Langsung ke konten utama

Membincang Dunia Sastra Indonesia di Sanur

Nuryana Asmaudi
Bali Post, 17 Des 2006

BALI kembali jadi tuan rumah event sastra bertaraf nasional. Hajatan bertajuk “Temu Sastra II Mitra Praja Utama 2006″ (MPU 2006) yang digelar di Hotel Inna Sindhu Beach, Sanur, pada 12-15 Desember lalu itu melibatkan para sastrawan terkemuka Indonesia, pegiat sastra, pengajar, akademisi sastra, sampai birokrat pemerintah. Sebuah peristiwa besar dunia sastra di Tanah Air yang menarik dan penting untuk dicatat.

MPU 2006 diselenggarakan Forum Pecinta Sastra se-Bali (FPSB) atas dukungan Pemda Bali atau Disbud Bali. Dalam buku panduan MPU 2006 disebutkan, acara ini adalah salah satu wujud kegiatan kerja sama 10 provinsi yang tergabung dalam wadah MPU. Ke-10 daerah itu adalah Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Menurut Ketua Panitia MPU 2006 sekaligus Ketua FPSB, Drs. I.B. Darmasuta, acara ini merupakan agenda lanjutan dari event yang sama yang digelar di Banten pada tahun 2004. Sebagai pemakalah, tercatat sejumlah nama sastrawan tenar semisal Joko Pinurbo, Ahmad Tohari, Raudal Tanjung Banua, sampai Darma Putra dari akademisi/kritikus sastra.

Berbagai persoalan diangkat dalam diskusi, mulai dari soal sosialisasi dan pengajaran sastra, religiusitas sastra, peran komunitas sastra, multikultural dan sastra lintas budaya, hingga pembangunan kebudayaan. Dari situ terungkap, bagaimana sesungguhnya sastra itu penting untuk membentuk kepribadian, membangun manusia yang utuh, dan meningkatkan harkat dan martabat sebuah bangsa.

Acara ini merupakan sebuah upaya untuk membantu mewujudkan cita-cita mulia membangun bangsa lewat sastra, agar pemerintah tidak hanya mengutamakan pembangunan secara material dan fisikal. Beberapa kasus tentang tidak adanya penghargaan pihak pemerintah terhadap sastra kerap terjadi. MPU 2006 ini, menurut penyair Raudal Tanjung Banua, sebenarnya merupakan kerja sama strategis agar muncul dukungan penuh pemerintah pada sastra.

MPU 2006 ini menghasilkan beberapa kesepakatan penting, di antaranya temu sastra akan menjadi agenda setiap dua tahun sekali yang pendanaannya dilakukan oleh masing-masing Pemda anggota MPU. Penyelenggaraan MPU secara bergilir berdasarkan kesepakatan bersama. Temu sastra harus melibatkan sastrawan, akademisi sastra, pegiat sastra, wartawan, dan birokrat. Provinsi Jawa Barat ditunjuk sebagai penyelenggara MPU 2008.

Panggung Sastra

Di sela sepanjang penyelenggaraan MPU 2006 ini juga dipanggungkan sejumlah karya sastra. Para sastrawan yang memanggungkan karyanya itu, di antaranya D. Zawawi Imron, Hamsad Rangkuti, Ahmad Tohari, Slamet Sukirnanto, Acep Zamzam Noor, Joko Pinurbo, Isbedy Setiawan ZS, Diah Hadaning, Ngurah Parsua, dan Oka Rusmini. Mereka beraksi membawakan karyanya masing-masing, dari puisi, cerpen, dan karya sastra lewat gaya dan model penampilan tersendiri.

Pemanggungan sastra berlangsung dua malam. Pada malam pertama, Selasa (12/12) tampil sastrawan dan dramawan senior Bali, Abu Bakar, membacakan puisi “Toilet”, “Sajak Harimau”, “Kucari Tuhan Kelas Dua”, dan “Pagi Masih Buta”. Lalu, D. Zawawi Imron (Madura) menyihir penonton dengan sejumlah puisinya. Lalu, tampil pula penyair Bali generasi terkini, Pranita Dewi, membacakan beberapa puisinya yang tergabung dalam buku Pelacur Para Dewa. Kemudian, tampil Acep Zamzam Noor, Diah Hadaning, Inggit Patria Marga dari Lampung, penyair Bali Sindu Putra, Wayan Sunarta, sampai Wan Anwar dari Banten.

Pada malam berikutnya, tampil lagi para sastrawan sepuh seperti Ahmad Tohari, Slamet Sukirnanto, Hamsad Rangkuti, Dinullah Rayes, Ngurah Parsua, Samar Gantang, sampai Putu Satria Kusuma. Acara pementasan sastra pada malam itu memang menarik. Di Pantai Sindu, Sanur, di antara desir angin dan deru ombak yang indah dan syahdu malam itu, para sastrawan terkemuka Indonesia telah mencatat peristiwa dan menorehkan kenangan indah sejarah sastra.

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2006/12/membincang-dunia-sastra-indonesia-di.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.