Langsung ke konten utama

Lari dari Blora, Berkenalan dengan Masyarakat Samin

Mila Novita
http://www.sinarharapan.co.id/

Keharmonisan kehidupan masyarakat Samin di Pati tiba-tiba terusik. Seorang peneliti dari LSM asing, Chintya (Annika Kuyper) dan seorang guru sekolah dasar dari kota, Ramadian (Iswar Kelana), dianggap penyebabnya. Mereka tidak mengacau, namun perubahan yang mereka bawa mengusik warga.

Ramadian ingin membuat anak-anak Samin berpendidikan, sementara Chintya ingin masyarakat Samin dikenal dunia. Namun, niat mereka itu dianggap merusak kebiasaan orang-orang Samin yang tidak mengenal sekolah. Bagi mereka, hidup harmonis, tanpa iri hati dan saling curiga sudah menjadi kunci kehidupan.

Di antara perjuangan Ramadian dan Chintya menembus ideologi mereka, ada kisah cinta segi tiga antara Ramadian, Chintya, dan Hasanah (Ardina Rasti). Hasanah bukan orang asing. Dia adalah anak Pak Camat (Nizar Zulmi) yang menjadi rekan mengajar Ramadian di sekolah dasar tersebut. Sama dengan Ramadian, ia juga ingin menyekolahkan anak-anak Samin. Namun, larangan Pak Lurah (Soultan Saladin) membuat Hasanah terpaksa membatalkan niatnya itu.

Jika Hasanah putus asa, tidak Ramadian. Jika bersekolah dilarang Pak Lurah, ia mengajak anak-anak Samin itu belajar di halaman rumahnya dengan fasilitas terbatas. Bukannya mendapat dukungan, lagi-lagi Ramadian dianggap pencari masalah.

Bukan hanya Ramadian yang dianggap duri di kampung itu. Dua pelarian dari penjara Blora, Bongkeng (Andreano Philip) dan Sudrun (Octav Kriwil), membuat desa orang-orang Samin itu dicap sebagai sarang teroris.

Ajaran Samin

Semua konflik itu hanya bisa diselesaikan oleh Si Mbah (WS Rendra), tokoh masyarakat Samin tempat semua orang mengadu. Dialah jembatan sang sutradara, Akhlis Suryapati, meng-ungkapkan ajaran-ajaran Samin.

Kebijakan-kebijakan Samin sudah terlihat ketika pertama kali tokoh Si Mbah muncul. Bersama dengan Ramadian, ia sedang menunggu kehadiran Chintya di rumahnya yang tanpa pintu itu sambil membakar jagung, yang menjadi makanan sehari-hari masyarakat Samin.

Ramadian yang kedinginan karena di luar turun hujan disertai angin bertanya kepada Si Mbah, “Mengapa tidak diberi pintu, Mbah?” Dengan santai sambil tersenyum, Si Mbah yang selalu mengenakan pakaian serbahitam dengan ikat kepala dari kain menjawab, “Kenapa harus diberi daun pintu kalau tidak akan ditutup?”

Masyarakat Samin sesungguhnya terbuka menerima kedatangan siapa pun, tanpa curiga, tanpa iri hati. Mereka tidak silau dengan kehadiran seorang bule yang mondar-mandir di kampung mereka. Bahkan, ketika dua penghuni penjara itu datang mencuri makanan di rumah Si Mbah, Si Mbah menerimanya dengan terbuka. “Kenapa harus dicuri kalau diminta saja diberi?” ujar Si Mbah kepada dua pencuri yang ketakutan itu.

Lain lagi ketika Ramadian menyinggung bencana tanah longsor yang menimpa desa mereka. Si Mbah hanya berkata, “Alam kan perlu keseimbangan, kalian saja yang menganggapnya bencana.”

Ajaran Samin yang tersebar di Blora, Bojonegoro, Pati, Rembang, Kudus, Madiun, Sragen, Grobogan, dan terbanyak di Tapelan ini disebarluaskan oleh Samin Surosentiko (1859—1914) yang menentang kapitalisme panjajah Eropa. Ketika itu, Belanda merampas tanah masyarakat untuk dijadikan hutan jati. Sacara gamblang Akhlis mengungkapkannya dalam film melalui tokoh Ramadian ketika mengajar anak-anak di sekolahnya.

Film pertama produksi Ibar Pictures ini merupakan pemenang Lomba Penulisan Naskah Skenario Film Cerita Program Film Kompetitif Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 2005. Gambaran kehidupan masyarakat Samin yang sarat budaya dikemas dalam film drama romantis-aksi. Film yang diputar serentak di Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi, Medan, Semarang, Surabaya, dan Makassar pada 28 Februari ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari film-film drama romatis kebanyakan, selain unsur budaya yang kental, juga pemandangan alam pedalaman Pati, Jawa Tengah, tempat film ini diproduksi.

“Saya berusaha, paling tidak meyakini, dengan pemandangan seeprti itu, karakter-karakter seperti itu, semoga penonton dapat penyegaran, bukan sekadar pelajaran,” kata Akhlis sebelum pemutaran film ini di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, Selasa (26/2).

Akhlis juga sedikit mengungkap gaya berpacaran remaja Samin melalui tokoh Heru (Fadli Fuad), yang sesungguhnya bukan orang Samin, yang berpacaran dengan Wati (Tina Astari). “Dikawini iya, dinikahi nanti dulu. Itulah enaknya pacaran sama gadis Samin,” katanya ketika seorang polisi desa bertanya. Orang Samin memang tidak mengenal menikah secara sipil karena belum percaya pada hukum negara, mereka hidup bersama dalam keharmonisan, seperti masayarakat Samin pada umumnya yang hidup harmonis tanpa hukum negara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.