Langsung ke konten utama

Pengakuan Djenar Maesa Ayu

Sandipras
http://warisanindonesia.com/

Mengaku mengidap obsessive compulsive disorder (OCD), Djenar Maesa Ayu menolak kesuksesannya dalam dunia sastra dan film dikait-kaitkan dengan mendiang sang ayah, sutradara Sjuman Djaja.

Empat belas lelaki baru saja selesai mengeroyok Djenar Maesa Ayu awal tahun ini, lahirlah antologi 1 Perempuan 14 Laki-Laki yang dalam tempo singkat sukses menarik peminat sastra negeri ini. Khalayak terpincut melihat daftar nama: Sardono W. Kusumo; Indra Herlambang; Agus Noor; Sujiwo Tedjo; Butet Kartaredjasa; hingga JRX (baca: Jerinx), musisi punk yang jauh dari gempita sastra, ikut menulis dengan gaya masing-masing.

Seolah belum puas merasakan “orgasme” buku tersebut, Djenar sudah kembali “asyik-masyuk” dengan novel terbarunya, Ranjang. Toh, waktunya tidak melulu habis membangun alur cerita novel yang direncanakan terbit tahun depan itu.

Tiba-tiba ia terlibat jadi penulis naskah film It’s Takes to Two Tattoo. Jadwal rapat ini-itu, tawaran ini-itu, sosialisasi ini-itu, menghambat kelancarannya menyelesaikan Ranjang.

“Ranjang itu punya banyak sekali gangguan, distraksidistraksi. Yah, karena bermunculan ide-ide yang lain, jadi enggak bisa fokus. Tapi, bagaimana pun juga harus selalu ada, dia sudah menjadi bagian dan menjadi utang,” demikian pengakuan Djenar, baru-baru ini.

Distraksi itu tidak muncul semata karena kesibukannya yang segudang. Sebagai orangtua tunggal, ibu dari Banyu Bening dan Btari Maharani sekaligus status baru sebagai Eyang Putri, mengharuskannya membagi waktu dengan malaikat-malaikat kecilnya.

Sesuai perjanjian dengan mantan suaminya, tercipta pembagian waktu kapan anak-anak berada di sekelilingnya, atau saat harus dalam asuhan sang mantan.

Seperti ucapan “nenek muda” berkelahiran 14 Januari 1973 berikut ini, “Kami mengatur waktu seminggu di rumah aku dan seminggu di rumah bapaknya. Sekarang ini seminggu bebas, jadi gue bisa rock n’ roll.”

Begitu ringan, begitu lepas dalam menyikapi hidup. Seperti ketidakpeduliannya pada keadaan sekitar saat asyik dalam dunianya sendiri, dengan laptop di hadapan, serta headphone besar membekap kupingnya di Birdie, sebuah warung bir di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Dan, ketika suntuk menjelang, ia akan bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke arah bar mencari papan catur siap menantang siapa pun yang berani melawan.

Sumber: http://warisanindonesia.com/2011/08/pengakuan-djenar/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.