Langsung ke konten utama

Kriuk Ketela Rasa Gadung, Keripik dan Sastra Jalan Terus

Henry Ismono
http://www.tabloidnova.com/

Ia memberi nilai lebih pada kripik ketela yang selama ini ada. Yaitu kripik ketela rasa gadung. Ternyata, usahanya cukup lumayan. Bahkan, menjadi salah satu oleh-oleh khas dari Wonosobo.

Setahun yang lalu Siti Mariam Ghozali (44) dan beberapa peserta lainnya mendapat pelatihan mengolah ketela menjadi kripik rasa gadung dari Balai Latihan Kerja, Wonosobo (Jawa Tengah). Pelatihan ini untuk memberi nilai lebih pada ketela yang memang cukup banyak di Wonosobo. Sekaligus juga untuk bekal membuka usaha pada warga.

Usai pelatihan, Siti Mariam yang juga seorang penulis buku dan memakai nama Maria Bo Niok, mencoba mempraktikkan ilmu baru ini. Sayang, “Ketika saya coba, hasilnya kurang begitu bagus. Meski begitu, saya terus berusaha untuk berhasil membuat kripik ketela rasa gadung,” tutur warga desa Lipursari, Wonosobo ini.

Beberapa kali Maria terus uji coba. Prosesnya memang cukup rumit. Ketela dibersihkan dan dikupas kulitnya. Selanjutnya, dirajang tipis-tipis berbentuk bulat. Ketela direbus beberapa jam, kemudian direndam dalam air. “Bumbunya cukup garam dan bawang. Saya coba-coba sendiri.”

MENGUNTUNGKAN PETANI

Setelah beberapa kali uji coba, akhirnya Maria berhasil membuat kripik yang layak jual. Kripik singkong itu berwarna putih bersih. Setelah digoreng, rasanya mirip gadung, sejenis umbi-umbian. Melihat usahanya berhasil, Maria tambah semangat. Ia pun mencoba untuk membuat kripik singkong rasa gadung ini sebagai lahan usaha.

Maria memberi nama usahanya UD Mari. Kripik itu dikemas dalam wadah plastik, diberi label merek dagangnya. Warga desa Lipursari ini berusaha memasarkan produknya ke Wonosobo dengan menitipkan di toko oleh-oleh. Ternyata, usahanya berhasil. “Banyak toko yang mau menerima kripik buatan saya,” kata Maria.

Bahkan, kian lama permintaan makin besar. Kripik singkong Maria bisa didapat di supermarket dan toko oleh –oleh di kotanya. Maria pun tak sanggup mengerjakan sendiri usahanya. Ia mesti dibantu 4 karyawan. Per bulan, ia rata-rata memproduksi 1 ton ketela. “Bahan bakunya gampang dicari, kok. Di sekitar desa saya banyak ketela. Kalau pun nanti masih kurang, tinggal membeli ketela dari desa lain,” ujar Maria.

Usaha Maria yang makin berkembang memberi rezeki tersendiri bagi warga sekitar. Ia memberi order kepada warga sekitar untuk memasok ketela yang siap jadi bahan baku kripik. Yaitu ketela yang sudah dikupas, dirajang, dan dibersihkan. Ia berani membeli per kilo Rp 1.500. Padahal, “Semula harga ketela di daerah saya murah sekali. Sekilo paling hanya Rp 200. Dengan usaha kripik ini, saya bisa memberi nilai lebih pada ketela. Petani ketela pun diuntungkan,” katanya.

Dikatakan Maria, di kawasan Wonosobo, kripik ketelanya sudah mempunyai pasar yang bagus. Ia menjual dengan harga per kilo Rp 45 ribu untuk kripik gadung unggulan. “Memang relatif mahal. Apalagi, bila dibandingkan dengan usaha sejenis. Di kampung saya, kan, sudah ada beberapa pembuat kripik ketela serupa. Bedanya dengan mereka, saya membuat kripik dengan kualitas bagus. Rasanya pun enak,” kata Maria berpromosi.

Menurut Maria, di desanya memang ada beberapa produsen kripik singkong serupa. Meski begitu, ia merasa tidak bersaing. Masing-masing produsen, menurut Maria, sudah punya pelanggan. “Ada yang menjajakannya dengan keluar masuk toko, ada yang ke jual dari rumah ke rumah. Cara mereka beda dengan saya yang sengaja memasukkan ke toko-toko,” papar ibu enam anak ini.

INGIN LEBIH BERKEMBANG

Maria mengatakan, produknya sudah cukup dikenal masyarakat. Bahkan, sudah menjadi salah satu oleh-oleh khas daerahnya. Tentu saja Maria bertambah semangat. Tak hanya di kawasan tempat tinggalnya, selanjutnya Maria mencoba mengembangkan produknya ke luar kota. Salah satu kota sasaran yang dituju adalah Yogyakarta. “Sebenarnya saya ingin mengembangkan pasar lebih luas lagi. Tapi, saya masih terkendala tenaga pemasaran,” kata Maria.

Betapa pun Maria sudah senang karena berhasil membuka usaha sendiri yang lumayan. “Ke depan, saya ingin lebih berkembang lagi. Salah satunya saya promosi lewat face book. Namanya Mari Singkong Rasa Gadung,” tutur Maria yang juga seorang penulis. Di sela-sela usahanya, Maria masih terus menulis novel. Bahkan, novel barunya ini sudah diminta penerbit Yogyakarta untuk diterbitkan. “Saya masih ingin merevisi naskah novel saya.”

Penulis buku Ranting Sakura dan Geliat Sang Kung Yang ini juga masih aktif berolah sastra di berbagai kota. Ia kerap membacakan cerpen dan novelnya ke berbagai kota. Sudah berbagai kota disinggahi, termasuk pentas di Jakarta. Beberapa waktu lalu, bukunya dibahas ahli sastra UI, Prof Melani Budianta, PhD di Museum Mandiri, Jakarta.

Di kampung halamannya, Maria juga aktif memberi pendidikan kepada anak-anak desa. Ia mendirikan Rumah Rumbia, sebuah taman bacaan yang disediakan gratis untuk anak-anak. Keberadaan Rumah Rumbia banyak dibantu kawan-kawannya, termasuk pengadaan buku-bu bacaan. Maria sering pula mengajari anak-anak menulis. “Rumah saya jadi ramai. Anak-anak tiap hari datang ke rumah untuk baca buku.”

Maka itu, buku dan kripik singkong memenuhi rumah Maria. “Pokoknya usaha kripik dan menulis tetap jalan terus,” ujar Maria.

24 Maret 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.