Langsung ke konten utama

Apa Kabar Naskah Lakon Indonesia?

Idha Saraswati
Kompas, 17 Des 2010

PENULIS naskah lakon Indonesia masa kini didominasi orang-orang yang terikat dengan kelompok teater tertentu. Penulis naskah di luar kelompok teater tidak mendapat ruang sehingga karya mereka tidak terdengar. Benarkah?

Kondisi itu setidaknya dirasakan sejumlah penulis naskah di Yogyakarta. Heru Kesawa Murti, misalnya, menulis naskah untuk Teater Gandrik. Lalu, ada Joned Suryatmoko yang menulis untuk Teater Gardanalla atau Gunawan Maryanto yang menulis untuk Teater Garasi. Gunawan Maryanto menilai kondisi penulisan naskah lakon saat ini berbeda jauh apabila dibandingkan dengan era tahun 50-an hingga 60-an. Waktu itu, naskah lakon muncul di media-media sastra.

Maka, para penulis sastra yang tidak berhubungan dengan dunia teater pun rajin menulis naskah lakon. Penulisan naskah lakon menjadi marak. Naskah lakon menjadi kaya. Pegiat teater memiliki banyak pilihan. Berangkat dari situ, Gunawan bersama Joned Suryatmoko serta penggiat teater lainnya lalu menggelar acara bertajuk ”Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF)”. Kegiatan itu diharapkan bisa menciptakan ruang mediasi antara penulis naskah dan penggiat teater sehingga akan membangkitkan kembali gairah penulisan naskah di Indonesia.

Acara itu digelar di dua kota, yakni Yogyakarta (3-5 November dan 6 Desember) dan Jakarta (24-26 November). Pembacaan naskah yang menandai penutupan rangkaian acara IDRF dilakukan hari Senin (6/12) di auditorium Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta. Acara penutupan itu juga ditandai peluncuran empat jilid buku Antologi Drama Indonesia yang berisi naskah lakon Indonesia dari tahun 1895–2000.

Penonton dibuat terpingkal-pingkal oleh penampilan Teater Gandrik saat membacakan naskah Senja dengan Dua Kelelawar karya Kirdjomulyo. Sementara Teater Garasi membacakan naskah terjemahan berjudul Sari Jeli Almond karya penulis Jepang Wishing Chong.

Panggung

Di atas panggung, mereka benar-benar membaca dari buku naskah. Teater Garasi, misalnya, menampilkan tiga pembaca naskah yang bergaya kasual. Satu orang sebagai narator, satu orang sebagai karakter laki-laki, dan satu orang sebagai karakter perempuan.

Mereka berdialog dari kursi masing-masing. Hanya ada sedikit iringan musik, serta lampu kerlap kerlip di atas tumpukan kardus yang ditampilkan. Selebihnya, penonton dibiarkan membayangkan sendiri semua adegan yang mestinya terjadi pada malam Natal yang dingin itu: menuang sake, lapis demi lapis percakapan, tangis, serta pelukan.

Mengapa pembacaan naskah? Gunawan Maryanto selaku penata program IDRF menuturkan, membacakan naskah adalah cara yang paling sederhana untuk memublikasikan karya tersebut.

IDRF yang digelar kali pertama itu mengambil tema ”Melihat Kembali Drama Realis Indonesia”. Menurut Gunawan, tema tersebut dipilih karena sejarah penulisan naskah lakon di Indonesia diduga bermula dari realisme. Para penulis drama pada waktu itu masuk ke realisme karena ingin melepaskan diri dari tradisi lisan dalam pertunjukan serta melepaskan diri dari tema-tema yang dianggap tidak membumi karena tidak didasarkan pada kenyataan yang tengah berlangsung.

Maka, IDRF melulu diisi pembacaan naskah drama yang bergaya realis. Naskah-naskah tersebut dibacakan para penggiat teater di Yogyakarta dan Jakarta.

Ada sembilan naskah dibacakan, terdiri atas tiga naskah lakon Indonesia lama, tiga naskah lakon Indonesia baru, serta tiga naskah lakon terjemahan dari Asia. Mulanya, IDRF ingin menampilkan naskah Indonesia baru saja. Namun, akhirnya mereka sepakat membacakan karya lama dan terjemahan sebagai bahan pembanding bagi naskah-naskah baru.

Kesembilan naskah tersebut adalah Lelakon Raden Bei Surio Retno karya F Wiggers (1901), Citra karya Usmar Ismail (1943), Senja dengan Dua Kelelawar karya Kirdjomulyo (1957), Keok karya Ibed Surgana Yuga (2010), Kawan Tidur karya Hanna Fransisca (2010), Biar Kutulis Untukmu Sebuah Puisi Jelek yang Lain karya Andri Nur Latif (2010), Sari Jeli Almond karya Wishing Chong dari Jepang (2000), Loteng karya Yoji Sakate dari Jepang (2002), serta Dr Resureccion: Akan Menyembuhkan Bangsa karya Layeta P Bucoy dari Filiphina (2009).

Membangun jejaring IDRF digelar dengan optimisme bahwa minat menulis naskah lakon di Indonesia sesungguhnya masih besar. Minimnya media publikasilah yang membuat minat itu tidak tersalurkan. Dari mana optimisme itu muncul? Menurut Gunawan Maryanto, minat itu bisa dilihat dalam ajang sayembara penulisan naskah.

Festival penulisan naskah realis yang diselenggarakan Komunitas Salihara, misalnya, menerima tak kurang dari 200 naskah. ”Animo penulis naskah cukup besar,” katanya.

Sebagai permulaan, IDRF yang pertama ini menerima sekitar 20 naskah dari Yogyakarta, Jawa Timur, Jakarta, serta Lampung. Tiga naskah terpilih, yakni Keok, Kawan Tidur, dan Biar Kutulis Untukmu Sebuah Puisi Jelek yang Lain, dibacakan dalam IDRF. Jumlah naskah yang masuk mungkin akan terus bertambah pada IDRF berikutnya. Pimpinan Produksi IDRF Lusia Neti Cahyani mengatakan, dengan segala keterbatasan, panitia mendapat jaminan untuk kembali menggelar acara ini pada tahun 2011 dan 2012. IDRF ingin menjadi mediator yang mempertemukan para penulis naskah dengan penggiat teater. Pertemuan semacam itu diharapkan bisa memberi ruang bagi para penulis naskah lakon sehingga mereka punya alasan terus menulis.

Dengan begitu, penulisan naskah lakon Indonesia bisa kembali marak. ”Kami juga berharap bisa membangun jejaring dengan penulis naskah lain di luar negeri karena ternyata di beberapa negara acara seperti IDRF ini sudah berjalan. Jadi, akan lebih banyak naskah dari Indonesia bisa dibacakan di sana,” tutur Gunawan.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/12/festival-apa-kabar-naskah-lakon.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.