Langsung ke konten utama

Serambi Mekah dalam Paragraf Jurnalistik

Judul : Jangan Tulis Kami Teroris
Penulis: Linda Christanty
Cetakan: I, Mei 2011
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: 147 halaman
Peresensi: Welly Adi Tirta
Lampung Post, 10 Juli 2011

SETELAH bertahun-tahun bumi Aceh bergolak dengan konflik, masalah terbesar ada pada psikologis masyarakatnya. Hal ini lalu berdampak pada ranah yang lain, misalnya, pendidikan. Anak-anak korban konflik yang kehilangan bapak dan ibunya menderita psikis yang amat sangat. Mereka hidup di pengasingan, di rumah yatim piatu, atau rumah yang dikelola lembaga swadaya masyarakat.

Dayah, bahasa Aceh untuk pesantren, juga acap distigmakan dengan teroris. Mungkin pihak keamanan beranggapan dari sinilah bibit perlawanan terhadap pemerintahan yang sah itu bermula.

Mungkin memang ada, tapi jumlahnya sangat sedikit. Lebih banyak lagi yang fokus pada pengajaran. Bumi Aceh belakangan dikaitkan lagi dengan teroris karena ada pelatihan militer di Pegunungan Jalin, Jantho, Aceh Besar. Dayah Mujahiddin diprediksi menyumbang saham atas pelatihan militer yang kemudian membawa nama Abu Bakar Ba’asyir.

Dayah Mujahiddin memang sempat menjadi berita besar. Selain soal pelatihan militer, santri dayah ini acap melakukan razia terhadap perempuan tidak berjilbab.

Sekretaris dayah ini, Teuku Mukhtar Ibrahim, dinyatakan aparat terlibat dalam pelatihan teroris di Pegunungan Jalin, Jantho. Namun, sebelum ditangkap, Mukhtar menyerahkan diri kepada polisi.

Dia juga menyerahkan sepucuk senapan M 16, tiga pistol Colt, dan ratusan peluru. Tengku Muslim yang menyarankan Mukhtar melakukan hal ini karena dia mendengar Mukhtar menjadi target polisi. Ujung-ujungnya, Muslim malah diinterogasi polisi. Mukhtar langsung ditahan, tapi dia bebas. Mukhtar kelak dijebloskan ke penjara Kantho.” (hlm. 63)

Wartawan acap sulit mengakses informasi kepada mereka yang diduga tahu banyak soal pergerakan Islam dan teroris. Saat penulis buku ini melakukan reportase, kesulitan itu juga ditemui. Kata orang-orang dayah, dulu ada wartawan BBC datang, dimintai 50 sak semen untuk sumbangan!

***

Linda adalah wartawan dan sastrawan. Ia pernah meraih Khatulistiwa Literary Award tahun 2004 untuk buku cerita pendeknya: Kuda Terbang Mario Pinto. Esainya Kekerasan dan Militerisme di Timor Leste mendapat penghargaan sebagai esai terbaik hak asasi manusia tahun 1998.

Linda juga mendapat penghargaan dari Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional untuk buku kumpulan tulisannya: Dari Jawa Menuju Atjeh pada 2010. Tahun itu pula buku kumpulan cerita pendeknya, Rahasia Selma, meraih Khatulistiwa Award 2010. Kini ia memimpin dan menjadi pemimpin redaksi pada kantor berita Aceh Feature.

***

Buku Linda kali ini mayoritas berbicara soal Aceh. Narasumbernya tepercaya. Ada yang merupakan keturunan langsung orang-orang DI TII semasa Daud Bereueh dan Hasan Tiro.

Selain itu, ada juga reportase Linda ke beberapa daerah konflik di Asia Tenggara, seperti Kamboja dan orang-orang Patani di Thailand Selatan. Semua pernah dipublikasikan di media tempat menjadi pemred.

Selain itu, ada pula tulisan yang berasal dari publikasinya di akun Facebook. Semua sama baiknya. Editing yang manis menjadikan buku ini enak dibaca. Linda memang piawai menyusun narasi dengan bagus. Meskipun kumpulan dari beberapa artikel, kesatuannya cukup terasa sehingga antarbab mempunyai keterikatan yang kuat.

Welly Adi Tirta, pembaca buku
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/07/buku-serambi-mekah-dalam-paragraf.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.