Langsung ke konten utama

Cerpen Terbaik Kompas 2010, Cerpen Plagiat?

Gibb
http://sinekdoke.blogspot.com/

Saya bukan orang yang terjun di dunia sastra, bukan penulis, apalagi kritikus. Sebagai orang yang awam seperti itu, seperti ada semacam persetujuan di dalam benak saya. Sebuah persetujuan bahwa Kompas adalah salah satu barometer sastra Indonesia, melalui cerpen-cerpen yang diterbitkan tiap hari minggu. Pendapat ini tentu tidak tepat, maklumi saja, kompas adalah media yang sangat besar, dan saya adalah penikmat awam.

Senin, 27 Juni, di Bentara Budaya Jakarta, dilangsungkan acara Malam Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2011. Trofi Cerpen Terbaik malam itu jatuh ke tangan Dr. Seno Gumira Ajidarma (SGA), dengan cerpennya yang berjudul ‘Dodolitdodolitdodolibret’.

‘Dodolitdodolitdodolibret’ adalah cerpen yang berangkat dari sebuah awalan yang menyentil: “betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.”

Dikisahkan dalam cerpen tersebut, seorang guru spiritual yang bernama guru kiplik. Ia mengajari orang-orang berdoa secara benar. Sampai pada suatu ketika, ia menemukan sebuah pulau dengan sembilan orang penghuni. Sembilan orang itu tidak bisa berdoa dengan benar, menurut guru kiplik. Maka Guru kiplik pun mengajari mereka hingga, walaupun sulit, tapi akhirnya ke sembilan orang itu bisa juga berdoa dengan benar. Sampai tiba saatnya Guru kiplik merasa cukup, lalu ia pergi dengan perahu meninggalkan sembilan orang tersebut.

Tapi sembilan orang itu mengejar guru kiplik.
”Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!” teriak sembilan orang itu.

Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?

Begitulah kira-kira garis besar cerpen ‘Dodolitdodolitdodolibret’ karya Seno Gumira. Sebuah cerpen yang inspiratif dan menggugah. Tapi sepintas membaca cerpen tersebut, cerpen tersebut rasanya sudah sedemikian akrab. Rasanya, ada kisah-kisah lain yang kurang lebih serupa. Seno Gumira sendiri memberi disclaimer di bagian footnote cerpen tersebut: “Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.”

Kisah Guru Kiplik itu, rasanya pernah terbaca dalam kisah-kisah injil ttg Yesus yang berjalan di atas air dan Yesus yang mengajar muridnya berdoa dengan ‘Doa Bapa Kami’, juga dalam The Three Hermits (Tiga Pertapa) karya Tolstoy. Bedanya, jumlah orang yang berlari di atas air adalah tiga orang pada cerpen Tolstoy, sedangkan dalam cerpen ‘Dodolitdodolitdodolibret’, sembilan orang.

Banyak yang menemukan soal kemiripan ini. Karena Tolstoy adalah cerpenis yang karya-karyanya sudah sedemikian mendunia. Apakah ini berarti SGA telah melakukan aksi plagiarisme?

Kompas sebelumnya pernah kecolongan lewat ‘Perempuan Tua Dalam Rashomon’ yang ditulis Dadang Ari Murtono. Pertama, Perempuan Tua dalam Rashmon telah terbit sebelumnya di lampung post. Kedua, Perempuan Tua dalam Rashomon, menulis ulang paragraf-paragraf dalam ‘Rashomon’ karya penulis kenamaan asal Jepang, Akutagawa. Beberapa saat setelah itu, Kompas menyatakan cerpen karya Dadang Ari Murtono itu sebagai cerpen yang tidak pernah diterbitkan. Masalahnya, kita tidak tahu, keputusan Kompas itu karena cerpen Dadang pernah terbit di lampung post, atau karena Dadang menulis ulang paragraf-paragraf dalam ‘Rashomon’.

Saya yang bukan kritikus tentu tidak bisa menjawab apakah cerpen SGA itu plagiat Tolstoy atau tidak. Saya tidak tahu mengenai aturan bagaimana sebuah karya bisa disebut plagiat atau tidak. Karena itu, daripada mencari persamaan dan kemiripan dari kedua cerpen, saya lebih suka mencari perbedaan. Lalu saya menemukan bahwa kedua cerpen ini memang mirip, tapi tetap saja berbeda. Terutama pada fokus cerita.

Cerpen Tolstoy dibuka dengan kutipan dari Injil Matius 6: 7 – 8. “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Tuhan. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.”

Dalam The Three Hermits, Tolstoy fokus pada pendeta yang berniat mengajari tiga pertapa cara berdoa yang benar, di akhir kisah, ada kejutan, rupanya justru pendeta itulah yang akhirnya belajar berdoa pada tiga pertapa. Sementara pada ‘Dodolitdodolitdodolibret’ Seno Gumira, ia fokus pada Guru Kiplik, yang berniat mengajari sembilan penduduk pulau terpencil mengenai cara berdoa yang benar. Di akhir kisah, Guru Kiplik tercengang karena rupanya sembilan orang itu telah bisa berdoa dengan sebnar-benarnya.

Cerpen Tolstoy berakhir dengan perubahan pendeta yang berniat mengajari, menjadi yang diajari. Dari Guru menjadi murid. Sementara dalam cerpen SGA, Guru Kiplik tetaplah Guru Kiplik, ia tidak lantas menjadi murid. Guru Kiplik cuma tercengang dan mulutnya menganga melihat murid-muridnya sudah bisa berdoa dengan benar hingga bisa berlari di atas air.

Menurut saya, itu fokus yang sangat berbeda. Berjalan di atas air, dalam cerita Tolstoy, hanya merupakan salah satu tanda kekuatan iman. Sementara dalam cerita SGA, berjalan di atas air adalah hal yang sangat penting. siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air. Begitu pula dalam cara berkisah, Tolstoy berbeda dengan SGA. Cerita Tolstoy ibarat sebuah film, penuh adegan yang hidup, yang bisa dibayangkan. Sementara Cerita SGA, lebih banyak narasi yang menggambarkan tentang Siapa dan bagaimana Guru Kiplik itu. Adegan yang merangsang scene film dalam kepala, jauh lebih sedikit.
Kira-kira begitulah pendapat saya. Jika anda punya pendapat lain, silahkan.

29 June 2011
Sumber: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2011/06/29/cerpen-terbaik-kompas-2010-cerpen-plagiat/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.