Langsung ke konten utama

Menikmati Pembacaan Esai-esai Eduardo Galeano

Esai-esai Eduardo Galeano yang diterjemahkan oleh Halim HD
Odi Shalahuddin
http://www.kompasiana.com/odishalahuddin

DI Uruguay, tahanan politik tidak boleh bicara tanpa ijin. Juga tidak boleh bersiul, tersenyum, menyanyi, berjalan cepat, menyapa sesama tahanan lainnya. Mereka juga tak diijinkan membuat atau menerima foto atau gambar-gambar perempuan hamil, sepasang kekasih yang bersanding, kupu-kupu, bintang-bintang di langit atau burung yang sedang terbang atau hinggap di rerantingan.

Pada suatu minggu yang cerah, Didasko Perez, seorang guru yang dijebloskan ke dalam penjara dan disiksa oleh rejim militer hanya karena memiliki gagasan ideologis, dikunjungi oleh anak perempuannya, Milay namanya, berusia lima tahun. Milay membawakan ole-ole untuk ayahnya gambar burung-burung yang riang bersijingkat yang dibikin olehnya. Di pintu gerbang halaman, sebelum Milay memasuki pintu penjara, penjaga mencabik-cabik gambar itu. Dan Milay hanya bisa menahan tangis dan sedih di dalam hatinya.

Pada minggu berikutnya, Milay yang selalu kangen kepada ayahnya membawa gambar pepohonan yang nampak rimbun dan hijau. Gambar pepohonan tak dilarang, dan hasil karya Milay itu berhasil masuk ke dalam penjara. Didasko Prez memuji hasil garapan anaknya, dan dia bertanya tentang bulatan-bulatan kecil mungil berwarna kuning kemerahan yang tersembunyi di balik cabang dan rerantingan pohon yang rimbun, dan ada pula yang bertengger di pucuk ranting di antara kehijauan daun: “Apakah itu buah jeruk, atau buah apakah itu, yang?”

Milay, bocah yang masih duduk di taman kanak-kanak itu mendekatkan jarinya ke bibir,sssstt…..merapatkan diri dan berbisik di telinga ayahnya, “Papa jangan konyol. Apa papa tidak lihat mata mereka? Lihat, lihatlah itu mata mereka. Mata burung yang saya selundupkan untuk papa”.

(Burung Larangan, Eduardo Galeano, Century of the Wind, hal 231, buku ketiga trilogi Memory of Fire)

***

“Burung Larangan” seperti terkutip di atas, itulah esai pembuka yang dibacakan oleh I Made Astika dalam acara ”Sastra dan gerakan Kaum Perempuan di Amerika Latin: pembacaan Esai-esai Rigoberta Menchu dan Eduardo Galeano” yang berlangsung semalam (23/11) di Pendopo Karta Pustaka Yogyakarta.

Berikutnya, “Kekuatan dan Kesetiaan” adalah esai kedua yang dibacakan oleh Fauziah Syahila tentang sebuah persahabatan dan komitmen.

Esai-esai Eduardo Galeano yang diterjemahkan oleh Halim HD, seorang pekerja seni yang dikenal sangat aktif membangun jejaring kesenian/kebudayaan di Indonesia ini, dibacakan secara bergantian oleh I Made Astika, Fauziah Syahila, Budi Yusanti Parola, Retno Indraswari Mutia Sukma dan Halim HD sendiri.

Eduardo Galeno, dalam riwayat ringkasnya, yang diterjemahkan oleh Halim HD, dilahirkan di Montevideo, Uruguay, pada tanggal 3 September 1940, dari keluarga Katholik kelas menengah, dikenal sebagai jurnalis dan penulis yang sangat produktif dengan 36 judul buku dalam bentuk novel, kumpulan esai serta reportase dan esai-kolaboratif bersama beberapa fotografer. Beberapa bukunya telah diterjemahkan kedalam beberapa bahasa. Sebagai penulis Galeano lebih daripada penulis yang bergaya ortodoks (orthodox genre) yang menggabungkan dokumentasi, fiksi, jurnalisme, analisis politik, dan sejarah. “I’m a writer obsessed with remembering, with remembering the past America, intimate land condemned to amnesia”.

Buku-buku Galeano yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris (diantara puluhan judul lainnya dalam bahasa Spanyol): Guatemala: Occupied Country (1967), The Open Vein of Latin America (1971), Days and Nights of Love and War (1978), Memory of Fire (1982-1986), The Book of Embraces (1989), We Say No (1989), An Certain Grace, with Fred Ritchin, photographs by Sebastiao Salgado (1990), Walking Words (1993), Soccer in Sun and Shadow (1995), I Am Rich Potosi: The Mountain That Eat Men, photographs by Stephen Ferry (1999), Upside Down: A Primer for the Looking-Glass World (2000). Pada tahun 1975 Galeano meraih Cuban Casa de las Americas Prize, untuk novelnya yang berjudul The Song of Ourselves.

“Eduardo itu bukan main sekali. Ia memiliki humor, sinisme dan parodi yang bukan main. Dan yang menarik ia selalu memberikan kesaksian-kesaksian atas peristiwa,” jelas Halim HD sebelum Budi Yusanti Parola membacakan ”Buket Kembang Nelson Rodrigues”.

Halim HD, yang terlihat sangat lihai bertutur, selalu memberikan pengantar pada setiap esai yang akan dibacakan. Tentu saja ini sangat membantu penonton untuk memahami konteks dari esai-esai yang dibacakan. Terlebih Halim juga mengkaitkan peristiwa yang tertulis dalam esai tersebut dengan konteks Negara-negara lain, termasuk Indonesia. Kita terasa memasuki sejarah tentang kehidupan masa lalu, yang dengan situasi berbeda, masih dirasakan pada kekinian, utamanya mengenai wajah dan watak kekuasaan yang menindas.

”Peristiwa yang terjadi pada tahun 1983 di Elsavador. Pada periode yang sama ada satu hal yang menarik yang terjadi di Elsavador, Guetamala, Nicaragua, dan lainnya pada periode yang sangat krusial sekali dan sangat kritis bagi central Amerika, mereka yang penuh dengan sesuatu yang mengerikan. Anda bisa menyaksikan bagaimana mayat di jalanan, tergeletak di pinggiran pantai atau di tempat sampah. Seperti di Indonesia pada tahun 1983, kasus Petrus itu. Yang paling menarik, saya kira ada sesuatu yang erat hubungannya dalam sistem militer di Amerika Latin, Indonesia dan Vietnam yang menjadi laboratorium militer Amerika Serikat untuk proses penghilangan manusia,” pengantar Halim sebelum ia membacakan Esai berjudul “Maria Nella” (?).

Selanjutnya mengalir esai-esai lainnya, seperti “Lima Perempuan Perkasa” yang dibacakan dengan baik oleh Retno Indraswari. Esai ini menjadi fenomenal pada tahun 1970-an dan menjadi bahan berita yang baik. Para perempuan telah menjadi pelatuk yang menggerakkan seluruh Bolivia sehingga gerakan dalam waktu 23 hari mampu meruntukan rejim militer. Dilanjutkan dengan esai tentang kasus-kasus penghilangan paksa, yang juga terjadi di Indonesia yang hingga kini belum banyak terungkap, Galeano menuliskan dalam “Ibu-ibu Perkasa dari Plaza de Mayo” yang dibacakan oleh Mutia Sukma. Beberapa esai lain seperti Utopia, Milik Semua untuk Semua Orang, Rigoberta Menchu, dan the Culture of Terror dibacakan oleh Halim HD.

Sungguh di luar dugaan ketika membayangkan untuk menyaksikan pembacaan esai, hal yang terlintas adalah sesuatu yang berat untuk memaksa berpikir, monoton, dan bisa membosankan. Hal yang terjadi justru sebaliknya. Esai-esai pendek dari Eduardo Galeano, sangat puitis walau tema-tema yang ditampilkan adalah sesuatu yang menyoroti peristiwa kemanusiaan yang terciderai oleh kekuasaan otoriter, yang bisa membuat bulu kuduk kita berdiri, membangkitkan rasa takut, atau bahkan amarah, namun bisa juga membawa kita pada keteguhan atas suatu perjuangan walau nyawa menjadi taruhannya demi suatu perubahan kehidupan yang lebih baik bagi sebuah bangsa atau kehidupan manusia pada umumnya.

Para pembaca, yang saya kira juga adalah aktivis atau para pekerja seni, mampu membawa imajinasi dan mengusik pikiran-pikiran kita tentang kemanusiaan. Keterangan yang diberikan oleh Halim HD pada setiap esai, juga mampu membangun pemahaman tentang situasi dan konteks yang dihadirkan.

Selesai pembacaan beberapa esai, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama Halim HD yang dimoderatori oleh Ons Untoro. Semoga saja sempat untuk menuliskan proses diskusinya agar bisa terposting di sini.

Salam,
Odi Shalahuddin

24 November 2011
Dijumput dari: http://media.kompasiana.com/new-media/2011/11/24/menikmati-pembacaan-esai-esai-eduardo-galeano/

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com