Langsung ke konten utama

MASIH ADA HARAPAN

Ahmad Zaini
Radar Bojonegoro, 7 Juli 2011

Setiap sore aku biasa mangkal di warung es dawet siwalan. Warung sederhana beratap daun ilalang selalu menjamuku dengan suguhan es dawet yang berisi buah siwalan. Warung yang berada di bawah pohon akasia tua selalu ramai oleh para remaja yang ingin menghabiskan sore sambil menunggu beduk maghrib tiba.

Segelas es dawet siwalan disuguhkan pelayan warung yang berkebaya coklat. Ia tersenyum manis kepadaku sambil mempersilakan aku meminumnya. Diiringi hembusan angin pantai utara, aku menyeruput segelas es dawet siwalan suguhannya. Segar rasanya berbaur dengan aroma wangi kembang akasia yang mekar di atas warung itu.

Maimunah, pembantu warung yang menjual es dawet siwalan sudah seminggu ini tak kelihatan. Hanya Mbok Darmi yang melayani para remaja, termasuk aku juga, yang datang ingin menikmati es dawet siwalan dan kangen pada senyum Maimunah. Aku ingin bertanya kepada Mbok Darmi tentang keberadaan Maimunah, ya, tidak enak. Aku takut jika kedatanganku ke warung selain menikmati es dawet siwalan juga ingin bertemu dengan Maimunah diketahui Mbok Darmi. Maka aku memutuskan untuk bertanya kepada teman-teman yang lain saja.

“Din, ke mana, ya, Maimunah?”

“Saya tidak tahu. Memang ada apa kamu kok menyanyakan Memunah?”

“Ya, tidak ada apa-apa Din. Hanya tanya.”

“Biasanya kalau ada orang bertanya dengan ekspresi wajah yang resah sepertimu, berarti ada maksud tertentu, lho!”

“Benar Din. Tidak ada maksud apa-apa.”

Aku langsung meninggalkan warung tersebut takut jika pertanyaan Didin mengenai sikapku akan membongkar rahasiaku.

“Eh, akan ke mana?”

“Saya pulang dulu. Ada panggilan dari ayahku,” jawabku memberi alasan pada Didin.

Sesampai di rumah, aku tak bisa tenang. Pikiranku selalu memikirkan Maimunah. Gadis lugu yang setiap hari membantu Mbok Darmi melayani para pembeli es dawet siwalan benar-benar telah memenuhi pikiranku. Setiap pagi ketika aku berangkat kerja, siang ketika istirahat kerja dan sore ketika pulang kerja hanya satu yang ada dalam pikiran. Maimunah.

Sewaktu aku berangkat ke tempat kerja, aku selalu melintas di depan warung itu sambil melirik untuk memastikan apakah Maimunah ada atau tidak. Jika Maimunah ada, maka aku ingin lekas pulang dari kerja dan mampir ke warung es dawet siwalan untuk menikmati senyum Maimunah saat menyuguhkan segelas es dawet siwalan. Sebaliknya, jika Maimunah tidak ada, maka tidak ada kinginanku pulang dari tempat kubekerja. Aku akan menghabiskan waktu di pantai utara sambil duduk-duduk melamunkan senyum manis dara yang masih lugu tersebut.

Hembusan angin senja di pantai begitu kencang. Ia mencoba mengusir gelisahku dengan kiriman ombak yang menghantam batu karang. Aku kaget ketika percikan ombaknya membelai wajahku yang dirundung keresahan memikirkan keberadaan Maimunah. Aku beranjak dari batu karang yang telah kududuki hampir sejam. Burung camar yang berpesta dengan mangsa di permukaan laut mengikuti langkahku yang meninggalkan pantai itu. Sedangkan warung es dawet siwalan di bawah pohon akasia senyap tak ada gurau remaja yang mengantarkan perjalanan hari menuju gerbang malam. Bangunan yang terbuat dari bambu itu berdiri sendiri tak ada yang menemani. Aku berhenti sejenak di depan warung. Kumatikan mesin sepeda motorku lalu memandangi warung yang memberikan kesan tersendiri kepadaku. Ya, siapa lagi kalau tidak gadis lugu, Maimunah, yang selalu menghadirkan kesan istimewa di hatiku.

Gelisah malamku diliputi rasa rindu ingin pergi ke warung. Aku tak bisa tidur karena memikirkannya. Aku beranjak dari pembaringan kemudian memutar televisi menyaksikan film tengah malam untuk mengusir rasa rindu tetapi seru cerita dari film itu tidak mampu mengobati rinduku pada Maimunah. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku merindukannya. Dari wajahnya, ya, biasa-biasa saja. Tapi mengapa hati ini selalu ingin bertemu dengannya?

Tak sadar malam telah membawaku hingga pagi datang. Dingin udara pagi telah menggigilkan diriku yang kurang tidur semalam. Seruan ibu dari ruang makan mengundangku untuk beranjak ke sana. Aneka menu makanan terhidangkan di meja makan. Akan tetapi, selera makanku benar-benar berkurang.

“Kenapa kamu tidak segera sarapan?” tanya ibu kepadaku.

“Eh, iya!” jawabku dengan terheragap.

Sepiring nasi berlauk ikan laut sudah di depanku. Sendok dan garpu telah siap melayani di kedua tanganku. Namun, gairah makan seperti sirna entah ke mana. Hasrat yang menggebu di hatiku hanya satu. Bertemu Maimunah yang sejak seminggu telah menghilang dari hidupku.

“Nak, sebanarnya apa yang kamu pikirkan?”

“Tidak memikirkan apa-apa.”

“Ibu tidak percaya jika kamu tidak memikirkan apa-apa. Kalau tidak ada beban di pikiranmu, mengapa kau akhir-akhir ini bergelagat aneh seperti ini? Setiap ibu menghidangkan sarapan pagi, kau tidak pernah menyantapnya dengan lahap seperti pagi-pagi sebelumnya. Apakah ada masalah di tempat kerjamu?”

“Tidak ada Bu.”

“Lantas apa yang membuatmu seperti ini?”

“Maaf, Bu! Saya berangkat kerja dulu!”

“Lho, lho, lho..! Kok, malah pergi tidak menghabiskan sarapanmu?”

“Sudah kenyang, Bu.”

Aku langsung berangkat kerja melintasi jalan beraspal yang masih berkabut. Di sepanjang perjalanan aku masih diselimuti rasa gelisah. Wajah Maimunah seakan melukis setiap titik yang aku lihat. Pohon-pohon besar di pinggir jalan tak memberikan kesejukan pada diriku yang melewatinya. Hingga pada saatnya aku sampai di depan warung es dawet siwalan tempat Maimunah bekerja.

Warung sederhana di bawah pohon akasia masih tutup. Daun serta kembang akasia yang berguguran di depannya masih berserak belum ada yang membersihkannya. Warung yang sekaligus tempat tinggal Mbok Darmi perlahan pintunya terbuka. Aku melihat Mbok Darmi keluar sambil membawa sapu lidi dan kerang tempat sampah. Kemudian dia menyapu membersihkan halaman warungnya dari daun dan kembang akasia yang berjatuhan.

Ingin rasanya kaki ini melangkah ke arah Mbok Darmi dan menanyakan Maimunah, tetapi aku malu untuk melakukannya. Lama aku termenung di depan warung karena ragu bertanya kepada Mbok Darmi sampai-sampai arloji di tanganku jarumnya berlabuh di angka tujuh kurang seperempat.

“Wawan, kenapa kamu di situ?”

Aku kaget katika Mbok Darmi menyapaku. Dalam hati kecilku, inilah kesempatan yang baik untuk menanyakan Maimunah kepada Mbok Darmi.

“Ini, Mbok. Saya akan berangkat kerja.”

“Kenapa sejak tadi berdiri di situ?”

“Eeeh..! Eeeh…!”

“Ada apa Wan?”

“Tidak ada apa-apa Mbok. Aku malu.”

“Malu kenapa? Memang kamu ini mau apa kok malu? Katakan saja!”

“Saya mau bertanya kepada Mbok. Maimunah ke mana ya Mbok sejak seminggu ini kok tidak menemani Mbok Darmi berjualan es dawet siwalan?”

“Ooo...menanyakan Maimunah to? Begitu saja pakai malu-malu segala! Maimunah pulang kampung karena Bapaknya sakit. Besok kalau bapaknya sudah sembuh, dia juga akan kembali ke sini.”

“Emmm… begitu to Mbok! Maaf ya Mbok, saya mengganggu. Terima kasih atas pemberitahuannya.”

Tangan Mbok Darmi lagsung saya sahut kemudian kujabat sambil kucium lantas aku kabur meninggalkannya sendiri membersihkan sampah-sampah yang masih tersisa.

“Weleh…, simelekethe!” ucap Mbok Darmi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikapku yang girang tak wajar seperti ini.

“Masih ada harapan..!” ucapku dalam hati sambil mengendarai sepeda motor ke tempat kerja.

Di tempat kerja aku ingin segera menuntaskan kerjaku. Satu demi satu pekerjaanku telah usai lalu aku pamit pulang lebih awal kepada pimpinan karena ingin mampir ke warung penjual es dawet siwalan. Dalam hati aku berharap Maimunah sudah datang dan menyuguhkan segelas es dawet siwalan dengan senyum yang lama kurindukan.

Warung di bawah pohon akasia telah ramai pengunjung. Para remaja sudah menyuruput es dawet siwalan di kawasan pantura ini. Aku mencari tempat duduk yang enak kemudian memesan segelas es dawet siwalan. Lama aku menunggu Maimunah muncul dari belakang kemudian menyuguhiku pesanankku dengan senyuman.

“Ini Nak Wawan es dawet siwalan pesananmu.”

Betapa terkejutnya aku, ternyata Mbok Darmi yang menyuguhkan segelas es dawet siwalan kepadaku.

“Lho, Mbok! Ke mana Maimunah?”

“Dia belum kembali.”

“Apes, aku!” ungkapku seketika sambil menampar pelan keningku.(*)
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.