Lima Liang Banua

Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Dia bosan hidup miskin. Miskin itu tidak enak. Tak bisa apa-apa dan selalu dipandang rendah. Dia memutuskan meninggalkan kampungnya, merantau ke dekat batubara. Meninggalkan ibunya. Selama ini dia cuma tahu bahwa orang tuanya cuma satu. Sejak kecil dia tak pernah melihat seperti apa abahnya. Cuma tahu namanya, dan dia tak peduli itu benar atau salah.

Saat akan berangkat, ibunya cuma berteriak, “Ingat-ingat jalan pulang.” Tak ada air mata. Hidup atau mati bagi mereka cuma soal mengingat jalan pulang pada rumah-rumah yang tak pernah abadi di pinggir kali atau di rumah-rumah usang yang siap ditinggal pergi penghuninya kapan saja.

Dia tak pernah pulang. Dia pun tak tahu kemana ibunya setelah itu. Entah masih hidup atau telah tewas. Kematian begitu intim seperti kuburan yang ditanam di pekarangan rumah. Meski begitu ia masih ingat jalan pulang: menyusuri kali dan sungai sampai di bawah pohon besar yang diangkerkan. Rumah kardus itu lenyap setahun setelah kepergiannya.

Batubara mengajarinya bahwa hidup harus menggali. Dokter-dokter gila duit menggali kantong pasiennya. Pejabat korup menggali pajak-pajak rakyat. Tiba-tiba terlintas wajah maling kambuhan di kampungnya dulu, mungkin 25 tahun silam, yang harus menggali kuburan bayi demi jari-jari mungilnya yang diyakininya sebagai azimat malih rupa. Gelandangan abadi menggali kubur mereka di jalanan.

Kini ia kaya raya karena galiannya merambah wilayah yang jauh: menyodok, memelintir, membunuh, memenjarakan, memperkosa hak-hak alam. Memerangkap penguasa dengan enteng dalam pusaran uangnya yang tak mau diam.

Kekayaannya tak sempat membahagiakan ibunya. Atau jangan-jangan dia memang tak kenal apa itu bahagia bahkan saat ia memiliki banyak uang seperti sekarang.

Semakin uang melimpah, semakin rakus ia melebihi satwa paling buas. Ke tanah suci berkali-kali, memenjarakan saingan bisnisnya dengan keji, ia pun tak peduli banyak sesamanya mampus akibat dampak buruk usahanya terhadap lingkungan. Dia lihat mereka, tapi tak ada rasa yang paling dirasakannya, selain wangi uang. Mungkin dalam alam bawah sadarnya bersemayam keyakinan yang memfosil: tak ada Tuhan selain uang.

Ya, dia punya keyakinan istimewa pada uang. Uanglah yang menolongnya menaklukkan para kades, camat, bupati, kiai, walikota, kapolres, kapolda, gubernur, hakim, jaksa, pengacara, ketua DPR, LSM, bahkan presiden. Karena itu dia genggam uang itu dengan erat. Setiap hari hidup demi uang. Sebab, dia tak ingin lagi dilecehkan seperti dulu. Dia tak mau miskin lagi. Kemiskinan yang hina jauh lebih buruk dari kekayaan yang najis.

Di rumahnya yang megah di atas bukit. Rumah yang bisa dilihat orang-orang yang lewat dari segala arah, dia memandang senja. Dari rumahnya yang ingin mengabarkan harga diri di hatinya: aku kini urang sugih, paling harat, semua perlu tahu itu! Senja yang lain. Satu-satu senja yang membuat dia merasa Tuhan sedang melihatnya.

Ia tetap menatap tajam gerakan aneh dari bola matahari di ufuk barat. Seseorang kerdil berjalan memutar matahari senja yang redup, seperti hamster berlari dalam selongsong kawat yang menjadi kurungannya. Sampai ia dikagetkan seseorang yang menepuk pundak kirinya. Saat menoleh, matahari itu tenggelam cepat seperti lumpur lapindo melahap lapak-lapak.

Ia tak kenal orang itu dan entah ia lewat mana. Ia tak bertanya, tertegun. Baru sore itu ia menerima tamu tanpa rencana sejak ia kaya raya. Rambutnya sebahu. Berpeci putih dengan garis merah darah di bagian bawahnya. Wangi khas orang yang baru keluar dari tempat-tempat suci. Giginya rapi. Tanpa kumis dan janggut atau lebih tepatnya kumis dan janggut itu tampak baru dirapikan, dipotong.

Berbusana gamis putih. Tanpa sandal. Si kaya raya itu terkagum pada wajahnya yang sejuk dan senyumnya yang membedah perasaannya. “Diamlah jika mau selamat! Saya tahu kamu selama ini juga pendiam. Kamu bukan apa-apa dengan semua kemewahan ini. Sebentar lagi saya akan jawab pertanyaan dari dalam hatimu. Siapa aku memang sangat penting bagimu daripada apa yang akan terjadi sebentar lagi. Itu sebabnya kamu tersesat. Kamu dihantui kesiapaan.”

Lelaki berjubah putih itu mengulurkan tangannya padanya yang masih belum selesai ternganga. Pria berjubah itu menyebut nama, nafasnya sedingin hawa kulkas di bawah nol derajat.

“Mana kopiah hajimu? Trendi sekali kau sore ini.” tatapannya yang teduh tampak menelisik dari ujung kaki sampai kepala si sugih. Tubuhnya menegang.

“Apa yang kau cari dengan berakus-rakus begini?” si sugih kaku itu merasakan aliran darahnya melambat. Limbung ke kiri dan… Bruk! Pertanyaan remeh dari tempat gaib menohok titik-titik penting dalam jiwa dan raganya. Darahnya dia, syaraf-sarafnya kacau. Tiga puluh menit kemudian dia dalam ambulans. Lelaki gempal yang sejauh itu masih premannya berteriak, “Ke Ulin, cepat!”

Patwal di depan iring-iringan ambulans dan mobil preman. Melaju melewati foto-foto pejabat yang cuma bisa menghiasi tepi jalan dengan foto, kegenitan masa kecil yang setia.

Di Ulin, peneriak Ulin itu meminta pelayanan khusus. Petugas jaga bingung menyikapi orang biasa yang dikawal polisi.

“Maaf, kamar ICU penuh. Kami berikan kamar periotas untuk pemeriksaan 30 menit ke depan.”

“Apa? Kami mau dokter terhebat di sini, berapapun biayanya! Telpon bosmu!”

Petugas gemetar, tapi nadinya masih lancar. Di ujung telepon langsung mengiyakan. Haji rakus itu tak boleh mati malam ini. Tak ada doa. Tapi harus ada yang dirisikokan. Ada orang biasa yang mungkin selamat dalam ICU, yang telah lama antri, harus memperpanjang antrean.

Perawat langsung mengevakuasi tubuh si sugih yang kaku. Matanya membelalak. Perawat menutupkan selimut ke kepalanya. Baru kali itu ia merasakan kegetiran hebat. Di ICU, setelah dokter jaga melihat wajahnya, ia berharap semua tenang. Ia memberikan penjelasan tentang serangan penyakit yang menimpa tuan mereka.

“Maaf, Bapak-bapak, kami di sini selalu gagal menyelamatkan gejala seperti ini. Di kota ini tampaknya tak ada penyakit aneh seperti ini. Coba lihat ke sini.”

Dokter mengajak para pendamping melihat dengan cermat mata tuan mereka. Perawat mematikan listrik. Dalam gelap mata si kaya muda itu mengeluarkan sinar merah. Dalam matanya ada jurang yang sangat dalam seperi galian batubara. Mata para penyaksi, kecuali dokter dan tim medis yang piket saat itu, merasakan aliran darah yang melambat dan jantung mereka tiba-tiba berhenti berdetak.

Kegawatan berikutnya tercipta. Keempat bodyguard itu langsung disimpulkan untuk dimasukkan ke kamar jenazah. Sampai seseorang berpakaian hitam-hitam muncul dari toilet di samping kamar itu, menyuruh mereka segera menyiapkan ambulans.

“Rafael?” perawat-perawat ternganga. Tak percaya dalam suasana genting ia hadir di rumah sakit. Rumah bagi pasien dan dokter sakit. Tadi petang mereka menyaksikan show Rafael memang. Ia cuma seseorang yang mirip. Jika ia mirip Ariel, kisahnya pasti beda.

“Ya atau bukan, dengarkan sugesti saya. Malam ini bawa mereka ke lubang-lubang batubara di Kotabaru, Tanah Bumbu, Binuang, Balangan, Tanjung. Di sanalah mereka harus dikubur, begitu saja, tanpa doa, tanpa kafan. Mereka selama ini pemuja setan dan mereka sekarang urusan saya. Bukan urusan manusia baik-baik untuk memakamkannya. Kalau paham, anggukkan kepala, ambulans sudah siap. Nanti ikuti mobil saya itu.”

Di bawah remang sinar lampu teras bangsal Jahanam, mobil hitam bernomor DA 1 terparkir di sana. Perawat tak punya waktu bertanya lagi. Dia minta orang-orang tanpa nyawa itu dilarikan ke lubang-lubang batubara. Lelaki mirip Rafael itu masuk mobil yang siap dikawal Patwal lapis lima.

Tengah malam yang sepi. Iring-iringan ambulans hanya mengerlipkan lampu. Kapal penyeberangan ke Tanjung Serdang sudah siaga. Lelaki di DA satu tadi sudah ada di lima liang batubara pada saat yang sama. Di bibir galian batu bara yang menganga seperti bekas bumi dihantam meteorit, lelaki itu memanggul mayat itu di hadapannya. Wajahnya tengadah ke langit warna darah. Dia menyebut nama Tuhan yang asing di telinga para pengantar dengan suara menggelegar. Mereka menutup telinga.

“Inilah calon fosil demi persediaan batu bara anak cucu banua kelak! Terimalah! Kabulkanlah”

Telinga para penyaksi menyimak setiap kata yang ia teriakkan. Setiap katanya mematikan sepuluh sel tubuh mereka. Terasa mereka ada antara hidup dan mampus.

Katanya: kaya menjadikannya hina. Hina lebih miskin daripada orang miskin yang mulia. Kaya rakus. Kaya tikus. Kaya monyet. Tumpaslah, tuntaskanlah, Paduka yang Mulia!

Langit berubah. Cerah. Bintang kerlap kerlip. Lelaki itu sedih, merasa permohonannya ditolak. Para penyaksi masih menunggu yang akan terjadi. Kerlap-kerlip itu mendekat, cepat dan berekor. Menghantam segala yang ada. Berdebum. Tanah retak membuncah, memuntahkan air tanah. Kotabaru banjir, Batulicin juga, Tanjung dan Balangan tergenang.

Dalam sekejap air setinggi sisa-sisa pohon di sekitarnya. Ambulans mengapung, mengalir bersama batang-batang kayu. Tak tampak satu pun manusia yang mengapung dalam aliran bah menuju muara terendah. Sampai regu penyelamat menemukan perempuan berambut panjang, berkulit putih, dan berwajah cemerlang, tersangkut di akar pohon. Tangannya kuat menggenggam selembar kertas putih yang dilaminating. Di kertas itu tertulis sajak tua “Dendam Sungai”.
***

Komentar