Langsung ke konten utama

CAKRAWALA TERTUTUP ASAP HITAM (I)

(sekilas ingatan pada kebakaran kapal Mustika Kencana 2)
Muhammad Zuriat Fadil
http://sastra-indonesia.com/

hasbunallah wa nikmal wakiil,,,,, ni’mal mwla wa ni’ma natsir

Maha Suci Allah pemilik segala nama, penguasa alam semesta. Maha Kuasa Dia yang dengan kasihNya mengutus para jiwa suci ke dunia, mengutus Rasulullah Muhammad Sholllallahu alaihi wa sallam dengan yang akhlak mulia lagi terpuji menjadi penebar syafaat bagi seluruh makhluk.

Ini catatan saya tulis sebagai ujud syukur saya atas sebuah pengalaman yang baru saja saya alami, ini cuma pengalaman pribadi saya saja. Semoga pembaca yang budiman bisa mengambil pelajaran darinya, jikapun tidak ada kemanfaatan apa-apa ya anggap saja saya sedang melega-legakan diri karena telah lolos dari sebuah kejadian yang tak disangka-sangka kedatangannya.

Kisah ini baiknyalah saya mulai pada hari Ahad tertanggal 3 Juli 2011.

Saya sedang berada pada sebuah kapal yang akan membawa saya dan ayah saya menuju ke kampung halaman kami; Makassar. Hari itu, tidak berapa lama selepas sholat maghrib, kapal bertolak dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Cuaca sangat baik untuk pelayaran, penumpang kapal ferry ‘Mustika Kencana 2′ cukup lengang. Tempat mobil hanya penuh di lantai paling bawah, sedangkan lantai kedua penyimpanan mobil hanya berisi dua atau tiga mobil sejauh pengamatan saya. Ini berarti, kami tidak akan terlalu berebutan makanan atau air tawar untuk minum dalam kapal.

Hari Senin tanggal 4 Juli, subuh.

saya dibangunkan oleh ayah saya untuk segra melaksanakan sholat subuh di musholla. Saya liat jam di hape, masih sekitar pukul 04.15. ah, bagus juga saya memang berencana untuk keluar sebentar ke dek sebelum fajar karena ingin memotret sunrise yang selalu indah apalagi bila dipandang dari lautan. Setelah saya sholat subuh, saya beranjak segra naik ke dek kapal, tapi ada suasana yang agak rusuh, saya liat para awak kapal berlarian ke bawah dan membangunkan teman-temannya. Karena penasaran saya ikut ke bawah, ruangan sedikit dipenuhi asap.

Saya mulai berpikir kemungkinan adanya kebakaran kecil. di negri yang kapal-kapalnya kebanyakan berasal dari bekas pakai negara lain (yang sebenarnya aneh juga, karena ini kan negara kepulauan dan dipersatukan oleh lautan) kasus semacam ini bukan hal yang mengejutkan amat jadi saya pun kembali menuju ke dek di atas. Saya mulai mempersiapkan kamera hape, semburat jingga di seblah timur mulai nampak, namun ternyata masih tertutup oleh sedikit awan mendung, pertanda badai akan datang? entahlah.

Namun perhatian saya teralihkan pada asap hitam yang keluar dari jendela di bawah, berarti kebakaran belum dapat diatasi. Sementara itu, naluri perut saya yang mulai keroncongan membimbing langkah kaki menuju dapur. Saya liat para koki masih memasak, sayapun kembali tenang (karena jam makan sudah akan tiba mungkin)

Tapi tiba-tiba seorang awak kapal berlari menuju dapur, memberitahukan sesuatu yang membuat aktivitas memasak para koki (dan perut saya pun kecewa berat!) saat awak kapal itu melihat saya dia bilang “pak, maaf ini di bawah ada kebakaran tolong siap-siap ya” saya pun segra menuju ke ruang kelas ekonomi tempat ayah saya masih tertidur, saat saya melalui tangga asap sudah mulai memenuhi ruangan dan lorong-lorong. Tepat ketika saya baru saja membangunkan ayah saya, tiba-tiba ada pengumuman agar semua penumpang berkumpul di dek. Baju pelampung dibagikan. Penumpang panik. Keadaan kacau. Ayah saya : “Aqua yang kemarin dibeli mana?” Lalu kami semua berlari ke atas. Di dek, saya masih sempat melihat sunrise yang saya nanti-nantikan itu, indah sekali. Tapi kali ini, dia berselimutkan asap hitam!

Asap semakin pekat, kami diinstruksikan untuk segra menaiki sekoci agar sekoci bisa segra diturunkan, iya kapal sekoci hanya diturunkan pabila ada sekitar lima orang di atasnya karena bila kurang dia akan terbalik di laut. Kami pun berebut naik ke sekoci, saya dan ayah saya segra berlari menuju sekoci yang masih agak sepi isinya. Masih banyak sekoci berjejer sebenarnya, namun sisi itu sudah tertutup asap, akhirnya semua penumpang yang tersisa berebut naik ke sekoci kami. Makin lama-makin berat, makin penuh, gaduh dan tambah sesak, sekoci malah jadi seperti ayunan besar berayun-ayun tidak karuan. Sekoci yang diseblah kami mulai diturunkan, suaranya makin membuat suasana makin panik “rrrrr……zzzrrrrtttttt…..” ditambah suara teriakan, jeritan ibu-ibu yang mencari anaknya dan para sopir yang sepertinya belum sepenuhnya sadar dari mabuknya sejak dangdutan semalam. Sekoci itu berhasil turun ke laut, lalu kami menunggu giliran kami. Semua terdiam, menunggu.

Beberapa saat kami menunggu, namun sekoci tidak beranjak diturunkan tiba-tiba ada yang berteriak dari bawah

“Woooiii…!!! sekoci yang ini ndak bisa diturunkaaaaaan” —-WHAT?????!!!!!

Sementara skoci yang satu lagi mulai diturunkan ternyata sekoci kami tidak jadi diturunkan, kamipun berhamburan keluar dari sekoci. Tas laptop dan tas baju saya lempar keluar dari sekoci untuk kemudian saya pun melompat keluar. Saya masih menggandeng dua tas, ayah saya menggandeng ransel besarnya, kami berlari melewati sekoci yang segra akan diturunkan itu, ternyata…. hanya satu tali yang bisa diturunkan sedangkan tali satunya macet. Posisi sekoci menjadi miring, moncongnya mengarah ke atas, saya tidak sempat sempat melihat kejadian selanjutnya hanya belakangan saya dengar kebanyakan penumpang sekoci tersebut langsung terjun bebas ke laut.

Saya dan ayah saya berlari ke dek bawah lagi, asap semakin tebal dengan bau gak karuan. Nafas sesak, mata berair, kepala terasa berat. Saya lihat ke bawah, orang-orang sudah pada terjun ke laut, laki-laki, perempuan, tua muda bahkan anak kecil. lifecraft mulai dilempar ke laut, ini adalah alternatif setelah sekoci, lifecraft adalah sejenis perahu karet yang bila dilemparkan ke laut akan mengembang dengan sendirinya. Entah berapa lifecraft di lempar, namun beberapa langsung hanyut menjauh tanpa sempat ada yang menaiki. Kami akan menju ke dek depan yang ada tangga monyet (tangga darurat dari tali) tapi asap yang keluar dari ruang komando kapal menghalangi, sementara besi-besi di kapal mulai menghangat, ini pertanda tidak baik, sebab pabila besi-besi di kapal sudah memanas apalgi berpijar, tak usah menunggu api datangpun itu sudah cukup untuk memanggang kami hidup-hidup. pilihannya adalah SEGRA TINGGALKAN KAPAL!

Saya lihat ada awak kapal yang masih mengusahakan untuk melepas baut yang mengaitkan tali sekoci, besi itu sudah karatan sehingga tak bisa dilepas. Saya tanya “Pak! ini sekocinya bakal bisa diturunin gak?!!!” awak kapal itu bilang “Bisa Mas, asal ini udah lepas” lalu ada orang yang bertanya “koq pake tangan kosong, getok aja pak pake kapak!” awak kapal itu dengan masih bermimik tegang menjawab “ITU DIA PAK! TERNYATA SEMUA KAPAK DI KAPAL INI UDAH PADA ILANG” bagus, baru kali ini saya menyadari perbuatan kita yang biasa menjarahi barang-barang emergency itu benar-benar terkutuk. Awak kapal yang masih mengusahakan turunnya sekoci itu bilang “bapak nak aja ke sekoci, ini sambil saya kerjakan kalo udah bisa langsung diturunin” begitu mendengar ini saya langsung ajak ayah saya ke atas lagi untuk naik ke sekoci, bersama kami -entah sejak kapan- seorang pria bersama anak dan istrinya ikut menaiki sekoci. Pria ini berusaha menenangkan anak dan istrinya, ditengah asap hitam, deru mesin yang suaranya makin kacau dan… suara kobaran api usaha menenangkan anak istri seperti itu tentu saja percuma.

Asap membuat kami terbatuk, dan hampir tak bisa melihat apa-apa dalam jarak 2-3 meter di depan mata. GELAP.

Kami naik ke sekoci (lagi) samar mulai terdengar ada suara logam digetok, ah berarti awak kapal tadi sudah mendapatkan sesuatu untuk melepaskan besi yang mengaitkan tali sekoci. Tapi tidak berapa lama kemudian, suara getokan tersebut berhenti, saya melongok ke bawah dan…. AWAK KAPAL IU SUDAH GAK ADA! Sekoci kami sudah tidak diusahakan untuk turun lagi! panik, kami pun melompat keluar sekoci, turun lagi ke dek ternyata asap sudah semakin pekat. Sudah tak mungkin bernafas, melihat pun hanya samar, seorang perwira kapal melihat kami “Mas, LOMPAT!!!!” lalu dia pun terjun duluan. SIAL! kapal semakin sepi. Saya mulai ke pinggiran kapal, mengambil ancang-ancang untuk terjun. Tapi sebelum saya sempat lompat, saya lihat disitu ada tanga monyet, menempel di dinding kapal dan di bawah… ah ya, itu sebuah lifecraft penuh berisi orang-orang, sepertinya menunggu kami. Lalu saya mulai meraba menuju tangga monyet, turun secepat yang saya bisa menuju lifecraft. Bruk! saya hempaskan badan di lifecraft sebelum benar-benar sampai di tangga paling bawah.

Baru saya sadari, bila tadi saya jadi melompat ke laut, maka tak ada harapan saya bisa kembali naik ke permukaan, sebab walaupun bisa berenang dan mengenakan rompi pelampung, tapi saya mengenakan jaket kulit yang sangat berat dan di bahu kiri-kanan saya melilit ransel-ransel yang berisi laptop, buku-buku dan pakaian. Bila tadi saya sempat melompat….. ah entahlah.

Lifecraft sudah penuh, tapi belum juga menjauh dari kapal, posisi kami masih sangat mepet dengan tubuh kapal. Saya teriak ke seorang pria “Mas! kenapa belum jalan?” Pria itu bilang “sebentar Pak, nunggu yang itu” dia menunjuk ke atas dan dua sosok tubuh sedang terjun langsung menuju lifecraft kami, mereka sempat menimpa saya, untuk tak ada yang kenapa-napa.Sesaat saya mulai tenang, setidaknya terhindar dari asap hitam menyesakkan di kapal. Tapi lifecraft kami tidak juga menjauh dari kapal, masalahnya ternyata lifecraft kami diikat pada pagar kapal!

Saya dan seorang pria berusaha memutuskan tali pengikat, tapi talinya kokoh sekali. Panik semakin menjadi-jadi, sebab semua orang di lifecraft ini tahu bahwa bila lifecraft tidak segra menjauh dari kapal, itu berarti BUNUH DIRI!

Lalu kami mulai berfikir menggunakan korek api gas untuk memutuskan tali tersebut, saya berusaha menyalakan korek saya namun gagal karena tadi sudah terndam saat masuk ke lifecraft. Namun ada yang berhasil menyalakan koreknya, saya gabungkan dengan gas dari korek saya akhirnya korek api saya berhasil menyala. Berdua kami coba membakar tali itu, namun tali itu seperti tak terpengaruh apa-apa. Panik lagi, bahkan mas yang tadi mulai memukul-mukul tali itu, menggigitnya, menarik dan segala macam lagi dia lakukan namun tali itu tak kunjung putus.

Sementara itu, seorang ibu menangis, putrinya diseblahnya juga menangis, ternyata anak bungsunya masih di kapal. Ibu ini menangis sambil memluk suaminya, erat… seerat tali yang mengikat lifecraft kami dengan kapal yang semakin terbakar. Putus asa, tiba-tiba ibu itu mellihat ke atas dan…. “Pak, itu anak kita pak!” (kalimat ini jelas bukan untuk saya) sontak kami melihat ke atas, seorang anak berdiri di pinggiran kapal, sendirian, menangis.”Pak…. anak kita pak….. anak kita huhuhuhuuuuu” ibu itu dan putrinya menangis, suaminya lalu mengambil tangga monyet, dia akan segra naik ke kapal yang sudah tertutup asap ketika istrinya bilang lagi

“jangan naik pak.. jangan naik…. di sini aja Pak… tapi itu anak kita pak”

yeah, seorang pria tak kan pernah berhasil memahami keinginan wanita bukan?

Si suami melihat ke atas, lalu sepertinya dia melihat sesorang yang dia kenal, dia berteriak-teriak memanggil kawannya itu, untunglah yang dipanggil mendengar. Si suami itu lalu meminta kawannya untuk menyelamatkan anaknya, kawannya yang masih di atas kapal lalu berlari ke arah si anak, digendong dan entah setelah itu dibawa kemana. Masalah tentang anak tersebut selesai, namun lifecraft kami belum menemukan penyelesaiannya. Kami sudah tak menemukan harapan ketika tiba-tiba ada yang menyodorkan sebuah silet kecil, silet diambil, disabetkan ke tali dan sekali lagi, sekali lagi sekali lagi…. dan talipun putus seiring Mas itu ngomong “ancuk! ngopo gak ket mau”

lifecraft langsung meluncur menjauhi kapal.

Masalah selesai, sekarang tinggal harapan. Kami entah berapa orang berada dalam lifecraft yang sempit, bertumpuk-tumpuk. Sejenak saya menenangkan diri, lalu saya melihat ke atas. Langit sudah terang, ternyata kami sudah begitu jauh dari kapal sehingga bisa bernafas tanpa terganggu asap hitam lagi. Lalu kami bergotong royong mengeluarkan air dari lifecraft, dengan sepatu, dengan kantong plastik, dengan tangan dengan apa saja yang kami bisa. Kami baru sadar bahwa ternyata lifecraft yang kami tumpangi ini posisinya terbalik, dan lifecraft kami meluncur terus menjauh semakin menjauh sehingga bahkan terpisah dari rombongan lifecraft dan sekoci lain.

Dan hanya hamparan laut yang seolah tanpa batas. Tak ada manusia yang terlihat, tak ada kapal, hanya laut sepanjang mata memandang disitulah terasa betapa kecilnya kita ini, dibandingkan luas lautan itu bahkan sepertinya kami hanya titik yang tidak berarti, apalagi didepan Pemiliknya. Langit dan laut hanya itu yang bisa kami lihat. Tugas kami sekarang hanya menjaga agar lifecraft ini bisa bertahan sampai bantuan datang entah dari mana dan entah kapan. Pada saat-saat seperti inilah, hanya Tuhan yang bisa kami andalkan. Semua orang berdoa dengan caranya masing-masing, berdzikir dan segala macam bacaan dibaca. Semua berdoa pada Tuhan yang sama, Yang memiliki lautan Maha Luas itu, yang menciptakan langit tanpa batas itu. Semua berdoa, walau mungkin menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda-beda.

Pada keadaan seperti ini, tak ada yang bisa diandalkan selain berpasrah pada Nya, Bersandar pada Nya dan mencari ketenangan dalam sejuk nama Nya.

Dan tiba-tiba……blusssssshhhhhh……. LIFE CRAFT KAMI BOCOR!

bersambung partII: URIP MUNG MAMPIR UDUTAN
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150239051732393

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com