Langsung ke konten utama

Bung Tomo Bersajak

http://tempointeraktif.com/
Catata terkait: http://sastra-indonesia.com/2009/01/bung-tomo-pahlawan-penyair-indonesia/

Pu, Pu Garpu.
Mungkinkah wartawan menipu?
Sampai pembaca terbius bisu?
Yang dhalim tidak disapu,
4 sal wartawan bemandi susu. ***

BAIT di atas adalah salah satu bagian sajak yang kemudian populer dari Bung Tomo. Malam 2 Agustus itu ia mebacakan sajak-sajaknya Kepada Bangsaku (1946). Terali Sutera, dan KAMI (1966). Yang paling mendapat banyak sambutan adalah Kelompok Dinner-Set Saling Bertanya, tentang perilaku sebagian kaum wartawan kini.

Setelah dua tiga bait, selalu muncul ulangan:

“Petani-petani kecil cengkeh.
Tertawa sinis terkekeh-kekeh.
Pengisap-pengisap kretek,
Ikut protes merengek-rengek.”

Selesai bait ini, bendera merah dari kertas yang ada di tangannya dinaikkannya ke atas dan seperti yang telah diminta, hadirin meneriakkan:

“pungli, pung, pungli, pung.”

Sajak dinner-set ini dinyatakan ditujukan kepada Persatuan Wartawan Indonesia, yang beberapa waktu lalu menerima hadiah sumbangan perlengkapan alat-alat makan dari Ptobosutejo, adik seibu Presiden Suharto.

Kata Bung Tomo: “Saya mual mendengar pidato sambutan Ketua PWI Harmoko ketika menerima hadiah tersebut. Berlebihan pidatonya — hanya untuk dinner-set yang 7 juta rupiah”. Harmoko beberapa hari kemudian bilang: “Lha wong dikasih kok Ya harus menyatakan terimakasih.”

Altar Teater Luwes Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) di Tanan Ismail Marzuki Jakarta, cukup meriah dan penuh semangat. Di sisi podium, ada sebuah meriam terbuat dari kertas, patah larasnya. Kemudian tulisan: Merdeka tapi bingung ….. Bendera merah putih cukup besar terpampang disisi lain.

Bung Tomo malam itu mengenakan batik merah jambu. Biar umurnya kini sudah 57 tahun, suaranya masih lantang, mengingatkan orang pada singa corong radio yang membakar semangat kemerdekaan dulu.

Kemudian muncul Ketua Dewan Keluarga Mahasiswa (DKM) Labes Widar yang naik pentas untuk menyematkan lencana Merah Putih dan lambang Garuda Pancasila ke dada Bung Tomo. Kata Labes Widar “Di Yogya beberapa waktu yang lalu, seorang mahasiswa ditangkap karena mengenakan Merah Putih ini. Saya ingin tahu, apakah Bung Tomo akan ditangkap juga.”

Setelah Bung Tomo, tampil antara lain penyair-penyair Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, membacakan sajak-sajak. Antara lain: Kembalikan Indonesia Padaku, sajak ‘Taufiq. Kaos bertuliskan judul sajak tersebut, cap bendera Merah Putih kecil dan Garuda Pancasila, habis terjual.

Suasana memang santai dan kacau. Untung Tomo sendiri, ketika ditanya pendapatnya tentang anak-anak muda yang bersajak-sajak dengan nyindir dan tidak jarang jorok, herkata: “daripada mereka main tembak, kan lebih baik baca sajak. Kreatif.”

03 September 1977
Sumber: http://ip52-214.cbn.net.id/id/arsip/1977/09/03/PT/mbm.19770903.PT75394.id.html

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com