Langsung ke konten utama

Indonesia, Puisi, dan Teks Sejarah

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Bangsa yang kehilangan teks sejarah dan puisinya tak lepas dari kondisi warga negara yang saat ini kehilangan nurani dan akal sehatnya.

Teks sejarah dan puisi sangat paralel dengan nurani serta akal sehat. Ketika masyarakat kerajaan dan tiap suku di daerah mengalami tekanan penjajahan oleh Belanda, sikap kebersamaan untuk menyatukannya sangatlah diperlukan.

Sumpah Pemuda, sekalipun banyak versi, naskahnya ternyata beriring dengan teks ikrar, teks lagu, hingga teks puisi para penyair di masa itu. Sumpah Pemuda menjadikan semua gugusan pulau yang dipisahkan oleh bentangan laut itu menjadi senasib dan sepenanggungan.

Ikrar pertama ini terjadi di tengah tekanan fisik, penjajahan, dan dentum perang yang masih menerjang. Untuk itu, muncullah ikrar kedua, kali ini merupakan sebuah format kedaulatan dan kemerdekaan berbangsa.

Semangat bersama itu mendapatkan formatnya. Lalu, Chairil Anwar melontarkan kegembiraan, keyakinan, juga sambutan kemerdekaan yang egaliter. Teks lainnya yang kemudian menjadi dasar negara adalah Pancasila.

Sumpah Pemuda, lagu “Indonesia Raya” dan Pancasila, tiga pernyataan yang pernah lahir di dalam sejarah bangsa itu, seperti teks yang lahir dari semangat bersama, beriring dan bersambut dengan puisi, lagu, syair dari seniman mewakili masyarakat di peradaban zamannya.

Bahkan, Sumpah Pemuda hingga Pancasila, papar penyair Sutardji Calzoum Bachri kepada SH beberapa tahun silam, “adalah puisi sakral yang menggema dari jiwa bangsa Indonesia”.

Dari bait-bait yang ada, terlihat semangat, optimisme, kebersamaan, kejelasan terhadap tujuan dan keyakinan. Selain tiga teks besar itu, teks lain adalah teks Pembukaan (Preambule) hingga ayat-ayat di UUD 1945.

Teks lain yang ruang lingkupnya lebih kecil berupa kelompok atau komunitas tertentu di dalam sejarah negeri kita, sebutlah Tritura, Trikora, atau Surat Kepercayaan Gelanggang oleh kalangan budayawan Manifestasi Kebudayaan atau pernyataan kaum Lekra.

Dua terakhir lahir dari kalangan budayawan. Kesemuanya berupa pernyataan kebersamaan, semangat, perlawanan, sikap bersama dari komunitas bangsa Indonesia. Kini, teks apakah yang awet dan bertahan bahkan mengundang sikap para seniman, musikus, sastrawan, hingga budayawan?

Ke manakah semangat, pernyataan bersama, perlawanan Indonesia terhadap bangsa penjajah, para imperialis sebangsa, dan imperialis internasional di era global saat ini?

Tidak jelasnya masalah, tidak jelasnya musuh bersama, serta tidak jelasnya konsep berbangsa, kepemimpinan yang tak kuat, membuat teks yang besar dan berwibawa itu tak pernah lagi ternyatakan serta tertulis di kalangan masyarakat, menengah ke bawah atau intelektual sekalipun.

Masalahnya kemiskinan, kebodohan hingga perpecahan. Apa lagi penyebabnya? Tak ada sektor kerja yang riil, tidak mandirinya ekonomi rakyat, dipicu penguasaan investasi asing, tak adanya kebijakan pemerintah, korupsi para pejabat, pencurian terhadap APBN dan uang negara lainnya, subsidi semakin dipotong di tiap sektor, dan proteksi negara terhadap perekonomian rakyat membuat rakyat tak lagi mandiri.

Perubahan UUD 1945 yang dulunya melindungi rakyat bahkan telah diamendemen untuk lebih terbuka pada swasta dan investor asing. Lantas, kenapa tak bersuara, karena kemiskinan perut sehingga tak sempat berpikir politik dan kebangsaankah, atau karena miskin wacana, terlebih lagi miskin imajinasikah?

Pemandulan Makna

Teks lahir bukan dari masyarakat semata, tapi dari pemimpin, kelompok intelektual, budayawan, tokoh agama, pemimpin suku, atau daerah atau marga/klan. Sementara itu, teks kekinian yang lahir dari kelompok penting itu kini tak sesuai dengan kenyataan.

Rakyat tak lagi percaya bahwa teks yang selama ini telah dilahirkan, itu berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Di sisi lain, kemiskinan, penderitaan, beratnya harga bahan pokok, sandang, pangan, dan papan pun mahal, tabungan yang cekak, mewarnai kelas piramida terbawah rakyat Indonesia di negeri ini.

Kelas di piramida terbawah yang nyatanya paling dominan dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Yang repot, tak hanya teks yang lahir, tapi juga pemandulan makna dari teks-teks lama.

Yang muncul belakangan ini justru semuanya adalah teks dari setiap kelompok rakyat, berupa gugatan, lirih, dan pasrah, tanpa semangat, teks yang tak memberikan semesta tujuan dan harapan kecuali menyatakan kegelisahan. Tak ada teks yang sakral dan berwibawa.

Apalagi semacam teks pernyataan “menjaga amanat kemerdekaan”. Yang ada justru gugatan, kritik, makian dari tulisan tiap pribadi demonstran di karton atau spanduk. Teks itu tak pernah berubah menjadi ikrar bersama, karena begitu banyaknya kelompok demonstran.

Ke manakah makna teks itu pergi, atau kapankah teks itu bisa lahir lagi lengkap dengan maknanya, seperti sejarah teks Sumpah Pemuda, Proklamasi, dan Pancasila? Setidaknya, masyarakat dapat kembali membuka harapan yang terkandung dari tiga ikrar bersejarah ini.

Teks yang bermakna, berwibawa, dalam konsep dan praktiknya. Bahkan koran, televisi, telepon genggam, internet, pun tak mampu menjawab teks dengan substansi yang mengena. Jadi, sekarang, jangan cuma di kepala dan wacana saja, mari lahirkan segera teks bersama, yang juga sakral, konkret, dan berwibawa!

20.08.2011 09:45

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.