Langsung ke konten utama

Perjalanan batin yang puitis

H.B. Jassin
http://majalah.tempointeraktif.com/
DARI MOCHTAR LUBIS HINGGA MANGUNWIJAYA
Oleh: Th. Sri Rahayu Prihatmi
Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta, 1990, 131 halaman

DALAM kumpulan pembahasan ini dibicarakan karya Mochtar Lubis, Nasjah Djamin, Umar Kayam, Nh. Dini, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, Achdiat Kartamihardja, Mangunwijaya, dan beberapa yang lain.

Pembicaraan yang kritis mengenai karya-karya itu didahului dengan pembicaraan mengenai cerita rekaan pada umumnya, yang sekaligus memperingatkan cara pendekatan penulis terhadap karya-karya yang dibicarakan.

Dijelaskan apa cerita rekaan, alur. Juga apakah yang dimaksud dengan kenyataan, pengaluran, penokohan, apakah latar dan pelataran, pusat pengisahan, dan segala hal yang bertalian dengan pengertian-pengertian tersebut. Seperti tikaian, gawatan, leraian, alur erat, alur longgar, alur tunggal, alur ganda, alur lurus, alur balik, sorot balik, pendramatisasian, tegangan, dan stream of consciousness.

Namun, Prihatmi tidak hanya bicara tentang teknik, tentang pengaluran, penokohan, dan pelataran yang erat berkaitan. Yang penting, dia juga selalu membahas pengalaman dan perasaan manusia yang bergerak di dalamnya, dan terutama dia meminta perhatian buat nilai-nilai filsafat dan moral yang terkandung dalam karya.

Dengan cara ini, kita diperkenalkan dengan manusia-manusia yang kongkret dengan aneka ragam pengalaman batinnya. Tiap karya sastra digalinya dari sudut penilaian ini, hingga pembahasannya memiliki dimensi kedalaman.

Demikianlah tokoh Barman dalam Khotbah di Atas Bukit berdiri di depan kita dengan masalah-masalahnya sendiri, bukan sekadar masalah-masalah yang timbul dalam hubungannya dengan manusia lain dan lingkungannya, tapi sebagai manusia dalam eksistensi dirinya di tengah alam semesta.

Dalam pembicaraan mengenai karya-karya Umar Kayam, Prihatmi bicara tentang pusat pengisahan, pengaluran, penokohan, dan pelataran, yang semuanya erat kait-berkait, tapi tetap diisi oleh manusia-manusia dari darah dan daging. Sri Sumarah berdiri dan menjalani hidupnya di depan kita sebagai manusia yang bergerak dengan kodrat manusiawinya seperti ditentukan oleh lingkungan dan suasana masyarakatnya.

Pengarang sebagai produk masyarakat, kebudayaan dan adat-istiadatnya, serta mitos yang meresapi dunianya, ditampilkan oleh Prihatmi sebagaimana terbayang dalam tokoh-tokoh cerita Korrie Layun Rampan. Sedang pembicaraan dari sudut psikologi dan moral, kita lihat dalam pembicaraan mengenai karya Toha Mohtar dan Mochtar Lubis.

Teknik penceritaan merupakan penunjang jalannya cerita. Prihatmi membedakan antara dusta dan dusta. Dusta oleh orang yang jujur akan menyebabkan perasaan bersalah bagi pelaku yang jujur. Sebaliknya dusta oleh orang yang memang berwatak tidak jujur tidak akan membuat nuraninya berdosa. Demikian observasi Prihatmi yang cemerlang tentang tokoh Pulang dalam karya Toha Mochtar.

Amat menarik pembicaraan mengenai karya Putu Wijaya, Stasiun, yang merupakan hasil pembauran dunia nyata dan bawah sadar. Prihatmi menyorotinya dengan pendekatan psikoanalisa Freud, sambil merekonstruksikan alur cerita berdasarkan dunia yang berbaur itu.

Prihatmi tidak membicarakan semua karya pengarang yang dibahasnya, tapi karya-karya yang dipilihnya cukup mewakili ciri-ciri umum karya-karya yang dibicarakannya, sehingga pembaca dapat mengapresiasi juga karya-karya yang tidak dibicarakannya.

Pendekatan Prihatmi merupakan cerita pengalaman batin tersendiri, di mana tokohnya ialah tokoh-tokoh dalam cerita, unsur-unsur cerita, ditambah dengan aku si penikmat cerita. Buku ini satu bacaan yang mengasyikkan, hampir merupakan cerita perjalanan batin pembahas sendiri, yang berpijak di atas bumi. Ilmiah tapi puitis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.