Langsung ke konten utama

Sri

Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/

Sri namaku. Aku lahir ketika musim kemarau panjang. Keluargaku di himpit kesusahan. Sawah yang ditanami padi tak juga kunjung menuai panen. Kekeringan melanda desaku. Hingga semua warga desaku harus berduyun-duyun menimba air di sumur syawal ketika pagi tiba. Sumur yang selalu ada airnya walaupun musim kemarau melanda. Hanya itu satu-satunya sumur yang tak pernah surut. Konon ceritanya yang menggali lubangnya bernama Syawal. Hingga sumur itu diberi nama sumur Syawal. Atau mungkin dalam dugaku lubang sumur itu di gali waktu bulan syawal.

Matahari tepat di atas kepala. Cahayanya menembus genteng kaca rumah. Aku keluar dari rahim Ibuku. Aku tak lekas dibersihkan, darah masih menempel di kulitku. Sebab tak ada orang yang tau. Di rumahku hanya Ibuku sendiri yang berjuang hingga aku keluar dari rahimnya. Baru ketika ada tetangga lewat di depan rumahku sepulangnya dari sholat Istisqa’di sawah. Sholat meminta hujan pada Tuhan agar segera diturunkan. Dan dilanjutkan berdo’a hingga petang. Dia mendengar tangisku. Dimasukinya rumahku. Itupun sudah hampir senja. Dengan tergesa-gesa dia memanggil tetangga yang lainya. Baru ketika azdan magrib tiba, tetanggaku yang bernama Parti memandikan aku.

***

Ibuku, meninggal ketika usiaku 6 bulan. Bapakku entah kemana. Aku di asuh oleh Mbak Parti, begitu aku memanggilnya. Mbak parti orang kaya. Suka berdandan. Dan primadona kampungku. Dia janda kembang. Sehabis menikah dapat sebulan suaminya meninggal tertabrak kereta ketika hendak ke kota untuk kula’an barang-barang yang akan dijual di tokonya. Dia sempat hamil tapi nasib berbicara lain, kaguguran menimpa kandungannya. Itu tepat ketika suaminya meninggal. Mbak parti berjanji untuk tidak menikah lagi. Karena saking (sangat) cintanya pada suaminya yang namanya Bejo.

Aku dianggap anaknya sendiri. Segala hal dituruti. Sampai sesuatu yang sepele hingga sesuatu yang penting. Dia melakukan itu semua karena sayang sama aku. Tetapi kesendirian Mbak Parti tidak berjalan lama. Dia lupa akan janji yang pernah diucapkannya.

Paijo namanya, yang membuat Mbak Parti tergila-gila. Setiap malam tiba, Paijo datang kerumah. Aku selalu suka ketika Mas Paijo datang, sebab selalu bawa permen untukku, tidak hanya permen kadang bakso yang dibelinya di lurung gede (jalan besar) sebelum masuk ke gang rumahku. Rumah Mbak Parti, sudah aku anggap rumahku sendiri, dia sendiri yang memintanya.

Malam minggu, Mas Paijo biasanya datangnya sehabis magrib. Lalu mengajak Mbak Parti jalan-jalan sampai jam menunjukkan pukul sembilan malam.

***

Tetapi malam minggu ini sampai tengah malam tak pulang. Aku menunggunya dengan resah. Aku tertidur di balik pintu menunggu Mbak Parti, terbangun ketika mendengar ketukan pintu.
“Sri… Sri…, bukakno lawange… (bukakan pintunya) “. Aku bergegas membuka pintu yang tidak jauh dari aku. Tinggal berdiri lalu membuka.
“Kok bengi Mbak mulehe” (kenapa malam pulanganya) Tanyaku penasaran. “Iyo Sri, dijak muter-muter karo mas Paijo, mari ngono dijak dolen neng omahe” (iya, sri di ajak putar-putar sama mas Paijo, habis itu di ajak main kerumahnya).
Mbak Parti bercerita banyak tentang Mas Paijo, dari rumahnya yang besar dan kekayaan-kekayaannya. Tak henti-henti sampai menjelang pagi.
Mas Paijo sering main ke rumah. Bahkan pernah menginap. Suatu hari, aku tidak sengaja habis pulang sekolah langsung saja masuk dapur tanpa salam untuk masuk rumah. Pintu kamar Mbak parti terbuka. Letak kamar Mbak Parti bersebelahan dengan dapur. Aku kaget bukan main. Mbak Parti dan Mas Paijo tanpa sehelai pakaian. Mereka mendesis seperti ular berbisa saling mencaplok. Aku mengigit jariku tak bisa melupakan kejadian itu. Aku lari menuju dapur dan meminum air kendi tak sadar air tumpah ke baju sekolahku. Dan Basah.

Mas Paijo, tanpa sadar sudah di belakangku. Melihatku yang gugup. Aku melihat masih ada sisa bisa yang keluar dari mulutnya. Aku manjadi takut. Aku lari. Tapi langkah Mas Paijo lebih cepat. Aku didekamnya. “Kau tadi melihat ya Sri” sambil matanya serupa srigala hendak memangsa hewan buruannya. Aku mengeleng takut. “Tak usah takut, Sri” dekamannya semakin kuat. Aku berteriak. Tetapi lebih cepat ubetan ular yang mbulet di tubuhku. Nafasku serasa sesak. Berlahan sengatan bisa menembus tubuhku. Aku kaku, diam, kosong, serupa orang tak waras.

Baju putihku berlumur darah. Roh abu-abuku yang baru aku beli seminggu yang lalu entah ke mana.

***

Sri namaku, aku lari dari rumahku. Seperti Ibuku, pergi tanpa pamit dan tak kembali. (mungkin mencari bapak). Sepertiku juga (mungkin mencari bapak) Meninggalkan mesjid dan kitab suci. Aku memuja tubuhku. Membakar kenangan tentang sumur syawal. Dan kampung yang kekeringan ketika musim kemarau. Kini aku menjelma menjadi ular yang selalu berdesis. Seperti Mas Paijo dan Mbak Parti. Dalam kerlip lampu-lampu, dalam gelap kamar, dalam gedung-gedung rapat.

Hidupku tak pasti, seperti yang aku tahu tentang hukum di tempat aku menyusuri jalan dan jalur hidupku. Akupun tak tahu. Di mana Tuhanku. Apa mungkin dalam desis malam atau dalam tubuh beningku. Kini kering, seperti musim di mana aku lahir dari rahim ibuku tanpa tahu Bapakku.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com