Langsung ke konten utama

Dodolit: Juara atau Plagiat atau Apa?

A.S. Laksana
Jawa Pos 3 Juli 2011.

Karena tidak bisa hijrah secara fisik dari situasi yang runyam dan satgas-satgas bentukan Presiden, saya memerlukan tindakan mengambil jarak cukup dalam benak saja. Apa yang ingin saya sampaikan tentang pemancungan Ruyati dan pembentukan satgas, misalnya, sudah diwakili oleh komentar satu kalimat dari seorang pembaca berita online, “Negara ini dikelola seperti dalam situasi darurat saja,” Tentang Ruhut Sitompul, sudah diwakili oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, “Ruhut itu pelawak.” Tentang Presiden SBY, saya jadi gagu setelah munculnya SMS dari “Nazaruddin”.

Maka agar lebih tenteram pikiran, saya ingin menggunakan kesempatan kali ini untuk menjawab saja pertanyaan yang minggu ini banyak diajukan ke saya. Yakni tentang terpilihnya cerpen Dodolitdodolitdodolibret karya Seno Gumira Ajidarma sebagai cerpen terbaik buku kumpulan cerpen pilihan Kompas tahun ini. Ada perdebatan yang cukup seru tentang itu. Dari semua pertanyaan yang saya terima (sebetulnya itu semua pertanyaan antarkawan saja), dan juga dari lontaran pertanyaan dalam pembicaraan umum, saya mendapati bahwa persoalannya bisa diringkas saja dalam 2 kelompok berikut ini. Pertama, cerpen itu plagiat atau tidak. Kedua, apakah ia layak menang.

Untuk pertanyaan pertama, jawaban saya tidak. Apa yang dilakukan Seno dengan cerpen Dodolibret ini bukanlah praktek plagiarisme. Seno sudah memberikan pengumuman di akhir cerita bahwa “Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.”

Untuk pertanyaan kedua, apakah ia layak menang, jawaban saya juga tidak. Ia tidak layak dipilih sebagai pemenang, terutama jika itu atas nama Seno Gumira Ajidarma. Menurut saya, Seno bukan penulis cerita ini.

Kisah tentang orang yang berjalan di atas air, dengan plot, setting, dan karakter yang persis seperti itu, sebenarnya sudah menjadi cerita yang nyaris klise. Pesan moralnya juga sebenarnya sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Dalam “Robohnya Surau Kami”, AA Navis juga menyampaikan pesan moral yang serupa tentang kelirunya keberagamaan yang dihayati hanya sebatas syariat.

Pada waktu cerpen Dodolit baru dimuat di Kompas, pertanyaan di seputar plagiarisme Seno sebenarnya sudah pernah ditulis orang di sebuah blog. Masalah yang sama sekarang muncul lagi. Akmal Nasery Basral membuat catatan serius yang disiarkan di facebook-nya tentang kesamaan cerita Dodolit dengan cerpen Tolstoy Tiga Pendeta. Catatan berjudul Dodolit Dodol Tolstoy itu cukup rinci. Hanya rasa-rasanya Akmal tidak tepat ketika mengakhiri tulisan itu dengan pertanyaan apakah cerpen tersebut plagiat atau bukan.

Memang, ketika dibandingkan dengan cerita Tolstoy maupun cerita sufi tentang orang yang berjalan di atas air, cerita Seno sama. Namun, dengan pengumuman yang ia buat di akhir cerita, kita tahu bahwa Seno menggarap cerita itu dengan menggunakan cerita lain sebagai rujukan. Ia kemudian mengembangkan plot yang sama, setting yang sama, karakter-karakter yang sama, dan “pesan moral” yang sama dengan cerita lain yang ia gunakan sebagai rujukan itu–yakni cerita serupa dari “berbagai agama di muka bumi.”

Pengumuman yang dibuat oleh Seno menjadi tameng ampuh yang menghindarkannya dari tuduhan bahwa ia telah melakukan praktek kriminil plagiarisme. Namun tameng pengaman itu terasa agak berlebihan. Dengan satu rujukan saja, entah itu cerita sufi atau cerita Tolstoy, Seno bisa menulis ulang cerita Dodolit dalam bentuk yang seperti itu. Artinya, ia tidak memerlukan pengembaraan untuk menelusuri cerita-cerita serupa dari berbagai agama di muka bumi.

Dengan mempertimbangkan dua hal, yakni pengumuman yang dibuat oleh penulisnya dan segala elemen penceritaan yang identik antara Dodolit dan cerita(-cerita) rujukannya, saya tidak menganggap itu plagiarisme. Namun ia juga bukan karya Seno. Nyaris tidak ada campur tangan Seno kecuali menceritakannya kembali. Kalaupun ada yang orisinil, itu adalah pemberian nama Kiplik untuk tokoh utamanya. Di luar itu, tidak ada tafsir atau hal baru di sana.

Dalam memperlakukan cerita semacam ini, saya kira majalah anak-anak Bobo atau Si Kuncung punya cara yang lebih baik dibandingkan Kompas. Mereka akan memberikan label di bagian bawah: “Dituturkan kembali oleh Kak Seno Gumira Ajidarma.” Dan pada cerita-cerita yang “dituturkan kembali oleh kakak”, anda tidak akan pernah menjumpai klaim bahwa si kakak adalah pengarangnya.

Alasan yang belakangan ini menjadi dasar bagi saya untuk menjawab bahwa mestinya Dodolit tidak menjadi pemenang. Tentu saja cerita itu bagus. Dibandingkan dengan sebagian besar cerita yang ada di buku kumpulan yang sama ia lebih bagus. Diceritakan kembali oleh kakak-kakak yang lain, dengan nama tokoh bukan Kiplik melainkan Gendon, misalnya, kemungkinan cerita itu akan tetap bagus meskipun pesan moralnya sudah menjadi klise. Selain itu, kehebatan orang yang bisa berjalan di air juga sudah dimentahkan oleh kisah sufi yang lain, yang menyatakan bahwa jika kualitas tertinggi keberagamaan adalah sekadar membuat orang bisa berjalan di air, ikan pun mampu melakukannya. Apa istimewanya?

Akhirnya, catatan ini saya tutup dengan rasa heran saya terhadap pernyataan kritikus sastra Arif Bagus Prasetyo. Ia menyebutkan kunci keunggulan Dodolit dibandingkan 17 cerpen lainnya sebagai berikut, “…dengan cerita yang isinya relatif singkat hanya sekitar 40 alinea, begitu banyak lapisan makna yang disajikan Seno.” Lebih jauh dalam epilognya untuk buku tersebut, Arif juga menulis, “…kisah Kiplik dapat dimaknai sebagai parabel religius yang mengabarkan pesan bahwa syariat tidak menggaransi tercapainya makrifat….”

Saya kira ini bukan temuan istimewa, atau sesuatu yang unik, yang menjadikan sebuah cerita punya kekuatan literer. Cerita rujukan Seno bahkan sudah menjadi semacam dongeng rakyat yang mudah ditebak dan Seno menceritakannya kembali dengan cara yang tetap mudah ditebak: orang yang merasa paling benar dalam beragama ternyata keliru, yang dianggap keliru ternyata justru yang lebih benar.

Mengenai keringkasan dan lapisan makna, tampaknya Arif perlu tahu bahwa cerita sufi yang sama, dengan pesan yang sama, hanya memerlukan paling banter empat atau lima dan bukan 40 paragraf.

Sumber: http://as-laksana.blogspot.com/2011/07/dodolit-juara-atau-plagiat-atau-apa.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.