Langsung ke konten utama

Cemburu

Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/

Sejak kepergianku ke rumahmu, Tuhan menjadi cemburu padaku. Berkali-kali mengirim pesan singkat. Tetapi keasyikan dengan dunia baru sejak bertemu denganmu membuatku lupa membalas pesan singkatNya. Aku mengabaikannya bahkan melupakannya. Entah kelalaian atau kesengajaan, batasnya tidak jelas—nampak absurd. Berhari-hari aku membongkar seisi rumahmu mencari apa yang ada di dalamnya semakin menyenangkan. Sebab bagiku adalah dunia baru yang aku masuki. Asing memang, tetapi bukan membuatku beranjak. Masih saja Tuhan mengirimkan pesan singkatnya, sepertinya Tuhan makin cemburu padaku dan aku merasakan itu. Bahkan kau pernah mengusirku tapi tetap saja aku mendekam dalam rumahmu. Sebab masih ada yang meragukan bagiku. Kau menyilahkan singgah atau memang benar mengusirku. Aku jadi bertanya-tanya tentang sebuah pertanyaan cinta. Adakah cinta yang melahirkan kewajaran pada sebuah persingahan yang tak disengaja menjadi ingin berlama-lama dan mengetahui segala hal tentang apa yang di cintainya. Keraguan menyapa mengisyaratkan kegelisahan akan sebuah jawaban yang tak berkesudahan.

Aku memulai meraba rumahmu dari ruang tamu yang sedikit gaduh, di situ ada masa lalumu yang buram–aku membacanya. Aku mencoba menghapusnya, tetapi masih saja melekat dan kau bilang akan membiarkan itu tetap ada di situ. Kau tak berani memutuskan untuk mendiamkan kegaduhan itu. Kadang kala kegaduan itu membuatmu menangis dan sedih. Sedang aku tak bisa melihat seorang menangis dan sedih apalagi kalau berlama-lama mendekam dalam kesedian. Mencoba menghiburmu dan merayumu untuk membuang jauh kegaduan itu. Tetapi hasratmu masih menginginkan itu ada dan menjadikanmu tenang. Bahkan aku sudah katakan padamu tentang ketaklogisan, jika kegaduan dibiarkan ada dan ketenangan kau harapkan. Aku menjadi tertantang menyingkap tabir sikap dilemamu. Berlahan dengan sabar, kau pun berhasil mengusir kegaduhan itu. Walaupun masih saja keluhmu aku dengar, tentang kehampaan bila kegaduhan itu sirna.

Dengan lembut aku membisikkan semangat ketenangan di bibirmu saat kau tidur. Diam-diam aku mendekatimu. Kau terlelap tidur, aku pun berganti masuk ke dalam raung tengah rumahmu. Di sana masih tampak rapi membuatku betah untuk tinggal di sana. Tetapi kau menyeretku untuk tak masuk ke dalam ruang tengah rumahmu yang penuh aroma dupa. Harum menebar aroma cinta. Jika kau tak melihatku, aku menyelinap memasukinya dan tertidur di dalamnya. Tidurku yang nyenyak tersusik dengan tarikan tangamu mengharap aku menjauh. Padahal dalam mimpiku yang sejenak, aku sedang merayu Tuhan agar tak cemburu padamu. Belum tuntas kalimat rayu aku sampaikan, kau memotongnya, membangunkan aku dengan paksa.

Aku mencari tahu kenapa tidak boleh memasuki ruang tengah rumahmu. Apakah tubuhku kurang bersih untuk memasuki ruang tengah rumahmu. Dengan itu aku pun mensegerakan masuk dalam kamar mandimu. Tetapi tak ada peralatan mandi sama sekali. Sabun, shampo, pasta gigi, bahkan gayung untuk mengambil air dari bak mandi juga tak ada. Rumah yang aneh gumamku. Tiba-tiba saja Tuhan meneleponku, menyuruh aku pulang, Dia bilang sudah menungguku dan tak sabar menyambut kedatanganku. Keanehanku bertambah, bukankah Tuhan tak akan masuk dalam kamar mandi. Ia pernah mengatakan padaku “Kamar mandi adalah area yang tak akan AKU masuki”. Kenapa saat dalam kamar mandi malahan menelponku. Mungkinkah peryataanMu tidak berlaku dengan cara telepon, bukan kedatangan, bisa jadi. Sebab, yang datang hanya suaramu. Zaman sekarang, apa yang tidak bisa dilakukan dengan peralatan teknologi canggih. Atau mungkin rumah ini yang memiliki misteri hingga Tuhan bisa memasuki kamar mandi dengan suara teleponNya.

Tiba-tiba saja kau memanggilku. Kau bilang di rumahmu tak ada alat buat membersihkan tubuh. Kau bahkan mengatakan dirimu tak pernah mandi, sebab mandi, katamu membuat aroma alamiah hilang di kikis sabun dan guyuran air. Kau juga bilang, bila kita sering mandi maka anak cucumu nanti kasihan tak bisa merasakan air, jika saban hari mandi dan bisa jadi menghabiskan persediaan air. Bagiku itu adalah tidak wajar jika keluar dari mulut gadis secantik kamu. Aku bertanya padamu, bagaimana kau membersihkan tubuhmu saban hari. Kau bilang dengan air mata. Kau juga bilang tiap pagi menangis dan menadahkan air matamu di bak yang terbuat dari besi lalu kau menguyurkan pada tubuhmu tanpa mengunakan sabun. Siapakah sebenarnya kamu, perempuan macam apa? Sungguh susah aku mengikuti alur fikirmu. Mungkin, aku yang memaksakan diri untuk masuk hingga tak bisa menembus sampai ke dalam dirimu. Mungkin, dari awal kau sudah mengusirku hingga itu yang menjadi persoalan. Dari situ Tuhan cemburu, bisa saja.

Masih ada ruang belakang rumahmu yang belum aku ketahui sama sekali. Aku masih berfikir bagaimana caranya? Untuk memasuki ruang belakang rumahmu harus melewati ruang tengah kamarmu. Aku harus mencari cela. Aku melihat kau masuk ke ruang tengah dan kembali membawa bak yang terbuat dari besi. Sepertinya kau mau mandi. Benar rupanya, kau memasuki kamar mandi dan aku mulai mendengar suara tangismu. Aku pun masuk ke ruang tengahmu untuk menuju ruang belakang rumahmu. Ternyata tidak ada barang-barang sama sekali, hanya ruang kosong tampah seram. Tiba-tiba aku di kagetkan dengan pesan singkat Tuhan yang datang lagi “Pulanglah, jangan terlalu lama di situ. Aku benar-benar cemburu padamu jika kau terus berada dalam rumah itu. Kau tidak tahu, siapa gadis itu. Jangan lama-lama jika kau tak mau pisah denganKu”.

Suara pintu terdengar, gadis masuk ruang belakang. Matanya terlihat agak merah. “Hai, kenapa kau masuk ke sini. Kau tidak akan bisa keluar lagi. Aku tak punya cara untuk mengeluarkanmu dari sini. Hanya kau sendiri, tapi tidak bisa seketika. Sebab kau tahu semua apa yang ada dalam rumah ini. Berarti kau tahu tentang diriku”.

Warna gelap menutup mataku, dari jauh Tuhan memintaku pulang. Aku tak bisa bergerak. Tuhan mulai marah, cemburunya tak bisa dibendung lagi. Aku terdampar dalam rumah gadis. Aku juga tidak tahu ke mana perginya gadis. Hanya selintas bayangan-bayangannya hadir menyapaku. Masih saja gelap. Aku di mana. Tuhan masih saja memakiku, tak pernah aku pedulikan rasa cemburuNya. Aku terdiam. Mataku terpejam. Duniaku hilang. Sebelumnya aku katakan pada Tuhan, ma’af aku membuatmu cemburu Tuhan.

Malang, November 2010

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com