Langsung ke konten utama

Sapardi Djoko Damono Tak Tergetar oleh Sihir Lebaran

Wawancara pada Sapardi Djoko Damono
http://layar.suaramerdeka.com/

PROFESOR Dr Sapardi Djoko Damono lahir 20 Maret 1940 di Surakarta. Ia, kita tahu, adalah salah satu budayawan penting Indonesia. Pada 1986 penyair ini mendapatkan SEA Write Award. Ia juga menerima penghargaan Achmad Bakrie pada 2003. Tentu sebagai orang Jawa pendiri Yayasan Lontar ini memahami benar makna Lebaran. Apa komentar dia tentang pesona mudik dan makna pulang kampung? Berikut perbincangan dengan dia di Jakarta, belum lama ini.

Sebagai individu yang telah melanglang buana ke berbagai penjuru dunia, Anda jelas-jelas menjadi manusia global. Manusia yang mungkin tidak lagi memiliki getaran yang dahsyat untuk ”pulang”. Apakah kata ”pulang” masih punya makna penting dalam kehidupan Anda?

Bukan hanya sekarang, sejak dulu kata ”pulang” tidak pernah menjadi kata penting. Tidak jelas lagi pulang itu ”balik ke mana”. Makna rumah pun bagi saya tidak begitu jelas. Saya tidak pernah merasa punya rumah, sehingga tidak punya getaran untuk pulang. Jika saya pergi ke Solo, memang terasa lain. Ini akibat sampai SMA saya masih di kota itu. Saya memang benar-benar menikmati masa kanak-kanak sejati di situ. Hanya bukan rumah yang menyebabkan perbedaan, melainkan Solonya.

Anda tidak pernah merasa memiliki ikatan dengan tanah asal?

Ya, Solo itu tanah asal saya. Hanya, tidak ada satu rumah pun di kota itu yang saya anggap sebagai rumah, tempat untuk pulang.

Jadi, selama itu pula Anda tidak pernah terpesona dengan makna mudik?

Tidak pernah. Jika saya mudik, itu berarti saya hanya ingin bertemu dengan ibu saya. Jadi home saya itu ibu, bukan tempat, bukan rumah. Nah, ketika ibu saya sudah meninggal, ya saya tidak home lagi. Tidak mudik lagi. Apalagi kini saya anak tertua, tidak mungkin saya mudik hanya untuk bertemu adik.

Yang juga menarik, keluarga saya itu bukan tipe komunitas yang suka mudik. Tidak ada aturan yang muda harus sowan kepada yang tua. Maka, getaran dahsyat untuk pulang memang tidak ada.

Lebaran identik dengan kembali ke kesucian, kembali ke asal muasal, apakah dengan demikian saat orang beramai-ramai mudik, sesungguhnya mereka sedang melakukan identifikasi terhadap akar kebudayaan?

Saya kira tidak begitu. Lebaran telah menjadi rutin dan tidak berkait dengan proses kembali seseorang ke akar kebudayaan. Sebenarnya jika hanya ingin pulang dan mendapat akar kebudayaan, tidak harus pada saat Lebaran. Memang harus saya akui Lebaran memiliki sihir yang aneh, yang menggerakkan sebagian besar manusia pulang ke kampung untuk bertemu dengan orang-orang tercinta. Akan tetapi fungsinya tidak sebesar keinginan orang untuk kembali ke akar kebudayaan. Mereka pulang untuk bertemu orang yang masih harus dikunjungi. Bukan untuk kepentingan-kepentingan agung kebudayaan.

Tradisi sungkem saat mudik, misalnya, dulu muncul karena radius orang bepergian masih sempit. Jika sekarang masih ada tradisi semacam itu —dengan radius yang lebih luas— itu hanya pelanjutan kebiasaan orang-orang yang dulu melakukan sungkem. Yang sejak dulu tidak melakukan, ya sekarang tidak akan repot-repot sungkem-sungkeman juga. Demikian juga ujung-ujung terjadi karena orang ingin melanjutkan sesuatu yang dulu pernah menjadi bagian dari kehidupannya. Dengan kata lain, orang-orang yang sejak dulu tidak memiliki ”akar kebudayaan” semacam itu, pada saat Lebaran juga tidak akan menyelenggarakan sesuatu yang dianggap sebagai kembali ke akar kebudayaan itu.

Lebaran saya kira menjadi pemicu untuk melaksanakan ”kebiasaan untuk pulang” bersama-sama sekalipun kadang-kadang kampung asal mereka sudah menjadi waduk, sudah jadi lokasi pabrik, atau lenyap sama sekali.

Lebaran juga tidak identik dengan warna keagamaan yang jelas. Karena itu, ia bukan ritual. Siapa pun bisa ber-lebaran. Jadi bukan agama, bukan akar kebudayaan, atau apa pun yang menggerakkan orang pulang ke tanah asal pada saat Lebaran. Penggeraknya hanyalah sesuatu yang profan bernama kebiasaan.

Dalam kehidupan pribadi Anda, apakah ”akar budaya” itu penting sekali? Jangan-jangan akar atau asal muasal itu sudah sulit dicari?

Akar budaya itu sesuatu yang kita terima dalam saat-saat pembentukan. Akar-akar budaya itu memang tidak akan pernah hilang dari kepala saya. Setelah kita berkembang ke mana-mana, akar itu tetap saja. Akar-akar budaya itu muncul dalam setiap tulisan kita. Semua —perasaan, bau, atau apa pun— muncul secara otomatis. Nah, akar kebudayaan saya sejak dulu tidak pernah mengistimewakan Lebaran atau mudik.

Energi (kebudayaan) macam apa yang sesungguhnya membuat orang melakukan selebrasi Lebaran secara besar-besaran? Mengapa ”kepulangan” seakan-akan menjadi ideologi tunggal yang tak bisa dilawan? Apa ia telah menjadi mitos?

Apa ya…? Sekali lagi energi itu bernama kebiasaan. Namun, saya menduga ini hanya merupakan bentuk ikatan orang terhadap orang, bukan orang terhadap tempat. Jika seseorang tidak lagi memiliki ikatan dengan seseorang di suatu tempat, saya yakin benar mereka tidak akan melakukan tindakan tak masuk akal itu.

Kumpul juga merupakan fenomena unik dalam kebudayaan Jawa. Bisa saja mereka bersusah-susah bepergian dari Jakarta ke suatu tempat di Solo hanya karena digerakkan oleh keinginan berkumpul dengan kawan-kawan atau saudara yang berasal dari kota lain di Indonesia. Mereka, dengan demikian, kan tidak pulang ke rumah mana pun. Bisa saja mereka akan bertemu di sebuah hotel di Solo. Tentang mengapa harus berkumpul pada hari Lebaran, itu memang dianggap waktu yang paling memungkinkan untuk berkumpul.

Dengan berkumpul mereka merasa at home. Untuk orang-orang semacam ini pulang tidak menjadi kosa kata yang penting. Yang sangat diinginkan adalah berkumpulnya.

Dulu, ketika ibu saya masih tinggal bersama saya di Depok, saudara-saudara saya menganggap pulang itu ya ke rumah saya. Rumah saya menjadi tempat berkumpul karena ibu sebagai home atau sentral tinggal di situ. Tempat, karena itu, bisa diboyong ke mana-mana sebagaimana berkumpul itu bisa juga diselenggarakan di mana-mana.

Sekali lagi, makna rumah sesungguhnya sudah bergeser. Rumah bisa dipindah-pindah sesuai mobilitas orangnya. Jika rumah sudah tak berkait lagi dengan tanah asal, bagaimana kita akan memaknai istilah pulang atau mudik.

Yang mengerikan lagi, begitu banyak orang pulang ke tanah asal, mereka menggila pergi ke daerah lain setelah Lebaran usai. Ini kan aneh?

Ya, sangat aneh. Karena itu tak banyak saya tulis tentang tema ”pulang” dalam sajak-saja saya. Jika pun ada, pasti tidak berisi ajakan untuk pulang ke rumah. Dan dalam kenyataan orang pulang karena mencari ”trah”. Bukan mencari tempat. Tak ada jalan pulang sekarang ini. Sebab begitu sampai ke tanah asal, mereka tidur di hotel.

Bagaimana kebudayaan menjelaskan kegilaan orang untuk menegakkan spiritulitas Lebaran?

Pertama, untuk kumpul. Kedua, untuk bertemu orang. Mereka akan melakukan identifikasi kolektif gila-gilaan jika ada dua unsur yang menjadi penyebabnya.

Kegilaan semacam ini ada di belahan dunia lain atau tidak sih?

Di Barat memang ada homecoming. Namun, tetap saja hal itu terjadi karena seseorang ingin bertemu dengan orang lain. Bukan sedang mati-matian menghormati tempat asal atau rumah asal.

Anda apakah mengira Lebaran kali ini akan praktis dan pragmatis?

Pada mulanya orang memang akan mencari tanah atau tempat asal-usul pada saat Lebaran. Namun begitu zaman berubah, saya yakin mereka tidak lagi mencari tanah asal. Itu sebabnya sikap praktis dan pragmatis menghadapi Lebaran akan muncul. Jadi, ngapain memistifikasi Lebaran ketika konsep tempat, pulang, dan segala hal yang berkait dengan mudik berubah. Jadi, lupakan saja bahwa sihir Lebaran itu sebagai sihir kembali ke asal.

Menurut saya istilah ”pulang” lebih baik dimaknai sebagai pulang ke masa kecil. Dan pulang ke masa kecil bisa dilaksanakan kapan saja tidak hanya pada saat Lebaran. Lebaran yang pulang kampung adalah Lebaran agraris. Lebaran yang sekarang jelas sudah merupakan Lebaran yang industrialis…dan saya tak tergerak untuk pulang oleh sihirnya…

Biografi
Prof Dr Sapardi Djoko Damono
Surakarta, 20 Maret 1940

Riwayat Pendidikan:
Setelah kuliah di Jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengikuti program doktor di Universitas Indonesia, studi pada Basic Humanities Program, Honolulu, Universitas Hawaii AS (1970-1971). Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada Majalah Horison, Basis, dan Kalam.

Penghargaan:
Pada 1986 ia mendapatkan anugerah SEA Write Award.
Pada 2003 menerima penghargaan Achmad Bakrie.

Karya-karya:

Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisi yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esai, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Beberapa puisinya sangat populer. ”Aku Ingin” (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), ”Hujan Bulan Juni”, ”Pada Suatu Hari Nanti”, ”Akulah si Telaga”, dan ”Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari” kerap dimanfaatkan sebagai ungkapan liris dalam kartu.

Buku-buku:
- Duka-Mu Abadi, Bandung (1969)
- Lelaki Tua dan Laut (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
- Mata Pisau (1974)
- Sepilihan Sajak George Seferis (1975; terjemahan karya George Seferis)
- Puisi Klasik Cina (1976; terjemahan)
- Lirik Klasik Parsi (1977; terjemahan)
- Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak (1982, Pustaka Jaya)
- Perahu Kertas (1983)
- Sihir Hujan (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
- Water Color Poems (1986; translated by JH McGlynn)
- Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono (1988; translated by JH McGlynn)
- Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
- Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama RF Brissenden dan David Broks)
- Hujan Bulan Juni (1994)
- Black Magic Rain (translated by Harry G Aveling)
- Arloji (1998)
- Ayat-ayat Api (2000)
- Pengarang Telah Mati (2001; kumpulan cerpen)
- Mata Jendela (2002)
- Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002)
- Membunuh Orang Gila (2003; kumpulan cerpen)
- Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870-an -1910-an) (2005; salah seorang penyusun)
- Mantra Orang Jawa (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com