Jiwa-jiwa Merpati yang Lara

Endah Wahyuningsih
http://sastra-indonesia.com/

Aku adalah Rosita Angraini,kekasih Roi Pramudya. Sesosok pemuda tampan yang begitu dikagumi oleh kaum wanita namun mempunyai sifat angkuh dan tak pernah mau peduli dengan perasaan orang lain.Sedangkan Saskila adalah kekasih Roi yang dahulu dan kini telah meninggal karena sebuah penantian pahit yang tak bisa ia lalui seorang diri. Tanpa Roi Pramudya. Saskila begitu mengaguminya namun baginya sudah tak ada harapan, karena sifat Roi yang begitu egois, acuh dan tak pernah mau mengerti tentang perasaan orang lain. Tapi Saski tetap setia, selalu berusaha memahami karakter kekasihnya dengan menanti sebuah harapan yang tak jelas. Hingga akhirnya jiwa merpati yang lara itu mulai lemah dan putus asa kemudian memilih mati tenggelam disebuuah lautan.

Disebuah pantai kujumpai Roi seorang diri.kulihat ada sedikit gundah yang tengah mengusik fikirannya. Kuhampiri dia sembari kutepuk pundaknya.memang sudah kuduga bahwa ia akan mengabaikanku dan kenyataan yang terjadi memang seperti itu, ia hanya menenggok sebentar kemudian kembali mengacuhkan keeberadaanku.Masa bodoh bagiku, yang terpenting aku bisa meengungkapkan apa yang tengah menganjal rasaku.

“ Hai Roi “. Sapaku rama namun tak ada jawaban. Hanya menenggok sebentar kearahku lalu kembali acuh. “kurasa kau tengah mengingat Saskila “.

“ Tidak sama sekali “. Jawab Roi senggit.

“ sudah hampir dua tahun Saski meninggalkanmu. Namun tak sekalipun kau datang kemakamnya walau hanya sekedar untuk menyapa bagaimana kabarmu disana Saski ? dia yang selalu menderuh dengan rasa sakit. Menantimu tanpa sebuah kepastian dan akhirnya meninggal. Mengapa kau tak pernah menghargai pengorbanannya. Mungkin sesaat lagi aku juga akan seperti dia “.

Roi menjalani dari sisi dirinya yang buruk. Tak pernah mau peduli dengan derita dan pesona orang lain. Begitu juga dengan pengorbanan Saski yang sangat mencintainya namun tak pernah mendapat balasan baik dari Roi.

“ kenapa kau bicara seperti itu. Sangat tidak penting buatku “.

“ Kau memang tak punya hati Roi. Kau buat begitu banyak wanita terpesona dan mencintaimu, kemudian kau buat mereka menderita lalu mati. Apakah kau tak sadar bahwa aku tak jauh berbeda dari mereka. Aku yakin kau masih mengingat Saski. Bersama siksa yang kuat ia tak pernah bersuara.Hanya tetes air mata yang menandakan sebuah isyarat luka yang begitu dalam namun dia tak pernah membencimu. Apa kau sadar hanya demi cinta. Demi dirimu yang tak pernah mau tau tentang dirinya “.

Begitu panjang lebar kujelaskan tentang masa lalu dan isi hati ini. Tapi nampaknya Roi tetap tak peduli. Aku heran mengapa ia seacuh itu akan penderitaan orang lain. Tak pernah kusangkah bahwa seorang Roi sekeras itu akan sebuah rasa.

“ Kuharap kau diam “. ucap Roi membentak hingga membuatku tersentak.

“ Tapi Roi “.
“ Diam kubilang. Untuk apa kau bicara terus tentang Saski yang sudah mati ? “.

Seketika Rosita tersentak, sangat tidak menyangka kalau Roi akan bicara sekeras itu. Sejenak suasana terasa hening. Hanya terdengar suara debur ombak mengisi ketegangan dan keheningan mereka dan Rosita, karena dia tak berani lagi bicara, akhirnya dia mengambil buku dan bolpen dalam tas lalu menuliskan sebuah kata – kata dan diberikan pada Roi.

Dimana hati nuranimu Roi. Ketika dia hidup dengan harapan yang tak pasti. Sekarang katakan padaku ? mengapa saat hidup, Saskila tak pernah ada artinya dalam dirimu. Katakan juga padaku, mengapa harus ada kematian baru kau akan menghargai pengorbanan dan kesetiaannya. Meski aku sadar,bahwa kau tetap takkan peduli dengan semua yang telah dikorbankan olehnya. Apakah aku akan seperti dia Roi? menjadi merpati kedua yang mati karena cinta hampa.

Kau manusia sombong. Kau selalu berpikir tanpa orang lain kau akan tetap merasa bahagia. Apa yang kau tau dari cinta, apa yang kau mengerti dari kesetiaan serta arti sebuah pengorbanan. Apa kau sadar, aturan dari hati telah membuatmu menjadi manusia yang angkuh dan sombong. Kau tak pernah mau mendengar dan juga tak pernah mau mengerti tentang dia, aku juga orang lain. Kapan akan kau pahami bahwa kau butuh cinta, butuh aku, dia juga orang lain.

Kuakui kau begitu pandai, kau tampan, kaya juga dambaan semua wanita. Tapi untuk apa ? jika kau tak punya hati dan perasaan.kau begitu senang mengorbankan orang lain dan menganggap dirimu paling benar. Omong kosong Roi. Kau bukan laki –laki sejati. Lihatlah, suatu ketika kau akan banyak ditinggalkan oleh orang –orang yang kau sayangi dan disaat itu kau baru akan merasakan, bahwa kau memang butuh mereka.

“ Apa maksudmu ? “. Tanya Roi seusai membaca tulisan dari Rosita.

“ Aku tau kau tak pernah membutuhkanku. Bahkan saat kematian nanti, kau juga pasti takkan menghargaiku. Sungguh kasihan Roi Pramudya, karena kau tak pernah sadar bahwasanya kau akan menjadi orang yang paling menderita “.

“ Aku tak butuh saranmu “. Jawab Roi angkuh
“ sudah kukira bahwa kau akan mengatakan itu. Hatimu terbuat dari batu Roi, percaya suatu ketika kau akan tenggelam bersama kesombonganmu dan tak seorangpun yang akan memperhatikanmu “.

“ Diam…..aku sudah muak dengan saran dan ucapan – ucapanmu “. Sentak Roi hingga membuat Rosita kaget.

“ Heeemmm……kenapa Roi ? kurasa kau memang tak pantas untuk dikagumi, ditakuti dan yang lebih tak pantas adalah untuk dicintai. Jika harus ada kematian dihari esok, maka dari detik ini aku sudah siap. Tapi kau tak perlu bangga Roi Pramudya, karena aku tak pernah butuh kamu untuk menghargai pengorbananku “.

“ kau benar – benar gila. Kenapa kau rela mati demi aku? “.

“ Aku adalah kekasihmu yang tak pernah kau anggap.sekarang kau baru tau aku memang gila. Aku gila karena sebuah penantian yang tak pasti akan datang atau tidak. Tapi perlu kau tau, bahwasanya aku orang gila yang beruntung, karena masih punya hati dan rasa. Punya kepekaan atas penderitaan orang lain dan punya arti sebagai manusia dalam hidup ini.bisakah kau bandingkan dengan dirimu? . semua orang pasti akan mati Roi. Seperti halnya Saskila.tapi kau harus tau, bahwa dia mati ketika ia telah tau apa arti ketika ia hidup dengan cinta dan pengorbanannya.

Rosita segera beranjak meninggalkan Roi seorang diri dengan rasa gundah.Rosita berpikir bahwa ini akan sia – sia karena takkan pernah membuat seorang Roi menjadi jerah dan luluh dari keagkuhanya.

Aku memang kekasihnya, sudah hampir satu tahun aku bersamanya namun selama itu aku tak pernah punya arti dalam dirinya. Tak heran jika Saskila kekasihnya yang dahulu lebih memilih mati dari pada menanti sebuah harapan tanpa kepastian. Berhadapan dengan layar kosong memang sangat menyakitkan namun tak mudah bagiku untuk mengatakan “ aku bisa hidup tanpamu Roi “.

Seketika itu juga aku sudah putus asa. Ingin rasanya kutuliskan garis kematianku sendiri seperti halnya Saskila. Akupun mulai berpikir. Kematianku mungkin akan semakin dekat setelah hari ini. Tapi disaat sepelik itu, ada ruang yang tiba –tiba hadir membantuku menerangkan kembali lentera yang telah redup. Hanya dengan sebuah kata.

“ Aku butuh kamu Rosita “.

Kini kusaksikan sosok api yang telah menjadi air. Hati yang dulu sekeras batu kini telah menjadi selembut kapas. Aku tentu terkejut namun aku senang,karena dengan kekuatan cinta bisa menghadirkan keajaiban. Seorang Roi…..kini dia telah sadar bahwa dalam hidupnya dia butuh cinta, dia butuh aku, dia juga butuh orang lain. Dia butuh kata untuk menjadi mutiara yang bisa membuatnya mengerti akan arti hidup dan sebuah pengorbanan.

“ Hidupku memang telah kalut Rosita dan kini aku telah sadar bahwa aku butuh kamu untuk menjadi air ketika aku menjadi api. Aku juga baru menyadari tak ada kebahagian yang lebih utuh, ketika kita hidup dengan cinta dan bersama orang yang kita cintai untuk menciptakan arti hidup yang kuat. Trimakasih dan maafkan aku Sita “.

Aku hanya mampu tersenyum. Memandangi wajah yang kini telah menjadi cahaya. Aku tak bisa berkata apa – apa. Hanya mampu menatap wajah sayu dengan butiran air mata. Aku juga tak bisa berkata, bahwa aku tak pernah mencintainya.kubiarkan dia bersama arti hidup yang baru ia sadari.bersama cintanya, bersama tawaku dan kebahagiaannya. Bersama cerita baru tentang pengorbanan seorang perempuan yang tak pernah berhenti berharap untuk mendapatkan Roi sepenuhnya. Mendapatkan Roi bersama pengorbanan dan cintanya.
***

*) dari buku Sehimpun Cerpen Jombang “Hujan Sunyi Banaspati” Dekajo 2010.

Komentar