Kampung Kecubung

Yulizar Fadli
http://www.lampungpost.com/

BULAN benjol. Segaris awan tersua di bawahnya. Sedang di dalam lapo tuak berdinding papan, empat bujang berkumpul dengan penerangan yang remang. Kelihatannya ingin mabuk mereka. Sudah secerek tuak mereka tandaskan. Tanpa sepengetahuan Otong, Yariman, dan Puguh—karena ketiganya terlalu asyik menikmati lagu dangdut yang bikin kepala mereka manggut-manggut—Upik mengeluarkan sebotol minuman mirip teh. Selain Upik, tak ada yang tahu apa nama minuman itu. Pokoknya, racikannya terbuat dari biji tumbuhan berbahaya, tumbuh liar di hampir seluruh kampung.

Ada juga persaingan cinta tak sehat antarremaja kampung. Mirip persaingan pejabat tinngi di negeri ini. Ah, adakah api cemburu membakar Upik? Tak tahu juga. Yang jelas, satu botol sudah digasak Yariman. Alunan musik dangdut membuat kepala mereka bertambah berat. Perlahan, tubuh dan kaki Yariman lemas, seolah tanpa sum-sum. Pandangannya buyar. Pingsan. Upik menyeringai. Puguh khawatir. Sinar matanya berubah gusar. Dalam keadaan tak sadar, Puguh mengantar Yariman pulang dengan sepeda motor bututnya. Yariman dipapah, digandeng sampai depan rumah. Saat tiba di teras rumah, ia letakkan Yariman begitu saja. Seolah Yariman bangkai kucing yang ia tabrak lalu buang di pinggir jalan.

***

KEPAK sekawan perenjak sibuk mencari makan, terbang dari satu pohon ke pohon lainnya. Sementara di puluhan rumah berdinding papan, muncul petani dengan segala macam alat pertanian.

Dari belasan rumah lain, orang-orang mulai keluar membawa barang dagangan. Anak-anak berangkat sekolah melalui jalan beraspal kasar. Ada yang berjalan, ada yang bersepeda. Ada juga segerombol anak berseragam putih-merah yang sengaja membuntut-ejeki perempuan kurus berwajah tirus. Ejekan mereka akan berhenti kalau perempuan keriting itu sudah masuk ke dalam pasar. Dalam posisi yang aman ini, perempuan itu akan minta pecel-lontong buatan Mbah Sam, kadang tertidur pulas di samping parkiran, dan ini yang paling sering ia lakukan; duduk-diam sambil sesekali menyeringai. Buat orang pasar, hal itu sudah lumrah. Mereka mungkin mahfum.

Dan, di kampung itu tak semua rumahnya berdinding papan. Sebab, di sana, di antara kerumun rumah papan, ada satu rumah bagus bertingkat dua. Dari rumah itulah muncul seorang perempuan, kira-kira 26 tahun. Dia berlari. Tangan kirinya memegangi rok sepanjang mata kaki agar tak mengganggu kecepatannya. Terus saja ia berlari menuju sebuah rumah papan yang berjarak tiga ratus meter dari tempat pertama ia keluar. Selang beberapa belas menit, ia sampai di tempat tujuan. Butir keringat bersalin dari lubang porinya. Pukul tujuh pagi.

“Kulonuwon,” ucapan salam berulang tiga kali. Yang memberi salam mulai resah karena tak ada jawaban dari pemilik rumah. Sembari menunggu, tak sengaja kakinya menginjak seekor cacing tanah yang berjalan pelan menuju lubang. Ketika mendengar sahutan dari dalam rumah, senyum tipis tergambar di wajahnya.

“Monggo,” suara lelaki tua itu tertahan di kerongkongan. “Ada apa Tik, pagi-pagi kok sudah kemari?” imbuh si Mbah ketika membukakan pintu dan tahu siapa nama si tamu.

“Anu, Mbah. Anaknya Bude Robayah kesurupan,” sahut Atik dengan kening dikerutkan.

“Walah-walah, ayo kalau begitu,” setelah menjawab, lelaki tua itu kembali masuk rumah, mengambil plastik berisi tembakau. Kemudian ia Keluar. Tangan keriputnya buru-buru mengunci pintu.

“Mana Suratmi, Mbah?” tanya Atik basa-basi. Padahal Atik tahu ke mana Suratmi pergi. Terang saja, karena sebelumnya ia berpapasan dengan Suratmi di tengah jalan.

“Sudah pergi ke pasar. Ayo kita berangkat,” jawab Mbah datar.

Keduanya menyusuri jalan kecil, melewati rumah-rumah penduduk, juga pohon Waru yang di bawahnya banyak ditumbuhi tanaman kecubung. Tak jauh dari pohon rimbun nan rindang, tersualah pohon kamboja dengan gundukan yang bernisan. Enam di antaranya adalah makam pahlawan yang gugur tahun 1948.

Hampir tak sadar ketika melewati permakaman, Atik mengangkat roknya tinggi-tinggi, berjingkat, melompat ke samping, ke arah si mbah. Tangan kanannya menutup mulut (karena ia sadar kalau lewat kuburan tak boleh menjerit) hingga jeritnya terdengar kecil—rupanya seekor ular tanah yang melintas di punggung kakinya itu penyebabnya. Mbah Sobari buru-buru mengusirnya. Lelaki tua itu menepuk-nepuk bahu Atik, lalu memberi tahu bahwa si ular sudah pergi. Kata-kata Mbah Sobari mengambang di udara bersama desis ular, kerik jangkrik, dan kicau kutilang.

Dalam gesa, tak jauh dari makam pahlawan, keduanya sampai di sebuah jembatan. Jembatan Pahlawan, begitu penduduk menyebutnya.

***

“KOK lama sekali, ya?”

“Sabar, Bu. Sebentar lagi juga sampai.”

Robayah, janda kaya di kampung Taman Sari, duduk tak tenang di bibir ranjang sembari memijit-mijit kepalanya yang mulai pening. Putra tercinta sedang terbaring tak sadarkan diri. Perempuan paruh baya itu dikelilingi dua pembantu setia.

“Coba kamu susul, Di. Aku takut terjadi apa-apa dengan dia,” pinta Robayah kepada Juardi karena anaknya terbangun dan berteriak-teriak tak keruan.

Si bocah mulai melantur. Badannya terasa gerah. Ia minta agar pakaiannya dilepaskan. Berangsur-angsur kesadarannya hilang. Ia mulai berhalusinasi; ada beberapa anak kecil berkepala botak sedang bercanda di atas lemari. Ia juga melihat peri yang tengah terbang ke sana kemari sembari mengayun-ayun tongkat ajaibnya.

Tiba-tiba halusinasinya buyar ketika kepalanya serasa membesar. Mungkin akan meledak. Robayah dan kedua pembantunya mulai kewalahan menghadapi tingkah-polah si bocah. Tapi untunglah, di tengah ketegangan itu, Atik dan Mbah Sobari segera datang.

“Duh Gusti, akhirnya datang juga,” sambut Robayah sembari memegangi tangan anaknya.

“Iya, Nduk. Pegang kuat kaki dan tangannya, jangan sampai lepas,” tukas si Mbah menganjurkan. Tampaknya Mbah Sobari tahu apa yang harus ia lakukan.

“Tolong ambilkan segelas air putih.” Mbah Sobari mulai beraksi. Ia menempelkan telapak tangan kirinya ke jidat pemuda itu, lalu perlahan pindah memegang kepalanya. Mulutnya komat-kamit, kemudian tersembur air dari mulutnya. Dua kali semburan itu mengenai muka si pemuda. Lalu, si empunya mantera menepuk-nepuk pipi pasiennya seraya bertanya, “Sadar, Le. Kamu kenal aku, toh?”

Mendengar pertanyaan itu, sontak ibunya membisikkan sesuatu. Mungkin ingin memberi tahu siapa nama orang yang menanyainya. Tak lama setelah Robayah membisikkan sesuatu ke telinga anaknya, jawaban terdengar juga dari mulut pemuda yang sejak semalam kehilangan kesadarannya. Matanya setengah terbuka, serupa pintu dan jendela di kamar tidurnya.

“Kamu manusia planet, toh?” jawab pemuda itu. Mbah Sobari terkejut bukan main.

“Yah, siapa nama lengkap anakmu? Bin siapa dia?” pertanyaan ditujukam pada Robayah

“Yariman bin Yatman Kasrowi,” Robayah menyahut.

Si mbah kembali komat-kamit. Setengah jam ketegangan berlangsung. Mantera si mbah mengambang di udara. Akhirnya si mbah menarik sebuah kesimpulan. Saat itu Yariman tertidur karena pengaruh mantra. Tubuhnya terkulai lemas. Pemuda itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana berwarna cokelat yang secokelat kulitnya.

“Cah bagus ini enggak kesurupan, tapi keracunan buah kecubung,” ujar Mbah Sobari pasti. Sepersekian detik Robayah dan keempat pembantunya bengong, terlebih Juardi. Robayah diam. Mungkin mengingat kejadian saat anaknya tergeletak di teras depan.

“Jadi bagaimana, Mbah?” ujar Robayah dengan asa yang hampir putus.

“Kasih dia tempe goreng, tapi enggak usah dikasih bumbu, lalu buatkan segelas kopi pahit,” jelas Mbah Sobari

Atas perintah nyonya rumah, Sakiyem bergegas ke pasar mencari tempe. Sepeda jengki dikeluarkan, dikayuhnya menuju pasar becek di kampung itu. Beberapa menit ketika sampai di tengah pasar, perempuan itu menatap berkeliling, mencari sosok tambun Lek Wasbir. Alih-alih Lek Wasbir yang terlihat, malah Suratmi yang tampak tertidur pulas di samping warung Kang Mono. Sakiyem menggeleng.

Sakiyem beralih pandang. Nah itu dia orangnya, batin Sakiyem. Ia mendekat dan langsung membeli beberapa tempe. Setelah selesai, ia bergegas pulang. Tanpa pikir panjang, ia naiki sepedanya dan mempercepat kayuhannya.

Ketika sampai rumah, ia sandarkan sepeda lalu masuk lewat pintu belakang. Segera pula ia melucuti plastik pembungkus tempe, menghidupkan kompor, kemudian menaruh wajan berisi minyak goreng di atasnya. Ia masukkan beberapa tempe setelah minyak itu panas. Tak berlama-lama ia menggoreng.

Selesai menggoreng, ada yang memanggilnya dari balik sekat yang memisahkan ruang dapur dan ruang makan. Rupanya suara Atik, ia sedang menyeduh kopi pahit. Sakiyem lalu menghampiri Atik. Keduanya bergincu gunjing, membicarakan Mbah Sobari dan anak semata wayangnya. Gunjingan berhenti setelah kopi siap di bawa ke kamar.

Ketika Sakiyem dan Atik sampai di kamar, Mbah Sobari sudah tak ada. Ia diantar pulang oleh Juardi. Tapi sebelum mbah sakti itu pergi, lebih dulu ia membuat Yariman siuman. Bocah itu setengah sadar. Robayah menyuapkan tempe goreng ke mulutnya, kemudian meminumkan kopi itu dengan sendok. Tiga tempe dan beberapa sendok kopi pahit masuk ke mulutnya. Yariman mulai merasakan reaksinya. Penawar racun kecubung ala Mbah Sobari membuat perutnya mual, lalu muntah. Sehari kemudian Yariman sadar.

***

SUATU pagi, sepekan setelah kejadian Yariman, di atap genting rumah Mbah Sobari, sekawanan burung gereja mematuk dan menari riang. Pada saat yang hampir bersamaan, dari arah pintu depan, terdengar ketukan dibarengi ucapan salam. Si mbah keluar. Kata-kata si tamu bernada khawatir. Ia bilang bahwa Sutilah, adik perempuan yang ditinggal mati suaminya dua tahun lalu, nekat minum kecubung lantaran tak mampu bayar utang. Pasti sekarang Sutilah sudah menceracau tak keruan. Mbah Sobari menghela napas. Sesepuh kampung itu tahu, jika ada orang keracunan kecubung, kemudian orang itu masuk pasar, pasti sukar disembuhkan. Kalau tak beruntung seperti Yariman pastilah langsung gila. Persis Suratmi, anak perempuan semata wayangnya.

Bandar Lampung, 2010-2011

Komentar