Kisah Si Dul Anak Lamongan

Ahmad Fatoni
http://bestari.umm.ac.id/

“…….Aku benar-benar tersadar bahwa telah lama sekali meninggalkan kampung halamanku. Aku rindu dusunku…..aku rindu gunung menjulang…..aku rindu desir angin pesisir…..aku harus pulang untuk membayar semua kerinduanku ini. Aku selalu ingat Bapak dan Emak. Aku merindukan mereka. Karena merekalah aku bisa seperti ini. Karena kerja keras mereka aku bisa melihat isi dunia…….” (Sang Penakluk Ombak, halaman 314)

Penggalan cerita di atas seolah mampu mewakili pesan dari novel Sang Penakluk Ombak karya Pradana Boy ZTF yang menyindir orang Indonesia yang hidup berhasil di luar negeri, lalu tidak mau kembali ke negerinya sendiri. Justru si Dul, tokoh utama dalam novel ini, meski menjabat diplomat karir dan kerap melanglang buana, hatinya tetap tinggal di kampung halamannya. Pesona alam pedesaan dan ingatan tentang pengorbanan kedua orangtuanya telah mengurung si Dul dalam tempurung kenangan yang tak terlupakan.

Tapi apakah selamanya hidup si Dul hanya berisi hal-hal indah saja? Coba simak kisah demi kisah dalam novel ini. Dari judulnya saja, pembaca akan segera menebak betapa kehidupan si Dul penuh terjangan ombak. Tak jarang ombak itu menghempaskannya ke alam derita. Ombak di sini bisa bermakna kutukan. Tapi ombak juga bisa berarti perlawanan melawan ketidakberdayaan.

Novel ini diawali dari kisah masa kecil si Dul, seorang anak dusun terpencil di Lamongan Jawa Timur, yang acap mengalami hinaan hanya karena terlahir dari keluarga miskin. Sekian kali ia terpaksa gigit jari sebab tidak mampu memasuki sekolah atau fakultas yang diinginkan. Si Dul bisanya meratap pilu, menatap kawan-kawannya yang menikmati sekolah unggulan atau jurusan favorit. Sementara si Dul kecil harus terdampar di sekolah renta yang akrab dengan cemoohan. Masa kuliah pun ia lalui di jurusan Studi Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang, oleh teman-temannya dari jurusan lain, diejek sebagai “jurusan akhirat” karena SPP-nya yang murah meriah.

Sejak kuliah di “jurusan akhirat” itulah si Dul menemukan bakatnya dalam dunia tulis-menulis. Beberapa kali si Dul menjuarai lomba karya tulis ilmiah, baik di tingkat kampus maupun tingkat nasional. Kebiasaan menulis surat ke orang tua, termasuk surat ekstra mesra ke pacarnya, kelak juga mengantarkan si Dul menjadi penulis andal yang cukup diperhitungkan berbagai media cetak di tanah air.

Novel ini pun mengeksplorasi sisi percintaan. Meski tema cinta sudah umum ditulis dalam karya-karya novel, namun Mas Boy, demikian sapaan akrabnya, mampu mengemas tema tersebut menjadi unik. Mas Boy membebaskan cinta dari perangkap penuturan yang merendahkan dan memuja seksualitas layaknya sebuah spiritualitas yang harus diagung-agungkan. Pembaca juga akan dikejutkan oleh akhir cerita yang mengharu-biru dan menguras airmata.

Pada bab-bab terakhir, misalnya, Mas Boy menyuguhkan romansa percintaan antara si Dul dan seorang gadis, juga asal Lamongan, bernama Lafra Kardia. Lafra dilukiskan sebagai gadis kemayu khas Jawa. Menariknya, Mas Boy mengembangkan imajinasi jalinan asmara dua pasang insan itu dalam balutan mitos. Tuah Tanjung Kodok di pesisir utara Lamongan yang pernah menjadi saksi kebersamaan mereka, dipercaya mengandaskan segalanya. Terbukti Lafra tak berdaya menghadapi paksaan orangtuanya ketika dicalonkan dengan laki-laki lain. Kabar pencalonan itu datang tepat di hari wisuda si Dul. Kontan saja, momen wisuda yang harusnya membuat hati si Dul berbunga-bunga, hancur berkeping-keping.

Namun, ganasnya ombak kehidupan tidak lantas menguras habis energi si Dul dalam kekecewaan. Bak karang di laut, semangat si Dul semakin kokoh di tengah gempuran ombak derita. Akan tetapi, seperti ombak pula, si Dul tidak pernah lelah mengayuh cita dan mengais asa. Walaupun hidup dalam serba keterbatasan si Dul senantiasa mendobrak keterbatasan itu menjadi peluang yang menganga. Baginya, di dunia ini tidak ada yang mustahil untuk diubah kecuali perubahan itu sendiri.

Meski tampak ada modifikasi di sana-sini, kisah dalam novel ini seolah menggambarkan perjalanan hidup penulisnya. Banyak hal yang sulit dipisahkan dari pengalaman Mas Boy sendiri yang memang asli BangLaDes alias Bangsa Lamongan nDeso. Dengan latar budaya pesisir, pantai yang gemulai, dan pernik-pernik cinta berselimut mitos, sajian Mas Boy dalam novel perdananya ini cukup menggugah semangat kita agar tetap tegar menghadapi bengisnya ombak dunia dan sadisnya laut kehidupan.

*) Penggiat Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM

Judul Buku : Sang Penakluk Ombak
Penulis : Pradana Boy ZTF
Penerbit : Resist Literacy, Malang
Cetakan : I, Februari 2010
Tebal : 322 halaman
Peresensi : Ahmad Fatoni

Komentar