Langsung ke konten utama

CAKRAWALA TERTUTUP ASAP HITAM (II)

(sekilas ingatan pada kebakaran kapal Mustika Kencana 2)
Muhammad Zuriat Fadil
http://sastra-indonesia.com/

Dan ya! Ini adalah hal yang paling tidak diinginkan ditengah lautan. Berada dalam lifecraft yang tergenang air laut saja cukup membuat kami sulit bertahan, apalagi lifecraftnya tenggelam, itu berarti kami harus bertahan dengan tenaga sendiri selama rentang waktu yang tidak menentu. Tanpa perlu menunggu lama, lifecraft kami sudah menjadi setumpukan karet yang berat dan mulai masuk kelelep ke dalam air. Pria yang bersama istri dan anaknya tadi lantas bilang “Semuanya jangan mencar! Pegangan tangan!!!” kami pun saling berangkulan, posisi kami sudah mengapung dilaut. Saya mendongak ke atas, matahari bersinar, hal ini membuat saya agak heran juga karena waktu di kapal tadi saya perkirakan awan hitam akan datang membawa hujan dan bahkan mungkin… badai!

Tak lama kemudian sesuatu muncul dari laut, tepat dibawah saya dengan bunyi “”bloopppp…” ternyata lifecraft itu masih bias mengembang lagi asal kena sinar matahari, perlahan lifecraft mulai mengembang dan muncul sedikit demi sedikit di permukaaan. Spontan kami mendongak ke atas, sepertinya tidak pernah kami benar-benar merindukan sinar matahari seperti hari itu. Sinar matahari tiba-tiba menjadi barang mewah yang akan kami bayar berapapun yang kami bisa asal dia mau bersinar terus. Posisi saya tepat berada di tengah lifecraft yang sedang mengembang, awalnya lifecraft menggelembung dengan sangat cepat namun ketika lifecraft itu sudah mengembang sebesar sekitar empat biji bantal guling, lifecraft berhenti mengembang dan memompa dirinya. Saya tengok kembali ke langit, ternyata matahari tertutup oleh segumpal awan hitam, kecil awan hitam itu tapi posisinya tepat menutupi sinar matahari. Kami, para lelaki yang tadi sempat berada di atas lifecraft langsung turun dan menaikkan seorang anak kecil (saya juga bingung, sejak kapan anak itu ikut kami) serta ibu yang tadi kehilangan anaknya dan putrinya yang seperkiraan saya mungkin masih sekitar kelas5-6 SD.

Selain mereka, seingat saya dalam lifecraft yang tinggal seperempat saja itu, ada juga sepasang pria dan wanita yang menurut hemat saya sepertinya pengantin baru atau bahkan mungkin hanya pasangan pacaran –sebab usia pasangan ini sepertinya masih sangat muda – lalu ada sekitar lima orang pria dan saya serta ayah saya. Berarti dalam lifecraft yang sekarang tinggal menjadi pelampung bersama ini, ada lebih dari sepuluh orang. Sementara lifecraft entah kenapa tidak mengembang lagi. Kondisi kami saat itu mengelilingi lifecraft, berpegangan sambil setengah berenang. Si ibu, anaknya dan anak kecil yang di atas lifecraft tetap terendam sampai batas dada. Anak kecil masih sambil digendong oleh seorang pria, saya tidak tahu apakah dia ayahnya atau bukan, namun herannya anak kecil ini, yang mungkin berusia sekitar3-4 tahun, tidak menangis! dia hanya diam saja sehingga tidak ada yang terepotkan kecuali ya, Pria yang menggendongnya sambil berenang itu.

Entah berapa lama, kami mengambang seperti itu. Maka disebut-sebutlah kembali nama-nama Tuhan Yang Maha Kuasa, disebut dengan beragam cara sesuai yang diketahui masing-masing dari kami. Ayah saya mendekat pada saya lalu bilang “dzikir, terus berdzikir” Lalu saya ingat di dalam tas laptop saya ada tasbih. Saya ambil dan saya kembali berdzikir sambil membulirkan biji-biji tasbih. Sebenarnya tak perlu juga saya pakai tasbih, dalam keadaan seperti itu tak ada niatan juga mau menghitung berapa kali dzikir yang terucap oleh mulut namun karena tasbih itu biasanya menemani saya sebelum tidur, entah kenapa saya merasa agak tenang bila menggenggamnya.

Masih tak tau juga, berapa lama kami dilautan lepas itu. Sementara matahari semakin terik (dan sayangnya tidak lagi berefek apa-apa pada lifecraft, air laut malah makin terasa dingin di tubuh. Kulit mulai mengkerut, bibir bergetar, lemas dan sudah tak jelas kalimat apa yang keluar dari mulut. Dalam pikir, saya ingin mengucapkan “hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal mawla wa ni’man natsir” tapi yang terdengar dari bibir yang gemetaran ini cuma “awoohh…. awooohh” sempat seseorang bilang “ADA KAPAL!!!” tubuh saya yang lemas langsung bersemangat, mencoba meninggikan kepala dan melihat ke sekeliling namun selain asap dari kejauhan, tak ada apa-apa. Salah lihat ternyata dia, sial!

Lalu seorang pria berseru kembali tak lama kemudian “itu ada kapal!!!” kami mencari-cari namun tak ada “Mana???” pria itu menjawab “itu lho, kapal kita yang tadi kebakar” lalu dari ucapan dzikir, semuanya beralih mengumpat-ngumpat orang itu. Tapi sebenarnya informasi dari Mas ini berguna juga, karena memang tiba-tiba kapal Mustika Kencana 2 yang sedang terbakar itu kelihatan jelas dari tempat kami mengapung, itu bisa dikarenakan kapal yang masih jalan atau karena kami mengambang justru mengarah ke kapal kagi.

Masih menunggu, masih menunggu di lautan luas, kondisi tubuh kami semakin lemas. Lemas, tubuh bergetar hebat, berbicara pun semakin susah bahkan beberapa orang sudah mulai muntah-muntah. Namun ayah saya sempat mengeluarkan bungkusan apel dari tas ranselnya, apel itupun mengapung. Kami bagi satu-satu, sementara apel lain terlepas ikatannya dan mengapung disekeliling kami. Namun saya tidak begitu berselera, eh Mas yang diseblah saya dengan wajah lugunya mengambil apel yang mengapung dan mengantongi beberapa. Ketika saya menoleh padanya dia malah memasang tampang malu-malu. Aduh duhh…. Kita ini memang bangsa yang benar-benar pemalu, ingin saya katakana pada Mas itu “sudahlah Mas, ambil aja, ndak apa-apa koq ” tapi mulut saya sudah ndak bisa bicara lagi.

Sementara itu, kaki saya sudah keram. Sudah tidak bias digerakkan lagi, sandal saya ternyata lepas dan mengapung-ngapung.

Ayah saya mengambil sandal saya yang tinggal seblah dan ngomong

“ini, pake sendalnya”

APA-APAAN???!!!!!

Ayah saya memang terkenal sangat disiplin soal waktu dan kerapihan, tapi ya ampun di tengah laut gini masih sempat merhatiin sendal? Plis deh Pak…..

Tapi sebenarnya saran untuk tetap mengenakan sandal itu saya fahami sebagai usaha untuk mengantisipasi bila ada hiu. Hiu akan langsung mengincar kaki manusia yang berada di laut, karena kulit manusia terlihat cerah di dalam air. Bila mengenakan sepatu, itu akan meminimalisir risiko diserang oleh hiu. Namun entah musti bersyukur atau gimana, memang kami tidak sempat diserang hiu tapi tiba-tiba beberapa orang menjerit kesakitan, satu-satu bergantian mereka menjerit-jerit.

Ternyata disekeliling kami terdapat banyak ubur-ubur yang menyengat itu. Kamippun kembali panik, tapi terus saja ada yang terkena sengatannya. Ubur-ubur….. saya lalu teringat Spongebob (serius ini, sumpah!), hmmmm… bagaimana Spongebob bisa bersahabat dengan ubur-ubur dan tidak pernah disengat sementara Squitworth selalu disengat? Lama saya berpikir lalu saya ingat…. SPONGE BOB KAN SPONS BUSA!!! Mana bisa dia disengat listrik???!!!!

Akh! Fuck Sponge Bob!

Selintas saya teringat ucapan kiai saya, dulu beliau pernah berkata“Hewan itu ummatnya Nabi Sulaiman, kirim fatihah ke Nabi Sulaeman” Maka sayapun membaca alfatihah yang diniatkan untuk Kanjeng Nabi Sulaeman. Entah karena alhatihah nya atau mungkin ubur-uburnya juga udah bosan menyengat kami yang rasanya ndak gitu enak-enak amat dan kurang gizi karena belum sempat sarapan, rombongan ubur-ubur itu mulai menyingkir. Hanya sesekali saja kami disengat, tapi tidak sesering saat rombongan ubur-ubur itu dating pertama kali tadi.

Di kejauhan, ada yang melontarkan tanda S.O.S yang seperti petasan itu. Semua berharap semoga ada yang melihat. Lalu satu tanda S.O.S lagi dilontarkan, harapan kembali…..

Namun masa kritis tidak berlalu begitu saja, sengatan ubur-ubur memang semakin jarang, namun kondisi badan kami semakin tak berdaya. Semua orang menggigil, sesaat saya pejamkan mata.

Tiba-tiba seperti wajah-wajah orang-orang yang pernah saya kenal berkelebat begitu saja. Keberhasilan dan kegagalan yang pernah saya alami juga melintas dalam ingatan, namun anehnya semua pencapaian dan kegagalan hidup saat itu terasa tidak begitu benar-benar berarti. Saya hanya ingin sekali melihat wajah orang-orang yang saya kenal itu tersenyum. Percayalah, semua wajah yang berkelebat itu sedang tersenyum. Dalam keadaan seperti ini bahkan orang yang pernah menyakitipun akan muncul dihadapanmu dan semuanya tersenyum ramah.

Dan tentu saja, ingatan saya pada sebatang rokok. Menghisap sebatang rokok, hmmm… pasti nikmat sekali raanya bukankah ‘urip mung mampir udutan?’ (hidup hanya mampir buat ngerokok) dan….. eh?! Rokok!??? Tiba-tiba saya terbangun…. Saya baru ingat, ada dua bungkus rokok yang plastiknya belum dibuka dalam kantong celana saya. Saya raba, saya cari namun sudah tidak ada (sekarang baru mikir, emang kalo ada mo ngapain? Emang ada korek di tengah laut?) Ternyata saya sudah lama juga tidak sadarkan diri, sekarang orang-orang ini sedang sibuk ingin membalik posisi lifecraft kami namun karena karetnya yang berat itu ditambah kondisi tubuh yang lemas usaha itu tetap sia-sia (ternyata sejak awal posisi lifecraft ini memang terbalik).

Lama-kelamaan, bahu dan kaki saya rasanya semakin keram. Tasbih yang sejak tadi saya pegang sudah raib entah kemana. Karena tidak kuat lagi, akhirnya tas laptop saya lepas. Tas laptop pun lenyap sudah ditelan lautan lepas.

Lama kami berusaha lagi untuk membalikkan lifecraft itu, namun tidak juga berhasil. Justru yang ada badan semakin lemas, mata saya kembali terpejam. Seorang diseblah saya mengguncang-guncang tubuh saya “Mas, jangan tertidur” Saya terbangun, tetapi rasanya mata saya kembali memejam. Bibir sudah gemetar, badan dan kaki sudah keram. Sementara itu, ombak sudah mulai membesar, kami yang semakin lemas ini malah timbul-tenggelam kayak teh celup di tengah laut. Air laut sudah tertelan banyak, mual.

Samar-samar, saya dengar “itu kapal..! itu kapalll…!!!!” saya sudah tidak bisa perduli, terutama karena yang tadi-tadi seruan seperti itu hanya tipuan. Tapi kali ini memang, saya mendengar suara deru mesin kapal….

Dan harapan datang, semangat pun kembali, seorang pria kami suruh naik dan berdiri di lifecraft untuk memberi kode. Peluit-peluit dari baju pelampung ditiup (ternyata tidak semua baju pelampung ada peluitnya, di rombongan kami hanya ada tiga yang dapat) lambat tapi pasti, kapal itu mengarah pada kami. Sungguh, rasanya lambaat sekali. Tapi akhirnya kapal itu tiba juga, ternyata sebuah kapal nelayan Madura (melihat corak dan warna kapal dan tentu saja logat nelayannya)

Beberapa orang -juga ayah saya- langsung berenang kea rah perahu nelayan, ini keputusan berani juga sebenarnya. Pertama karena jarak kapal itu tidak begitu dekat dan kedua, ombak sudah semakin meninggi. Tapi mereka berhasil sampai ke perahu dan langsung naik, sementara ada seorang pria di atas perahu nelayan itu yang memegang handy talky bilang “Pak pak, tetap disini dulu ya… jangan kemana-mana (sewot gw: LU PIKIR KAMI BISA KEMANA??) ini kami bawa dulu nanti bapak-bapak ikut kapal yang selanjutnya, tenang saja ada kapal lagi koq”

Namun kau tahu, di negri ini sekali kau menyelamatkan segolongan orang maka kau tak kan dilepas begitu saja sampai semuanya ikut terselamatkan atauy kau juga ikut tenggelam.

Saat perahu nelayan itu mulai menjauh, orang-orang di lifecraft berteriak “Paaaakkk… ini ada anak kecil paaaakkkk…. Tolong paakkkk…o kodoonng mau mi mati ini anak e” (logat Makassar) aksi ini sangat teatrikal, didukung ekspresi yang meyakinkan dan property acting yang sangat mendukung; ya anak kecil itu.

Bapak Nelayan Madura langsung menghentikan laju kapal, bapak dengan handy talky marah-marah

“jalan pak!!!! Yang mereka nanti saja!!!!”

nelayan Madura bilang “ kasiian pak, itu ada anak keccil pak….”

Singkat cerita, kapal nelayan itu berbalik kea rah kami untuk menjemput si anak, namun begitu kapal nelayan cukup dekat

maka berebutanlah semua orang untuk naik ke kapal, keadaan rusuh, kapal nelayan miring, pria dengan handy talky marah-marah….. Nelayan Madura: “addooo pak, kapal sayya bissa tenggelam pak…. Addooo pak… ndak bissa kayak ginni pak”

Sementara keadaan semakin rusuh dan alot, saya putuskan untuk tidak ikut ke kapal nelayan dulu dan menunggu pertolongan berikutnya. Namun ayah saya yang sudah berada di kapal memanggil, saya julurkan tangan, sayapun berhasil naik ke atas kapal sementara pria dengan handy talky masih marah-marah dan nelayan Madura pemilik kapal ini memohon-mohon dengan dramatis. Namun saya salut pada tiga orang yang memutuskan tetap tinggal di lifecraft agar yang lain bias diselamatkan lebih dulu. Salute…

Begitu sampai di kapal nelayan, kami dibagikan air yang hanya seukuran sachetan, cuma seteguk air dan tenaga kembali segar. Saya ambil tas pakaian saya, semestinya di dalamnya ada beberapa oleh-oleh, namun ternyata isinya sudah kosong, ambyar semua di lautan. Saya ingat di dalamnya ada juga beberapa gantungan kunci dengan gambar logo kraton Ngayogyakartahadiningrat. Yah, mungkin juga nelayan Madura ini adalah keturunan Pangeran Cakraningrat yang pada era Sultan Agung Anyokrokusumo ditugaskan mengelola Pulau Madura yang sangat istimewa itu.

Kemudian kami dibawa ke kapal tongkang, awalnya saya kira ini kapal penyelamat, sampai saya liat di depannya ada rantai yang tersambung pada tak boat. Wajar bila saya pikir ini adalah kapal penyelamat, betapa tidak? Chief kapalnya terlihat sangat keren dengan potongan rambut kayak Ekin Cheng, berkacamata hitam, tinggi besar. Lalu dengan sigap dia mengosongkan ruangan kru kapal untuk wanita dan anak-anak. Ini adalah sikap yang sangat tepat, wanita selalu punya kebutuhan yang tidak bisa diketahui sepenuhnya oleh pria. Memberi mereka ruangan untuk mengurus kebutuhan mereka itu benar-benar professional.

Dan bagi saya, pertolongan yang paling utama adalah sebatang rokok. Selesai melepas pakaian, menyiram tubuh dengan air tawar. Saya lalu ke ruang komando kapal tongkang, memasang wajah memelas dan “Pak, saya kedinginan….. ada rokok enggak?” lalu para kru kapal bahkan chief kapal itu menyodorkan semua rokok yang mereka punya, awalnya merk rokok tidak begitu masalah, namun ketika ada yang menyodorkan Gudang Garam Inter, saya langsung menyambarnya. Meminta korek, membakar dan menghisapnya, menyesapnya jauuuhhhhhh ke paru-paru ssssshhhh….. lalu pppoooosssshhhh…..menghembuskan asapnya sambil bergumam “ah, urip mung mampir udutan”

Setelah itu, nelayan Madura yang pada kahirnya berjumlah tiga perahu itu bolak-balik menyelamatkan korban-korban lain dan mengangkutnya ke kapal tongkang. Baru kami tahu saat itu sekitar pukul setengah sebelas. Selesai penyelamatan korban, kami lalu dipindah ke kapal pengiriman barang yang sudah mendekat, di kejauhan saya lihat ada sekitar dua-tiga kapal sejenis yang merapat ke lokasi kami. Ternyata sebelum terjun ke laut, kapten kapal sempat mengirim sinyal keadaan darurat.

Perjalanan dengan kapal peti kemas berlangsung hingga sekitar tengah malam. Awalnya, ketika para penumpang ditawari makan di kapal barang ini awalnya mereka masih malu-malu atau mungkin juga tidak begitu berselera makan karena masih trauma. Namun begitu hari menjelang sore, kelaparan menjadi-jadi. Maka rebutan makan pun tak terhindarkan. Untung kru kapal barang ini juga tidak keberatan berbagi jatah makan dengan kami, nasi dengan lauk garam menjadi barang yang sangat mewah untuk kami bertahan selama seharian di kapal peti kemas. Tidur bisa dimana saja, karena kapal peti kemas memang tidak menyediakan kamar yang cukup.

Sesaat tadi, waktu terapung di laut semua masalah kehidupan terasa begitu remehnya. Namun tidak butuh waktu lama bukan untuk manusia kembali meributkan rebutan makanan dan lainnya. Hanya saja, segala dinamika itu sekarang dihadapi dengan lebih enteng. Terbukti semua bisa tertawa kembali, ceria kembali dan bercanda-canda lagi. Bahkan yang tadinya tidak saling kenal sekarang menjadi saling kenal dengan mesra. Benarlah, urip mung mampir udutan koq.

Setelah mendekat ke Madura, sekitar pertengahan malam, kami dijemput oleh kapal ferry dari perusahaan Darma Lautan Utama, merekalah pemilik kapal Mustika Kencana 2 yang terbakar itu. Naik ke kapal ferry menuju Surabaya kembali, diiringi lambaian tangan para kru kapal peti kemas (o iya, nama kapal peti kemasnya K.M PEMUDI) Terima kasih kami yang begitu besar pada mereka-mereka yang menolong kami dengan tulus. Nelayan Madura, Kapal Tongkang beserta kru, dan kapal PEMUDI beserta seluruh awak kapalnya.

Sampai di kapal ferry perusahaan, sudah menyambut kami nasi bungkus dan air mineral yang langsung kami serbu. Kami diberi selimut, sarung dlsb. Tenaga medis pun telah sigap. Minuman teh dan kopi tersedia. Tapi tentu saja yang sangat dibutuhkn oleh kami ini adalah: ROKOK.

Ini pelajaran buat mereka yang selanjutnya akan bekerja sebagai penyelamat professional, kita semua tahu bahwa ada beberapa penyakit yang datang justru karena adanya dokter bukan? Itu pula yang kami alami. Begitu tim medis mulai menanyakan keluhan-keluhan, barulah muncul rasa sakit disekujur tubuh, kulit yang terasa panas dan…. Kelelahan.

Terakhir, bila anda suatu saat menjadi penyelamat dalam kasus-kasus seperti ini, siapkanlah rokok yang banyak.

Karena menurut pengalaman saya, akibat tidak disiapkannya rokok oleh fihak yang bertanggung jawab (dalam hal ini perusahaan Dharma Lautan Utama) maka yang menjadi korban adalah para awak kapal yang membawa rokok, kami serbu untuk kami ajak bercerita bahkan sebenarnya para awak kapal malah menjadi tong sampah curhatan kami sambil kami mintai rokoknya .

“wah gila! gak nyangka saya bisa bertahan… Empat jam lho Mas… empat jaammm!!!! Makanya saya ni kedinginan klo gak ada rokok, punya rokok mas?”

Sementara yang lain bercerita

“jadi begini lho ceritanya Mas…. Wwuuuiiihh… waktu itu saya tu tueerrjjun ke laut Mas… eddiann pokokke….. ada rokok lagi Mas?”

Satu orang juga ngomong disaat bersamaan

“hooh Mas, ada juga itu ibu-ibu di duorong Mas sama suaminya, lha piye menneh to??? Rokoknya satu lagi donk Mas…”

Ah yaaa…. Urip mung mampir udutan.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil nimal mawla wa ni’ma natsir….

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150239923442393

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.