Kamis, 15 September 2011

Pengakuan Djenar Maesa Ayu

Sandipras
http://warisanindonesia.com/

Mengaku mengidap obsessive compulsive disorder (OCD), Djenar Maesa Ayu menolak kesuksesannya dalam dunia sastra dan film dikait-kaitkan dengan mendiang sang ayah, sutradara Sjuman Djaja.

Empat belas lelaki baru saja selesai mengeroyok Djenar Maesa Ayu awal tahun ini, lahirlah antologi 1 Perempuan 14 Laki-Laki yang dalam tempo singkat sukses menarik peminat sastra negeri ini. Khalayak terpincut melihat daftar nama: Sardono W. Kusumo; Indra Herlambang; Agus Noor; Sujiwo Tedjo; Butet Kartaredjasa; hingga JRX (baca: Jerinx), musisi punk yang jauh dari gempita sastra, ikut menulis dengan gaya masing-masing.

Seolah belum puas merasakan “orgasme” buku tersebut, Djenar sudah kembali “asyik-masyuk” dengan novel terbarunya, Ranjang. Toh, waktunya tidak melulu habis membangun alur cerita novel yang direncanakan terbit tahun depan itu.

Tiba-tiba ia terlibat jadi penulis naskah film It’s Takes to Two Tattoo. Jadwal rapat ini-itu, tawaran ini-itu, sosialisasi ini-itu, menghambat kelancarannya menyelesaikan Ranjang.

“Ranjang itu punya banyak sekali gangguan, distraksidistraksi. Yah, karena bermunculan ide-ide yang lain, jadi enggak bisa fokus. Tapi, bagaimana pun juga harus selalu ada, dia sudah menjadi bagian dan menjadi utang,” demikian pengakuan Djenar, baru-baru ini.

Distraksi itu tidak muncul semata karena kesibukannya yang segudang. Sebagai orangtua tunggal, ibu dari Banyu Bening dan Btari Maharani sekaligus status baru sebagai Eyang Putri, mengharuskannya membagi waktu dengan malaikat-malaikat kecilnya.

Sesuai perjanjian dengan mantan suaminya, tercipta pembagian waktu kapan anak-anak berada di sekelilingnya, atau saat harus dalam asuhan sang mantan.

Seperti ucapan “nenek muda” berkelahiran 14 Januari 1973 berikut ini, “Kami mengatur waktu seminggu di rumah aku dan seminggu di rumah bapaknya. Sekarang ini seminggu bebas, jadi gue bisa rock n’ roll.”

Begitu ringan, begitu lepas dalam menyikapi hidup. Seperti ketidakpeduliannya pada keadaan sekitar saat asyik dalam dunianya sendiri, dengan laptop di hadapan, serta headphone besar membekap kupingnya di Birdie, sebuah warung bir di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Dan, ketika suntuk menjelang, ia akan bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke arah bar mencari papan catur siap menantang siapa pun yang berani melawan.

Sumber: http://warisanindonesia.com/2011/08/pengakuan-djenar/

1 komentar:

Pengikut