Langsung ke konten utama

K e c e w a

Chairul Abshar
http://www.suarakarya-online.com/

Bila tidak karena mempertimbangkan kegaduhan yang mungkin timbul, Darwis hendak berteriak sekeras kerasnya dan berlari keliling perkampungan itu. Ia ingin memproklamirkan kegembiraannya kepada semua warga bahwa dia siap bekerja lagi. Semua utangnya akan dibayar lunas. Mang Karta pemilik warung rokok, Mpok Milah pedagang nasi uduk tak perlu was was kalau ia kabur. Kalau perlu, bayar sekalian berikut bunganya. Dan, terakhir, akan dipasangkan di depan rumahnya pengumuman: “Dilarang memandang Darwis sebelah mata”. Pedih rasanya dilecehkan karena menganggur.

Memang, di tangannya kini terpegang surat panggilan kerja. “Anda diharapkan datang Senin 1 Agustus 2011, untuk mulai bekerja. Tentu saja kami akan memberikan pengenalan singkat dan brifing tugas yang menjadi tanggungjawab Anda”. Tertulis jelas di kertas itu.

Mewahnya kertas surat itu memastikan bukan berasal dari perusahaan kacangan. Kertas itu terlalu mahal bagi mereka. “PT Produk Lokal Indonesia” terpampang gagah di tengah atas kertas yang dipegangnya. Nama perusahaan itu terasa aneh, tapi ia tidak peduli.

Surat lamaran mana yang nyasar ke perusahaan itu? Ribuan lamaran dilayangkan sudah. Beberapa saja yang punya alamat jelas. Selebihnya masuk Kotak Pos saja.

Dari semua lamaran yang dikirim, tak satu pun dijawab. Tidak untuk sekadar interviu, apalagi panggilan kerja. Darwis larut dalam angan yang mendadak hadir di relung pikirannya. Ini peluang bagiku. Keadaan mulai berubah. Aku harus ambil posisi itu.

Tiga tahun menganggur, hidup dari pesangon yang sudah minus, seperti sekarang, terasa menyesakkan. Apapun pekerjaan itu, aku tak boleh menampiknya. Ini mungkin satu-satunya kesempatan.

PUKUL ENAM PAGI, Darwis meninggalkan rumah petak kontrakannya. Semangat dan ceria memancar dari wajahnya yang berseri-seri. Siapa pun, yang pernah bertemu dia sebelumnya, akan tercengang. Darwis ceria sekali.
Penuh semangat. Selangkah demi selangkah, ia menjauh dari pintu rumahnya.
“Ceria bener, Bang.”
“Udah kerja lagi, ya, Bang?”
“Enggak sarapan uduk dulu, Bang?”
“Ngutang lagi? Tapi, abis gajian langsung bayar!”
“Biasa aja,” sahutnya nyaris tak terdengar. Entar kalian semua bakal terkagum-kagum, katanya dalam hati.

Darwis terus berjalan mantap. Langkahnya mengayun pasti. Di ujung gang, ia berhenti sesaat, melirik jam tangan. Masih terlalu pagi. Tidak perlu terburu-buru.

BEGITU PINTU LIFT TERBUKA, kakinya mengayun ringan. Menoleh ke aras kanan, di ujung pandangannya ia menatap logo perusahaan yang memanggilnya, mencengkeram dinding ruang tamu. Seorang resepsionis menatapnya.
“Saya Darwis.” Ia memperkenalkan diri. “Saya diminta menghadap pak Marzuki, Manajer Personalia.”
Resepsionis itu tersenyum, menyadari kehadiran Darwis. Terasa ada yang janggal dengan senyum itu.

“Ya, ya Bapak, manajer baru itu, kan?” Senyum itu tetap menempel di bibirnya. “Saya Sonya,” ia mengulurkan tangan. “Selamat bergabung, Pak. Saat ini Pak Marzuki sedang meeting, sebentar lagi selesai,” kata Sonya. “Tapi, Pak Marzuki sudah menugaskan saya mengantarkan Bapak melihat-lihat ruang kerja Bapak.”

“Nah, ini ruangan Bapak,” sahut Sonya membuyarkan kekaguman dan kebingungan yang baru dihadapi Darwis, sambil membuka pintu sebuah ruangan. “Bapak tunggu disini. Silakan isi formulir data karyawan ini.”

“Ini ruang kerjaku?” Darwis bingung lagi. Ia ingat ruang direktur marketing di kantor lamanya. Fantastis, pikirnya. Ruang manager baru sudah semewah ini?
Marzuki Nasir, manager personalia ditemui Darwis, ternyata sama dengan lainnya. Murung sekali wajahnya.

“Silakan Pak Darwis,” sahutnya kepada Darwis yang telah berdiri di pintu, sambil menunjuk kursi di seberang meja kerjanya. “Dari mana Bapak tahu kami membuka lowongan ini?” tanya Marzuki.
Darwis terkejut, tidak menyangka ditanya begitu. “Apa Bapak tidak bikin iklan lowongan?” tanyanya.
“Tidak, sama sekali tidak pernah.” jawab Marzuki.
“Ada kebijakan di sini, kami tidak diperkenankan mengiklankan apa pun dalam menjalankan bisnis ini.”
“Bagaimana resume saya bisa sampai ke tangan Bapak?” Darwis bertanya dalam kebingungannya.
“Surat lamaran Anda, ada dalam kotak pos kami!”
Kebingungan Darwis kian menjadi. Ia terdiam beberapa saat. “Boleh saya tahu berapa nomor kotak pos itu?”
“9999 JKS.”

Jantung Darwis berdetak cepat. Seketika ia ingat. Ia memang mengirimkan satu set berkas lamarannya ke kotak pos itu. Ia bahkan tidak tahu bahwa kotak pos itu memang ada. Hanya iseng saja mengirimkannya.

Frustrasi karena tak satu pun lamarannya direspon, jadi sisa yang dimilikinya dikirim sembarang saja. Kata orang, 9 angka hokky. Darwis masih bingung.
“Ya, sudahlah,” sahut Marzuki mengerti kebingungan Darwis. “Sepertinya Anda memang berjodoh kerja disini.”
“Apakah saya diterima langsung bekerja?”
“Ya, setelah Anda menandatangani perjanjian kerja.Apa surat panggilan kami kurang jelas?”
“Jelas sekali. Hanya … sedikit kaget. Tidak pernah begini sebelumnya,” sahut Darwis lega.
“Apakah ada seseorang yang mereferensikan saya?”
“Oooo, kami tidak menanggapi referensi apa pun.”
“Apakah Bapak merasa cukup dengan resume saya?”

“OK. Bekerja di sini tidak sama di tempat lain. Kami tidak mementingkan formalitas. Anda akan rasakan bedanya, nanti setelah bergabung kerja di sini.”
Darwis masih bingung dengan persoalannya.”Bagaimana Bapak bisa yakin, saya mampu bekerja di sini?”

“Sudahlah, tidak perlu Anda pikirkan. Seperti saya katakan, Anda berjodoh kerja disini. Pengalaman Anda sangat membantu. Ada beberapa hal yang Anda ketahui sebelum Anda menandatangani surat perjanjian kerja.”

“Selayaknya perusahaan multinasional, semua perhitungan biaya operasional dilakukan dalam dolar, termasuk gaji karyawan.” Dia berhenti sesaat, “Tentu saja yang Anda terima sudah berupa rupiah. Konversi yang kami gunakan adalah kurs rata-rata,” Marzuki nyerocos tanpa memberi kesempatan Darwis berpikir.
“Itu sangat fair,” Darwis berkata lirih.

“Sebagai manajer baru, basic salary Anda sebelum pajak adalah 1500 dolar Amerika.” Ada penekanan khusus, yang dirasakannya pada kata Amerika, “Setelah potong pajak dan potongan resmi lain, Salary Anda 1200 dolar.”

HERU DHARMA adalah Direktur PT Produk Lokal Indonesia. Ia orang kedua. Orang pertamanya berkebangsaan Jerman sebagai regional operation director.

“Perusahaan ini merupakan perusahaan multinasional yang berpusat di Tel Aviv, Israel,” sahut Sang Direktur memperkenalkan perusahaan itu. “Perusahana ini merupakan representative office untuk kawasan Southeas Asia dan sudah beroperasi lebih dari sepuluh tahun di Indonesia. Cabang perusahaan ini menyebar di berbagai negara,” lanjutnya. “Pemiliknya adalah raksasa produsen consumer good dunia, advertising agency global, dan banyak biliuner terkaya dari berbagai negara.”

“Kami punya banyak pabrik, memproduksi berbagai consumer good di pelbagai kota. Pasta gigi, sampo,sabun kesehatan, sabun kecantikan, dan lain-lain.”

“Market share kami tidak berkembang pesat. Tapi,penjualan kami tetap tumbuh konstan. Gejolak ekonomi dan krisis moneter tidak berpengaruh.”

“Persoalan yang sedang kami: image.Karena itulah akhirnya diputuskan untuk mengadakan brand image departemen ini, sehingga masalah itu ditangani serius. Andalah yang memimpinnya, Bung Darwis. ”
“Sebentar, Pak,” Darwis menyela pembicaraan.”Kalau diijinkan, saya ingin bertanya.”
“Silakan. Apa saja.”
“Saya bingung. Rasa-rasanya saya belum pernah menemukan produk perusahaan ini di pasaran.”

“Tentu, Bung tidak akan pernah menemukannya di pasar. Produk kami untuk kalangan terbatas. Anda sering mengamati iklan di televisi?”
“Tidak sampai mengamati, tapi saya sempat melihatnya,” jujur Darwis menjawab.

“Hahaha…” Heru Dharma terbahak. “Tak seorang pun benar-benar memperhatikan iklan di televisi, tapi mereka semua ngoyo, tetap saja memutar iklan itu. Memang begitu kenyatannya. Itu terjadi dimana-mana.”

Kejanggalan lain menyeruak di benak Darwis. Bagaimana bisa orang tertawa sementara rona wajahnya murung? Apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini?

“Suatu kali, Bung pasti pernah melihat iklan yang membandingkan dua produk sejenis.Sabun ini dengan sabun produk lokal. Dan, semua produk lokal kalah mutu.”
“Ya pernah. Sering malah,” Darwis mengangguk.

“Mereka keterlaluan.” muka Heru memerah marah. “Seharusnya mereka mempertimbangkan perasaan kita. Egois!.” ketus sekali kata “egois” itu diucapkannya.
Darwis kaget. Emosi bapak ini seperti tidak stabil. “Bung kira, siapa yang bikin semua produk itu?”
Darwis terkesiap. “Saya pikir, semua itu untuk menjaga etiket beriklan saja.”

“Semua orang akan mengira begitu. Tapi, semua itu adalah produksi perusahaan kita. Kami yang menyuplai mereka. Tentu berdasarkan spesifikasi order mereka.”
“Jadi sebenarnya yang diproduksi hanyalah pembanding supaya produk di pasaran seakan lebih baik?”

“Begitulah, Bung Darwis.Kita diadakan, diperintah untuk membuat produk serampangan. Mereka ingin produk mereka berkesan wah. Supaya produk mereka diserbu pembeli. Kalau saja kita diijinkan melempar produk kita ke pasar dan mengiklannya, keadaan tidak akan begini.” Miris sekali Heru mengucapkan kalimat itu.

Darwis melongo. Ia benar-benar tidak pernah menyangka begini. Produk Lokal ternyata merek dagang resmi. Merek dagang yang sengaja diciptakan untuk menjadi loser, supaya produk di pasar jadi superior.
“Kenapa Bapak betah bekerja di sini?”

“Betah? Saya betah bekerja di sini?” Wajahnya kembali murung seperti lainnya. “Dulu, ada staf saya yanf sangat idealis. Ia tidak terima perlakuan ini, dan tiba-tiba saja menghilang. Ia bukan aktivis anti Status Quo. Tapi, ia memang tidak pernah ditemukan kembali. Dirumahnya, di kampungnya, tidak ada. Demi kerahasiaan, mereka tak segan-segan bertindak biadab.”

Darwis kecewa dengan kenyataan yang dihadapinya. Ia merasa dijebak sedemikian rupa, sekaligus meragukan pula siapa yang menjebaknya. Mereka? Ataukah keadaan yang terasa tidak berpihak kepadanya?

SORE HARI, tepat pukul 18.00, Darwis masih terhenyak di ruang kerjanya. Ruang kerja yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Rapi, megah.Mungkin hanya direktur atau pengacara yang punya ruang seperti itu. Para pegawai lainnya sudah pulang. Hari pertama bekerja di kantor barunya merupakan hari yang panjang.

Darwis akhirnya kecewa. Tidak ada yang bisa dibanggakan kerja disini. Ia baru sadar, kenyataan inilah yang menyababkan semua orang disini jadi serba misterius. Senyuman hambar, tak bersemangat, serba murung. Perubahan emosi secara mendadak. Ini gila, pikirnya.

Akankah aku siap hidup tanpa semangat memperoleh pengakuan? Bukankah orang di luaran sana berjuang banting tulang, bunuh-bunuhan untuk sebuah pengakuan? Sementara aku disini, hanya diakui sebagai pecundang.

Hidupku sudah tergadaikan. Aku sudah jadi manusia tanpa kebanggaan. Mukanya masam memikirkan semua itu. “Indak karajo, nak karajo. Alah karajo, mancilobia”.*) Pepatah yang ia dengar di kampung terngiang-ngiang kembali di benaknya. Keadaan yang ia alami sampai akhirnya memperoleh pekerjaan ini digambarkan persis oleh kalimat-kalimat tua itu.

Pantaskah hidup ini ditukar begitu saja dengan sejumlah materi? Apakah ia memiliki pilihan? Ia sama sekali tidak yakin! ***

* Padang, 2011

*) Ungkapan ini sering digunakan masyarakat Minang bagi orang yang sangat kecewa pada pekerjaannya: “Tidak bekerja, ingin bekerja. Setelah dapat pekerjaan, ternyata mengecewakan hati.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.