Hikayat dari Lospalos

Robin Dos Santos Soares
http://www.kompasiana.com/robin

“Nenek tidak mau orang lain mengantarku ke tempat di mana kita harus berpisah untuk selamanya, nenek ingin kamu berjalan di sampingku sampai di pelabuhan kematian. Nenek ingin kamu bukan orang lain, ingat itu. Karena kamu satu-satunya cucuku yang nenek sayangi selama ini, karena kamu bertanya tentang kehidupan dan kematian.”
“Apakah aku harus menangis?” Aku bertanya “karena setiap kali kematian datang semua orang pasti menangis dan bersedih”
“Tidak perlu, nenek tidak ingin air matamu jatuh karena kepergian nenek masuk surga.”
“Kok nenek tahu dari mana bisa masuk surga?” aku tanya dengan sedikit bingung.
“Selama ini nenek merasa berbuat baik di dunia, masa masuk neraka! Nenekmu ini sudah beli tiket untuk masuk surga.”
“Berarti ada kehidupan baru setelah kematian?”

Nenek menjelaskan, “Kematian itu ibarat kamu tidur nyenyak, kamu bekerja di kebun misalnya, melihat jagung bertumbuh dengan subur, kacang tanah tidak dimakan ayam hutan, tidak ada hama tikus, kamu pulang menceritakan kepada tetanggamu, malamnya kamu tidur nyenyak kemudian bermimpi dalam tidurmu. Tetapi, jika jagungmu dimakan sama tikus atau monyet kamu pasti marah, kata-kata kotor mulai keluar satu persatu dari dalam rongga mulutmu. Kamu ingin sekali membunuhnya, namun sayang kamu hanya seorang diri. Hatimu pasti sedih melihat jagung dan tanaman lain, apakah kamu bisa tidur? Arti kematian seperti itu, kamu akan tidur nyenyak selama kamu merasa berbuat baik di dunia. Jika tidak maka arwahmu tidak tenang di alambaka.”

Aku masih bingung. “Bisa nggak nenek jelaskan dengan bahasa awam?”
“Baik, kalau begitu. Nenek ingin bertanya kepadamu. Apakah kamu sudah punya pacar?” Pada waktu itu aku sedikit malu, namun beberapa menit kemudian aku angkat kepala dan menjawab. “Ya nek, tapi aku jadi malu nih.”
“Nggak usah malu asal jangan sampai malu-maluin. Baik, pada saat kamu sedang jatuh cinta kepada seorang gadis desa tetapi cinta kamu ditolak, malamnya kamu bisa tidur nggak?” “Nggak bisa nek, rasanya berat banget” Jawabku dengan sedikit semangat, seperti orang baru saja minum susu.

“Tetapi seandainya cintamu diterima sama anak pak Lurah itu, apakah kamu bisa tidur?” Aku menjawab, “Tetap saja nggak bisa, tapi entar dulu, anak pak Lurah yang mana? Soalnya ada lima anak gadisnya.”
“Yang berambut lurus itu, aku lupa namanya, tetapi pernah bantuin nenek waktu lagi mandi di kali” “Bantuin apa nek?” Aku bertanya dengan rasa ingin lebih tahu lagi.
“Ah, kamu nggak perlu tahu, itu urusan perempuan!” jawab nenek sambil membenarkan sarungnya. “Ya aku tahu itu. Si Ita namanya, orangnya cantik dan baik hati, aku suka senyumnya. Dia teman sekelasku yang sering meminjam pensil waktu lagi ujian.”

“Kamu bisa tidur nggak sih?” Tanya nenekku lagi dengan suara agak keras. “Nggak bisa nek, aku ingin cepat ketemu keesokan harinya, bukan begitu nek?”
Nenek menertawain aku dan berkata. “Itu artinya kamu sudah setengah matang, ibarat buah pisang yang tumbuh di kebun kita, dan mulai jatuh cinta sama perempuan, tetapi itu wajar saja terjadi pada siapa saja. Jika semua orang di dunia ini saling jatuh cinta, nenek rasa nggak ada perang, karena masing-masing pasangan akan mengajak pacarnya berlibur kecil di pantai atau di hutan lalu berceritakisah untuk kekasihnya” Ha …Nenek terus tertawa.

“Nenek belajar itu dari mana?”
“Nenek hanya belajar dari kehidupan sehari-hari, belajar dari daun-daun hijau, tanah kering, batu, matahari, bulan dan bintang.”
“Wao… nenek pintar sekali, kalau begitu jangan mati dulu ya nek, aku ingin nenek hidup lima tahun lagi agar bisa ceritain aku tentang siang dan malam, air dan laut.”
Aku duduk diam sebentar, lalu bertanya “Boleh aku tertawa saat nenek mati nanti?”
“Kamu boleh saja tertawa, tetapi ingat jika nenek rindu, kamu harus luangkan waktumu untuk menenggokku dengan siri pinang kesukaan nenek”
“Wah, nenekku baik sekali padaku. Aku cinta nenek, aku sayang sama nenek. Tapi jangan mati dulu ya, aku nanti gimana? aku nggak punya nenek lagi yang bisa menceritakan tentang kehidupan dan kematian!”

“Nenek berjanji akan menceritakan semuanya kepadamu sebelum nenek pergi ke surga. Sekarang sudah larut malam waktunya untuk tidur, burung hantu juga sudah tidur, nenek akan ceritakan lagi besok ya!”

Tidak lama kemudian mataku mulai ngantuk, dan kami tertidur dalam udara malam yang dinginnya sampai ke dalam sumsum tulangku. Aku mulai berdoa.
“Ya Tuhan, janganlah engkau memanggil cepat nenekku. Aku masih ingin hidup bersamanya, aku ingin nenek selalu bercerita sebelum aku tidur. Amen.”

Sang surya mulai terbit di ufuk timur, muncul di balik gunung Paichau. Hari ini adalah kelanjutan dari hari kemarin, segala aktifitas dimulai lagi hari ini. Matahari terus memancarkan sinarnya. Aku baru bangun dari tempat tidur yang beralas tikar bekas. Nenek sudah bangun tadi sebelum ayam berkokok tiga kali. Ia mulai membuat sarapan pagi, merebus ubi kayu. Kami setiap pagi makan umbi kayu dengan segelas air putih. Kami tidak pernah mengenal empat sehat dan lima sempurna. Kami makan apa adanya, yang penting bisa bertahan untuk hidup.

Nenekku pernah berkata bahwa “Kita bekerja keras untuk hidup, belajar dari masa lalu untuk masa depan. Ia bisa meramal cuaca hari ini, panen akan memburuk, hujan turun tapi tidak seperti tahun lalu, bulan ini ada lagi yang mati karena kelaparan. Ia lebih pintar daripada orang-orang yang bekerja di kantor BMG (Badang Meteorologi dan Geofisika) yang digaji jutaan rupiah.

Kami tinggal bersama di gubuk kecil selama sepuluh tahun, kampung kami jauh dari keramaian kota. Memelihara binatang piaraan seperti ayam dan babi. Masyarakat pada umumnya masih miskin dan buta huruf. Hidup dalam kemiskinan sudah bertahun-tahun tetapi kami tidak pernah mencuri. Kami selalu mensyukuri apa yang kami miliki, baik itu material maupun non material. Menghargai adat istiadat. Menyembah arwah para leluhur.

Bulan Desember tiba, mendekati hari natal dan tahun baru. Orang-orang kampung yang sudah lama tinggal di kota datang menenggok keluarganya untuk natalan bersama. Mereka datang berbondong-bondong dengan konvoi mobil dan sepeda motor. Membawa oleh-oleh dari kota yang tentu saja di kampung tidak ada. Anak-anak mereka memakai baju baru bermerek, celana baru, senjata mainan plastik seperti AK-47 dan M-16.

Malam natal tiba, anak-anak itu berjalan ke gereja dengan sepatu yang bisa menyala, ada lampu ajaib kata mereka. Mereka pergi ke gereja dengan senjata mainan bersama orang tua. Nenekku pernah berpesan agar kami anak kampung jangan memakai sepatu atau sandal, agar kami bisa merasakan apa yang sedang kami injak. Doktrin itu selalu melekat di hati kami sampai dewasa.

Anak kota ada yang bercita-cita ingin mejadi tentara atau polisi. Ada yang ingin jadi pilot, dokter, orang kaya, pakar hukum, politikus yang berubah wajah menjadi tikus, dan pemimpin partai. Tetapi tidak ada yang ingin jadi petani desa. Mereka ingin bersih memakai dasi, kerja di kantor, dihormati oleh masyarakat, berfoya-foya dengan uang korupsi. Kerja kotor dengan keringat bau di badan mereka nggak mau, katanya nanti parfum dari Paris habis. Semua aksesoris dikirim dari luar negeri.

Aku bersama teman-teman takut karena senjata itu mirip senjata benaran. Seperti senjata milik para serdadu yang pernah meneror nenek waktu pulang dari kebun sore hari. Kata serdadu, nenekku seorang mata-mata dari gerakan revolusi kemerdekaan. Padahal nenekku tidak kenal sama sekali sama orang-orang itu.

Anak-anak kota selalu menghina kami dan bilang “Kami orang kampung yang bodoh dan kampungan, kotor dan menjijikan, berpakaian lusu, tidak gaul seperti anak kota, ketinggalan zaman dan informasi teknologi.”
Walaupun setahun saja tinggal di kota, mereka sudah sombong sekali. Mereka beruntung punya orang tua yang berkerja di kota. Katanya sebagian dari mereka korupsi uang rakyat.

Kami tidak punya saudara di kota, semua keluarga adalah orang kampung kelas bawah yang jaraknya paling jauh sepuluh kilometer dari kampung kami. Setiap tahun mereka datang, berjalan kaki tanpa alas kaki. Membawa pisang, ubi bakar, ayam betina.
“Ini oleh-oleh dari kampung” kata mereka.
Mereka bercerita tentang anak yang sakit, kelaparan, bencana alam, penculikan para serdadu terhadap suami mereka yang dilakukan tanpa alasan. Setiap bulan selalu ada anak-anak yang mati karena kurang gizi. Yang lain tidak dapat sekolah dengan baik, atau tidak ada obat untuk malaria. Kebahagiaan hanyalah sebuah mimpi, namun mereka tetap bertahan hidup dan pasrah menunggu malaikat pencabut nyawa datang menjemput.

Jika ada anak yang mati, semua masyarakat berbondong-bondong ke kuburan. Tidak ada yang menangis karena air mata sudah lama kering. Mereka bernyani lagu-lagu kematian dengan tarian jiwa yang kosong. Semoga arwahnya dapat diterima di surga.
Aku hanya bersedih mendengarkan kabar bahwa ada lagi yang mati.
“Penderitaanmu adalah penderitaanku juga”, aku pikir, “lukamu adalah lukaku juga, penyakitmu adalah penyakitku. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa saudaraku karena aku anak kecil yang sering dihina sama anak kota. Seandainya Tuhan benar-benar ada, dan malaikat Jibril menjual tiket, hari ini aku membeli tiket dan kita pergi bersama ke dunia baru. Dunia ini tidak adil bagi kita yang miskin dan melarat, nasib kita hitam seperti kulit kita.”

Para tokoh agama sering menghaluskan kematian bagi orang miskin. Mereka berkata “Hai orang-orang miskin dan tidak beriman, janganlah engkau bersedih sebab kamu diberkati Tuhan, kamu menderita di dunia tetapi sudah mendapatkan akses yang besar di surga nanti.”
Saya melanjutkan pikiran saya yang ditujukan kepada anak yang baru mati.
“Para tokoh agama melihat kita ini tidak beriman, kita seperti semut kecil tidak berdaya, mereka tidak ada yang miskin, selalu berpakaian putih bersih dengan pengawal bertopeng. Mereka hidup dalam kemewahan, merampas tanah kita untuk dijadikan tanah gereja. Sebaiknya kita tidak usah percaya pada mereka. mereka tidak pernah membantu kita pada saat dilanda musibah, para pemuka agama hanya menyuruh kita untuk pasrah.
Agama adalah milik para penguasa dan raja, karena dengan agama mereka bisa berbuat apa saja, mulai dari mencuri hak-hak kita dan ingin menghapuskan warisan para leluhur kita. Kita sebaiknya percaya pada suara hati kita, Tuhan ada dalam diri kita masing-masing, Ia selalu bersama kita sejak kita dilahirkan. Tuhan adalah napas, darah dan daging. Sampai detik ini, sebagian dari kita menyamar menjadi sosok Tuhan yang mulia, tetapi dia tidak tahu siapa sebenarnya dia.”
Setelah makan malam selesai, aku mengajak nenek kembali ke masa lalunya. Dengan sedikit malu aku bertanya.
“Nek, boleh nggak aku bertanya sesuatu?”
“Tentu saja boleh.” Jawabnya.
“Apakah nenek pernah jatuh cinta?”
“Tidak pernah”
“Kenapa?”
“Karena nenek dulu dijodohkan atas nama kehormatan keluarga bukan atas nama cinta. Nenek tidak ingin kembali ke masa lalu, bagaimana kalau kita sedikit bejalan-jalan ke masa depan?”

Nenek diam beberapa menit, sepertinya ada yang tidak beres, mungkin ada kenangan buruk yang sangat menyakiti hatinya, atau mungkin ia rindu suaminya yang sudah puluhan tahun meninggalkannya sendiri? Aku tidak tahu jawabannya, aku masih kecil dan belum tahu tentang hal-hal itu. Tiba-tiba ia balik bertanya kepadaku.
“Sampai di mana cerita kita kemarin?”
“Sampai kematian nek”
“Oiya, sekarang saya ingat”
“Sekarang nenek akan membahas kehidupan.”

Nenek mulai bercerita lagi “Hidup itu penuh dengan perjuangan, hidup itu penuh dengan perlawanan, lemah lawan kuat, miskin lawan kaya. Kita harus berjuang dengan tenaga yang kita miliki, kekuatan kita bersama rakyat jelata, melawan ketidakadilan dan tirani. Kemiskinan bukanlah kodrat alam, kemiskinan itu dibuat oleh penguasa dan raja untuk menghisap darah kita, seperti vampir yang hidupnya sangat tergantung pada darah segar.”
“Wao…. Nenek pintar sekali. Boleh aku bertanya lagi?….. Apakah nenek punya harta karun?” “Ada. Harta karun nenek adalah cangkul, parang, jagung satu drum, dan kacang tanah sepuluh kilo. Itu bekalmu di masa yang akan datang.” Itulah harta karun nenek selama ini. Bukan begitu nek, maksudku emas atau uang?”
“Jika kamu ingin hidup maka bekerja keras. Jangan langsung cari emas atau uang tanpa melakukan apa-apa. Kamu harus bekerja dulu baru dapat uang.”

Keesokan harinya neneknya menyuruhku mengantarnya ke dermaga kematian. Kapal misterius sudah siap menjemputnya. Kami harus berpisah di dermaga yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Orang-orang di kapal semua berpakaian putih-putih dan memiliki sayap. Nenekku berpesan padaku.
“Sekarang sudah waktunya kita berpisah untuk selamanya, kabarkan kepada orang-orang apa yang sudah kamu dengar dari nenek, sayangilah semua orang, ajarkan mereka bekerja dan belajar. Katakanlah pada mereka untuk kerja dan jangan hanya berdoa, belajar yang banyak agar bisa mengenal dunia.”

Nenek bernafas dengan sulit, lalu melanjutkan kata-kata terakhirnya.
“Ingat, hidup itu kadang mengalir seperti air, hidup itu kadang seperti batu yang keras, dan kadang seperti udara. Kamu harus belajar dari itu semua. Setiap peristiwa yang terjadi, catat itu dalam buku harianmu. Ajarkan anak-anak tentang alam dan dunia. Jika ada waktu luang, ajaklah meraka ke pantai untuk melihat ombak yang datang bergulung-gulung, ajarkan mereka mengenai banyak warna dalam kehidupan ini.”

Semakin lama nenek kelihatan semakin letih, dan suaranya mulai menghilang. Dia berhenti untuk istirahat sebentar, lalu melanjutkan pesannya.
“Yang terakhir, hargailah perempuan. Hargailah semua orang. Hargailah mereka seperti kamu menghargai dirimu sendiri. Menghargai seseorang tidak berarti kita menjadi budaknya, tetapi kita menciptakan keharmonisan dalam keluarga dan lingkungan. Nenek tahu bahwa kamu memiliki wajah yang jelek, hitam dan tidak tampan seperti teman-temanmu. Janganlah kamu berkecil hati terhadap orang-orang yang menjelek-jelekkanmu.
Biarkan saja mereka menghinamu, kamu harus jalani hidup dengan caramu sendiri. Hidup hanya sekali, jadi manfaatkan waktumu untuk belajar. Jangan kamu malas belajar, belajar itu bukan hanya di bangku sekolah yang guru-gurunya galak dan sering memukul kamu. Belajar itu di mana saja dan kapan saja. Bisa belajar di pantai, hutan, atau di mana-mana. Mungkin suatu saat nanti kamu akan merantau ke kota. Jika kamu memang ke kota jangan jadi sombong, kamu harus banyak belajar dari mereka yang sudah di sana. Jangan membenci musuhmu. Kebencian hanya merusakkan kehidupan umat manusia.”

Ketika orang-orang bersayap itu datang menjemput nenek, aku tetap berdiri dekat nenek dan terus mengamatinya. Tiba-tiba ada laki-laki setengah tua berjalan dengan kaki kosong mendekati nenekku, ia mulai menangis. Lelaki tua itu memeluknya dengan penuh mesra. “Ayo kita pulang sayang, aku sudah lama menunggumu.”
Ketika aku mengamati mereka, aku bertanya dalam hatiku siapa lelaki tua itu. Sebelum aku jadi bertanya, nenekku mulai memperkenalkanku kepada lelaki tua itu.
“Ini cucumu yang selama ini menemaniku, aku sudah menjelaskan semuanya kepadanya… tentang kehidupan dan kematian. Ia mengantarku sampai di dermaga kematian.”

Aku baru sadar bahwa lelaki tua itu adalah suaminya, tapi kenapa selama ini nenek tidak pernah ceritakan apa-apa mengenai suaminya kepadaku? Kami hanya saling memandang karena tidak bisa saling memeluk.
Kapal itu mulai bergerak.
Aku takut karena tidak mau ditinggalkan seorang diri
“Hei nenek, kenapa kamu pergi meninggalkan aku? Jangan pergi! Jangan membiarkan aku sendiri!”

Setelah beberapa menit teriak pada kapal yang semakin jauh, aku sudah capek berteriak. Suaraku mulai menghilang, entah ke mana. Aku berteriak lagi, tapi tidak bisa mendengarkan suaraku sendiri. Aku semakin takut dan menangis.Tiba-tiba terdengar suara dari langit, suara keras itu terdengar lembut di telingaku.
“Hei anak kecil, janganlah kamu takut akan percobaan, aku bangga dengan keberanianmu. Itulah arti kehidupan, kadang kita takut, menangis, dingin, sendiri tanpa orang lain, berteriak namun tidak ada orang yang mendengarkan.”

Suara itu menghilang lagi. Aku tidak tahu itu suara siapa tetapi yang jelas bukan suara neneku. Mungkin ini yang pernah aku baca dalam Alkitab bahwa, raja atas segala raja yang ada di dunia, dialah maha pencipta langit dan bumi beserta seluruh isinya.
Beberapa menit kemudian aku mulai menutup mata dan berdoa.
“Tuhan, aku hanya ingin pulang ke rumah bermain bersama teman-temanku. Tuhan kan maha tahu, bulan depan hujan akan turun dan aku harus menanam jagung. Kata nenekku aku harus cepat membersihkan rumput kering yang ada di kebun. Aku anakmu juga kata pastor Beneditus waktu memberi khotbahnya di Gereja Santa Maria. Kata pastor, Tuhan mencintai anak-anak. Aku bersama teman-teman setiap hari minggu ke gereja dan bernyani lagu untukmu, lagu Tuhan kasihanilah kami anak-anakmu. Aku masih anak kecil, baru saja naik kelas tiga, kata pak guru aku anak pintar karena aku rajin belajar. Aku percaya walaupun tidak melihatmu, aku masih bisa melihat fotomu di gereja. Tuhan ganteng sekali, tetapi kenapa mati di kayu salib? Kata teman-temanku orang yang disalib itu bersalah, tapi kata pastor Tuhan mati karena dosa-dosa kami, ampunilah dosaku ya Tuhan. Amen.”

Setelah aku selesai berdoa dan membuka mata, aku sadar bahwa aku berdiri di depan rumah. Matahari sudah menghilang, warna langit berubah menjadi merah seperti darah manusia. Aku percaya bahwa dunia memiliki kekuatan alam yang sangat kuat, tidak ada tandingannya dengan ilmu teknologi. Apakah ini tanda dari Tuhan bahwa dunia akan tamat riwayatnya? Kata nenek, suatu saat jika aku rindu kepadanya, aku hanya perlu bawa siri pinang, telur dua butir dengan coretan dan sedikit beras ke makamnya. Ini sebagai tanda untuk mengingatkan dia bahwa aku masih rindu kepadanya. Walaupun sekarang nenek tinggal di dunia orang-orang mati, ia masih hidup.

Dunia itu ada di bawah telapak kaki kita. Nenekku tidak mati seperti yang ia gambarkan kepadaku, ia pergi besama kapal misterius bersama rombongan orang-orang misterius juga.
Sejak saat itu aku kehilangan komunikasi dengan nenek, tidak melihat wajahnya yang lugu, mendengarkan ceritanya. Ini hanyalah sebuah kenangan indah yang tidak dapat kulupakan begitu saja. Aku harus menulisnya dalam cerita agar suatu saat nanti dunia tahu tentang kehidupan dan kematian.

Aku kembali ke rumah diam-diam, lidahku masih terlalu kaku untuk bercerita mengenai kejadian itu. Orang-orang di kampung tidak tahu nenekku sudah pergi ke dunia orang mati, mereka masih menjali kehidupan seolah-olah tidak terjadi sesuatu di hari ini. Sang surya kembali memancarkan sinarnya, langit kembali cerah, burung-burung gereja kembali menyanikan lagu-lagu alam. Di luar rumput mulai hijau kembali, anak-anak kecil mulai berlari dengan dada telanjang, mereka tidak menangis lagi seperti kemarin karena ditinggal waktu orang tua pergi ke kebun.

Hari ini adalah awal dari sebuah kehidupan, segala macam aktifitas mulai dari hari ini. Aku memanggil anjingku yang masih tidur. “Kolega, mari kita pergi ke kebun, rumput kering telah menunggu kita, di sanalah rumah kita. Kehidupan baru ada di sana.”
Anjing itu mulai mendekatiku ia menggoyangkan pantatnya siap untuk berangkat. Anjing ini satu-satu temanku yang selalu setia bersamaku. Aku mengambil cangkul dan parang lalu pergi ke kebun melewati jalan setapak dengan bersiul.

Komentar