Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Noval Jubbek

http://oase.kompas.com/
Perjalanan 1

Pada siang yang tergesa
waktu lamat menyajikan bimbang
nyala mata hari kian nyalang
menjilati pori pagi tadi, meliurkan cerita
menghisap habis pasrah

adakah andil Tuhan?
menciptakan detak retak pada reranting
mengisyaratkan kaki menjauhi jejaknya
semakin ingkar saja pada janji yang jelas tersaji rapi

kenapa tak beratkan saja langkah pagi
atas segala serapah lutut hariku
semakin menyobek celana perjalanan
semakin saja menyuntikkan gerak sigap, hati gagap

pantaskah kepantasan terberiMu ampun

malang.2009



Perjalanan 2

kupilih bangku kosong pada sudut sunyi
agar gelisah yang kuperam, menetas segera
jelmaan tujuh peri bersayap putih
memangkas tuntas helaian rerambut serahkah
lulus di catatan lega, katanya

beri tanda tangan!
setidaknya untuk peraman ini saja
telunjukMu menetak takdir

malang.2009



Perjalanan 3

Gerimis memerciki setiap jejak
seolah merestui tapak abu-abu,
yang mengaroma mistis

sejauh aku pandang
menghampar itu gamang
makin nyalang

lelaki yang tak putus cerita, pasrah
mengais hidup seramah remah suaranya

dalam keterbisuan melukislah tanya

lalu aku lelaki apa?

malang.2009



perjalanan 4

"kau dimana?"

segaris kalimat yang berputar diatas kepalamu
jelas aku baca meski tersekat lagu hujan

"aku dibelakangmu!"

dibalik layar hitam yang berselaput tipis
sembari merobek lamun ragu
aku,
menjelma bayangmu

malang.2009



perjalanan 5

kita akan berpisah, sayang
sekecup cerita semalam telah aku simpan dalam rapi
terkunci dengan gembok yang tak luntur ditaring jaman

mari kita gali lubang dibalik akar beringin tua itu
simpan kunci ini untuk kita cari kelak
sebagai harta yang bukan karun
tapi harta untuk melamun

kita harus berpisah,sayang
telah ada sedih yang direncanakan,
dalam cerita aku dan kamu
seperti awan yang sulit kita gapai kapasnya
bahkan jejak yang tak menyapa meski diminta

sayang
sampaikan maafku pada air matamu
setidaknya kita berpisah di simpang pasrah.

malang.2009

Noval Jubbek lahir: Bondowoso 1983, saat ini tinggal di Arjosari malang. mulai menulis sejak SMA namun tidak terlalu serius. sejak mengenal para sastrawan (meski dari dunia maya) seperti Hudah Hidayat, Hasan Aspahani, Yayan R T dll, sejak saat itu mulai serius dalam menulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.