Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

SASTRA DAN BUDAYA SASAK DIBELANTARA MODEREN

Janual Aidi*
http://sastra-indonesia.com/

“Manusia tidak dipahami melalui eksistensi fisik, secara substansial, melainkan melalui karya dan ciptaannya…” (Ernst Cassirer)

Satu kenyataan yang tidak dapat disangkal oleh siapapun juga bahwa sesungguhnya suku Sasak merupakan suku yang kaya akan sastra dan budaya. Sebut saja diantara karya-karya tulis pada zaman dahulu (naskah lama) seperti: Babad Selaparang, Babad Lombok, Babad Praya, Babad Praya (Mengawi), Babad Sakra, Babad Sari Manik, Jatiswara, Silsilah Batu Dendang, Nabi Haparas, Cilinaya, Cupak Gerantang, Doyan Neda, Pengganis, Kertanah, Dajjal dan Kotaragama. Ataupun yang dalam perkembangannya, naskah-naskah tersebut banyak diubah kedalam bentuk puisi yang selanjutnya ditembangkan. Tembang-tembang tersebut banyak dipergunakan untuk menulis sastra-sastra Sasak seperti Takepan Monyeh, Lontar Demung Sandubaya dan lainnya. Dan kurang lebih ada enam tembang yang biasa ditembangkan oleh suku Sasak pada masa dulu yaitu: tembang Maskumambang, …

Sajak-Sajak Imron Tohari

http://sastra-indonesia.com/
Cinta yang Api

mataku gendewa, saat panah melesat
ku jelau setanggi asmara di tungku matamu
di sana jiwa sepenuh khusuk menembang,cinta

o, apakah itu cinta?

“bila tanah itu kekasih
taburan melati adalah aku”

sesederhana itukah cinta?

saat cinta membawa sekeranjang anggur suka
janganlah engkau terlalu memujanya
— cinta itu api yang akan membakar jantungmu
saat ianya membutakan mata dan
menulikan pendengaran batin.

saat cinta menyulangmu dengan kedukaan
jangan lantas berprasangka itu akhir bahagia
—- cinta itu misteri, perlu ribuan mil baginya untuk
muncul kepermukaan dalam wujudnya yang putih.

jika pengetahuanmu tentang api ditentukan oleh kata-kata semata
coba matangkan dengan api!*)

tiada kepastian intuitif sampai engkau terbakar
jika kau hasratkan kepastian itu duduklah dalam api!*)

cinta itu hakikat
api!

1 Desember 2010, pukul 22 Wita

je·lau ark v, men·je·lau v menjenguk
se·tang·gi n kemenyan berbau wangi
ha·ki·kat n 1 intisari atau dasar: dia yg menanamkan — ajaran Islam di hati…

Puisi-Puisi Noval Jubbek

http://oase.kompas.com/
Perjalanan 1

Pada siang yang tergesa
waktu lamat menyajikan bimbang
nyala mata hari kian nyalang
menjilati pori pagi tadi, meliurkan cerita
menghisap habis pasrah

adakah andil Tuhan?
menciptakan detak retak pada reranting
mengisyaratkan kaki menjauhi jejaknya
semakin ingkar saja pada janji yang jelas tersaji rapi

kenapa tak beratkan saja langkah pagi
atas segala serapah lutut hariku
semakin menyobek celana perjalanan
semakin saja menyuntikkan gerak sigap, hati gagap

pantaskah kepantasan terberiMu ampun

malang.2009



Perjalanan 2

kupilih bangku kosong pada sudut sunyi
agar gelisah yang kuperam, menetas segera
jelmaan tujuh peri bersayap putih
memangkas tuntas helaian rerambut serahkah
lulus di catatan lega, katanya

beri tanda tangan!
setidaknya untuk peraman ini saja
telunjukMu menetak takdir

malang.2009



Perjalanan 3

Gerimis memerciki setiap jejak
seolah merestui tapak abu-abu,
yang mengaroma mistis

sejauh aku pandang
menghampar itu gamang
makin nyalang

lelaki yang tak putus cerita, pasrah
mengais …

Nurel Javissyarqi: Waktu di Sayap Malaikat

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Seperti jiwa manusia aku tak terikat
Pada lambang-lambang bilangan-
Aku tak terikat pada masa dan keluasan
Pada pergantian dan tahun kabisat
–Muhammad Iqbal, Nyanyian Waktu

Pada suatu hari seorang Pendeta Agung singgah di sebuah majelis pumpun sambil mengajukan teka-teki kepada hadirin: “Apakah di antara yang ada di dunia ini yang paling panjang namun sekaligus juga paling pendek, paling cepat namun paling lambat, paling terbagi-bagi tapi paling luas, paling disepelekan tapi paling disesalkan. Tanpa hal tersebut, tak satu pun bisa dilakukan. Dia melahap segala sesuatu yang kecil, tapi mengabadikan yang besar”.

Hadirin tampak berpikir untuk menemukan jawaban. Lalu seorang berdiri, dan dengan amat meyakinkan ia menjawab: Kekayaan. Si pendeta menggelengkan kepala. Lalu seorang lagi mengacungkan telunjuk sambil menyebut cahaya. Seorang lagi menjawab kabut. Ada juga yang menyebut asa. Tapi semua jawaban itu salah. Yang betul adalah jawaban Zadig: Waktu.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com