berfungsi sebagai kritik sosial maupun melepaskan gerakan perlawanan melalui permainan kata. Hubungan antara folklor sebagai subkultur dengan Jawa sebagai kultur dapat dianalogikan dengan hubungan antara sistem sosial masyarakat dan subsistemnya yang beraneka ragam. Karena hubungannya yang demikian, maka untuk memahami hakikat folklor dan lelucon Jogja, tidaklah mungkin melepaskannya dari sosiologisme humor masyarakat Jawa.

Perlu diketahui, Folklor merupakan sebagian kebudayaan (subkultur) suatu yang kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.

Untuk membedah folklor dalam sosiologisme masyarakat Jogja, ini memberikan daya jelajah ihwal melihat folklor sebagai salah satu bilik kritik sosial yang berkembang luas dari Kota Gudeg ini. Mengapa perlu kita mempelajari folklor Jogja? Sebab utama adalah folklor mengungkapkan kepada kita, secara sadar atau tidak sadar, bagaimana masyarakat berpikir sekaligus mengabadikan apa-apa yang dirasa penting (dalam suatu masa) oleh folk (masyarakat) pendukungnya. Atau dengan kata lain, folklor Jogja merupakan penanda dan petanda untuk menjelaskan dan memahami kondisi psikologis dan social-politik dari masyarakat penggunanya. Folklor Jogja sekaligus merupakan cermin bagi masyarakat Jogja untuk melihat dirinya sendiri (halaman 36).

Sebelum memahami mendalam ihwal Folklor Jogja, penulis membedah di balik kata Folklor itu sendiri. Meminjam analisis Jan Harold Brauvand, Folklor dapat digolongkan menjadi tiga. Pertama, folklor lisan, bentuknya murni lisan, antara lain bahasa rakyat (seperti logat, julukan, pangkat tradisional); pangkat tradisional, seperti peribahasa, pepatah, dan pameo; pertanyaan tradisional, seperti teka-teki; puisi rakyat, seperti pantun, gurindam, syair, dongeng; dan nyanyian rakyat. Kedua, folklor sebagian lisan, adalah yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dengan bukan lisan, antara lain: kepercayaan rakyat, teater rakyat, upacara, pesta rakyat, dan lain-lain. Ketiga, folklor bukan lisan, antara lain berupa bentuk rumah, pakaian, gerak, bunyi isyarat, dan lain-lain (halaman 33).

Berbagai istilah dan cerita lucu dalam buku ini sebagian diantaranya dikategorikan sebagai golongan folklor lisan dan folklor sebagian lisan, khususnya yang berkenaan dengan bahasa rakyat. Yang dapat dikategorikan sebagai bahasa rakyat adalah logat (dialek) Jogja-ngarai (daratan rendah); Jogja NgGunung (Anggun= Anak gunung); dialek Jawa Banyumasan, Cirebonan, Jawa Timuran, yang semuanya mewarnai khazanah bahasa harian rakyat Jogja. Bentuk lain dari bahasa rakyat adalah slang atau prokem, yang asli (mula pertamanya) adalah bahasa yang hanya diketahui kalangan/kolektif khusus. Maksud diciptakannya bahasa slang, prokem adalah untuk menyamarkan arti bahasanya bagi orang luar. Cara ini sering pula disebut sebagai bahasa rahasia (cant).

Fakta bahwa folklor, plesetan, humor, guyonan, pasemon yang berisi kritik keras dan tajam, sebagaimana muncul dalam adegan “Gara-gara” atau “Limbuk-Cangik” di pewayangan, menunjukkan kenyataan bahwa manusia Jawa memiliki mekanisme unik dalam merespons ketidakadilan sistem social dan ekonomi yang silih berganti diproduksi berbagai penguasa yang ada. Semuanya itu kemudian menjadi bentuk oposisi simbolik yang bersifat kultural dalam masyarakat Jawa. Humor bisa jadi adalah manifestasi dari kenyataan pahit atas ketidakadilan yang dalam banyak kasus justru bisa sangat kronis keadaannya. Bahkan plesetan dan humor Jawa secara halus merupakan “konsolidasi” perlawanan secara simbolik (halaman 58).

Selain folklor, Jogja hadir lewat folklornya yang kritis juga disebabkan hadirnya beragam mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri. Para mahasiswa menjadi genesis sendiri dalam gerakan sosial di Jogja. Mereka bukan warga Jogja, tetapi secara substansial, mereka selalu memperjuangkan hak-hak masyarakatJogja. Mereka telah menjadi metamorfosis yang telah menyatu dalam denyut nadi Jogja. Mereka menuangkan plesetan folklor melalui media graffiti di tembok jembatan hingga kamar kecil, kaos oblong politik karikatur, dan lainya. Simbol perlawanan lewat plesetan dan folklor yang disuarakan mahasiswa bukan sekadar untuk mengkritik kebijakan lokal Jogja, bahkan sampai tingkat nasional sekalipun tak luput dati
kritik mereka.

Herbert Marcuse mengatakan bahwa fungsi aktual seni bagi kehidupan masyarakat bukan dilihat dari derajat popularitas, tetapi dilihat dari visi penegakan demokrasi egaliter (halaman 61). Ben Anderson melihat bahwa sejak lama massa rakyat kecil “tanpa otot” politik sebenarnya telah memiliki berbagai siasat melawan penguasa, tanpa kekerasan. Massa pengguna plesetan dan humor mampu melempar cemoohan politik dan melakukan “politik picisan” untuk mengaji ulang politik modern beridentitas adiluhung kalangan elite yang (sedang) berkuasa. (halaman 63).

Folklor yang berisikan tawa, humor, plesesan, dan guyonan lainnya ternyata bukan sekedar ngguyu (tawa), melainkan sebuah simbol melawan lupa atas segala kelalaian kita menegakkan keadilan dan kebenaran.

=========================
Judul: Urip Mung Mampir Ngguyu: Telaah Sosiologis Folklor Jogja
Penulis: Sidik Jatmiko
Penerbit: Kanisius, Yogyakarya
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 231 halaman

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com