Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Imron Tohari

http://sastra-indonesia.com/
Cinta yang Api

mataku gendewa, saat panah melesat
ku jelau setanggi asmara di tungku matamu
di sana jiwa sepenuh khusuk menembang,cinta

o, apakah itu cinta?

“bila tanah itu kekasih
taburan melati adalah aku”

sesederhana itukah cinta?

saat cinta membawa sekeranjang anggur suka
janganlah engkau terlalu memujanya
— cinta itu api yang akan membakar jantungmu
saat ianya membutakan mata dan
menulikan pendengaran batin.

saat cinta menyulangmu dengan kedukaan
jangan lantas berprasangka itu akhir bahagia
—- cinta itu misteri, perlu ribuan mil baginya untuk
muncul kepermukaan dalam wujudnya yang putih.

jika pengetahuanmu tentang api ditentukan oleh kata-kata semata
coba matangkan dengan api!*)

tiada kepastian intuitif sampai engkau terbakar
jika kau hasratkan kepastian itu duduklah dalam api!*)

cinta itu hakikat
api!

1 Desember 2010, pukul 22 Wita

je·lau ark v, men·je·lau v menjenguk
se·tang·gi n kemenyan berbau wangi
ha·ki·kat n 1 intisari atau dasar: dia yg menanamkan — ajaran Islam di hatiku; 2 kenyataan yg sebenarnya (sesungguhnya)
in·tu·i·tif a bersifat (secara) intuisi, berdasar bisikan (gerak) hati

*) petikan sajak “Tradisi dan Intuisi”, Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanya bentrok di kerajaan maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan. Dari sana Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan ahli matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan. (biografi Rummi, dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).



Rasa yang Menggemuruh Menggeletar

Pada hati pernah kuberjanji tidak akan meninggalkanmu pergi, untuk itu
sebagian jiwaku masih terpasung;tertinggal dalam cerita yang mengikat jiwajiwa
menyatu dengan segala air mata mengalir ; melaju, lalu rinai seperti tangisan langit
menyentuh benih-benih tanah berharap kembali merekah.

Kini kala aku tak lagi memelukmu, ijinkan jiwamu kuajak membenam —
direlungrelung hati, saat telingatelinga jiwa saling merunduk mendengar
degupdegup lembut didetakkan air mata doa selayaknya embun bermanja di lembar daun,atau
bahkan seperti angin yang memberi pertanda nelayan berlayar hingga pada saat bibirbibir retak
saling melumat, akan kukata : Bukan pada embun yang bermanja di selembar daun, bukan pula pada
angin yang memberi pertanda nelayan, tapi
larung pedihmu di aluralur sungai keluasan hati, sebelum kau tasbihkan “luka” bagian dari permainan rasa.

Bila belum cukup, kemari, dengarkan desir hangat darah yang berjalan beriring mengairi ladangladang jiwa.

“Tidakkah kau rasa,
air mata berserak,
berharap menyatu”

(lifespirit 2009)



Ada Bulan Jatuh Di Telaga
:Ilsa Yulia

Malam, saat kau terjaga
Jangan biarkan kelam membayang
Membelenggu rasa menghujat sayang
Patah harapan dalam gamang

Duhai yang dirundung nestapa

Saat kekasih dunia merejam asa
pergilah ke kedaikedai nur cahaya
Ramai pecinta menenggak anggur asmara
Menghibur segala hilang gulana

Duhai wahai kekasih jiwa
Tidakkah kau ingat kupu buluh perindu
Menebar kasih di tamantaman cinta

Hingga angin bersiur,pun
cahaya bulan jatuh di telaga

18 Nov 2010



Hening Jiwa yang Sesah

kita masih kekasih

beribu kali itu Kalimat kau cumburayukan dari mulut mungilmu
sedang matamu api
:membakar lalu
atas nama cinta
kau biarkan panasnya membinasakan Tuhan

kita masih kekasih, katamu untuk kesekian kali

tapi tidakkah kau lihat, di langkan penuh luka
cawancawan pecinta berserak,retak

o, sebegitu syahdu;sebegitu hening
perasaan ini tak terhingga
dalam jeda antara
masih bisa kudengar suaraangin merambat
turun dari langkan rumah jiwa

kaukah itu yang menyeru

: amar makruf nahi mungkar

28.12.08/2.7.09

lang•kan n serambi atas tempat meninjau; anjung peranginan; balkon
se·sah v, ber·se·sah v saling pukul: – bertinju, berkelahi dng hebat pukul-memukul dan tinju-meninju



Saat Cinta Mencari Tempat Untuk Cinta

di lautan asmara
seluruh hasrat berpeluk
semakin erat
saat Bahrulhayat menuang manis anggur
cawan berlapis emas itu rahim istri yang
tercium segala kegembiraan, lalu
beranak pinak, menari-nari pada bahtera
kehidupan.

o, dalam baitbait cinta
bola mata yang mencari asi itu kejora
sekilau mestika.menjadikan perpisahan ketakutan abadi

cinta,o,cinta
bila harus kureguk bahagia
biar tereguk sebatas dahagaku sahaja
tapi jikalau bola mata indah itu penjara asmaraku
padaMU

Tunjukkan Mihrab atas ketidakkekalan ini.

27 November 2010

• Mihrab : ruang kecil yang menjorok ke luar dari dinding mesjid (langgar) yang mengarah ke Kabah, tempat imam memimpin sembahyang.
• Bahrulhayat : laut kehidupan



Kau Serupa Abjad yang Hilang

saat senja mengetuk pintu
malam
simfoni dedaun mengusik rindu, lalu
hanyut berlayar di relungrelung hati

diperasaan yang entah
adakah suara lamatlamat membisik
merangkaikan abjadabjad sebuah nama
hingga resah gelisah berjalan ke pukul lima

dalam kerinduan dan cinta
sungguh
kau abjad dalam simfoni yang hilang
: kucari

20 Nov 2010
sim·fo·ni n musik yg ditulis untuk orkes lengkap

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com