Langsung ke konten utama

Kado Lebaran Buat Pengarang Serius

Joni Ariadinata
http://majalahannida.multiply.com/

Di tengah realitas fakta yang kadang kala jauh lebih “imajinatif” ketimbang fiksi, apa yang bisa dilakukan oleh karya sastra? Lalu apa menariknya fiksi (yang konon imajinatif itu), jika pada kenyataannya tidak lebih imajinatif dari fakta?
Selamat lebaran, bagi kamu-kamu yang ingin berpikir serius!

Bayangkanlah, jika pada tahun 70-an sebuah cerpen AA Navis menggegerkan pembaca gara-gara sang penulis menjodohkan tokohnya yang masih bersaudara dalam sebuah perkawinan (kakak-beradik, akan tetapi masing-masing tak mengetahui bahwa mereka sesungguhnya bersaudara). Nah, lantaran kegegeran itu, sehingga belakangan penulisnya (yakni AA Navis) dengan berbagai pertimbangan tertentu akhirnya “merevisi” cerpen tersebut dengan mengubah akhir kisah tokohnya “tidak jadi menikah”, yang tentu saja menjadikan cerpen tersebut tidak lagi menjadi cerpen yang istimewa. Pada masa cerpen itu ditulis, masyarakat bereaksi karena dianggap bahwa fiksi itu terlampau imajinatif, nganeh-anehi, alias mustahil! Dalam arti kata, fiksi ya boleh saja fiksi, akan tetapi mbok jangan terlalu fiktif gitu lho…

Nah, marilah kita bandingkan dengan kondisi saat ini, di mana keanehan dan kemustahilan fiksi justru telah dikalahkan oleh fakta. Fakta yang terjadi, bisa jauh dari hebat dari hanya sekadar fiksi. Nyaris tak pernah terbayangkan (barangkali juga di kepala AA Navis dan di kepala para pembaca sastra pada tahun 70-an), bahwa di era yang konon modern ini, ada banyak fakta yang bisa dengan gemilang melebihi daya imajinatif karya-karya fiksi. Mau bukti? Marilah kita ajukan beberapa contoh. Dan silakan kamu-kamu bingung menyebut, antara fiksi atau fakta kah deretan peristiwa ini di bawah ini.

Ada seorang ayah yang tega mengawini 2 anak kandungnya sendiri (kakak-beradik) hingga beranak pinak!, hidup bersama istri (ibu kandung dari 2 anak yang dizinahi ayahnya itu) dan lebih imajinatif lagi, masyarakat acuh saja dan membiarkan “keluarga ganjil” ini hidup tenteram, dan terus-menerus berkembang-biak. Lalu bandingkan: lebih imajinatif mana drama Shakespeare atau legenda Sangkuriang yang fiksi, dengan fakta di negeri kita bahwa ada ibu mengawini anak lelakinya yang dengan lantang bilang di televisi dan di koran: “Jangan pisahkan cinta kami, wahai siapa pun! Karena kami telah saling mencintai dan lebih baik mati daripada hidup terpisah…” (he-he, romantis, nggak?).

Nah, belum lagi peristiwa-peristriwa sosial, kebudayaan, dan politik yang bikin orang normal bergidik, misalnya: (1) ada orang tega memakan mayat, dan “ribuan” zombi di medan-medan kerusuhan di mana harga kepala manusia menjadi amat murah terpancang di pagar-pagar, ditumpuk di ruang-ruang, ditendang anak-anak sebagai pengganti bola, (2) ada orang-orang saleh dan bermartabat (ribuan orang bermartabat dan berpendidikan) ramai-ramai memakan dana bantuan korban bencana, dan mereka lakukan tanpa malu-malu, tanpa rasa jijik, (3) kejahatan dunia hukum/peradilan di negeri ini, jauh melebihi daya imajinasi orang-orang waras mana pun yang masih memiliki hati nurani, (4) kejahatan korupsi memakan harta haram di negeri ini jauh melebihi kerusakan moral bangsa mana pun di dunia, (5) kerusakkan alam, hutan-daratan-langit, di negeri ini yang nyaris tanpa konsep yang akan menyisakan derita panjang ratusan tahun bagi generasi yang akan lahir, (6) kerusakan dunia pendidikan, kebudayaan, agama, dsb, dsb.

Faktakah? Ataukah fiksi? Jika sebuah harian menyebut, berdasarkan survei 80% siswa SMA di sebuah kota tidak lagi perawan, masihkah itu kalian anggap fiksi? Jika ada dua perguruan tinggi yang mestinya menjadi contoh perilaku intelektual malah tawuran persis seperti preman yang tak pakai otak, masihkah itu kalian anggap fiksi? Jika ada sebuah negara yang konon makmur, penghasil minyak, gas, emas, batu bara, timah, besi, dsb, dsb; akan tetapi 80 juta rakyatnya dibiarkan hidup di bawah garis kemiskinan, masihkah itu kalian anggap fiksi?

Peristiwa-peristiwa besar yang jauh dari nalar, kadang kala membuat banyak penulis menjadi gagap. Buntu. Kehabisan daya kreatif. Sehingga banyak (bahkan para penulis serius pun) yang kemudian lari dari realitas, dan menulis tulisan-tulisan yang “sama sekali nggak nyambung”. Bagi penulis yang bertanggung jawab dan bermoral, “kegagapan” ini akan menjadi sebuah jeda tempat dia berintrospeksi, dan menyusun kekuatan untuk kelak bisa menghasilkan karya yang bagus.

Akan tetapi, bagi para penulis yang tak bertanggung jawab, inilah yang kemudian menjadi persoalan serius dalam dunia sastra. Bisa kalian bayangkan, ada pengarang yang tega, di tengah kehancuran moral, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kebangsaan, degradasi agama, dsb, dsb, kok tega-teganya menulis tema (misalnya): “Kemaluan yang Mengambang di Sudut Langit”, atau “Diary Diana Kekasih Gelapku”, atau “Pacarku Janda Ibu Kos Tempatku…”. Di manakah kualitasnya sebagai manusia? Celakanya lagi, para pembaca meresponsnya, menjadi bacaan best seller, menjadikan pengarangnya seorang selebritis, dan para kritikus memujinya. Nah, lengkaplah sudah realitas fakta yang lebih “imajinatif” dari fiksi ini, yang ternyata juga menerjang dengan telak terhadap moral dan perilaku para pengarang!

Selamat Idul Fitri, wahai kalian para penulis muda, yang masih bisa berkarya dan berpikir dengan jernih. Mumpung Lebaran, hari baik untuk saling memaafkan, maka maafkanlah jika tulisan ini menyakiti kalian yang sudah berniat menjadi penulis pecundang, yang lari dari realitas.

Saat ini, Annida memilih sebuah cerpen dengan kualitas yang bagus. Sebuah cerpen pemenang Lomba Menulis Cerpen Islami (LMCPI) yang diadakan oleh majalah Annida beberapa saat yang lalu. Cerpen ini ditulis oleh Hanan Novianti dengan judul “Onengan”.

Ada secercah harapan, bahwa masih banyak (dengan jumlah ratusan) para pejuang pena semacam Hanan Novianti yang tidak terjebak untuk menulis hal-hal yang ringan dan “nggak nyambung”. Dengan penuh kecermatan dia mencatat, mengadakan riset, dan kemudian menuliskannya dengan teknik dan kemampuan bahasa yang cukup memadai. Tema yang ia angkat, sekilas memang tampak sepele dan sederhana, yakni betapa sulit sesungguhnya seseorang dalam mengendalikan hati untuk memiliki keikhlasan serta kerendah-hatian dan prasangka baik. Akan tetapi kemampuannya mengangkat tema sederhana ini, dengan memadukannya bersama kekuatan unsur lokal (Jawa) yang penuh dengan perlambang, serta dipadu oleh kapasitas pengetahuan agama yang dimiliki penulisnya; menjadikan cerpen ini pantas untuk menerima penghargaan. Cerpen yang memulai dari dunia yang kecil, untuk menganalisis serta menyentuh persoalan-persoalan besar dari sisi kualitas pribadi seorang individu; menjadikan cerpen ini layak untuk dibaca. Layak dijadikan bahan perbandingan, bagi kamu-kamu, wahai para penulis muda yang masih memiliki segenggam idealisme.

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Yogyakarta, 20 Oktober 2005

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.