Langsung ke konten utama

Fatima dan Pohon Delima

Evi Idawati
suarakarya-online.com/9 April 2011

Fatima hidup dengan tiga anaknya sendirian di rumah kecil yang ditinggalinya sejak dua tahun yang lalu. Sebelum waktu dua tahun, orang mengenalnya sebagai perempuan yang sukses. Hidupnya berlebihan dengan harta benda yang berlimpah. Dia mempunyai usaha yang dikelola bersama suaminya. Cabangnya hampir di semua propinsi Negara.

Orang sungguh-sungguh melihat mereka bahagia. Rumah yang besar, kantor yang mentereng. Mobil lebih dari satu yang mengantar keluarga mereka dan tamu-tamunya kemanapun hendak pergi. Cukup menjadi ukuran bahwa hidup keluarga mereka berlebihan. Setiap hari, rumahnya tidak pernah sepi dari tamu yang mengunjungi dan bersilaturahmi. Tempat tinggalnya seperti restoran yang selalu memasak dan menyediakan makan untuk siapapun yang berkunjung. Para handaitaulan maupun orang yang baru kenal yang kemudian menjadi akrab dan menginap di kediamannya.

Setiap hari, ada saja orang yang datang untuk meminjam uang. Untuk beli motor, bayar kredit rumah, membayar sekolah anak, membangun rumah, bahkan untuk berhaji, sambil membawa sertifikat rumah dan BPKP motor atau mobil, mereka meminta dibantu untuk berziarah ke makam Nabi Muhamad.

Fatima melakukan sebisanya untuk membantu mereka. Sanak saudara jauh, sanak saudara dekat, keponakan, teman, kakak dan tetangga, semuanya datang dengan berbagai tujuan. Setiap hari berdering telepon meminta zakat untuk sekian santri, proposal tanah wakaf untuk pesantren dan anak yatim piatu dengan jumlah yang lebih dari sekian ratus, bahkan ribuan, entah benar atau tidak jumlah tersebut, Fatima selalu berusaha memberi.

Tapi dua tahun ini, hidupnya berubah, Fatima bercerai dengan suaminya dan hidup sendirian bersama ketiga anaknya. Semua harta bendanya entah berada di mana, mobil dibawa siapa, motor ada dimana, tabungannya tinggal berapa, bagaimana usahanya, dia tidak hirau sama sekali. Memulai hidup sederhana, meninggalkan apa yang pernah menjadi bagian hidup dirinya dan anak-anaknya menjadikan rumahnya sungguh-sungguh sepi. Tiada lagi sanak saudara yang berkunjung. Yang mengaku teman semuanya pergi, dering telepon mengirim doa untuk meminta zakat dan shodaqoh menghilang.

Semua senyap dan sunyi. Hanya ada satu pembantu yang setia menemaninya. Tapi tidak lama kemudian, pembantunyapun meninggal tanpa sakit. Fatima sendirian. Apa yang terjadi pada keluarga Fatima menjadi pembicaraan begitu banyak orang. Tapi Fatima tidak perduli. Dia memulai hidup baru, bekerja untuk dirinya dan anak-anaknya. Dia tidak menyesali apa yang telah dilakukannya pada dirinya sendiri. Bisa makan dan berkumpul dengan anak-anaknya lebih indah dari apapun benda mewah yang diinginkan di dunia ini.

Beradaptasi dengan kekurangan dan ketidakmapanan membuatnya semakin menyadari bahwa hidup terlalu berharga untuk dilalui dalam kenangan. Menggantungkan hidup pada orang lain, tidak pernah dia lakukan.

Satu yang tidak pernah dilupakan oleh Fatima saat dulu ataupun sekarang, dia selalu menyediakan waktu untuk sekedar menyapa dan berbincang dengan tumbuhan yang ada di pekarangan rumahnya. Dia menanam tanaman yang berbunga ataupun tidak.

Baginya melihat warna hijau dedaun, membuatnya tentram dan memberinya semangat untuk hidup. Dari pohon dan tanamanlah dia belajar bersabar, belajar tumbuh dan berkembang. Fatimah menganggap tanaman adalah makhluk yang paling kuat dan sabar menjalani hidup. Selalu tumbuh keatas. Saat kering bertahan, kala hujan menyimpan bekal, jika berbuah, dia memberikannya pada siapa saja yang ingin mengambil dan menikmatinya.

“Piye to, orang kok geblek kayak begitu, daripada merawat tumbuhan yang tidak memberi hasil yang jelas. Berbuahpun tidak, memberi kembangpun tidak, mendingan kerja, menjahit, ato kerja yang lain yang menghasilkan uang. Lihat itu dirumahnya, Cuma daun-daun hijau, nambah rungkut dan medheni. Kita kalo lewat depan rumahnya malam-malam jadi merinding”.

Jangan mengucapkan sesuatu jika mendengar perkataan orang yang tidak tahu apa yang dia katakan, tersenyumlah, begitu Fatima mengajarkan pada anak-anaknya. Buat orang-orang tertentu menjahit lebih berarti daripada menanam pohon dan merawatnya. Setiap orang punya pendapat dan pandangan yang berbeda, tapi apa perlunya untuk Fatima, hirau terhadap mereka. Dia punya kehidupan yang diyakininya indah. Tidak ada orang lain yang memiliki hidup serupa dengan dia. Dia memang tidak pernah mencari pekerjaan, tetapi pekerjaanlah yang didatangkan padanya.

Pun sekarang ini, pada saat lebaran. Fatima tidak memegang uang sama sekali. Tidak ada simpanan makanan dirumah. Uang terakhir sudah dibelanjakan untuk hari kemarin. Honor pekerjaan dua bulan yang lalu masih dihutang, belum dibayarkan padanya. Untuk memintanyapun dia segan.Tadi anaknya yang terkecil umur 12 tahun berkata padanya,

“Bunda, kita makan apa hari ini? Kita tidak kemana-mana lebaran ini Bunda,” suara anaknya yang lirih, seperti kapak tajam yang memecah batu di dadanya. Anaknya mendekati Fatima, memegang tangan ibundanya lalu duduk disampingnya. Fatima menyadari sudah terlalu jauh mengajak anak-anaknya menjadi dewasa, dipaksa untuk memahami keadaan yang selayaknya tidak mereka alami. Fatima memeluk anaknya dan membisikkan sesuatu di telinganya.

“Kita akan makan sayang, bersabarlah.” “Hore! Kita makan! Bunda punya uang. Bunda punya uang!” wajah anaknya sumringah sambil melompat-lompat dan berteriak-teriak memberitahukan kedua kakaknya.
“Bunda punya uang. Kita akan makan! Kita akan makan!”

Bibir Fatima gemetar. Jari-jarinya semakin cepat bergerak. Pipinya basah. Dua tahun ini, Fatima belajar untuk menikmati segala hal sendirian. Pahit dan manisnya. Melibatkan orang lain dalam hidupnya, terlalu banyak membebani. Meskipun hanya berkunjung, dicurigai untuk meminjam uang. Jika datang ke rumah orang yang dulu sering datang ke rumahnya dikira menagih utang, lalu mereka memilih sembunyi dan tidak mau menerimanya.

Dan mengatakan sedang tidak ada di rumah. Tapi Fatima percaya, dia selalu memberi kebaikan bagi orang lain, bukankah kalau menanam kebaikan, akan diberi kebaikan. Maka dia tidak pernah lagi melibatkan orang lain dalam hidupnya. Dia hanya bersama anak-anaknya. Tidak pernah keluar mencari pekerjaan, dia menggantungkan semua kepada pemilik hidup dirinya dan anak-anaknya. Kalau dia lapar, dia meminta kepada Tuhan untuk memberinya pekerjaan.

Sekarangpun dia meminta kepada Tuhan untuk memberinya makan. Tidak sepeserpun Fatima memegang uang. Darimana dia mendapat uang? Sekarang sedang lebaran, Siapa yang mau memberi pekerjaan padanya, semuanya sibuk dengan pesta pora. Meminta kepada tetangga dan orang lain, tidak akan mau Fatima melakukannya. Gema takbir terdengar dari segala penjuru.

Anak-anaknyapun bersama-sama membaca takbir sambil berharap ibundanya segera membawakan mereka makanan. Tubuh Fatima menggigil. Tapi bibirnya terkatup rapat. Derai airmatanya tidak berhenti sejak anaknya kegirangan mendengarnya menjanjikan makanan. Dia membuka pintu dan berjalan ke pekarangan rumah. Meskipun malam, dia melangkah. Dalam diam. Dalam diam. Jari-jari tangannya tetap bergerak. Lalu dia menghentikan langkahnya karena melihat semburat cahaya dalam gelap.

Dengan wajah yang tidak berubah, tanpa terkejut, tanpa takut, Fatima berjalan mendekat, dia melihat cahaya yang bundar menggantung di dahan. Tangannya masih bergerak seakan menghitung nafas, seakan menghitung satu persatu deguban jantungnya. Tapi tangannya tidak gemetar. Dia hanya diam, terpaku. Tak terasa airmata jatuh di pipinya, dia memandang cahaya itu, tanpa berkedip, tapi airmatanya bagai embun menyentuh daun, menyentuh tanah, seperti hujan, dia mengigil. Bibirnya gemetar, dia mengulurkan kedua tangannya lalu meraih cahaya itu dengan cepat, lalu mendekapkannya di dada dan berbalik memasuki rumah. Dia membiarkan pintu rumahnya terbuka, duduk dan membuka tangannya. Dia tidak terkejut saat melihat buah delima yang berwarna merah sebesar kepalan memancarkan cahaya ditangannya, bibirnya masih gemetar dan dia berbisik perlahan. Dia mengucapkan sesuatu, begitu lirihnya sehingga anginpun tidak akan bisa menajamkan telinganya untuk mendengar kata-katanya. Airmatanya tumpah.

Dia menunduk, menimang-nimang delima, mendekapnya sambil berkata-kata. Seakan dia sedang berada di dunia yang berbeda. Tapi kemudian dia tersadarkan. dia mengusap kedua pipinya, tersenyum dan berdiri, lalu memanggil ketiga anak-anaknya.
“Akhirnya kita makan!” suara anaknya yang terkecil, terdengar girang. Mereka duduk mengelilingi Fatima.
“Kita makan Bunda?” tanya anaknya yang nomer dua.

“Iya. Kita makan sayang.” Fatima memecah delima dengan pisau dan membaginya menjadi empat. Semua anaknya diberinya satu-satu, lalu dia menyisakannya satu mungkin untuk dirinya sendiri. Anak-anaknya heran sambil melihat ibunya mereka bertanya.

“Ini apa bunda? Katanya kita makan? Bunda tidak punya uang? Kita tidak jadi makan?” Fatima memeluk ketiga anaknya, dia tidak bisa menahan lebih lama lagi curahan airmatanya. Lirih dia berucap.

“Sebentar lagi kita makan sayang, sekarang coba dirasakan buah delima ini, Bunda memetiknya di pekarangan rumah, warnanya merah sekali, pasti manis, cobalah diambil satu, ini dimakan?” Fatima mengambil butir-butir buah delima, menyuapi anak-anaknya.
“Caranya makan bagaimana Bunda?”
“Dikunyah saja, lalu ditelan.”
“Begini,” kata anaknya sambil mengunyah lalu menelannya.
“Iya..” jawab Fatima sambil tersenyum.
“Aku bisa, rasanya enak & manis.”

“Kalau delimanya habis kita makan ya Bunda,” Fatima mengangguk. Dia melihat anak-anaknya berebut makan delima dengan tersenyum, dia masih menyimpan sepotong delima untuk berjaga-jaga, jika anak-anaknya masih lapar dan memerlukannya. Tapi meskipun berjam-jam mereka makan delima, membuang pelapis buah, mengambilnya setiap butir dan mengunyah serta menelannya. Buah delima itu tidak pernah berkurang. bahkan warnanya semakin merah. Anak-anak Fatima tidak menyadari hal itu, mereka asyik bercerita tentang mimpi-mimpi mereka, bercanda satu dengan yang lain, sambil tangannya memegang buah delima, dan memakannya.

Fatima duduk diantara mereka. Apa yang terjadi saat itu, tidak bisa diungkapkannya. Dia hanya bersyukur, melipat lidahnya rapat, sambil berdendang, memanggil, dan menyebut nama Tuhan. Tak ada yang mengasihinya kecuali yang memilikinya. Dari yang tidak disangka, bukan dari orang-orang yang meminta shodaqoh dan zakat, bukan dari orang-orang yang pernah berhutang padanya, Allah memberi keberkahan dan menjamin kesejahteraannya malam ini, mencukupi kebutuhan dirinya dan anak-anaknya untuk makan, dengan satu saja buah delima, yang selama lima tahun pohonnya di halaman rumah belum pernah berbuah. Darimana datangnya, kecuali dari kasih dan sayang pemilik semesta. Maka masih perlukah Fatima percaya, bahwa benda dan harta adalah apa yang dicari dunia?

“Bunda aku kenyang sekali, jadi ngantuk, aku mau tidur Bunda dan delimanya disimpan ya, besok aku makan lagi.” Ketiga anaknya menitipkan buah delima bagian mereka masing-masing pada Fatima. Fatima menerimanya dengan tangan gemetar. Meskipun begitu dia tersenyum mengantar ketiga anaknya ke tempat tidur.

Suara takbir menggema. Fatima mengumpulkan potongan-potongan delima di tangannya, dia meletakkannya di meja. Lalu mengangkat kedua tanganya bertakbir. Kemudian bersujud hingga fajar.
Saat pagi pecah, delima semakin merah merekah.

* Jogja 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.