Jakarta

Fathurrahman Karyadi
http://sastra-indonesia.com/

Angin sepoi-sepoi menyibak rambutku tanpa izin. Menyapu muka hingga kelopak mata. Menyegarkan, kawan. Telingaku bising. Bunyian kereta terdengar amat nyaring. Apalagi kini aku tengah di atasnya. Di luar jendela sana pemandangan asri terus berganti. Sayang aku tidak bisa menikmati dengan jelas karena kereta terus berjalan.

Sementara di sampingku semua orang terlihat sibuk. Beratus-ratus jiwa dalam satu tempat. Ada yang berjualan mencari pelanggan, ada juga yang panik belum dapat tempat duduk. Meski keadaan sumpek dan ruwet seperti ini, aku tetap gembira. Sebab sore ini aku pulang ke Jakarta.

Lama sudah aku hidup di Jawa. Terhitung sejak lulus SD hingga di janggutku tumbuh rambut. Mungkin sekitar enam tahun-an. Kangen rasanya aku pada Jakarta dan, segala yang ada di sana. Mulai tempat wisata, hiburan, peribadatan, sampai makanan khas gado-gado yang lezat itu. Tak sabar aku ingin segera tiba. Seandainya aku adalah masinis kereta niscaya akan kupercepat lajunya dengan kecepatan turbo. Oh Jakarta aku rindu kamu!

Tujuanku meninggalkan Jakarta hanya satu: menunutut ilmu. Bukan berarti di Jakarta tidak ada lembaga pendidikan yang bagus, tidak. Justru di Ibukota-lah semua pendidikan terjamin mutunya. Lihat saja sekolah unggulan, berprestasi, berbasis Internasional semuanya ada di Jakarta. Tak hanya itu, kawan. Lembaga pendidikan non formal pun banyak berdiri. Mulai kursus cepat berbahasa, computer, keterampilan ini dan itu, bahkan pesantren dan majelis taklim pun tak terhitung jumlahnya.

Tapi mengapa aku justru memilih untuk menempuh pendidikan di kampung halamanku, bukan Jakarta? Di samping ingin merasakan hidup di desa, sebagai pemuda yang setia, aku juga harus mencintai tanah asli kelahiranku. Fenomena yang menyedihkan banyak terjadi, di mana seorang miliarder yang asalnya ‘wong deso’ lupa–atau bahkan tidak tahu–tempat kelahirannya. Aku tidak mau seperti itu, kawan.

Sejak pertama kali di Desa aku tidak betah. Kehidupan di sini amat berbanding jauh dengan Jakarta. Jangankan untuk memanfaatkan teknologi, air untuk mandi saja harus mencari berkilo-kilo meter jauhnya. Inang…Sungguh dulu aku tak betah. Rasanya ingin tinggal di Jakarta saja selamanya. Ya begitulah manusia, selalu berharap yang enak-enak saja. Namun jika kita mengingat kembali tujuan awal yang telah kita rencanakan pasti semuanya akan lancar. Buktinya sampai enam tahun aku bisa bertahan hidup di sini hanya berbekal niat: AKU INGIN PINTAR.
***

“Masnya mau kemana?” seorang Ibu yang duduk tepat di dihadapanku bertanya. Sapaan ‘mas’ sudah tak asing lagi di telingaku. Dalam bahasa Jakarta bisa diartikan ‘bang’.

“Mau ke Jakarta, Bu.” Sejenak aku lipat surat kabar yang tengah kubaca. “Ibu sendiri mau ke mana?”

“Ibu mau ke Cirebon. Kira-kira sampai sana jam berapa ya? Ibu kok ndak tahu, maklum baru kali ini naik kereta.”

Akhirnya kami berbincang-bincang panjang. Ibu itu cerita tentang banyak hal. Mulai soal keluarga hingga masalah pemerintah. Benar apa kata banyak orang, kalau kita sedang dalam perjalanan hanya ada satu cara yang dapat menghilangkan rasa kejemuhan, yakni dengan obrolan. Dan, dalam konteks seperti inilah berkenalan dengan orang yang belum kita kenal amat dianjurkan. Siapa tahu dari sini hidayah Tuhan akan menemui kita. Dan, percayalah bahwa ta’aruf menyimpan banyak manfaat, kawan.
***

Cahaya matahari pagi menyingsing tajam. Menembus kaca menembak mukaku dengan kasar nun panas. Aku terbangun dari tidur nyenyakku. Bunyian kereta tak lagi terdengar di telinga. Kereta berhenti di sebuah stasiun. Entah stasiun apa aku kurang tahu.

“Mas mau turun dimana?” seorang bapak bertanya.
Suaraku masih belum jelas,“Jatinegara, Om.”
“Untunglah, tepat. Ini sudah di Jatinegara.”

Aku segera merapikan barang bawaanku. Tentunya dengan tergesa-gera dan panik. Kalau tidak, bisa-bisa tertinggal aku nanti.
“Dergh……. Dergh……”

Suara keras menggoyangkan kereta! Bertanda kereta akan memulai star menuju stasiun Senen. Setelah yakin tidak ada barang yang tertinggal aku langsung beranjak turun dari kereta. Aku tak perlu melompat lagi sebab stasiun di Jakarta berbeda dengan stasiun lainnya: trotoar samping rel dibuat sejajar dengan pintu kereta. Sehingga mempermudah penumpang ketika hendak keluar. Tampaknya sepele memang, tapi bagi perempuan–apalagi ibu-ibu–mereka amat kesal kalau jalanan tidak dibuat sejajar dengan pintu. Harus dibutuhkan kehati-hatian dan doa agar tidak jatuh terjungkur.

Perutku keroncongan. Selama perjalanan aku belum makan nasi kecuali saat berbuka puasa. Subuh pun aku tidak sahur saking nyenyaknya tidur. Bagi musafir sepertiku diperbolehkan tidak puasa, mengingat perjalanan jauh yang menguras tenaga sekalipun hanya duduk di atas kereta saja. Sebelum mencari mikrolet aku belokkan langkah ke warung dekat stasiun.

“WARTEG.” Kau tahu apa artinya? Baiklah: warung Tegal, kawan. Itulah sebuah warung yang penjualnya asli warga Tegal dengan menu yang khas. Meskipun dinisbatkan pada Tegal, jika kau mencari wareg di Tegal tidak akan ada. Warung ini hanya dijumpai di Jakarta. Sejak kecil aku juga binggung kenapa yang ada hanya warung Tegal saja, tidak yang lain. Kalau ada warung Semarang mungkin bagus, WARSEM!

Aku memesan makanan dengan porsi sederhana, sekedar mengisi perut. Satu piring nasi campur dan teh hangat tanpa gula. Saat hendak membayar aku teringat trik jitu yang pernah ditawarkan temanku di pesantren. Namanya Faqih dia asli Tegal.

“Kalau kau ingin menikmati masakan warteg dengan harga murah kau harus pakai jurus ampuhku ini: GUNAKAN BAHASA JAWA! Dengan berbahasa Jawa nanti si empunya warung akan simpati. Minimal dia akan memiliki gambaran ‘sama-sama orang Jawa di Jakarta harus bersaudara.’ Artinya, tak mungkin dia akan menembak dengan harga tinggi. Percayalah!”

Kini kucoba jurus itu.
“Sampun, Pak. Sekul kalian teh anget pinten nggeh?” untungnya aku sudah lancar berbahasa Jawa. Aku menyana pasti akan berhasil, semoga saja demikian!

Sejenak dia terdiam, mungkin agak heran melihat ektingku barusan.
“Lima ribu, Mas,” ucapnya santai.

Kukeluarkan uang sebesar Rp.10.000. Kusodorkannya lalu dijamah sopan. Aku sedikit kecewa. Susah payah aku bahasa Jawa, eh bapak itu malah menjawabnya bahasa Indonesia. Kuperhatikan terus gerak-geriknya.Tangannya tampak sibuk mencari kembalian. Mungkin karena masih terlalu pagi ia belum dapat pelanggan, apalagi di bulan Ramadhan ini semua orang tengah berpuasa. Bisa jadi aku adalah orang pertama sekaligus terakhir yang mengunjungi warungnya.

Tiba-tiba,
“Jenengan tiang Jowo tho, Mas?”

Ucapan itu membuat hatiku berbunga. Seperti seorang pelamar kerja yang mendapat SK diterima lamarannya.

“Oh enggeh, kulo asli tiang Jowo, Pak” jawabku agak terbata-bata.
“Sami, kula nggeh Jowo, Tegal kiyek” logat enyongnya kentara sekali. Andaikan dia tidak berkata demikian aku juga sudah tahu kalau sesungguhnya dia asli Tegal.

Dia merekahkan bibirnya tersenyum akrab.
“Niki wangsulanipun,” ia memberikan uang kembalian.

Sepertinya ada yang aneh. Uang kembalian yang seharusnya kuterima adalah Rp.5.000 tapi dia memberiku Rp.7.000, lebih dua ribu. Belum sempat aku menanyakan, bapak itu berujar.

“Enggeh sampun, wong podo Jowone kok. Ngitung-ngitung sodaqoh di bulan Ramadhan, Mas,” senyumnya ramah. Aku jadi tidak enak.
“Matur suwun sanget nggeh Pak. Mugo-mugo barokah. Assalamualaikum,” aku pamit meninggalkan warung setelah salamku dijawabnya.

Visi dan Misiku tak sia-sia. Walaupun hanya dikorting dua ribu, aku merasa beruntung. Dua ribu rupiah juga besar, kawan. Jangankan dua ribu, kalau kau punya uang satu juta tapi kurang seratus rupiah saja uangmu tidak dikatakan satu juta, iya bukan?

Ternyata tak begitu susah mencari kendaraan di Ibukota. Baru beberapa menit aku keluar dari Warteg, mikrolet berbagai jurusan sudah siap mengangkut penumpang ke segala penjuru Jakarta. Untung aku masih ingat mikrolet mana yang harus kunaiki untuk bisa sampai ke Kampung Rambutan. Mikrolet biru nomor punggung 06A.

Dalam perjalanan antara Jatinegara-Kampung Rambutan, banyak hal-hal aneh yang kutemui. Maklum kawan, aku tidak mendengar kabar Jakarta enam tahun lamanya. Hampir aku tak kenal kota apakah ini kok indah nian? Jalanan bagus dihiasi aneka lampu. Aspal hitam tanpa benjolan luka membuat penumpang betah dalam perjalanan. Tak ada gempa sugra. Hijau-hijauan turut menghiasi pinggiran jalan. Ini adalah salah satu upaya agar udara tetap sejuk, terhindar dari polusi kendaraan. Pak polisi lalu lintas yang gagah tiada henti mengawasi pengguna jalan. Kendaraan mewah yang biasa aku lihat di televisi kini ada di hadapanku semua. Takjub bukan main aku kini.

Sebentar…! Ada satu kendaraan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Persis seperti Bus, panjang dan mampu memuat banyak penumpang. Tampilan body indah enak dipandang. Melintas di jalur khusus dan berhenti di sebuah tempat pemberhentian yang–kalau tak salah seingatku–namanya halte. Tapi halte kok di tengah jalan? Sempat terbesit pula dalam benakku, “Sesampainya aku di rumah nanti, aku akan tanyakan pada orang-orang, sebenarnya mobil apa sih itu?”
***

Kedatanganku di Jakarta disambut luar biasa. Keluargaku sangat mengharapkanku sejak dulu. Apa lagi Ibu dan Bapak, tak henti-hentinya aku diperlakukan layaknya seorang raja, padahal aku adalah anaknya sendiri. Aku juga sempat tak percaya melihat kakakku yang paling besar kini sudah menggendong anak, dua! Kukira dulu ia tak akan menikah. Tak tahunya tidak. Malahan suaminya asli Betawi. Setahuku kakak tak suka orang betawi karena satu alasan yang cukup umum: lelaki asli Jakarta sukanya makan jengkol! Mungkin paradigma ini memang benar adanya, tapi jangan dikira dibalik kekurangan pasti tersimpan kelebihan: lelaki Jakarta tak mau makan sebelum Isterinya sudah makan! Paham kau, kawan?

Bapak yang dulu tak beruban sekarang rambutnya nyaris putih 60% hanya dalam jangka enam tahun. Ibu masih terlihat awet muda, entah racikan apa yang dipakai hingga tak sedikitpun wajahnya tampak keriput. Adikku, yang juga anak terakhir, kini sudah besar. Tumbuh dewasa layaknya seorang artis di pangggung pesta. Meski cantik dan manis tak mungkinlah aku berbuat yang tak semestinya. Dia adalah adikku selamanya.

Teman-temanku yang dulu satu sekolah di SDN 01 Rambutan Jaktim, kini pun berubah derastis. Hampir aku tak mengenalnya. Apalagi Ermi yang dulu terkenal julukan ‘Si Wanita Gajah’ kerena tubuhnya yang super besar, sekarang langsing singset. Hampir aku tak percaya. Ah…wajarlah namanya Jakarta apapun obat tersedia. Yang awalnya burik bisa saja cantik seketika. Asalkan kau punya uang itu saja.

Hari-hariku di Jakarta kumanfaatkan untuk berkeliling kampung. Suasana sungguh berubah. Bangunan rumah banyak yang megah sekalipun ini bukan di perumahan orang kaya. Penampilan mereka rapi dan bersih. Aku sudah mengamati berkali-kali. Sampai aku punya gambaran: anak muda Jakarta tidak ada yang berjerawat, amboi! Muka mereka putih pula. Aku jadi bingung masak iya terik matahari di Jakarta dapat menjadikan orang lebih mempesona? Hampir tak pernah aku melihat orang Jakarta yang berkulit hitam apalagi kusam gelam. Tidak ada kawan, percayalah!

Aktifitas warga Jakarta pun unik dan berfariasi. Jika pagi tiba–selain bulan puasa—mereka mengantri beli bubur ayam atau nasi uduk. Biasanya di setiap RT sudah ada yang menjualnya. Setelah itu mereka sibuk sesuai jabatannya. Anak-anak pergi sekolah, ayah bekerja dan sebagainya. Ketika suasana sepi inilah kaum ibu banyak yang keluar rumah, sekitar pukul 08.00. Tujuan mereka membersihkan halaman masing-masing. Tapi sebenarnya ada lagi yang lebih penting, yaitu NGERUMPI! Bu RT, Ibu tukang nasi, maupun Bu Haji tak ada bedanya. Mereka berkumpul dalam satu tempat yang sekiranya asyik untuk ngobrol. Problematika yang mereka usung cukup beragam, ada kalanya masalah keuangan, tataboga, model busana, kabar artis terkini, dan bahkan aku pernah mendengar mereka berbincang-bincang tentang permasalah pribadi dengan suaminya. Kalau diniati diskusi mungkin terhitung ibadah tapi jika tidak, mungkin kau lebih tahu…

Siang hari kebanyakan mereka mengisi waktunya untuk beristirahat. Atau bagi yang tak berminat mereka bisa membeli bakso yang sudah mangkal di dekat rumah pak RT. Sore hari setelah asar tak jarang diantara mereka yang berolahraga. Cabangnya ada sepak bola, tennis, basket atau sekedar bersepeda santai. Tentunya tidak di kampung ini mereka berolahraga. Kami biasa menuju komplek perumahan kaya yang bersebelahan dengan kampung kami namanya BHP: Bumi Harapan Permai. Di sana lahan amat luas.

Malam hari, sudah pasti ini acara khusus anak muda. Entah sejak kapan pemerintah Jakarta menetapkan hal ini. Di setiap tempat di Jakarta, pasti kita akan menemukan yang namanya anak muda. Aktifitas mereka pun berfariasi. Ada yang mejeng di pinggiran jalan, nongrong bareng-bareng sambil bergitar, browsing di warnet, shoping dll. Aku pun sering nimbrung dengan mereka. Ternyata mereka berhati baik, apalagi soal materi aku sering ditraktir makan. Aku jadi teringat sebuah syair indah:

Kalau kau orang pintar manfaatkanlah ilmumu
Kalau kau kaya, jadikan hartamu sebagai amal
Kalau kau bodoh dan miskin panjatkanlah doa,
Niscaya surga tempatmu kelak

Ibu selalu memperingatkanku saat aku ingin berkumpul dengan teman-teman.

“Kau sekarang di Jakarta, harus bisa menyesuaikan penampilan. Pakailah baju yang rapi, cuci muka dulu, kalau perlu pinjam minyak wangi Bapak. Biar nanti dalam pergaulan tidak ada yang canggung. Risih kayaknya kalau diantara mereka ada yang belum mandi atau baju yang culun…”

Nasihat Ibu memang benar, aku sendiri mengakuinya. Tapi aku rasa teman-temanku di sini tak pernah berperasangka buruk. Selama aku bergaul tak ada satu pun di antara mereka yang mengejekku karena aku berpenampilan katrok, jadul dan semerawut. Inilah salah satu yang aku salut dari pemuda Jakarta. Mereka sudah terbiasa menghormati orang lain, tidak ada istilah mengejek satu sama lainnya.

Akhir Ramadhan Jakarta sepi, kawan. Di sini ada budaya yang mungkin sering kita dengar. MUDIK, namanya. Mereka yang bukan penduduk asli Jakarta, kebanyakan memilih berlebaran di kampung masing-masing.
***

Saking betahnya aku di Jakarta tak terasa sudah lebaran. Kepayahan selama tiga puluh hari berpuasa seakan terbayar di hari yang fitri ini. Ketupat dan sayur opor sebagai menu khas lebaran warga Jakarta. Busana kebaya dengan payet gemerlap menjadi kebanggaan mereka. Pagi setelah salat id usai, tak ada yang menuju rumah masing-masing. Mereka bersalam-salaman satu sama lain. Tebaran senyum merekah di setiap wajah. Tetesan air mata melebur dosa. Inilah yang dinamakan halal bi halal. Sekalipun istilahnya berbahasa Arab, anehnya di Arab sendiri tak dijumpai budaya semacam ini.

Aku sedih meninggalkan Jakarta. Namun apa boleh buat, mau tak mau aku harus kembali ke Jawa. Pendidikanku belum usai, kawan. Meski hanya dua minggu di Jakarta aku cukup–atau lebih tepatnya amat–bahagia. Baru keliling kampung saja aku sudah puas. Apalagi kalau seumpama aku keliling ke banyak tempat di Jakarta, mungkin aku akan lupa Jawa. Kita akan bisa melepas setres di Ancol dengan seribu permainan fantastis, kita juga akan tahu banyak sejarah Indonesia di Museum Fatahillah atau Museum Gajah, kita bisa tahu bagaimana pernak pernik budaya Indonesia secara keseluruhan di TMII, kita akan merasa lebih bangga menjadi bangsa Indonesia jika mengunjungi museum proklamasi dan monas, kita bisa menemukan buku apa saja di Perpustakaan Nasional, kita bisa melihat langsung semua fauna dan flora Indonesia di ragunan, dan… Ah masih banyak lagi, kawan!

Di tengah lamunanku aku teringat sesuatu. Aku lupa menanyakan nama bus yang aneh itu. Tak apalah mungkin suatu saat nanti akan terjawab dengan sendirinya.
***

Sesampainya di pondok, aku menceritakan semua pengalamanku di Jakarta. Mereka takjub bukan main. Apalagi, Faqih. Dia sumringah luar biasa saat tahu kalau jurus ampuhnya kupraktikkan dan berhasil. Bahkan, ada satu hal yang sangat menyentuh hati. Aku sempat terharu membaca tulisan temanku di buku diarynya:

“Hari ini aku baru tahu bagaimana indahnya Jakarta. Temanku baru saja dari sana. Ia menceritakannya dengan detail tentang budaya, gaya hidup dan semua pesona yang ada di Jakarta. Ceritanya membuat hasratku ingin mengunjunginya. Menikmati sejuta keindahan di Ibukota Indonesia. Tuhan, kabulkanlah hamba semoga bisa ke Jakarta meski beberapa hari saja!”

*) Penulis adalah cerpenis dan redaktur pelaksana Majalah Tebuireng. Email:atunk.oman@gmail.co.id
**) dari buku Sehimpun Cerpen Jombang “Hujan Sunyi Banaspati” Dekajo 2010.

Komentar