Langsung ke konten utama

Puisi Sebagai Perang Filsafat

Alex R. Nainggolan
Bali Post, 15 Mei 2011

PUISI merupakan sebuah permainan diri, di mana seluruh unsur tubuh bergerak. Sejumlah diksi yang tersusun, lebih layak disebut sebagai kesatuan yang unik. Posisi yang saling berjabat tangan. Maka puisi selalu berhadapan pula dengan filsafat, bagaimana penyair mengembalikan keyakinan, sikap, keraguan, kecemasan, kemarahan, kejengkelan, atau nuansa main-main terhadap hidup.

Kata-kata memang selalu bernada cemas, mengisyaratkan sebuah dunia baru yang membukakan sebuah peta. Kerja puisi adalah kerja yang penuh kekayaan, usaha penyair yang mirip dikerjakan seorang artefak, dengan membongkar seluruh mitos, penguasaan kata-kata ganjil, pemahaman terhadap sejumlah makna. Dan puisi bukan sekadar itu saja, terkadang ia pun menelusup di dalam kamar, hanya terkesan lirih, gumam yang mambang, tak terdengar, namun masuk ke dalam hati.

Ukurannya adalah bulu kuduk, kata Acep Zamzam Noor, terkadang pula puisi merentaskan sebuah jalan yang lain: menempuh seluruh keragu-raguannya. Beberapa diksi memang terasa dekat dengan keseharian kita, namun tetap saja terlupa atau tak pernah dipikirkan sebelumnya. Dan saya kembali membaca sejarah sastra, yang pernah dibilang Nirwan Dewanto sebagai beban dunia susastra kita. Saya kembali membaca pendombrakan yang dilakukan Chairil Anwar, dengan sejumlah sajak liris cum bisiknya yang terdengar berbisik, semacam “Senja di Pelabuhan Kecil”—saya tergoda, betapa hal semacam rasa sakit hati bisa diangkat menjadi sebuah puisi. Kemudian saya menelusuri lagi dengan filsafat yang ditawarkan Sutardji Calzoum Bachri, dalam “Tapi”, “Perjalanan Kubur”, “Mesin Kawin”. Saya kembali ditampar oleh sejumlah narasi-narasi yang pendek di awal masa kepenyairan Sapardi Djoko Damono yang terangkum dalam antologi “Hujan Bulan Juni”, saya kembali digoda dengan nuansa perlawanan Taufiq Ismail dalam “Tirani dan Benteng”. Dan kembali saya terpukau pada sajak cinta WS Rendra di awal dunia kepenyairannya pula dalam “Empat Kumpulan Sajak”, atau balada-balada, yang beberapanya ditiru dalam dunia prosa kita akhir-akhir ini dalam “Ballada Orang-Orang Tercinta”.

Filsafat

Kembali saya tersentak beberapa filsafat yang ditawarkan mereka, bagaimana membaca kehidupan, mengembalikan diri, dan bersikap. Ditambah lagi dengan kesulitan pembacaan atas sajak Goenawan Mohammad, yang penuh dengan nuansa wacana pemikiran, pencampuradukkan dongeng, pengingkaran, tanpa jawaban yang bisa dikatakan final. Puisi adalah filsafat. Sejak awal, bahkan ketika Descartes mencatatkan definisi mula tentang puisi itu sendiri, sebagai suatu wilayah meditasi. Usaha untuk membentangkan jarak antara realitas. Seorang penyair selalu berhadapan dengan hal tersebut, untuk itu perlu dibangun cogito (penalaran), terhadap diri sendiri atau kehidupan di sekelilingnya. Puisi adalah filsafat, bagaimana Joko Pinurbo bermain dengan santainya ihwal “Celana” atau “Telepon Genggam”. Puisi adalah filsafat, bagaimana Afrizal Malna bergerak di sekitar kota tempat tinggal, merasa terasing, dan masuk ke alam benda-benda, yang baginya hidup (baca: “Kalung dari Teman”). Friedrich Holderin bilang puisi itu merupakan sebuah lingkaran kalimat yang serat makna, dengan bangunan kata-kata yang gandrung akan misteri. Misteri itulah yang membuat sebuah puisi hidup, di mana seorang pembaca secara acak maupun sistematis, mengikuti larik-larik selanjutnya yang akan dijumpai. Sebuah gigil yang ajaib akan membuat tersendak, bahkan tak jarang melulu berada di dalam kepala. Puisi yang baik, barangkali ialah yang tetap hidup, di mana ia bisa terbang melintasi pelbagai zamannya. Rangkaian kata, permainan bahasa, dan beberapa penampakan filsafat menyebabkan seseorang terpukau.

Dihadapkan sebuah puisi, barangkali kita seperti memasuki medan perang filsafat. Setiap penyair seakan-akan menyuguhkan semua jurus yang dimilikinya untuk menghidupkan semua diksi yang disusun, direkatkan, kemudian direkam dalam pusat memori. Unsur depan sadar yang sering dibicarakan Sutardji, lebih merupa pada langkah meditasi, yang bermula dari kata Le Duc de Luynes, Descartes melanjutkan, “Puisi sebagaimana juga filsafat, seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang lebih berguna lagi, kecuali mencari satu kali, dengan tekun, terus-menerus.”

Memang kita sudah paham juga, pencarian dalam setiap karya sastra adalah proses yang tak kenal lelah. Semacam candu yang terus menghantui, maka puisi mewujudkan sebuah bentukan baru akan dunia yang juga baru rupanya, tempat antara pembaca syair dan pembuat syair bertemu. Proses yang semacam ini juga lebih berwujud pada penapakan bebas. Semacam gurat kenangan yang terus hidup, memorabilia, waktu yang berdentang antara ada dan tiada.

Karena sarat dengan pencarian, emosional, puisi juga lebih berwujud pada pelintasan ruang batas sunyi yang tak terkendali. Di mana seluruh pucat kehidupan tampak di situ. Seorang penyair, tentu menuliskan puisi dengan caranya masing-masing, melalui tahap kesulitan masing-masing. Tidak hanya sekadar bersandar pada kemampuan bakat semata, ia lebih dibebankan pada seluruh pengetahuan antara dunia sadar dan tidak sadar. Dalam filsafat, kita juga temui bagaimana seorang Nietzche merumuskan dunia kenihilan kita. Dunia absurd yang tidak jelas, tetapi pada akhirnya kita kembali pada nalar juga.

Puisi berusaha mencuri segalanya, dengan kekuatan yang ada di tubuhnya. Ia menghidupkan seluruh keganjilan tersebut. Dan saya kembali teringat pada nuansa yang dibangun dalam sajak Ulfatin Ch. , Gus Tf. Sakai, Warih Wisatsana, Sindu Putra, I Wayan Sunarta, di sana kesadaran mereka akan ruang imajinasi seperti merobek seluruh pengetahuan yang telah lama “membusuk” di dunia.

Alex R. Nainggolan, penyair, tinggal di Jakarta
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/05/puisi-sebagai-perang-filsafat.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.