Langsung ke konten utama

Ann dan Saya: Sebuah Perjumpaan

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Sepanjang pementasan dari dua kelompok teater yang semalam saya tonton di gedung KORPRI Purwokerto dalam acara bertajuk Festifal Teater Banyumas, saya hanya dapat mengingat beberapa kejadian. Awal mula ketika saya tiba: meja, kursi, tangga berkali-kali diangkut dan dikeluarkan dari atas panggung. Pada pementasan kedua, seorang laki-laki bunuh diri sebelum saya memilih untuk pergi minum kopi bersama Ann dan beberapa teman. Pada pementasan pertama: nama-nama peran bercorak Rusia yang sesekali bertutur dalam logat Jawa Banyumasan dengan busana umum yang tak menandakan kekhasan tertentu membuat saya lebih sibuk ber-sms ria sebelum memberanikan diri untuk duduk di samping Ann.

Malam itu, di sisi yang lain —di luar sebagai penonton teater— kedirian saya terpencil, keringat dingin menyelipkan kebisuan yang tak pernah saya duga, bahasa tiba-tiba lumpuh walau sekeras hati lidah ingin banyak bicara. Saya mengakui: di satu sisi, saya telah menjadi penonton yang kehilangan pemusatan fikiran pada panggung, di sisi lain, saya merasakan sebuah pesona perasaan dari perjumpaan yang tak terduga.

Tapi, izinkan saya berdalih. Sebagai penonton teater malam itu, saya tak dapat disalahkan bila kehilangan konsentrasi. Aktorlah yang paling bersalah, sebab mereka telah gagal membidik sasaran sukma saya yang pada mulanya berniat datang ke gedung KORPRI untuk menikmati Teater. Sepanjang dua pementasan, para aktor tidak meyakinkan saya bahwa pemusatan fikiran mereka dalam bermain peran jauh lebih penting dari konsentrasi saya menterjemahkan degub jantung dan perasaan malu-malu. Macam-macam latihan pengutaraan, pernafasan, penempatan suara, pantomime dan rias para aktor menjadi mubah malam itu –setidaknya bagi saya yang sedang terpesona. Soalnya sederhana: wibawa seorang aktor di atas panggung telah dikalahkan oleh kebersahajaan seorang gadis bernama Ann yang duduk di samping saya. Anda perlu tahu: nada bicara Ann yang sedikit berbisik, mimik wajahnya, harum parfumenya, dan sorot mata Ann dalam keremangan —tentu saya pandang dengan mencuri-curi— lebih menghidupkan situasi penuh debar daripada situasi di atas panggung yang saya pikir penuh rencana matang.

Saya teringat, konsentrasi atau pemusatan perhatian adalah pelajaran pertama yang idealnya harus dikuasai oleh seorang aktor semacam yang ditulis Richard Bolelavsky dalam bukunya yang bertajuk Enam Pelajdaran Pertama bagi Tjalon Aktor (terj. Asrul Sani:1960. Hal.23-33). Dan saya kira, para aktor yang semalam saya tonton, telah gagal untuk meyakinkan saya —setidaknya sebagai seorang penonton— bahwa mereka telah mengoptimalkan panca inderanya untuk menyempurnakan sebuah peranan yang ujungnya menumbuhkan keterkesanan.

Saya juga tak tahu, apakah saya juga telah gagal mengoptimalkan panca indera saya untuk mengenal Ann lebih dekat? Saya hanya mengerti, malam itu di antara keberbagaian minuman dan sajian mendoan yang dinamakan “Mendoan Kasmaran” saya tak piawai untuk mengekspresikan keterpesonaan saya lewat kata di hadapan wajah Ann. Malam untuk beristirahat pun menjadi tak tenang, sampai akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan semua ini setelah mengucap selamat tidur dan manisnya perjumpaan pada Ann via sms. Pada pucuk sepi dimana saya kira nasib baik telah menciptakan kesempatan perjumpaan dengan Ann, puisi “Nada Awal” yang ditulis Subagio Sastrowardoyo untuk sementara memecahkan kebuntuan keresahan yang saya alami.

… Rahasia
membutuhkan kata yang terucap
di puncak sepi.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com