Amir Hamzah: Pahlawan Romantis Tragis

Petrik Matanasi *
http://sejarah.kompasiana.com/

Biarlah daku tinggal disini. Sentosa diriku disunyi sepi.
Tiada berharap tiada meminta. Jauh dunia disisi dewa.

Puisi itulah yang terukir pada nisan orang terkenal bernama Amir Hamzah. Serorang pujangga yang namanya terus disebut dalam sejarah, khususnya sejarah sastra di Indonesia. Pujangga Amir Hamzah telah memberikan sumbangan besarnya dalam dunia sastra Indonesia.

Amir Hamzah adalah pahlawan yang bernasib malang—seperti halnya Oto Iskandardinata—yang menemui ajal ditangan segelintir revolusioner buta diawal kemerdekaan sebuah negara bernama Republik Indonesia. Sentimen terhadap feodalisme diawal kemerdekaan Indonesia sangatlah wajar. Kebencian kaum kromo kepada kaum feodal yang bebrabad-abad menjadi sumber penderitaan kaum kromo. Bagaimanapun kematian Amir Hamzah di Kuala Begumit pada 20 Maret 1946—seperti juga Oto Iskandardinata—menjadi titik noda dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Amir Hamzah yang pahlawan Nasional itu tidak hanya hanya dikenal sebagai seorang pujangga besar di zamannya. Amir Hamzah, semasa belajar di Jawa pernah melibatkan diri dalam dunia pergerakan nasional Indonesia.

Sajak dan hidup Amir Hamzah

Amir Hamzah telah digolongkan dalam deretan penyair angkatan pujangga baru—Sutan Takdir Alisyahbana, Armin Pane juga Sanusi Pane—yang paling berpengaruh. Sebagai penyair—seperti judul buku H.B. Yassin—Amir Hamzah dinobatkan sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru” yang menjadi bahan pembicaraan menarik bagi penikmat sastra Indonesia. Amir Hamzah dianggap sebagai simbol peralihan kebudayaan dan masyarakat aristokrat feodal ke aspirasi-aspirasi persamaan derajat dalam kehidupan Indonesia modern; ketegangan ini nampak pada konflik pribadi sekitar pernikahannya.

Tema dan sikap yang diusung Amir Hamzah dalam sajak-sajaknya, agak bersifat romantik. Sajak-sajak dalam kumpulan pertamanya, Buah Rindu, adalah kemurungan dan kerinduan seorang pemuda rantau dari Sumatra yang merindukan kampung halamannya. Nyanyian Sunyi, kumpulan sajaknya yang lain, adalah pergulatan seorang pemuda yang meninggalkan kesetiaannya dari dunia baru menuju sebuah dunia yang relijius.

Menurut buku Amir Hamzah: Radja Penjair Pujangga Baru, Yassin menulis, Buah Rindu memuat 25 sajak, satu diantaranya terdiri dari 4 bagian dan satu dari dua bagian. Kumpulan ini ditandai oleh kata-kata: iba, menangis, duka, sendu, merana, rindu, air mata dan lainnya yang menyatakan kesedihan. Juga kata-kata yang menggambarkan suasana jiwanya seperti: kelana, merantau, cinta, asmara, ratap. Kata-kata seperti: duhai dan wahai dipakai sebagai seruan. Yassin menangkap ketidakimbangan jiwa sang penyair—Amir Hamzah—dalam sajak Berdiri Aku:

Dalam rupa maha sempurna
Rindu sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Mengetjap hidup bertentu tudju.

Tertangkap dari sajak diatas penyair merindukan kehidupan yang bahagia dimasa depannya. Dalam sajak lainnya, Nyanyi Sunyi, Amir menggambarkannya kegoncangan jiwanya ketika dirinya terpaksa menikah dengan putri Sultan Langkat.

Amir yang dibiayai Sultan Langkat itu pernah jatuh cinta pada seorang gadis lain—Elik Sundari—dalam perantauannya hingga dengan paksa dinikahkan dengan putri yang mungkin tida dia cintai sepenuh hati itu. Amir yang sedang kuliah hukum di Recht Hoge School, Jakarta dipanggil pulang untuk menikah dan menggantikan ayahnya sebagai datuk bendahara di Langkat. Dalam sajak Selalu Sedih yang dimuat dalam Pujangga Baru edisi 7 Januari 1937 Amir menuliskan sajak—mungkin untuk Elik Sudari, kekasih yang ditinggalkannya—yang melukiskan dirinya yang tidakberdaya:

Hatiku sajang selalu sedih
Selalu sendu semata salah
Sekedjap mengetjap kasih
Paksa datang menjuruh lepas

Hidup badan tiada berdaja
Dalam genggaman orang lain
Kemana kata kesana mara
Boneka daging tiada berasa

Dalam pergolakannya dia menikmati kesunyiannya itu, Amir menuliskan: “Sunyi itu duka. Sunyi itu kudus, Sunyi itu lupa, sunyi itu lampas.” Dalam sunyi Amir berhubungan dengan Tuhan-nya, menyelami rahasia hidup sampai akhirnya ia terperosok dalam filsafat mistik.

Kumpulan sajak Nyanyi Sunyi kemungkinan ditulis di Jakarta semasa menjadi mahasiswa sekolah tinggi hukum (1934-1936). Masa-masa dimana Amir dianggap sedang mempersiapkan diri menjadi seorang pegawai sebagai persiapan pualang ke Langkat setelah kematian ayahnya. Banyak yang menyebut: saat itu Amir sedangan mengalami krisis diri teramat dalam. Hal ini berpengaruh dalam puisi-puisinya. Tema utama Nyanyi Sunyi adalah pencarian penyelesaian masalah pribadi melalui pengalaman relijius; usaha mencapai kesatuan mistik dengan Tuhan—manunggaling kawulo Gusti—disela-sela ketidakmampuannya mengatasi kontradiksi antara cinta dan kekejaman. Keduanya merupakan sifat Tuhan dalam hubungannya dengan manusia.

Persatuan dengan hakikat ketuhanan terhalang oleh perasaan duniawi yang tidak bisa ditiadakan. Sifat-sifat Tuhan yang samar-samar itu tidak jarang berubah menjadi kekejaman yang angkuh. Seperti dalam “Padamu Jua” yang sering mendapat pujian, setidaknya pada generasi Pujangga Baru:

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Dimana engkau rupa tiada
Suara sayup
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila dasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu—bukan giliranku
Mati hari bukan kawanku….

Amir Hamzah pernah diangggap destruktif terhadap bahasa-bahasa lama disatu sisi dan secara gemilang dalam kemunculan bahasa-bahasa baru. Puisi Nyanyi Sunyi juga dianggap duistere poezie (puisi gelap). Menurut H.B. Yassin, sangat tidak mukngkin kita mengerti Amir Hamzah, jika kita membaca Nyanyi Sunyi tanpa membekali diri dengan pengetahuan sejarah dan agama (Islam).

Ada pengaruh-pengaruh Melayu dalam sajak-sajak Amir Hamzah. Ini bukan hal aneh, Amir Hamzah—yang terlahir di tanah Melayu—didalam tubuhnya memang mengalir darah Melayu. Dalam penggunaan metafora terdapat pengaruh Persia dan India tanpa harus menghilangkan kemelayuannya. Contoh puisi Amir Hamzah yang memiliki corak Hinduisme terdapat dalam akhir puisi “Naik-naik.” Puisi itu terukir indah pada nisan makam penyairnya. Bagian dari puisi itu telah saya tulis diawal tulisan ini.

Riwayat Amir Hamzah Dalam pergerakan Nasional

Amir Hamzah alias Amir Hamzah Pangeran Indera Putra, terlahir—tanggal 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat—sebagai putra Tengku Bendahara Paduka Radja Kerajaan Langkat. Langkat adalah Kesultanan kecil di pesisir timur Sumatra Utara. Keluarganya yang bangsawan telah memberinya kesempatan mempelajari banyak hal; mulai dari perdababn Islam di Melayu; juga peradaban barat.

Ayahnya, adalah penggemar sejarah dan sastra Melayu—seperti halnya orang-orang tua pada masa itu. hal ini kelak mempengaruhi Amir Hamzah. Sering kali ayahnya mengadakan malam-malam pertemuan dimana orang-orang membaca hikayat-hikayat Melayu lama seperti Hikayat Amir Hamzah, Bustanus-salatun dan lain sebagainya. Cerita yang paling diminati disana adalah cerita nabi-nabi, Qususul Anbia, namun dibacakan dalam bahasa Melayu. Tidak jarang Amir Hamzah juga disuruh membacakan hikayat-hikayat itu oleh ayahnya.

Amir Hamzah yang masih kecil ketika itu suka sekali dengan sastra-sastra Melayu, kendati hanya mendengarkan saja. Membacakannya mungkin sebuah kesenangan tersendiri bagi Amir Hamzah kecil.

Amir mulai menikmati pendidikan sekulernya di Hollandsche Inlandsche School Tanjung Pura—sekolah dasar pribumi untuk anak-anak orang terpandang—lantaran ayahnya orang penting di kesultanan Langkat. Setamat dari sana Amir melanjutkan ke sekolah menengah pertamanya—Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)—di Medan. Amir hanya menjalani sekolah menengahnya ditahun pertama saja. Di tahun kedua sampai tamat dia jalani di Christelijke MULO Mendjangan.

Bakat menulis Amir makin terasah ketika dia mengambil jurusan sastra timur di Algemene Middelbare School (AMS)—di Solo. Pendidikan tertinggi yang pernah diraihnya adalah di Recht Hoge School—sekolah tinggi Hukum zaman Belanda—di Jakarta, walau hanya samapai kandidat II.

Selama disekolah menengah-lah Amir Hamzah menerima pengaruh dari berbagai aliran sastra-sastra dunia. Amir Hamzah menerima semuanya tanpa harus kehilangan akarnya: kebudayaan Melayu. Tidak hanya Amir Hamzah saja yang menerima pengaruh kesusastraan dari luar ketika duduk di bangku sekolah-sekolah sekuler Belanda tingkat menengah seperti MULO atau AMS; Sutan Takdir, Armin Pane, Sanusi Pane. Hampir semua penyair yang pernah muda atau belajar di sekolah menengah Belanda model MULO atau AMS pada dekade 1930an, mulai mengenal sastra-sastra dunia dari sekolah menengahnya. Chairil Anwar yang bukan angkatan Pujangga Baru juga mengenal kesusastraan—modern barat—dari sekolah Belanda, kendati sekolahnya hanya sampai kelas II MULO.

Ketika belajar di RHS—bersama Sutan Takdir dan Armin Pane—ditahun 1933 mendirikan Majalah Pudjangga Baru. Majalah ini terbit teratur sampai masuknya Tentara Pendudukan Jepang di Indonesia. Tulisan Amir Hamzah yang pernah dimuat diantaranya terdapat terjemahan Setanggi Air dan Bhagawad Gita.

Kendati seorang bangsawan (Langkat) Sumatra, dirinya mau bergabung dengan Jong Java—Perkumpulan pemuda Jawa—yang tentu saja anggotanya pemuda dari Jawa. Amir Hamzah terbukti telah meninggalkan sifat kedaerahannya; jadi Amir layak dicap sebagai Nasionalis. Sebagai orang Melayu dirinya menganut: “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.” Terbukti dia berhasil menyesuaikan diri dan bergaul dengan tokoh-tokoh Jawa macam: Raden Panji Singgih atau Kanjeng Raden Tumenggung Wedyodi. Di Solo, ketika masih belajar di AMS, Amir tergabung dalam Indonesia Muda bersama Armin Pane. Amir pernah mewakili Indonesia Muda cabang solo dalam Kongres Indonesia Muda yang diadakan di Solo dari tanggal 29 Desember 1930 sampai 2 Januari 1931.

Keterlibatannya pada dunia pergerakan tidak lepas dari pergaulannya dengan kawan-kawannya di sekolah. Solo, yang merupakan kota dengan masyarakat feodal, juga menerima pengaruh pergerakannya sendiri. Riwayat pergerakan Amir Hamzah dalam organisasi politik, tidaklah terlalu menonjol. Amir Hamzah lebih dikenal dalam keterlibatannya di majalah sastra Pujangga Baru maupun puisi-puisinya. Keterlibatan Amir Hamzah dalam dunia pergerakan nasinal tidak banyak yang mencatat. Nama Amir Hamzah sendiri lebih sering dicatat dalam buku-buku sastra atau pelajaran bahasa atau sastra Indonesia dari pada dalam buku yang mengulas dunia pergerakan nasional selama dekade 1930an.

Dunia pergerakan secara tidak langsung ditinggalkan ketika dirinya dipanggil pulang pada tahun 1936, sebelum kuliah hukumnya di RHS selesai. Sepulangnya di Langkat, Amir menikah dengan Putri Tuhara, anak perempuan dari Sultan Langkat waktu itu. Latar belakang-nya yang pernah kuliah di RHS, juga mempengaruhi kedudukan-nya di masyrakat. Dia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai datuk bendahara kesultanan Langkat yang telah meninggal sebelum dipanggil pulangnya Amir. Tahap kehidupan Amir Hamzah di RHS, adalah tahap diri mempersiapkan diri menjadi pegawai dengan belajar ilmu hukum—termasuk hukum modern dan adat.

Kepulangannya ke Langkat—yang mungkin tidak dia inginkan itu—telah memisahkan dirinya dengan dunia pergerakan juga dengan gadis yang dia cintai. Dia harus menanggung hidup yang tidak dia ingini: menikahi putri Sultan Langkat—yang membiayai membiayai pendidikannya di Jawa, termasuk menemukan jati dirinya sebagai penyair.

Raja Penyair Pujangga Baru

Semula Amir berkenalan dengan sastra Belanda melalui penguasaan bahasa Belanda-nya yang dipelajarinya di HIS dan MULO. Amir mengenal sastra Belanda sejak duduk di MULO Jakarta. Di AMS semakin mengasah kemampuan menulisnya. Amir juga mulai mengenal sastra-sastra timur (Asia). Penulisan Amir lebih kearah sastra. Beberapa karangannya tentang kesusastraan India, Arab dan Persia kemudian dimuat di Pudjangga Baru pada tahun 1934.

Kendati berkenalan dengan sastra Belanda, tidak ada bukti langsung yang mempengaruhi karya-karya Amir Hamzah. Walau demikian diantara penyair Pujangga Baru lainnya, hanya Amir yang saja yang mendekati hakekat romantik Eropa, yang menjadi tonggak budaya pada zaman itu. Namun atas dasar ini pula puisinya mengakui sepenuhnya tonggak budaya tradisonal. Dibanding yang lainnya pula puisi Amir Hamzah dianggap mampu menggabungkan dengan sempurna individualisme barat dengan persajakan Melayu tradisional. Amir gemar menggunakan metafora, namun untuk tujuan pembaharuannya. Dirinya juga menggunakan pola-pola penggubahan puisi tradisional, namun dia memfungsikannya untuk tujuan individualisme yang terdapat dalam tonggak budaya modern. Disatu sisi Amir menggunakan menggali kebudayaan melayu dimana dia berasal; kebudayaan modern barat yang diperolahnya disekolah-sekolah Belanda yang dia jalani dimasa perkembangannya; juga nasionalisme yang dia wakili dalam Indonesia Muda. Ketiganya adalah sebuah dialektika dalam kehidupan penyair Amir Hamzah. Puisinya menunjukan dinamisme budaya dan potensi kreatif yang terkandung dalam gerakan kebangsaan Indonesia masa pergerakan.

Amir Hamzah ,selain memberi sumbangan untuk dunia sastra Indonesia, juga kepada dunia sastra Melayu. Dari Amir Hamzah, bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik sampai saatb sekarang ini. Diakui dalam puisi Buah Rindu, terlihat bahwa Amir Hamzah telah memberikan warna modern dalam suara dan lagu pantun-pantun Melayu.

Judul buku H.B. Yassin: Amir Hamzah: Radja Penjair Pujangga Baru (1962) telah menobatkan Amir Hamzah sebagai Raja Penyair Pujangga Baru. Dalam dunia pergerakan nasional sendiri Amir Hamzah bukanlah orator handal seperti Sukarno. Belum ada bukti yang menyatakan Amir Hamzah adalah daftar incaran PID Belanda yang selalu menghantui kaum pergerakan. Amir Hamzah bukan pembuat petisi seperti Soetardjo. Amir Hamzah hanya seorang penyair pada zamannya yang memberi warna dalam dunia sastra Indonesia. Lebih bijak jika kita menyebut bahwa Amir Hamzah adalah pejuang kesusastraan di Indonesia—kala itu bernama Hindia Belanda—pada lapangan kesusastraan dengan karya-karyanya yang Indonesiasentris. Bersama penyair-penyair pada zamannya, Amir Hamzah telah memberi identitas baru bagi sastra Indonesia asli setelah pengembaraannya mereduksi pengaruh-pengarus sastra dunia, baik barat maupun timur.

*) Peziarah & Pemerhati Sejarah Nusantara. Asal Balikpapan, tinggal di Jogja. Kuliah sejarah 7 tahun di UNY. Bukan penulis handal, hanya saja suka menulis hal-hal yang humanis. Apapun yang saya tulis atau ucap, sulit sekali bagi saya untuk tidak Historis.

Komentar