Langsung ke konten utama

KEMBANG JATI JENGENE OPO? OPO

(Bunga jati namanya apa? Apa)
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Kaca benggala menyerupai udara padat sebening kaca tebal lawas, memantulkan sifat nun sanggup ditembusi cahaya. Para terpelajar berkata; ilmu filsafat melalui garba bertanya. Kini aku tampilkan sekuntum bunga pertanyaan adalah kembang pohon jati. Siapa bertanya akan balik tanya kepada penanya. Inikah masa-masa tepat mempertanyakan jati diri?

Jika dipurbakan bolehlah dinamai pohon keabadian, letak mustika insan dalam diri. Siapa tertunduk kelihatan, yang mendongak tidak mampu meresapi kesadaran. Melafali fitroh teremban, lelaku takdir sudah digariskan alam pribadi di luar pun yang melingkupi.

Membaca ini serasa menyimak gending-gending jelita dibawa kekinian terlupa jenjang perburuan serampang, atau mengejar bayangan tanpa pedulikan cahaya kesungguhan.

Kiranya cahaya menyatu, kala kaki-kaki bersimpuh merasai tulang iga ingatan. Kejadian ditambahkan tebalnya ruh memaknai hayati. Manusia bersegala perangkat menggelinjaki darah hidup mempuni.

Pada baris-baris puisi, gegaris itu bernilai keuniversalan makna mencakup bebidang keilmuan. Puisi ialah filsafat atau filsafat mewujud puisi, kata sebagian orang utama. Meski ada fahaman lain tak harus dihakimi, nyatanya hukum terluhur sang waktu; berkisarnya kematangan usia keadaban menggali tanah-tanah pekuburan.

Tak lama gugusan berkilauan, olehnya kehati-hatian merawat pelukan perjalanan kesetiaan ditempuh. Betapa banyak insan kecewa bercerita keunggulannya di masa lampau, sedang kediriannya kini terkikis. Sebab tak setiai kunjungan awal, padahal niatnya tertancap manunggal sebelumnya.

Di sini letak keharusan perbaharui niatan, menghirup hawa lama tergerus perubahan. Melewati jalan-jalan kecil akan berbalik kesadaran melangkah. Energinya bertambah kepenuhan, lantas hiasan tak perlu dihirau. Kecuali menyelidik ulang di sela-sela waktu tepat berkembang.

Pohon jati dilindas kemarau panjang, batangnya menyimpan sisa-sisa nyawa pada lelapisan terdalam. Saat datang gerimis, tampak wajahnya sumringah. Mulut lama terbekam keluar nafasan seksama, sehembusan gairah syaraf-syarat kelenjar kelanjutan.

Daun-daun jati berkulit kasar tak cepat layu hembusan bayu terik mentari, meski lama terpetik. Ini berbanding dedaun lain mudah kering. Aku temukan batangnya bertahan serupa hikmah puasa, apalagi saat-saat haus melanda.

Kekurangan jelma pemicu. Mengokohkan tekad bulat hampir mencapai pendapatan, meski belum beranjak. Faham keuletan ini menjejak otot-ototnya, sehingga tak was-was yang bertopang.

Karena menyusuri musim sejumput pun kita tak tahu, selembut apa dirinya membatang pelan-pelan. Dedaun rontok diikhlaskan dalam jiwa menyetubuh, seumpama dendam manis berolah kasih sayang.

Rindu bersimpan jasad pertapaan, gua tidak memanggil pengelana. Yang bersinggah dihadiahi keindahan langgam bathiniah. Kadang surut membius panca indra pun kencang bercampur ruangan jiwa-jiwa tampan.

Entah keunggulan, pohon jati tak bersahabat pepohon lain. Atau ini fitroh, menghisap saripati bumi sekuat daya, dan pohon di dekatnya diberi sisa. Sang raja duduki singasana, tiada kompromi dipandang mata. Tapi betapa merindu takdirnya menjadi sandaran anak-anak kehidupan.

Ketika membelah batangnya lebih dari satu, takkan purna sampai kapan pun. Maka tangan lain menyempal satunya, agar tumbuh tak terganggu hasrat mendua. Aku sebut pilihan menggagalkan hasrat lebih yang lama-kelamaan timpang, dibanding genap bersatu tujuan.

”Pohon jati tegak aku pandang, anak-anakmu menyebut tiang-tiang penjaga langitan, yang membiru rupawan di atas hijau daun-daunmu menawan.”

Musim hujan dedaunnya mengembang sesayap elang mengapung di udara, kuasanya merentangi lahan-lahan sekitar penuh wibawa. Sebuah pencapaian agung, awalnya kering meranggas seolah tak mampu tegak berdiri. Laksana sulapan, tersadar bius kemabukan besar.

Urat-urat nadi memompa oksigen dalam tubuhnya perluas angkasa. Cita-cita luhur berguna demi apa pun manusia mau. Dan para pemahat tidak ragu-ragu, kayu tua atas musim-musim berwarna. Kesedihan, kegembiraan silih berganti tak ubahnya jatuh bangun kesembuhan.

Pohon-pohon lain menyaksikan bersalam harum menghadap kepundennya. Sebab hembusan ini, orang-orang Jawa tempo dulu membuat nama wilayah atas pohon. Oleh ruh dihirupnya memberi kesegaran gunung arjuna. Semisal bencah tanah; Jati Jajar, Jati Renggo, Gunung Jati. Kerajaan Majapahit pun atas pohon Maja berbuah pahit.

13 Mei 2009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.